Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Ujian Skripsi

Dua hari lagi sebelum ujian Skripsinya, Aisyah mempersiapkannya dengan baik dan cermat. Aisyah sangat butuh Arya untuk membimbingnya juga sekaligus berdiskusi tentang skripsinya. Di setiap sepertiga malam, Aisyah tak lupa untuk Sholat Tahajut memohon kepadaNya. Aisyah ingin sekali mendapatkan nilai yang sangat memuaskan dengan harapan nantinya berguna buat dirinya.

Pada pukul setengah satu siang, Aisyah pulang ke rumah dari kampusnya setelah berkonsultasi dengan dosen-dosen pembimbingnya. Di saat ini, hanya ada ibu dan pembantunya di rumah. Di saat ini, ibunya, bu Salamah, membuka pintu rumahnya setelah Aisyah membunyikan bel tiga kali.

“Loh kok ibu yang membukakan pintu? Ke mana Bibik, bu?” Aisyah bertanya ke ibunya tetap dengan kalem dan lemah lembut.

“Sedang Sholat di kamarnya.” Bu Salamah menjawabnya singkat.

Bu Salamah tampak cemberut.

“Ibu sudah menunaikan Sholat Dzuhur?” Aisyah nanya dengan tersenyum sambil menutup pintu rumah.

“Sudah.” Bu Salamah kembali menjawabnya singkat sambil memutar kursi rodanya untuk dihadapkan ke dalam.

“Ibu sudah makan siang juga?” Aisyah nanya lagi dengan tersenyum dan memegang kursi roda ibunya.

“Sudah.” Bu Salamah menjawabnya singkat lagi.

Aisyah segera mendorong kursi roda ibunya.

“Ibu sudah minum obat?” Aisyah nanya sambil tersenyum dan menengok sejenak wajah ibunya.

“Belum.” Ibunya menjawab singkat lagi.

“Kok belum sih, bu?” Aisyah nanya. “Kalau kambuh lagi, gimana?”

“Dorong ibu sampai ke meja makan. Sambil kamu makan siang, ibu ingin ngobrol-ngobrol dengan kamu.” Perintah ibunya serius.

“Baik, bu.” Aisyah menjawabnya.

“Di samping apa di hadapan ibu?” Aisyah nanya sambil perlahan-lahan mendorong kursi roda ibunya menuju ke meja makan.

“Di hadapan ibu.” Pinta bu Salamah.

“Baik, bu.” Aisyah menjawabnya.

Tidak beberapa lama kemudian, Aisyah menempatkan ibunya di hadapannya dan dirinya mulai makan di ruang makan.

“Ada yang ibu sampaikan ke Aisyah sekarang?” Aisyah nanya sambil makan siang.

“Aisyah, kamu kok kelihatannya serius kuliah daripada mengurus restoran?” Ibunya nanya dengan curiga.

“Bu, Aisyah serius keduanya kok. Kuliah dan mengurus restoran.” Aisyah memberitahukannya dengan tersenyum.

Bu Salamah terdiam sejenak.

“Habis ini Aisyah ke restoran. Aisyah percayakan kepada mas Arya dan pak Tarman, bu.” Sambung Aisyah.

“Loh kok Arya sama pak Tarman?” Ibunya nanya. “Ke mana Bima?”

“Kalau siang, mas Bima masih di kantor, bu. Sore biasanya ke restoran. Itupun cuman sebentar.” Aisyah menjawabnya tetap kalem dan lemah lembut.

“Jangan banyak-banyak mempercayakan kepada mereka berdua.” Pinta ibunya.

“Aisyah mengerti kok, bu. Setidaknya, mereka berdua orang jujur, bu.” Aisyah menjawabnya sambil makan.

“Kamu sudah Sholat Dzuhur?” Ibunya nanya.

“Sudah di kampus tadi, bu.” Aisyah menjawabnya.

“Tiga hari lagi loh kamu menikah dengan Bima.” Ibunya mengingatkannya dengan nada serius.

“Aisyah mengerti, bu.” Aisyah menjawabnya.

“Kamu jangan kuliah terus.” Ibunya memperingatkannya lagi.

“Bukan kuliah, bu. Tapi bimbingan Skripsi. Dua hari lagi Aisyah ujian Skripsi, bu.” Aisyah menjawabnya.

