Bab 2
Tristan masuk kedalam ruang dimana semua orang menunggu dirinya. Semua orang berdiri dan membungkuk. Menghormati kehadiran sang penguasa di negara itu.
Lalu ia duduk, dan mengisyaratkan mereka semua untuk duduk.
Dahinya berkerut, melihat dengan jelas pemandangan yang ada di hadapannya.
Seorang gadis yang terlihat sangat cantik, bibir sedikit tebal, dagu yang terbelah dan terlihat kulitnya mulus.
Tristan meneguk ludahnya, menatap pada gadis yang tengah berbincang dengan temannya.
Ia pun ikut tersenyum tipis tanpa sadar, saat melihat gadis itu tertawa.
Lalu Reno menyenggol lengannya, dan membuatnya tersadar dari lamunan.
'Sial, aku akan membunuhmu Reno.' Batin Tristan.
Reno dan Daniel hanya menahan tawanya, mereka sangat tahu, jika Tristan akan sangat kesal jika di ganggu.
Lalu Tristan berdiri dan memperkenalkan diri secara singkat, lalu berjalan dan selang beberapa langkah, dia berhenti. Menatap gadis itu lagi sejenak, dan kembali melangkah pergi dari sana.
"Tony, ayo kita kembali ke mansion. Aku sudah tidak tahan disini."
"Baik, tuan."
"Hei, kau tidak perlu terburu-buru, Tristan." Ujar Reno pada Tristan.
"Tidak, aku akan beristirahat. Aku tidak betah berdekatan terlalu lama dengan kalian."
"Hei, tuan … seharusnya anda bersyukur, karena kami yang berada disini. Bukan malah Leo."
Tristan menggertakkan giginya, mendesis mendengar nama Leo.
Leo pun temannya, hanya saja dia yang paling berani menentang Tristan dan berlaku seenaknya jika berada di dekat Tristan.
"Sudahlah, kalian boleh datang ke tempatku nanti malam. Sekarang aku benar-benar ingin istirahat, sejenak."
Ucapan Tristan diterima baik oleh kedua sahabatnya. Lalu dia pergi meninggalkan area perhotelan miliknya.
***
Tristan berjalan menaiki tangga dan langkahnya terhenti, lalu menoleh ke arah Tony.
"Apa ada yang bisa saya bantu, tuan?"
"Tidak untuk saat ini. Kau boleh istirahat."
"Baik, tuan. Terima kasih." Balas Tony membungkuk.
Tristan merebahkan tubuhnya di ranjang, dia tersenyum tipis. Mengingat wajah cantik gadis itu.
Dia berpikir, pasti akan jauh lebih cantik saat dia berada di bawah kungkungannya.
"Sial!!! Baru membayangkan wajahnya saja sudah membuat milikku terasa tegang."
Lalu Tristan berjalan memasuki kamar mandi, dia berniat untuk merendam gairahnya yang mulai naik.
"Aku harus menemukan gadis itu. Dan dia harus menjadi kekasihku, peduli setan dengan usia. Lagian siapa yang berani menentang diriku." Seringaian angkuh keluar dari wajahnya.
"Aku adalah orang paling berkuasa di negara ini. Aku harus mendapatkan gadis itu."
***
"Tony, kita ke club malam. Teman-temanku sudah menunggu di sana."
"Baik, tuan. Mari," Tony membungkukkan badannya, mempersilahkan sang tuan untuk berjalan mendahului dirinya.
"Oh ya, Tony. Tolong kau kabari asisten pribadi Nyonya besar. Katakan padanya kalau aku baik-baik saja, dan suruh dia menjaganya dengan baik."
"Baik, tuan. Akan saya hubungi nanti."
"Oh ya, Tony … "
"Ya, tuan?"
Tristan menghela napas sejenak.
"Lupakan saja. Aku akan melakukan hal ini sendiri."
"Anda yakin, tuan?"
"Kau meragukanku?" Tristan berubah menjadi dingin, suaranya terdengar sangat berat. Membuat bulu kuduk berdiri.
"B-bukan begitu, tuan. M-maksud saya, saya tidak bisa membiarkan tuan pergi seorang diri. Karena diluar sana sangat berbahaya untuk nyawa anda."
Tristan menghela napas pelan.
"Aku bisa menjaga diriku. Kau tak perlu khawatir. Karena ini menyangkut masa depanku."
Tony sedikit terkejut mendengar penjelasan dari tuannya. Apakah yang dimaksud masa depan tuan Tristan? Apa dia sedang mencari wanita untuk dijadikan sebagai istrinya?
"Ck, kau tak perlu berpikir keras. Ini adalah urusanku."
"B-baik, tuan. Saya mengerti."
Ucapan Tristan sangat membuat Tony merinding dan keringat dingin tiba-tiba menetes di dahinya.
***
"Kakak, antar Ale ke sekolah." Teriak Alea dari lantai bawah.
"Astaga, Ale. Kamu gak boleh teriak-teriak gitu, sayang." Ucap Alana pada putri kesayangannya.
"Maaf, princess. Kakak baru turun, ya udah yuk?"
Ale hanya menekuk wajahnya, menatap kesal pada sang kakak.
"Aaaa, princess. Maafkan kakak, kakak … "
"Ya udah, ayo. Ale gak mau telat kalau nanti telat, Ale mau langsung pulang." Ucap Ale dengan menghentakkan kakinya.
Alana dan Ansel hanya terkekeh melihat gadis kesayangannya merajuk.
"Ya, udah. Ma, Ansel antar Ale dulu ya?"
"Kalian hati-hati, ya."
Selama perjalanan, Ale hanya sibuk membaca pesan chat di grup sekolah.
"Ale, apa kau memiliki kekasih?"
Ale terbelalak mendengar pertanyaan sang kakak.
"Kenapa kakak bertanya seperti itu?"
"Kau sibuk memainkan ponselmu."
"Aku hanya membaca grup kelas, kalau kakak tidak percaya, coba ini, kakak lihat sendiri." Jawab Ale dengan menodongkan layar ponselnya ke wajah Ansel.
Ansel terkekeh dengan itu.
"Kakak, tidak mau kau sibuk dengan urusan kisah cinta. Sekolah dulu yang baik."
"Ya, ya, ya, Ale tahu. Bawel,"
"Oke, princess. Kita sudah sampai, hubungi kakak kalau sudah pulang."
"Baik, kakak hati-hati." Lalu Ale mendaratkan kecupan di pipi Ansel.
Ansel tersenyum.
"Gadis kesayangan kakak sudah terlihat dewasa." Ansel bergumam dengan memandang bahu Ale yang semakin menjauh, masuk ke dalam area sekolah.
Lalu Ansel kembali pergi, untuk menemui sang penguasa di negara Spanyol, Tristan Adelardo Achasia.
***
"Ale, kau sudah menyelesaikan tugasmu?" tanya Lili pada Ale.
Ale menjawab hanya dengan anggukan.
"Boleh aku menyontek?"
Ale menaikkan pandangan dan menatap tajam pada sahabatnya.
Lili hanya terkekeh,
"Aku hanya bercanda. Jangan menatapku seperti itu, kau makin jelek."
"Kau menyebalkan sekali."
"Dimana Nara? Kenapa dia belum terlihat?"
"Entahlah, mungkin terjebak macet."
Ale mengangguk kembali.
"Hai, Ale." Hugo menyapa Ale dengan senyuman manis.
"Oh, hai Hugo…" balas sapa Ale dengan senyum kikuk.
"Kau sangat cantik, Alea." Puji Hugo yang membuat Ale merona.
Ale tahu, jika Hugo menyukai dirinya sejak lama. Hanya saja, dia bersikap biasa saja. Karena dia tak menaruh perasaan padanya.
"DORRRR!!!"
Ale, lili dan Hugo terlonjak kaget saat Nara dan Brian mengagetkan mereka.
"Kalian kurang kerjaan!!" Ale menggeram kesal pada kedua temannya.
Sedangkan mereka berdua hanya tertawa keras, serasa puas telah mengerjai teman-temannya.
"Ale, minggu depan ulang tahunku. Aku akan merayakannya di sebuah club malam. Dan kau harus datang." Ujar Nara pada Ale.
"Aku tidak bisa berjanji, tapi aku usahakan untuk datang." Jawab Alea.
"Ssst, diam. Mrs.Laura sudah datang." Kata Lili pada mereka.
Dan mereka pun duduk menghadap depan, dimana Mrs.Laura datang.
'Sepertinya, aku harus berbohong nanti. Aku juga ingin tahu, seperti apa suasana di club malam ' batin Ale.
***
"Tony, kita langsung ke kantor saja. Aku sudah berjanji untuk bertemu dengan Ansel. Aku harus meminta bantuan darinya."
"Baik, tuan." Jawab singkat Tony, sebelum ia melanjutkan perkataannya.
"Ehm, tuan. Saya sudah memberitahu Alice, dan dia mengatakan jika keadaan nyonya besar sedikit lebih baik dari kemarin."
"Hanya sedikit?"
'gluk'
Tony meneguk ludahnya, meskipun dia adalah tangan kanan Tristan. Tapi memungkinkan jika Tristan bisa langsung memecatnya detik ini juga.
"I-iya, tuan. Hanya itu yang Alice katakan."
"Kenapa kau gugup sekali?"
Tristan menghela napas panjang.
"Setidaknya, dia lebih baik. Walaupun hanya sedikit, benar begitu, Tony?"
"Iya, tuan."
Lalu keadaan menjadi hening, tak ada percakapan. Lalu mereka telah sampai di parkiran kantor.
***
Bersambung...
