Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4

"Siang, tuan.." sapa Tony pada tuannya, yang entah kenapa siang ini sudah siap dan rapi, memakai pakaian casual. Dengan memakai celana jeans berwarna cream, dan kaos berwarna putih. Lalu ditutupi oleh jaket berwarna blazer berwarna biru tua, yang menambah akan kegagahannya.

"Siang juga, Tony. Oh ya, Tony… aku akan pergi siang ini dan mungkin pulang terlambat, bisa juga pulang cepat. Tak perlu menungguku. Kau terus pantau perkembangan tentang desas-desus yang terjadi di Granada. Aku ingin menyegarkan otakku."

"Baik, tuan. Hubungi saya jika kau membutuhkan bantuan dariku."

"Ya, kau tenang saja. Jangan lupa letakan laporan di meja kerjaku."

Lalu Tristan pergi meninggalkan mansionnya.

Tristan sudah duduk di dalam mobil mewahnya, menggenggam setir, lalu melihat wajahnya spion mobil.

"Sudah tidak diragukan lagi, tingkat ketampananku." Tristan memuji diri sendiri dengan seringaiannya.

Lalu melajukan mobilnya ke area sekolah, ia menghentikan mobilnya sedikit lebih jauh dari gerbang sekolah.

Ia terus menatap dengan seksama, satu persatu siswa dan siswi yang keluar dari sana.

"Ah, bukan lagi, sepertinya aku harus keluar dan melihatnya langsung.

Tristan keluar dari mobil, dia berdiri dan bersandar di badan mobilnya.

Lalu senyumnya mengembang, saat melihat gadis itu keluar.

Saat dia akan melangkahkan kaki, dia langsung berhenti. Dia melihat Alea memeluk seorang laki-laki,

"Hai, princess. Bagaimana hari ini?" Tanya laki-laki itu dan memeluk tubuh Alea.

"Hari ini menyebalkan, aku tak suka matematika. Sangat rumit, lebih indah jika aku harus menghitung uang." Laki-laki itu terkekeh mendengar ocehan Alea.

"Ayo, pulang."

Ajak laki-laki itu pada Alea.

Rahang Tristan mengeras, senyumnya yang tadi mengembang, berubah dingin. Tangannya mengepal kuat, saat mendengar samar percakapan mereka.

Tristan pun terkejut jika laki-laki itu adalah Ansel.

Dia tak menyadari, jika Alea melirik padanya.

"Tampan sekali, laki-laki itu." Gumam Alea lalu masuk kedalam mobilnya.

Tristan pun masuk kedalam mobil,

"Apa dia kekasih, Ansel? Benar-benar sial sekali hidupku. Aku menginginkan gadis itu."

Lalu Tristan pulang dengan perasaan kecewa.

'BRAKKK'

Tristan masuk dengan menendang kasar pintu mansionnya, dan hal itu membuat keringat dingin Tony mengalir di pelipisnya.

Ia tahu, jika tuannya sedang tidak baik-baik saja.

"Brengsek!!!!"

Tony terdiam, tak berani menatap pada Tristan. Dia hanya menunduk.

"Tony, antarkan 10 botol sampanye ke kamarku. Sekarang!!" Tony memerjap beberapakali saat mendengar permintaan Tristan.

"T-tapi, tuan.."

"Kau tuli? Aku memintamu untuk mengantarkan sampanye ke kamarku!!!"

Tony, terlonjak kaget saat mendengar bentakan dari majikannya. Dan dia segera berlari mengambil sampanye.

Mengantar ke kamar Tristan.

"Ini permintaan anda, tuan." Ujar Tony dengan memberikan 10 botol sampanye.

"Ya, kau sudah pergilah. Jangan ganggu aku!!"

"B-baik, tuan.." Tony pun pergi meninggalkan sang majikan.

Dan tak lupa menutup pintu kamarnya.

"Sial, benar-benar sial!!"

Tristan menenggak sampanyenya, dia sangat kacau sekarang. Merasa kecewa yang berkecamuk, ingin sekali dirinya mendapatkan Alea.

"Alea, kau harus menjadi milikku. Tidak ada yang boleh memilikimu, selain aku."

Hingga tenggakkan botol yang ke 7, Tristan pun sudah kewalahan. Sampainya memiliki kadar alkohol yang tinggi. Ia pun terus menenggaknya. Hingga botol ke 9.

Lalu terlihat seseorang menghampirinya, ya itu adalah Leo.

Leo langsung merebut botol minuman dari tangan Tristan.

"Bukan, begini caranya minum, sialan!" Leo mengumpat pada Tristan.

"Hei, siapa dirimu. Jangan kau rebut minumanku. Apa kau miskin, hah?" Racau Tristan tak jelas.

"Aku sudah paham dengan sifat angkuh dan sombong mu. Jadi aku akan bersabar dengan hinaanmu."

"Menyingkirkan, aku akan minum, bukan tidur. Kau membawaku ke ranjang? Aku masih normal!!!" Racaunya lagi.

"Kau pikir aku menyukai terong sialan mu itu hah? Meskipun milikmu lebih besar dariku, tapi aku ini pria normal!!"

"Hei, berhentilah. Kau sekarang melepas sepatuku, apa-apaan kau?"

"Aku akan membuangmu ke sungai Amazon. Jadi bersiaplah."

"Alea,"

Mata Leo terbelalak lebar saat mendengar gumaman Tristan.

Lalu Tristan mendekatkan telinganya ke wajah Tristan.

1detik

10detik

30detik

Hingga 5 menit, Tristan tak bergumam lagi.

"Kenapa kau tak mengulang lagi, sialan. Jika dirimu sudah begini, ingin rasanya aku membunuhmu!!!"

'brukk'

Leo melemparkan sepatu ke perut Tristan. Beruntung Tristan sudah tertidur pulas.

Ya, di antara Reno, Daniel, dan Leo. Hanya Leo lah yang paling berani menentang dan melawan Tristan.

Karena Tristan jauh lebih terbuka dengan Leo. Leo, bukanlah manusia yang memiliki mulut ember. Jadi dialah, laki-laki ehm ralat, teman yang paling dipercaya oleh Tristan.

"Tony," panggil Leo pada Tony.

"Iy, tuan…" jawab Tony dengan segera menghadap pada Leo.

"Apa ada hal yang membuat majikanmu marah hari ini?"

"Saya tidak tahu, tuan. Tadi siang tuan Tristan meminta untuk pergi tanpa saya."

"Hmm, aneh…"

'ya, sangat aneh. Padahal sebelum pergi dia sangat baik.' batin Tony.

***

Di sisi lain, Ansel dan Ale baru saja sampai ke rumahnya.

"Ale, Ada hal yang ingin kakak bicarakan."

"Apa itu penting? Kalau tidak penting, Ale tidak mau menanggapi. Ale sibuk."

"Ayolah, ini sangat penting."

"Baiklah, katakan. Ada apa?" Jawab Ale dengan mengalungkan lengannya di leher sang kakak.

Dan Ansel mengikuti Ale, memeluk pinggangnya.

"Ehm, ada seseorang yang membutuhkan bantuanmu."

Ale menautkan kedua alisnya.

"Membutuhkan bantuanku?"

Ansel hanya menganggukkan kepalanya.

"Tuan Tristan meminta dirimu untuk," Ansel menghela napas sejenak. "Untuk membantu melacak dimana orang yang bisa mencuri data perusahaan nya."

"Siapa tuan Tristan?"

"Kau tidak tahu?"

"Ehm, apa ini Tristan sang penguasa Spanyol?"

"Iya, tuan Tristan memintamu untuk membantunya."

"Papa, tidak setuju!!!!" Seru Al pada kedua anaknya.

Sontak hal itu membuat mereka menolehkan kepalanya.

"Papa?" Ucap Ansel dan Ale bersamaan.

"Kenapa papa tidak setuju? Memangnya kenapa?" tanya Ale penasaran.

"Itu semua akan membahayakan keselamatanmu. Papa tidak pernah setuju jika kau akan membantunya."

"Pa, tapi … "

"Ansel, kau berani menentang keputusan papa?"

Ansel dan Ale tak dapat berkata lagi, mereka tak bisa membantah ucapan sang papa. Karena memang benar yang dikatakan sang papa, jika itu akan membahayakan keselamatan Ale. Ale akan menjadi incaran orang itu. Dan tidak segan untuk membunuhnya secara sadis.

"Pa, mungkin tuan Tristan sendiri yang akan datang meminta ijin langsung pada papa dan Alea."

"Keputusan papa tetap sama. Tidak akan peduli, papa tidak mau kehilangan adikmu."

Ucap Al dingin, lalu meninggalkan kedua anaknya yang masih terdiam.

"Kakak, kalau memang yang dikatakan papa itu benar. Ale jelas menolak untuk hal ini. Ale tidak mau membuat papa, mama dan kalian khawatir. Ale juga belum siap, jika harus menghadapi bahaya. Ale lebih baik seperti ini. Ale benar-benar sayang dengan kalian. Jadi, katakan padanya, jika aku menolak."

Ansel terdiam, dalam benak dia memikirkan cara penyampaian menolak secara halus seperti apa. Karena ia takut jika nanti Ale akan menjadi sasaran mereka.

Bersambung...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel