Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Keluh Kesah

Di malam harinya menjelang pukul 7, Aisyah sudah bersiap-siap mengkonsultasikan dan mendiskusikan skripsinya ke Arya. Aisyah mempercayakan sepenuhnya kepada Arya, karena Arya sejatinya adalah seorang Sarjana Strata Satu Ekonomi dan kuliahnya jurusan Ekonomi. Seperti biasanya, Aisyah berjilbab, berbaju lengan panjang, dan roknya panjang semata kakinya.

“Kamu mau ke mana, Aisyah?” Ibunya nanya dengan mendekatinya di ruang tamu sendirian.

Ibunya tampak sewot.

“Eh, ibu.” Aisyah berkata setelah menoleh ke ibunya yang sudah di dekatnya.

“Aisyah mau mengkonsultasikan dan mendiskusikan skripsi ke mas Arya, bu.” Aisyah menambahkan.

“Malam-malam begini?” Ibunya nanya agak marah.

“Iya, bu. Dua hari lagi Aisyah akan ujian skripsi.” Aisyah menjawabnya tetap kalem dan lemah lembut.

“Bukannya sudah kamu konsultasikan ke dosen-dosen pembimbingmu?” Ibunya nanya dengan curiga.

“Memang sudah, bu. Tapi Aisyah butuh banget mas Arya, bu.” Aisyah menjawabnya.

“Kenapa Arya? Bukan pak Tarman?” Ibunya nanya lagi.

“Sebenarnya mas Arya itu Sarjana Strata Satu Ekonomi, bu. Dia bekerja di restorannya Aisyah sambil mengurus Beasiswa S2nya ke Australia, bu. Mas Arya dulu juga kakak kelas Aisyah, bu.” Aisyah menjawabnya dengan bersemangat sekali.

“Alasan aja kamu.” Ibunya menggerutu.

“Bu, Aisyah mohon kabulkan permintaan Aisyah lulus kuliah ini ya bu.” Aisyah memohon.

“Baik. Ibu kabulkan sekali ini saja.” Ibunya menjawabnya agak marah.

“Setelah itu, kamu menikah dengan Bima dan tetap mengurusi restoran.” Ibunya menambahkan.

“Insya Allah, bu.” Aisyah menjawabnya tetap kalem dan lemah lembut.

Tidak beberapa lama kemudian, bel pintu rumahnya berbunyi tiga kali. Aisyah segera bergegas membuka pintu.

“Eh, mas Bima.” Aisyah sangat terkejut melihatnya.

“Ada apa, mas?” Aisyah nanya kepadanya.

“Aku ada perlu dengan kamu malam ini, sayang.” Bima menjawabnya.

“Aisyah, suruh nak Bima masuk. Jangan di depan pintu.” Ibunya teriak.

“Silakan masuk, mas.” Aisyah mempersilakan Bima.

Setelah itu, Aisyah menutup kembali pintunya. Penampilan Bima rapi dan wangi. Bima bermaksud mengajak Aisyah ke Diskotek mala mini untuk menghibur diri.

“Silakan duduk, nak Bima.” Ibunya mempersilakan Bima dengan tersenyum.

Tanpa mengucap terima kasih kepada ibunya Aisyah, Bima duduk di sofa.

“Ada perlu apa kok malam-malam datang kemari, nak Bima?” Ibunya Aisyah nanya.

“Aisyah, cepat kamu ke dapur buatkan Bima minum teh atau kopi.” Ibunya menyuruh Aisyah.

“Nggak usah, bu. Aku ke sini hanya sebentar saja.” Bima menjawabnya dengan tegas.

“Ngomong-ngomong, ada perlu apa datang ke sini, nak Bima?” Ibunya Aisyah nanya lagi.

Di saat ini, Rani melihat Bima, Ibunya, dan kakaknya sedang mengobrol-ngobrol di ruang tamu di lantai dua di depan kamarnya. Suara musik pop rock sayup-sayup terdengar dari ruang tamu, karena pintu kamarnya Rani dibuka. Aisyah duduk di dekat calon suaminya itu.

“Aku ke sini mau mengajak Aisyah ke Diskotek, bu. Biasalah, refreshing, bu. Habis suntuk sekali akhir-akhir ini, bu.” Bima menjawabnya kalem.

Dalam hatinya, Aisyah mengucap Istighfar. Aisyah masih diam.

“Oh itu. Iya nggak apa-apa, nak Bima. Sekali-kali boleh mengajak calon istri kamu ini ke Diskotek.” Ibunya Aisyah berkata dengan tersenyum.

“Bagaimana, Aisyah?” Ibunya nanya ke putri sulungnya itu.

Rani masih melihat dari lantai dua.

“Aku mau kamu ganti pakaian yang gaul ya sayang. Kaos ketat. Tidak berkerudung seperti sekarang.” Bima menambahkan.

“Selain ke Diskotek, bisa nggak ke café dan restoran, mas?” Aisyah nanya.

“Aku maunya ke Diskotek, sayang. Suntuk banget akhir-akhir ini menjelang kita menikah, sayang.” Bima menjawab.

“Saya nggak mau kalau ke Diskotek, mas.” Aisyah menolak tetap kalem dan lemah lembut.

“Aisyah, dia suami kamu tiga hari lagi!” Ibunya mengingatkan Aisyah dengan agak marah.

“Iya, bu. Aisyah tahu.” Aisyah menjawabnya.

“Aisyah nggak mau ke Diskotek, mas.” Aisyah menegaskan.

“Kamu ini bagaimana sih, Aisyah? Dia itu sudah halal buat kamu!” Ibunya menyela dengan marah.

Rani turun dengan tersenyum-senyum menuju ke ruang tamu.

“Maaf, bu. Mas Bima belum halal buat Aisyah dan mas Bima juga masih belum halal buat Aisyah.” Aisyah menegaskan lagi.

“Dasar kamu tidak bisa diuntung, Aisyah.” Ibunya marah ke putri sulungnya itu.

“Maafkan Aisyah ya bu dan mas Bima. Aisyah tidak mau ke Diskotek.” Aisyah berkata dengan menundukkan wajahnya.

“Maaf sekali ya nak Bima. Malam ini Aisyah rewel banget pembawaannya. Maklum, tiga hari lagi akan menjadi istri kamu. Ya begitulah perempuan, nak Bima. Sama seperti ibu dulu.” Ibunya Aisyah membujuk Bima.

“Kamu mau ke mana, Aisyah?” Bima nanya.

“Konsultasi dan diskusi skripsi, mas.” Aisyah menjawab masih tetap kalem dan lemah lembut.

“Dengan siapa?” Bima nanya dengan curiga.

“Mas Arya, mas.” Aisyah menjawabnya dengan menunduk.

“Sontoloyo itu lagi!” Bima menggerutu.

“Nak Bima barusan menyebut apa ke Arya?” Ibunya Aisyah nanya ke Bima dengan tersenyum.

“Sontoloyo, bu!” Bima menjawabnya dengan tegas.

Bu Salamah segera tertawa setelah mendengarnya. Aisyah mengucap Istighfar di dalam hatinya.

“Arya pantas mendapatkan julukan itu, nak.” Ibunya Aisyah berkata, lalu tertawa lagi.

Bima terdiam melihat Rani menghampirinya dengan tersenyum-senyum kepadanya.

“Mas Bima…!” Rani memanggilnya.

“Siapa itu, Aisyah? Aku belum pernah melihatnya.” Bima nanya.

Rani di dekatnya Bima sekarang. Bima melihatnya dari ujung kepala hingga kakinya.

“Namanya Rani. Dia adiknya Aisyah, nak Bima.” Ibunya Aisyah menyahut.

“Nak Bima belum tahu rupanya.” Ibunya Aisyah melanjutkan.

“Sekarang aku sudah tahu namanya dan Rani sudah tahu namaku, bu. Berarti kita berdua sudah saling kenal.” Bima menjawabnya.

Aisyah masih menundukkan wajahnya.

“Aku tahu dari ibu dan kak Aisyah, mas.” Rani berkata.

“Mas Bima mau mengajak kak Aisyah ke Diskotek malam ini?” Rani nanya.

“Kok kamu tahu?” Bima nanya dengan sangat terkejut.

“Rani sejak tadi melihat di lantai dua, mas.” Rani menjawabnya dengan tersenyum.

“Kak Aisyah mana mau ke Diskotek, mas. Dia termasuk perempuan alim, mas.” Rani menambahkan.

“Rani mau kok menemani mas Bima ke Diskotek malam ini.” Rani menawarkan diri.

“Astaghfirullaahh....Rani!” Aisyah mencegahnya.

“Jangan, Rani!” Aisyah menyambung.

“Sekali-kali, kak. Kasihan mas Bima kelihatannya suntuk dan bête. Rani juga suntuk dan bête. Rani mala mini butuh hiburan, kak.” Rani beralasan.

“Aisyah, biarin aja Rani menemani Bima ke Diskotek.” Ibunya melarang Aisyah melarang Rani.

“Kamu diajak nggak mau. Kamu sok alim, Aisyah!” Ibunya mengomelinya.

Aisyah menundukkan wajahnya lagi. Tidak beberapa lama kemudian, Arya membunyikan bel pintu rumah tiga kali setelah mengaji seperti biasanya selepas Sholat Isya’. Rani membukakan pintu untuknya.

“Hei, sontoloyo! Awas kamu kalau ganggu Aisyah. Aku nggak akan segan-segan memecat kamu.” Bima langsung berdiri memarahi Arya.

“Mas..! Tenang dulu dong!” Aisyah mencegahnya.

“Saya janji nggak akan ganggu mbak Aisyah kok, mas. Saya hanya membantu mbak Aisyah mengkonsultasikan dan mendiskusikan skripsinya ke saya, mas.” Arya menjawabnya tetap bersabar.

“Iya, mas Bima. Saya yang berpesan ke mas Arya sendiri kok tadi siang di restoran.” Aisyah membela Arya.

“Mas Bima, ayo kita pergi sekarang.” Rani mengajak Bima ke Diskotek.

“Silakan, nak Bima. Biar Rani yang menemani, nak Bima.” Ibunya Aisyah mengijinkan.

“Baik, bu.” Bima menjawabnya singkat.

Tidak beberapa lama kemudian, Rani yang berkaos ketat, rok mini, dan tak berkerudung jauh sekali tidak seperti Aisyah itu segera pergi keluar ke Diskotek bersama Bima.

“Dasar sok alim kamu!” Ibunya menggerutu sambil menjauh dari Aisyah dan Arya di ruang tamu menuju ke kamarnya. Bik Imah sejak tadi menguping pembicaraan mereka. Bik Imah segera keluar dari dalam kamarnya untuk membuatkan minuman teh hangat dan menyuguhkan cemilan-cemilan buat Arya setelah bu Salamah masuk ke dalam kamarnya. Aisyah mulai mengkonsultasikan dan mendiskusikan skripsinya selama satu jam setengah. Setengah jam setelahnya, Aisyah berkeluh kesah ke Arya. Arya pun menyuruh Aisyah tetap bersabar dan Sholat. Aisyah mematuhinya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel