Bab 5
Pkl. 21.00 waktu setempat, Tristan baru saja bangun dari tidurnya.
"Ughh, sial. Pusing sekali kepalaku." Serunya dengan memijat pelipis.
"Kau sudah puas tidur? Dan bermabuk ria hari ini?"
Tristan menaikkan pandangan dan tak peduli dengan kehadiran Leo dihadapannya.
"Bukan urusanmu."
"Tentu saja bukan urusanku. Aku masa bodoh dengan hal itu, hanya saja kau sangat aneh. Kenapa melakukan hal seperti itu di siang hari?"
"Sudahlah, kau berbicara justru semakin membuat kepalaku pusing."
Leo memutar bola mata malas.
"Aku mendengar kau menyebutkan nama seseorang… ehmm, a-al.."
"Jangan pedulikan. Itu hanya racauan orang mabuk."
Ujar Tristan berusaha menyangkal.
"Kau tahu, orang mabuk selalu berkata jujur." Sindir Leo
"Baiklah, baiklah aku kalah. Aku sedang tertarik dengan seorang gadis."
"Wow.. gadis mana yang sudah menarik perhatian darimu, kawan? Apa dia pekerja malam?"
"Ck,. Dia bahkan masih sekolah." Tristan berdecak kesal.
Leo menyeringai.
"Apa kau mau menjadi seorang pedopil?"
"Aku belum setua itu, sialan!!!!" Sangkal Tristan dan melempar bantal ke arah Leo. Sedangkan Leo hanya terkekeh.
"Baiklah, darimana kau mengenalnya? Lalu apa yang membuatmu menjadi seperti ini?"
"Aku melihatnya saat berkunjung ke hotel dan tadi siang aku, melihatnya bersama Ansel."
"Ansel???" Leo menautkan kedua alisnya dan hanya dijawab dengan anggukan kecil dari Tristan.
"Aku baru mengingatnya, tadi seseorang bernama Ansel itu menghubungimu dan aku menjawabnya, berpura-pura menjadi dirimu." Sambung Leo dengan terkekeh.
"Lalu apa yang dia katakan?"
"Dia hanya mengatakan jika ayah dan adiknya tak menyetujui permintaan mu, dan memintamu untuk datang ke rumah mereka. Karena kau harus meyakinkan mereka sendiri."
"Ck, menyebalkan sekali. Kalau bukan karena aku butuh, aku tidak akan mau mendatangi mereka."
"Memangnya ada apa?"
"Kau tunggu disini, aku akan pergi sebentar. Aku harus menemui mereka."
"Ini bahkan sudah jam setengah 10 malam, apa kau gila harus bertamu tengah malam?"
Tristan menatap sejenak wajah Leo, karena ada benarnya yang dikatakan olehnya.
"Baiklah, aku akan kesana esok pagi."
***
Pagi ini, Ansel terlambat mengantar Ale ke sekolah. Alhasil, gerbang pun sudah ditutup. Ale pulang kembali dengan rasa kesal pada Ansel.
"Ale, maafin kakak dong. Buka pintunya, Princess."
"Tidak mau, besok Ale berangkat sekolah sendiri. Kakak tidak perlu mengantarku lagi. Hiks.. hiks.." sahut Ale dengan teriakan dan tangisnya.
"Aduh, jangan nangis dong sayang. Ayo buka pintunya, Ale…"
"Masih belum keluar juga ya?" Alana menghampiri putra pertamanya.
"Iya, ma. Sudah terlanjur marah," ujar Ansel dengan menggaruk alisnya.
"Turun gih, ada seseorang ingin bertemu denganmu."
Ansel menautkan kedua alisnya.
"Siapa Bu?"
"Tuan Tristan."
Ansel sedikit terkejut mendengar jawaban Alana, dan dia pun langsung turun menemui tuan Tristan.
"Selamat pagi, Ansel."
Sapa Tristan.
"Selamat pagi, tuan." Jawab Tristan dengan membungkukkan tubuhnya.
"Dimana ayah dan adikmu? Aku ingin bertemu dengannya."
"Sebentar, Akan saya panggilkan papa saya."
Tristan meminta ijin memanggil Alcander dan di angguki kecil oleh Tristan.
Tak lama kemudian, Alcander pun menghadap pada Tristan.
"Selamat pagi, Mr.Alcander."
"Selamat pagi, tuan muda."
"Kulihat dirimu semakin sehat saja, Mr.Alcander."
Alcander hanya menjawab dengan senyuman kecil.
"Tentu kau tahu, sebab kedatanganku kesini. Aku akan menjamin keselamatan anak dan keluargamu. Aku benar-benar meminta bantuan dengan anakmu."
Alcander menghela napas sejenak.
"Maaf, tuan muda. Bukan hal mudah bagi saya, cukup sekali saja saya merasakan akan kehilangan orang yang saya sayang. Saya tidak menyalahkan siapapun, hanya.." Alcander menghela napas panjang. "Hanya saja, mungkin posisi saya yang salah. Saya terlalu melindungi orang lain, dan mengabaikan orang-orang yang saya sayang."
Tristan terdiam, karena dia menyadari apa yang dimaksud oleh Alcander.
"Apa perlu aku memohon padamu? Aku yang akan langsung melindungi anakmu, Alcander. Aku akan menyerahkan segalanya, jika sesuatu terjadi pada anakmu. Kecuali perusahaan milik ayahku. Yang saat ini sedang aku pertahankan."
"Saya tidak membutuhkan apapun, saya hanya ingin keluarga saya baik-baik saja."
"Aku akan menjamin keluargamu dalam keadaan baik-baik saja." Jawab Tristan meyakinkan pada Alcander.
"Ansel, tolong panggilkan Ale."
"Dia tidak mau keluar, jika aku yang memanggilnya. Dia sedang marah padaku."
"Ya, Tuhan. Anak itu, biar papa panggilkan. Tunggu sebentar, tuan. Saya akan memanggilnya."
Tristan hanya menjawab dengan anggukan.
Ia melirik tajam pada Ansel yang sedang duduk di kursi depannya.
Tak lama kemudian derap langkah kaki, semakin mendekat.
"Ale, ini orang yang ingin bertemu denganmu."
Lalu Tristan menaikkan pandangan, dan dia sangat terkejut.
"Dia??" Menunjuk Ale tak percaya.
"Iya, memang kenapa?" tantang Ale.
"Ale, jaga sikap kamu." Kata Alcander.
"Iya, iya, maaf."
"Jadi dia adikmu, Ansel?"
"Iya, tuan. Dia adik saya."
Senyum Tristan mengembang saat mendengar jawaban Ansel.
"Baiklah, bagaimana nona Alea. Apa kau mau bekerjasama denganku?"
"Darimana kau tahu namaku, tuan?"
Ale memicingkan matanya menatap Tristan.
"Oh, itu… aku hanya menebaknya saja. Iya, hanya menebak." Jawab Tristan salah tingkah dan menggaruk alisnya yang tak gatal.
"Baiklah, aku akan membantumu. Asal aku tidak mati konyol dengan masalahmu, itu."
"Ale, kau jaga bicaramu. Bicaralah yang sopan, dia adalah tuan Tristan."
"Memangnya dia ini siapa?"
"Ck, dia penguasa negara kita."
Mata Ale terbelalak lebar saat mendengar jawaban sang papa.
"M-maaf, saya tidak tahu."
Tristan hanya menyeringai,
"Saya akan memaafkanmu, asal kau bersedia membantuku, nona."
"Licik sekali." Gumam Ale namun masih terdengar.
"Apa?"
"Ya sudah, tapi kau harus berjanji untuk melindungiku. Aku tidak ingin mati konyol. Aku ingin cepat dewasa, menikah, punya anak dan hidup bahagia."
Ansel dan sang papa hanya memicingkan mata melihat Ale. Sedangkan, Tristan hanya terkekeh.
"Baiklah, saya akan mewujudkan impianmu. Jadi, mulai sekarang kau harus ikut denganku."
"Tunggu, ikut denganmu?"
"Iya, ke Granada."
Mata Ale terbelalak lebar.
"Tidak, tidak, aku tidak mau."
"Kau sudah menerimanya, nona. Jadi tidak ada kata penolakan lagi."
"Mr.Alcander, saya akan menjaga ketat keluargamu dan juga Ale. Saya akan menjamin keselamatan kalian semua. Saya akan membawa Ale ke kota saya. Nanti akan saya kembalikan jika urusan kita selesai.",
"Ck, aku bukan barang. Enak saja mengembalikan, seolah-olah kau sedang meminjam."
Tristan hanya menyeringai.
"Ya sudah, aku takkan mengembalikan dirimu kemari."
"Terserah dirimu. Aku sedang kesal, jangan menambah kacau suasana hatiku." Ucap Alea dengan melirik sinis pada sang kakak.
"Kau masih marah denganku, princess?"
"Tidak, hanya saja Ale belum puas merasa kesal denganmu."
Ansel hanya terkekeh.
"Oh ya, tuan Tristan. Jika nanti kau membawaku ke Granada, tolong berikan aku waktu untuk menemui kaku disana."
"Kau memiliki kakak lagi?"
"Tentu saja. Papa dan mama mempunyai tiga orang anak. Dan aku adalah anak kesayangan mereka, bukan begitu, papa?"
"Ehem, iya.. sepertinya begitu." Balas sang papa.
Ale hanya mendesis kesal.
Bersambung...