“Kenapa kamu lebih serius kuliah daripada mempersiapkan kehidupan setelah menikah?” Ibunya nanya dengan serius.

“Aisyah ingin kuliah lagi, bu. Tapi entah di mana Aisyah belum memutuskannya.” Aisyah menjawabnya tetap kalem dan lemah lembut.

“Ibu ingin semua utang Almarhum Ayahmu segera kamu lunasi.” Ibunya berpesan dengan serius.

“Ibu tidak ingin pernikahanmu dengan Bima tertunda gara-gara kamu kuliah lagi.” Ibunya menambahkan.

“Aisyah mengerti, bu.” Aisyah menjawabnya.

“Aisyah kuliah lagi setelah menikah.” Aisyah menyambungnya.

“Tidak, Aisyah!” Ibunya mencegahnya.

“Ibu tidak setuju kamu kuliah lagi. Ibu ingin kamu mengurusi Bima dan restoran dengan baik.” Ibunya menasehatinya.

Aisyah terdiam.

“Kamu harus patuhi ibu, Aisyah!” Ibunya berpesan.

“Biar hidup ibu dan Almarhum Ayahmu tenang!” Ibunya berkata.

Bu Salamah segera terdiam dan batu-batuk cukup lama.

“Ibu minum obat sekarang ya.” Aisyah mengalihkan perhatian.

“Sekarang Aisyah ambilkan ya.” Aisyah segera beranjak dari kursinya dan sudah selesai makan siang.

Aisyah menuju ke dalam kamar ibunya dekat dengan ruang makan untuk mengambilkan obat-obatnya ibunya dari rumah sakit kemarin. Bu Salamah masih batuk-batuk. Tidak beberapa lama kemudian, Bik Imah datang menghampiri bu Salamah dan langsung memijat-mijat tengkuknya.

“Cepet non ambilkan obat-obatnya ibu!” Teriak Bik Imah masih bermukena.

“Iya, Bik. Ini sudah saya ambilkan.” Aisyah menjawabnya dengan membawa obat-obatnya ibunya.

Bik Imah segera mengambil segelas air putih untuk diberikan kepada bu Salamah.

“Bu, setelah minum obat, ibu harus tidur.” Perintah Bik Imah kalem.

Tanpa berkata, bu Salamah patuh meminum obat-obatnya.

“Biar Aisyah saja yang mengantarkan ibu ke kamarnya, Bik.” Aisyah segera mendorong kursi roda ibunya ke kamarnya sendiri.

Tidak beberapa lama kemudian, Aisyah dibantu Bik Imah mengangkat bu Salamah ke atas kasurnya untuk tidur. Bu Salamah masih batuk-batuk.

“Aisyah, cepet kamu ke restoran. Biar Imah saja yang menunggu ibu di sini.” Pinta bu Salamah ke Aisyah.

“Tapi ibu masih belum tidur.” Aisyah membujuknya, karena Aisyah tidak mau meninggalkan ibunya itu dalam keadaan masih batuk-batuk.

“Ibu nggak apa-apa, Aisyah. Ibu ingin kamu ke restoran sekarang.” Bu Salamah meyakinkannya.

“Baik, bu.” Aisyah menjawabnya.

“Bik, Aisyah titip ibu ya. Jaga ibu baik-baik ya Bik.” Aisyah berpesan ke Bik Imah dengan agak kuatir, tapi Aisyah harus mematuhi perintah ibunya.

“Baik, non.” Bik Imah menjawab.

Tidak beberapa lama kemudian, Aisyah keluar rumah menuju ke restorannya sesuai dengan perintah ibunya.

30 menit kemudian di restorannya..

“Non, sejak pagi sampai siang jam setengah satu tadi rame banget restorannya, non.” Pak Tarman memberitahukannya ke Aisyah setelah Aisyah sudah di dalam restoran.

“Alhamdulillah, pak!” Aisyah mengucap syukur.

“Iya, mbak. Rame banget seminggu ini.” Arya memberitahukannya juga ke majikannya itu.

“Alhamdulillah, mas Arya!” Aisyah mengucap syukur lagi.

“Mas Arya sama pak Tarman sudah makan siang?” Aisyah nanya.

“Belum, non. Mas Arya juga belum, non.” Pak Tarman menjawabnya.

“Kalau begitu, mas Arya dan pak Tarman istirahat dulu ya untuk makan siang. Biar Aisyah yang menggantikan.” Aisyah berpesan kepada pak Tarman dan Arya.

“Baik, non!” Pak Tarman menjawab.

“Baik, mbak!” Arya menjawab.

“Pak Tarman dan mas Arya makan banyak juga nggak apa-apa kok. Jangan sungkan-sungkan.” Aisyah menyuruh.

“Nggak apa-apa ya non?” Pak Tarman nanya untuk memastikannya lagi.

“Nggak apa-apa, pak. Silakan.” Aisyah menjawabnya dengan tersenyum.

“Alhamdulillaahh.” Pak Tarman mengucap syukur.

“Mas Arya makan banyak juga ya.” Aisyah menyuruh.

“Insya Allah, mbak.” Arya menjawab.

“Halah mas Arya malu-malu.” Pak Tarman menyeletuk.

Aisyah tersenyum.

“Saya nggak kuat makan banyak, pak.” Arya menjawabnya.

“Yuk kita berdua ke dapur, mas. Capek dan laper banget nih, mas.” Pak Tarman mengajak Arya.

“Oke, pak.” Arya menjawabnya.

“Pak Tarman tinggal makan siang dulu ya non Aisyah.” Pak Tarman pamit ke majikannya itu ke dapur bersama Arya.

“Silakan, pak.” Aisyah menjawabnya dengan tersenyum ke pak Tarman.

“Mari, mbak.” Arya pamit ke Aisyah.

“Silakan, mas.” Aisyah menjawabnya dengan tersenyum.

Tidak beberapa lama kemudian, pak Tarman dan Arya ke dapur bersama untuk makan siang dan istirahat sejenak. Aisyah segera menggantikan Arya dan pak Tarman sebagai pelayan dan tukang bersih-bersih. 10 menit kemudian, Aisyah menyuruh salah seorang pelayan restorannya untuk menutup restoran, karena waktunya sekarang adalah istirahat selama satu jam. Selama pegawai-pegawainya istirahat, Aisyah membereskan apa-apa di meja-meja makan restorannya yang harus dibereskan dan menyapu lantainya.

45 menit kemudian, pak Tarman dan Arya sudah selesai makan siang dan keduanya segera kembali ke ruang utama restoran. Waktu istirahat selesai kurang 15 menit lagi.

“Loh non Aisyah kok menyapu lantai juga?” Pak Tarman nanya di belakang majikannya itu.

“Jangan capek-capek, non.” Pak Tarman berkata.

“Biarin aja, pak.” Aisyah menjawabnya.

“Nanti kalo non Aisyah sakit, gimana?” Pak Tarman nanya lagi.

“Sekalian Aisyah olahraga ini, pak.” Aisyah menjawabnya sambil terus menyapu lantai.

“Biar pak Tarman aja non kalau urusan bersih-bersih lantai. Kirain tadi non Aisyah cuman mencatat pesanan-pesanan pengunjung aja untuk disampaikan ke dapur.” Pak Tarman mencegahnya.

“Sini non biar pak Tarman aja yang menyapu lantai.” Pak Tarman segera mengambil sapu di tangan Aisyah agak memaksanya.

“Baik kalau itu memang keinginannya pak Tarman. Kebetulan Aisyah ada perlu dengan mas Arya sekarang.” Aisyah berkata setelah sapu yang dipegangnya diambil oleh seorang pegawainya yang tertua itu.

“Ada yang bisa saya bantu, mbak?” Arya nanya ke Aisyah setelah mendengar majikannya itu perlu dengannya.

“Iya, mas. Aisyah sangat perlu mas Arya sekali nih.” Aisyah menjawabnya serius.

“Kita bisa ngobrol-ngobrol berdua saja di ruang kerja saya, mas Arya?” Aisyah nanya ke Arya.

“Bisa, mbak.” Arya menjawabnya tetap dengan santun ke majikannya itu.

Tidak beberapa lama kemudian, Aisyah bersama Arya menuju ke ruang kerjanya untuk membicarakan tentang ujian skripsi yang dua hari lagi akan dilaksanakan di kampusnya. Selama dua hari mulai nanti malam sekitar pukul 7, Aisyah meminta Arya membimbingnya juga sekaligus berdiskusi mengenai skripsinya. Arya menyanggupinya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel