Chapter 10
Gue langsung meremas kertas yang tertempel di pintu setelah membaca kertas itu perlahan dan menghasilkan diri gue yang kesel setengah mati membacanya.
Gimana nggak kesel coba!
Emak, Bapak, Bang Dirga nggak ada dirumah dan mengunci pintu depan maupun belakang tanpa ninggalin kunci untuk gue buka. Mending kalo mereka ngabarin gue dengan nelpon dulu sebelum pergi. Ini enggak! Malah nempelin kertas yang isinya sama sekali nggak gue terima!
Masa iya, gue disuruh nginep dirumah Daniel dulu karena mereka pulangnya besok pagi? Kan nggak ada otak! Udah tau gue sama Daniel itu nggak deket dan bahkan sering berantem. Eh malah seenaknya nyuruh gue nginep dirumah orang yang bahkan bisa gue itung berapa kali gue masuk kesana.
Gue mau marah. Tapi gue nggak tau harus marah ke siapa. Apalagi pas gue nelpon mereka satu-satu nggak ada yang angkat. Bikin gue kesel dan akhirnya mengucapkan sumpah-serapah sambil menendang-nendang pintu yang ada didepan gue dengan kuat, berharap pintu terbuka dan ngebiarin gue masuk ke dalamnya.
"Kenapa lo?" tanya Daniel yang langsung membuat gue menoleh ke asal suaranya yang saat ini tengah berdiri di pagar pembatas antara rumah gue dan dia yang tingginya cuma sampai dada.
Gue enggan menjawab dan membuang muka darinya lalu kembali merogoh saku celana gue untuk mencari nomor Reno dengan harapan kalo gue bisa menginap dirumahnya. Tapi Reno juga sama aja! Nomornya nggak aktif, begitupun juga sosial media yang dia punya. Dan itu ngebuat gue tambah frustasi sambil menggaruk kepala gue kasar.
Suata benda jatuh yang cukup keras mengalihkan perhatian gue dari arah Daniel yang saat ini sedang terduduk di tanah dengan ekspresi kesakitan yang dia keluarkan. Gue bingung dia kenapa, tapi gue nggak memperdulikannya dan kembali mencari nomor yang bisa gue hubungin untuk gue menginap hari ini.
Pokoknya gue nggak bakal nginep dirumah Daniel. Apalagi tidur di kamarnya, pasti Tante sama Om nyuruh gue tidur disana. Walaupun gue nggak yakin seratus persen sih.
"Gue tanyain lo tadi, Vin. Lo kenapa? Pake nendang-nendang pintu segala?" tanya Daniel yang sudah ada disamping gue dengan satu tangan mengelus-elus bagian belakangnya yang gue nggak tau kenapa.
Gue menatapnya, tapi cuma sebentar karena gue kembali melirik ponsel gue untuk menghubungi seseorang yang gue kenal dari kelas sebelah yang pernah gue minta nomornya waktu kerja kelompok gabungan antar kelas.
Namun baru gue mau menghubungi nomor yang udah gue temuin. Pergerakan Daniel yang membungkuk ngebuat gue teralihkan dan memperhatikannya yang mengambil kertas yang gue remas tadi. Dia membacanya lalu menoleh ke arah gue dengan kepala yang mengangguk pelan.
"Kenapa lo nggak ngomong dari tadi kalo lo disuruh nginep di rumah gue?" ujarnya yang terdengar sangat ikhlas kalo gue bakal nginep dirumahnya.
Namun walau begitu gue tetap menjawab.
"Ya karena gue nggak mau lah!" balas gue sambil menggeleng kuat.
"Kenapa nggak mau?" tanyanya dengan kedua alis yang dia naikkan.
Gue yang mendengar itu memandangnya heran.
"Lo sendiri kenapa lo kedengaran nggak keberatan kalo gue disuruh nginep dirumah elo? Kita kan nggak sedeket itu, walaupun keluarga kita udah nempel banget." ucap gue padanya, menyadarkan hubungan kita yang nggak dekat. Bahkan menyentuh kata teman pun enggak.
"Gue emang nggak keberatan kok. Kenapa gue harus keberatan kalo lo nginep di rumah gue?" tanyanya lagi dengan bahu yang ia angkat lalu diturunkan kembali.
Gue memicing lalu kemudian membalasnya. "Walaupun itu berarti gue harus tidur dikamar lo?" tanya gue balik.
Daniel terlihat berpikir sebentar. Lalu detik berikutnya ia seperti orang tersadar menatap gue dan menggelenh kuat.
"Nggak! Nggak! Gue keberatan! Lo nggak boleh nginep dirunah gue, bahkan tidur dikamar gue. Pokoknya nggak boleh." ucapnya cepat dan tergesa. Bahkan saat dia mengucapkannya seluruh tubuhnya bergerak.
"Kok gitu. Tadi lo kedengeran ikhlas tuh. Bahkan lo kayak maksa gue gitu. Kenapa tiba-tiba lo keberatan? Gue jadi curiga." ucap gue yang kini sudah nggak perduli dengan ponsel gue yang udah gue masukkan kembali ke dalam saku.
Kini gue fokus menatap Daniel dan menatapnya dengan penuh tanya sambil tangan gue yang gue taruh di dagu untuk mengelus-elus pipi gue sebagai pertanda mencari tau kebenaran darinya.
Daniel keliatan gugup, tapi dengan cepat dia merubah ekspresinya sambil berkata dengan tegas yang ngebuat gue berhenti mencurigainya.
"Gue keberatan karena gue nggak mau lo tidur dan ngotorin kamar gue dengan aura kejombloan lo yang abadi!" ucapnya yang ngebuat gue sakit hati mendengarnya.
"Gue sampe sekarang jomblo juga gara-gara elo, anjing!" balas gue sambil menunjuk wajahnya. Daniel menepisnya pelan dan menaruh kembali tangan gue ke tempat semula.
"Kenapa gara-gara gue?" tanyanya nggak tau diri.
Gue memandangnya nggak percaya. "Lo masih nanya padahal udah jelas-jelas lo selalu ngerebut gebetan gue. Masih nanya lo!? Wah parah sih. Kadar nggak suka gue sama elo itu bertambah. Dah lah, mending lo balik sana. Udah tadi di bioskop bikin gue bete. Sekarang lo malah berulah lagi. Harusnya gue tau kalo permintaan maaf lo itu nggak ada gunanya." ucap gue padanya lalu berbalik untuk kembali menendang pintu rumah yang berharap terbuka begitu saja.
"Nggak usah deket-deket lu!" sinis gue begitu melirik Daniel yang berjalan mendekat ke arah gue. Dia berhenti dan berniat untuk berkata yang gue tau apa itu sehingga gue mendahuluinya
"Nggak usah mina maaf! Kalo ujung-ujungnya lo ngulangin lagi!" tambah gue yang membuatnya nggak berkata apapun dan hanya memandang gue dengan pasrah.
Sementara gue sendiri yang udah kembali memikirkan cara gue tidur hari ini pun kembali di landa frustasi karena nomor telpon yabg ada di kontak gue semuanya nggak bisa di hubungin.
Pada kenapa sih? Baru juga jam setengah sembilan. Masa iya udah pada tidur?
"Jadi rencana lo malam ini mau kemana, Vin? Lo nggak mungkin tidur diluar kan?" tanyanya dengan nada yang gue anggap sok peduli.
"Terserah gue lah! Apa urusannya sama elo!" jawab gue kembali sinis.
Daniel menghela napasnya, lalu kemudian membuat ekspresi aneh yang ngebuat gue menatapnya curiga takut-takut kalau dia bakal berbuat hal yang enggak-enggak dan mengucapkan kalimat yang bikin gue bete sama dia.
"Ikut gue!" ucapnya, lalu dengan cepat menyambar lengan gue untuk ia tarik dan menyeret gue untuk mengikutinya keluar dari halaman rumah gue dan beralih ke halaman rumahnya yang luasnya sama persis dengan halaman rumah yang gue punya.
Gue yang udah meronta-ronta minta dilepaskan pun akhirnya berhasil begitu Daniel berhenti berlari saat dirinya sudah sampai di tempat tepat di bawah balkon kamar gue yang ada di atas sana.
"Lo apaan sih!? Hobi banget narik-narik tangan gue. Udah gue bilang sakit juga." ucap gue yang mengelus pelan lengan gue bekas tarikannya.
"Gue inget sesuatu, Vin." ucapnya. Lalu tanpa menunggu pertanyaan yang ingin gue lontarkan, Daniel berjalan mendekat ke arah pagar yang jaraknya hanya beberapa langkah. Daniel sibik mengatur sesuatu disana, lalu kemudian kembali dengan sebuah tangga yang tingginya cukup sedang dan terlihat kuat karena terbuat dari besi yang tebal.
Gue yang melihat itu segera bertanya.
"Buat apaan tuh tangga?" tanya gue padanya. Daniel menoleh dan melebarkan lobang hidungnya mengolok gue yang keheranan.
"Harusnya lo udah paham tangga ini buat apaan. IQ lo berapa sih?" balasnya.
"Kenapa jadi bawa-bawa IQ?" ucap gue nggak suka.
"Lagian pertanyaan lo nggak bermutu. Harusnya lo udah paham saat gue berhenti di bawah balokn kamar lo terus ada tangga dideket sini. Harusnya lo ngerti dong apa maksudnya setelah kejadian beberapa hari yang lalu." jelasnya yang ngebuat gue mamutar otak dengan cepat mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
Dan setelah mengingatnya, gue langsung menatapnya dengan pandangan nggak percaya karena saat ini udah ada bayangan yang menggambarkan apa yang Daniel lakukan dengan tangga itu yang sudah ada disana, tepat di bawah balkon kamar gue.
"Udah ngerti? Bagus. Jangan dibawa emosi dulu. Sekarang yang penting kita atur tangga ini supaya lo bisa naik kesana dan tidur di kamar lo sendiri." ucap Daniel, menahan segala amukan yang baru aja mau gue lontarkan.
Mendengarnya membuat gue menghirup napas dalam dan menghembuskannya perlahan mencoba sabar dan menelan semua emosi gue. Setelahnya gue berfokus memperhatikan Daniel yang menyusun tangga itu yang hanya memakan waktu beberapa menit sampai akhirnya tangga itu berhasil menyentuh balkon kamar gue dengan kokoh.
Gue sedikit merasa lega melihatnya. Karena gue nggak harus bersusah payah nyari tempat nginep apalagi harus satu kamar sama Daniel yang walaupun gue pernah mengijinkannya tidur di kasur gue beberapa waktu yang lalu. Tapi kan waktu posisinya gue ngantuk berat, jadi apapun gue iyakan tanpa berpikir panjang.
Beda sama kondisi gue yang sekarang dengan otak gue yang aktif berpikir. Jadi gue bisa menolak apapun yang berhubungan dengan Daniel.
"Eh, lo mau ngapain?" tanya gue begitu melihat Daniel menaiki tangga yang sudah ia susuk.
"Gue mau naik lah." jawabnya santai.
Gue yang mendengar itu dengan cepat menghampirinya dan mengulurkan tangan gue untuk meraih bajunya dengan maksud menahan tubuhnya agar tidak melanjutkan aksinya untuk naik ke sana.
"Woi, Vin! Lepasin gue!" teriak Daniel dari atas tangga.
Gue menggeleng kuat lalu membalasnya.
"Nggak mau! Lo sini yang turun. Ngapain lo naik-naik segala? Mau nyusup lagi lo?" ucap gue padanya.
"Enggak, Vin. Gue mau ngetes tangganya doang. Aman nggakggak buat elo." jawabnya dari sana.
"Nggak ada, nggak ada! Orang gue liat sendiri kok tanggannya keliatan aman. Lo aja yang cari alasan. Udah cepet turun. Gue udah capek nih mau tidur." ucap gue lalu menguatkan tarikan gue pada bajunya.
"Iya-iya gue turun! Jangan tarik gue kayak gitu. Nanti gue jatoh!" ucapnya, lalu bisa gue rasakan tarikan gue melemah karena tubuh Daniel sudah turun dan kakinya sudah kembali menyentuh tanah.
Melihat itu, gue pun melepaskan genggaman gue pada bajunya. Setelahnya gue maju selangkah di depan Daniel lalu bersiap untuk naik tangga itu setelah berdoa terlebih dahulu.
"Hati-hati. Biar gue pegangin tangganya dari bawah." ucap Daniel. Gue mengabaikannya lalu kemudian mulai menaruh satu kaki gue di tangga itu dan melanjutkannya dengan kaki satunya. Awalnya gue ngerasa takut untuk kembali melangkah, namun setelah gue melihat mata Daniel yang fokus natepin gue mambuat gue menjadi berani dan kemudian melanjutkannya dengan sukses sampai akhirnya gue berhasil naik ke atas balkon kamar gue.
Gue berteriak senang, lalu tanpa memperdulikan pertanyaan Daniel yang menanyakan keadaan gue disini gue meraih kenop pintu kamar gue dan berniat membukanya yang sayangnya tidak terbuka beberapa kali gue mencobanya. Dan setelah kesekian kali gue mencoba, gue teringat kalo gue udah mulai mengunci balkon gue dan nggak pernah mau membukanya setelah insiden Daniel ngewe dibalkon yang menjadi tontonan gratiz bagi Bang Dirga beberapa hari yang lalu.
Menyadarinya membuat gue kembali frustasi dan menaruh kepala gue dengan pasrah di pintu yang tertutup itu.
Beberapa detik berikutnya, gue mendengar suara langkah kaki yang mendekat di susul dengan pertanyaan yang gue jawab dengan malas.
"Pintunya terkunci." jawab gue setelah Daniel bertanya kenapa gue belum masuk kamar.
"Kok bisa? Lo kunci ya?" ucapnya yang kemudian mendekat dan menjauhkan tubuh gue dari pintu untuk ia mencoba membuka pintu itu yang tentu saja nggak bisa dia buka.
"Kenapa lo kunci sih, Vin? Gue nggak pernah tuh ngunci balkon gue selama ini." ucapnya.
"Ya kenapa lagi kalo bukan karena elo! Kalo lo nggak ngewe waktu itu, gue nggak bakal ngunci balkon gue. Gue ngunci pintunya karena gue nggak mau ngeliat pemandangan itu lagi." balas gue menjelaskan alasan kenapa gue mengunci pintu balkon gue.
"Oke. Lo mundur sedikit." ujarnya, gue mengerinyit bingung menatapnya.
"Lo mau ngapain?" tanya gue.
"Dobrak pintunya. Lo mau tidur disini terus kedinginan?" gue menggeleng kuat.
"Emang lo bisa?" tanya gue ragu, karena setau gue pintu itu tebel banget untuk di dobrak.
Namun keraguan itu langsung sirna begitu Daniel dengan mudah menendang pintu itu hingga terbuka menggunakan kakinya yang hanya ia lakukan dua kali.
Gue yang melihat itu menganga sambil menatap tidak percaya dengan langkah mendekat untuk melihat pintu yang memang terbuka kedua engsel pintu yang ada sudah terbuka dari tempatnya.
"Gue nggak tau lo sekuat itu. Pantes aja tiap lo narik-narik gua, rasanya sakit banget." ucap gue setelah menoleh padanya yang merasa bangga dengan kedua alis yang ia naik turunkan.
"Tapi ini gimana pintunya? Percuma dong kalo gue tidur nanti tapi balkon gue kebuka lebar dan angin dari luar masuk semua." ucap gue padanya sambil memandangi pintu terkapar tidak berdaya di lantai.
Gue masuk ke dalam kamar disusul Daniel yang langsung mengambil posisi membungkuk untuk meraih pintu dengan mudah dan ia berdirikan untuk ia tempelkan pintu itu jadi tertutup seperti semula.
"Nah, masalah beres." ucapnya sambil menepuk kedua tangannya membersihkan debu.
Gue tersenyum tipis lalu kemudian mengangguk padanya. Setelah itu gue berjalan ke arah kasur gue dan menghempaskan tubuh gue disana yang dibarengi dengan suara lega yang gue keluarkan.
Menatap langit-langit kamar, gue pun mulai berkhayal seraya mata gue yang merasa berat akibat ngantuk menyerang.
Namun segera gue kuatkan kembali mata gue agar terus terbuka begitu merasakan hempasan tubuh Daniel yang ikut berbaring di kasur gue dengan posisi tengkurap dengan kepala yang membelakangi gue.
"Ngapain lo? Pulang sana. Pekerjaan lo udah selesai." ucap gue padanya.
"Bentar, kek. Lo kira gue ngelakuin itu nggak pake tenaga? Gue juga mau istirahat lah sebentar." ujarnya yang ngebuat gue bungkam dan kemudian mengabaikan untuk kembali menatap langit-langit kamar kamar gue yang terlihat samar karena hanya ada cahaya yang berasal dari lampu tidur gue.
"Sampe sekarang gue masih heran. Kenapa lo bisa mudah dapetin cewek yang lo mau dan menjadikannya pacar." ucap gue tiba-tiba yang malah mengingat semua kenangan gue yang nggak ada bagus-bagusnya tentang masalah cewek dan hati gue.
Hening beberapa saat sebelum akhirnya Daniel menjawab.
"Seharusnya lo udah tau kenapa." ucapnya.
Gue tersenyum tipis disertai decihan kecil mendengarnya.
"Lo bener. Visual dan bakal lo emang nggak bisa buat nggk gue akuin. Jadi harusnya gue nggak bertanya tentang hal itu." ucap gue padanya, masih dengan mata memandangi langit-langit kamar.
"Lo pasti penasaran banget ya sama rasanya pacaran? Bahkan sampe sekarang pun belum pernah ngerasain ciuman." ucapnya, yang ngebuat gue menoleh ke arahnya.
"Gimana lo bisa tau kalo gue penasaran sama dua hal itu?" tanya gue.
"Lo terlalu ngebet buat nyari cewek untuk lo jadiin pacar. Apalagi kalo bukan alasannya itu." ujarnya, gue nggak mengelak karena itu emang bener.
"Lo bener. Tapi kalo aja lo nggak ngerebut cewek yang gue suka. Mungkin gue udah merasakan hal yang membuat gue penasaran." ucap gue lalu kembali beralih menatap ke depan gue menatap langit-langit kamar.
Hening beberapa detik antara gue dan Daniel. Lalu setelah semenit berlalu, Daniel berujar.
"Lo mau mencobanya?" tanyanya, yang ngebuat gue bingung.
"Nyoba apa?" tanya gue dengan kerutan di dahi gue.
Jeda beberapa saat sebelum Daniel melanjutkannya.
"Ciuman." ucapnya.
Gue yang mendengar itu seketika menoleh ke arahnya dan kemudian menjawab.
"Mau. Tapi sama siapa?" tanya gue yang udah duduk dari tidur gue sambil mata yang terus menatap Daniel yang nggak gue tau ngeluarin ekspresi apa karena memang kamar gue samar-samar dan membuat gue sulit untuk melihat dengan jelas.
Daniel ikut duduk dari posisinya lalu mendekatkan tubuhnya.
"Lo bisa mencobanya sama gue." ucapnya dengan gampang.
"Lo gila? Lo cowok, njing. Ngapain nyoba ciuman bareng lo." balas gue padanya.
"Ya daripada lo terus penasaran? Kalo lo ntoba dari sekarang kan, lo bisa belajar kalo nanti udah dapet cewek. Asal lo tau ya, gue selalu di bilang good kisser sama cewek-cewek yang pernah gue cium." jelasnya yang ngebuat gue berpikir untuk mempertimbangkan tawarannya.
Kalo dipikir-pikir sih dia ada benarnya. Gue belum tau sama sekali cara ciuman yang bener. Bahkan kalo gue mencobanya sama Daniel gue nggak bakal rugi apapun. Gue bukan penganut yang marah kalo ciuman pertama gue direbut sama orang yang nggak suka. Jadi dengan begitu gue dengan ragu mengangguk dan berkata.
"Ok gue mau. Tapi seperti yang lo tau. Gue nggak tau apa-apa tentang ciuman." ucap gue padanya.
"Nggak perlu khawatir. Lo cuma perlu diem dan ikutin bibir gue saat bibir gue bergerak nanti." ucapnya. Gue yang mendengar itu cuman mengangguknya.
Setelah itu Danie kembali mendekatkan dirinya ke arah gue sampai jarak gue di antaranya hanya berjarak beberapa senti aja. Bahkan saat ini Daniel udah menaruh kedua tangannya dimuka gue, menatap gue denhan seksama sebelum akhirnya dia mendekatkan wajahnya untuk menyentuh bibir gue yang bisa gue rasakan perasaaan geli begitu bibirnya nenempel sempurna di bibir gue.
Gue menegang, dengan jantung berdebar dan kedua tangan yang dingin. Gue merasa gugup, apalagi Daniel udah memejamkan matanya dan mulai menggerakan bibirnya perlahan yang ngebuat gue mau nggak mau ikut terpejam dan merasakan pergerakan bibir Daniel yang terasa sensual dan lengket di bibir gue.
Daniel menggerakkan bibirnya cukup lama. Bermain disana dan ngebuat gue yang udah terlena dengan ciumannya yang bisa untuk menggerakan bibir gue perlahan untuk membalas ciumannya. Namun saat itu gue lakukan, Daniel menghentikan pergerakan bibirnya, ia menunggu bibir gue bergerak menciumi bibirnya samoai beberapa detik kemudian Daniel kembali menggerakkan bibirnya sehingga terjadi ciuman yang saling berbalasan.
Gue yang awalnya ingin mencoba kini malah menikmatinya. Ciuman Daniel benar-benar enak. Bahkan saat ini gue udah menaruh kedua tangan gue di lehernya, mengalunginya untuk memperdalam ciuman itu padanya. Gue yang awalnya bodoh dalam berciuman, seketika merasa paling hebat dalam urusan ciuman.
Namun itu nggak berlangsung lama. Karena rasa lelah yang gue rasakan, dan mata gue yang terus terpejam menikmati ciuman itu. Gue pun dengan mudahnya melepaskan ciuman itu untuk menjatuhkan tubuh gue diatas kasur dan terlelap pulas dengan kepala yang terasa berat akibat kantuk yang gue tahan sedari tadi.
Gue nggak tau itu tindakan bodoh atau bukan. Yang jelas gue masih bisa mendengar suara Daniel yang memaki denhan berkata.
"Sial." ucapnya, sebelum akhirnya gue benar-benar terlelap dan nggak tau apa lagi yang terjadi selanjutnya.
