Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3

"Selamat pagi, Daniel…" Ansel menyapa Daniel.

"Pagi… Ansel, Tristan sudah menunggumu di ruangannya. Kau boleh langsung kesana."

"Baiklah, aku akan kesana."

Ansel melangkahkan kakinya, dan memasuki lift. Dia memencet tombol menuju lantai 27, lantai paling atas.

Lantai khusus untuk sang penguasa.

Ansel membuang napasnya, membuang rasa gugup, karena dia akan berhadapan dengan orang paling mengerikan di negara Spanyol.

Ini pertama kalinya untuk dirinya berhadapan langsung dengan Tristan.

Ansel mengetuk pintu ruang kerja Tristan, dan terdengar suara yang mengijinkan dia untuk masuk.

Disana terlihat, seseorang sedang berdiri menatap indahnya kota Barcelona melalui dinding kaca yang besar. Dengan sebelah tangannya memasuki saku celana.

"Selamat pagi, tuan Tristan." Sapa Ansel sopan.

Lalu Tristan berbalik badan dan, menatap intens pada Ansel.

"Selamat pagi, Ansel. Anak pertama dari pasangan Alcander Frederick dan Alana Alden. Benar begitu???"

Ansel terkejut, karena ternyata Tristan mengenal kedua orang tuanya.

Tristan tersenyum miring.

"Kau pasti bingung, kenapa aku mengenal kedua orang tuamu."

"Saya tidak menyangka, jika ternyata anda mengenal kedua orang tuaku."

"Dulu ayahmu pernah bekerja menjadi tangan kanan ayahku, sebelum akhirnya dia memutuskan menikah dengan ibumu. Lalu membuka usaha sendiri dalam bidang kuliner. Karena ibumu suka sekali masak."

Ansel meneguk ludahnya.

Tristan tersenyum,

"Duduk,"

Memerintahkan Ansel untuk duduk, yang sedari tadi dia hanya berdiri.

Tristan pun menjatuhkan bokongnya di kursi putar miliknya. Dan diikuti Ansel duduk di kursi hadapannya.

"Kau tahu, Ansel. Kenapa aku memanggilmu kesini?"

"Tidak tahu, tuan." Ansel menundukkan kepalanya.

"Ansel, aku dengar kau sudah membantu kekacauan di kantorku. Dan aku sangat berterima kasih, padamu."

"Iya, tuan."

"Dan, aku ingin kau melacak dimana dan siapa dalang dibalik semua ini."

"Tapi maaf, tuan. Saya sudah melacaknya tapi, saya tidak bisa menemukan dimana dia berada. Karena saya yakin, orang itu juga lihai dalam dunia perkomputeran."

Tristan mendesis, rahangnya mengeras.

"Ck, lalu untuk apa aku memanggilmu kemari?"

'gluk'

Tristan meneguk ludahnya, keringat dingin mulai mengucur di dahinya.

"T-tapi, saya punya adik yang lebih pintar dalam dunia perkomputeran, tuan. Hanya saja,.."

"Hanya saja?" Tristan mengulang ucapan Ansel.

"Hanya saja, dia sangat sulit untuk dibujuk dalam hal yang seperti ini. Dan, lagi jika dia bisa melacaknya, maka dia yang akan menjadi incaran para orang-orang itu. Karena saya yakin, orang itu juga akan mengetahui siapa yang melacaknya. Dan tidak memungkinkan, jika dia akan membunuh adik saya."

Tristan terdiam,

"Saya akan melindungi adikmu, saya pastikan adikmu baik-baik saja. Jadi, kau bujuklah dia."

"Tapi, tuan…"

"Ansel, hanya kau dan adikmu harapanku satu-satunya. Aku sangat kesulitan untuk mencari dalang dibalik semua ini. Aku akan membayar mahal dirimu dan juga adikmu."

"Saya akan mencobanya, tapi jika adik saya tidak mau, saya tidak akan memaksanya. Karena dia paling benci dengan kata yang memaksa."

"Baiklah, jika dia masih menolakmu. Aku yang akan memaksanya."

Mata Ansel terbelalak mendengar ucapan Tristan, apa? Dia akan membujuk adiknya?

"Kau boleh keluar, Ansel."

"Baik, tuan. Permisi.." Ansel membungkukkan tubuhnya dan dia pergi dari ruangan kerja sang penguasa.

"Aku pikir, Alcander hanya memiliki satu anak saja."

Lalu Tristan memencet ponselnya, mengetikkan sesuatu dan dia menghubungi seseorang.

"Tristan?"

"Mama, apa mama sudah baikan?"

"Tentu saja, apalagi jika mendengar mu akan pulang ketika membawa calon menantu untuk ibu. Ibu akan bahagia sekali. Dan lebih sehat, tentunya."

Tristan mendesis.

"Tidak ada pembahasan lain, selain itu?"

Sarah hanya terkekeh, karena mendengar putranya mulai kesal.

"Kau pemarah sekali, pantas saja tidak ada gadis yang mau menjadi istrimu. Baru melihatmu saja, mereka sudah ketakutan." Sarah terkekeh mengucapkan kata itu.

"Ma…"

"Sudahlah, yang penting mama baik-baik saja. Kau tidak boleh pulang jika tidak membawa calon menantu."

"Ma … "

'tut, tut, tut.'

Tristan berdecak kesal. Ternyata sang mama mematikan sambungannya secara sepihak.

"Apa-apaan dia, kenapa malah memutuskan panggilanku."

Lalu terbesit di pikiran tentang gadis itu.

"Tony, bisakah kau pergi keruangan ku sebentar?"

Tak lama kemudian Tony pun masuk setelah mendengar perintah sang tuan melalui mikrofonnya.

"Iya, tuan. Ada yang bisa saya bantu?"

"Hm, kemarin sekolah mana yang datang berkunjung ke hotel?"

"Barcino school, tuan."

"Baiklah, hari ini kau boleh bersantai. Beristirahat, atau apapun. Kau pulanglah dengan mobil kantor. Aku akan pergi sendiri."

Tony sedikit terkejut mendengar ocehan sang majikan.

"Tapi, tuan…"

"Aku akan menghubungimu jika terjadi sesuatu. Tak perlu khawatir."

"Baiklah, tuan. Ini kunci mobilnya."

Tristan mengangguk lalu pergi meninggalkan Tony yang masih tercengang dengan perubahan sang majikan.

"Sepertinya, tuan Tristan sedang bahagia." Gumam Tony.

***

Tristan mengendarai mobil mewahnya, tak lama kemudian mobilnya berhenti di halaman parkir barcino school.

"Aku benar-benar merasa bersemangat, aku harus menemukan gadis itu."

Lalu Tristan, keluar dari mobilnya. Berjalan menuju kantor sekolah.

Semua murid menatap Tristan dengan hormat.

Tristan mengetuk pintu ruang kepala sekolah, dan tak lama kemudian ia diperbolehkan masuk.

Mata kepala sekolah terbelalak lebar, saat melihat Tristan masuk kedalam ruangannya.

"T-tuan Tristan?" Ucap kepala sekolah dengan menunduk hormat.

"Mr.Theo, bisakah kau beritahu aku dimana kelas yang kemarin berkunjung ke hotel ku?"

"A-apakah ada sesuatu yang terjadi di sana tuan? Em, maksud saya, apa murid saya membuat kesalahan disana?"

Ucap Mr.Theo dengan gugup.

"Tidak, tidak. Hanya saja, saya ingin melihat saja. Atau, kau boleh berikan data nama dan foto murid yang kemarin berkunjung kesana."

"Oh, tentu. Saya akan memberikannya, tuan. Sebentar,"

Ucap Mr.Theo lalu mengambil beberapa berkas, berisi data murid lalu menyerahkan pada Tristan.

Tristan menerimanya dan mengangguk kecil.

"Baiklah, ini bolehkah saya membawanya?"

"B-boleh, tuan. Kebetulan datanya sudah di salin di komputer."

"Baiklah, terima kasih. Saya permisi, Mr.Theo."

Lalu Tristan pergi meninggalkan area sekolah.

"Kenapa dia meminta data siswa? Apa ada hal yang penting? Ini sangat aneh," gumam Mr.Theo.

Di dalam mobil, Tristan tidak langsung turun dan masuk kedalam mansion.

Dia membuka selembar demi lembar dan membaca nama, juga post foto siswa barcino school.

Dan,

"Ketemu!!!"

Ucap Tristan semangat dan menyeringai, saat melihat gadis yang sedang ia incar.

"Oh, God. Sangat menggoda, bibirnya, hidungnya, pipinya sedikit chubby. Pasti sangat empuk jika dicubit." Kekeh Tristan.

Lalu dia membaca nama di sana,

"Alea F. Umur 18th, beberapa bulan lagi dia lulus. Sangat cocok menjadi kekasihku. Kau sudah menarik perhatian dariku, nona. Sangat menggoda," ucap Tristan dengan seringaiannya.

"Kau tunggu saja, diriku untuk menjemputmu. Mau tidak mau, aku akan tetap memilikimu. Aku tak butuh persetujuan darimu, karena apa yang aku inginkan, harus aku dapatkan." Ucap Tristan.

Bersambung...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel