Bersamamu
Tiga hari ke depan dimulai hari ini Aisyah resmi akan dinikahi Bima, tunangannya sendiri atas dasar ikatan pelunasan utang-utang Almarhum Papanya Aisyah. Aisyah tidak bisa berkutik menghadapinya, karena Ibunya tidak rela hidup dalam kesengsaraan. Apabila Aisyah menolaknya, maka semua kekayaan Ibunya peninggalan Almarhum suaminya berupa dua mobil Avanza, dua buah rumah, dan sebuah restoran fast food akan melayang ke tangan Mamanya Bima. Setahun yang lalu sebelum Almarhum Papanya Aisyah atau Almarhum suaminya Bu Salamah meninggal, beliau terjerat utang sangat banyak pada sebuah bank swasta demi membeli dua mobil Avanza, membesarkan dua rumah, dan pengembangan bisnis restorannya. Namun, apa daya karena restorannya jalan di tempat sehingga bunga utangnya menumpuk hingga aset-asetnya dijual ke Mamanya Bima. Pada awalnya, Mamanya Bima nggak mau, tapi berhubung Bima jatuh hati kepada Aisyah, Bima membujuk Mamanya untuk mengajak Aisyah bertunangan demi melunasi utang-utangnya Almarhum Papanya Aisyah. Atas desakan dan permintaan Ibu dan Papanya, akhirnya Aisyah menerima pertunangan dengan Bima yang belum dikenal Aisyah sama sekali sebelumnya. Sebulan kemudian, Papanya Aisyah meninggal akibat sesuatu yang masih misterius hingga kini.
“Pa, gimana rencana ke depannya kita setelah aku resmi menikahi Aisyah?” tanya Bima kepada Papanya di sampingnya sambil menyetir mobil pulang. Mamanya Bima duduk di belakang.
“Tanya Mama kamu saja. Papa nggak ikut-ikut.” jawab Papanya Bima.
“Papa ini gimana sih? Mama nanti melibatkan Papa terus pokoknya.” sahut Mamanya Bima.
“Mama mau melibatkan Papa apa?” tanya Papanya Bima sambil menoleh ke belakang.
“Papa ikut mengawasi pengambilalihan kekayaan.” jawab Mamanya Bima.
“Papa ngerti?” tanya Mamanya Bima.
“Pokoknya Mama pengin semuanya menjadi milik Mama.” kata Mamanya Bima.
“Papa dapet komisi nggak, Ma?” tanya Papanya Bima. Bima hanya tersenyum-senyum sejak tadi.
“Papa minta komisi berapa?” tanya Mamanya Bima.
“Paling enggak 1 M lah, Ma.” jawab Papanya Bima.
“Baik. Mama bayar nanti kalau sudah berhasil.” Mamanya Bima berjanji ke suaminya.
“Begitu dong, Ma. Masak Papa nggak dapet apa-apa.” kata Papanya Bima.
“Betul nggak, Bim?” tanya Papanya Bima ke Bima.
“Betul, Pa.” jawab Bima. Kemudian, kedua tertawa terbahak-bahak.
“Itu baru komisi yang pantas buat Papa, Ma.” kata Papanya Bima ke istrinya. Kemudian, Papanya Bima tertawa terbahak-bahak lagi.
“Awas nanti kalau sampai gagal. Kalau gagal, Mama nggak akan sudi bersuamikan Papa lagi. Mama akan cari pria lain yang lebih kaya dari Papa.” ancam Mamanya Bima.
“Waduuhh...kok begitu, Ma?” tanya Papanya Bima. Bima tertawa-tawa mendengarnya.
“Itu sudah resiko, Pa.” sahut Bima, lalu tertawa terbahak-bahak lagi.
“Pokoknya Mama maunya Papa kerja yang bener nanti. Dan, harus berhasil kalau nggak mau Mama usir dari rumah.” kata Mamanya Bima.
“Baiklah, Ma. Papa akan berusaha sebaik-baiknya.” jawab Papanya Bima.
“Nah gitu dong, Ma. Kasih Papa peringatan biar kerjanya bener nanti.” kata Bima, lalu tertawa terbahak-bahak.
“Pasti dong.” jawab Mamanya Bima.
“Nanti kamu juga harus terapin strategi-strateginya Mama ke Aisyah. Biar semua bisa menjadi milik Mama.” pesan Mamanya Bima ke putra satu-satunya.
“Beres, Ma.” jawab Bima. Tidak beberapa kemudian, Bima sampai di depan rumahnya yang sangat besar dan berlantai tiga. Sebelum masuk, Bima harus membunyikan klakson mobilnya agar dua satpam yang bertugas di pos satpam dekat dengan pagar rumahnya tahu. Hari ini Aisyah ke restorannya dulu sebelum ke kampus untuk mengkonsultasikan skripsinya. Di dalam ruang kerjanya, Aisyah terlihat menangis sesenggukan sedang menulis sesuatu di buku hariannya. Pak Tarman sekarang sedang mengetuk-ngetuk pintu ruang kerjanya Aisyah.
“Silakan masuk. Tidak dikunci kok.” teriak Aisyah, lalu mengusap-usap air matanya yang berlinang ke kedua pipinya. Karena Pak Tarman mendengarnya dari luar, Pak Tarman pun membuka pintu, tapi pelan-pelan.
“Assalamu’alaikum, neng.” Pak Tarman mengucapkan salam terlebih dahulu kepada pimpinannya itu.
“Wa’alaikum salam. Silakan duduk, pak.” jawab Aisyah.
“Terima kasih, neng.” ucap Pak Tarman. Aisyah sesekali mengusap-usap linangan air matanya.
“Ada yang bisa Aisyah bantu, Pak?” tanya Aisyah dengan suara agak serak karena tadi sempat menangis. Pak Tarman sejenak mengamati raut wajah dan kedua mata indahnya Aisyah.
“Ada apa ke sini, Pak? Ada perlu dengan Aisyah?” tanya Aisyah lagi untuk mengalihkan perhatiannya Pak Tarman.
“Begini, neng. Pak Tarman ke sini mau ngasih tahu ke neng Aisyah kalau istri saya di desa sedang butuh duit untuk tambahan biaya sekolahnya cucu saya, neng. Cucu saya itu masih kelas tiga SD, neng.” jawab Pak Tarman. Kecurigaannya Pak Tarman kalau Aisyah sedang bersedih disimpan dulu.
“Terus gimana lagi, pak?” tanya Aisyah masih dengan suara serak akibat telah menangis.
“Mohon maaf sebelumnya ya neng. Saat ini kan masih lama waktunya Pak Tarman gajian.” jawab Pak Tarman berbelit-belit.
“Memang iya, Pak.” kata Aisyah singkat.
“Apa yang harus Aisyah lakukan ke Pak Tarman sekarang?” tanya Aisyah.
“Pak Tarman minta separuh gaji sekarang, neng.” jawab Pak Tarman.
“Separuhnya lagi Pak Tarman minta tepat di waktu gajian nanti, neng.” kata Pak Tarman.
“Baik, Pak. Aisyah kasih sekarang.” jawab Aisyah. Setelah itu, Aisyah membuka laci mejanya yang berisi uang sebesar Rp.5 juta untuk berjaga-jaga apabila pegawainya mendadak punya kepentingan mendesak seperti Pak Tarman saat ini.
“Terima kasih banyak ya neng.” ucap Pak Tarman.
“Sama-sama, Pak. Ini sudah kewajibannya Aisyah sebagai pimpinannya Pak Tarman.” jawab Aisyah. Pak Tarman kini mengamat-amati raut wajah dan suara serak Aisyah. Tidak beberapa lama kemudian, Aisyah memberikan sejumlah uang yang diminta Pak Tarman tadi ke Pak Tarman.
“Aisyah melebihkan Rp.200 ribu, Pak.” kata Aisyah sambil memberikan uangnya Pak Tarman.
“Loh, neng? Nggak perlu repot-repot, neng. Duitnya Pak Tarman saja ini sudah cukup, neng.” jawab Pak Tarman.
“Nggak apa-apa, Pak. Terima saja. Aisyah ikhlas kok, Pak.” kata Aisyah.
“Terima kasih banyak ya neng. Semoga restorannya barokah dan lancar rejekinya. Aamiin.” ucap Pak Tarman sambil mengambil uangnya dari tangan Aisyah.
“Sama-sama, Pak. Aamiin.” jawab Aisyah, lalu mengusap-usap air matanya lagi karena teringat dengan perjodohan tadi.
“Neng Aisyah menangis ya?” tanya Pak Tarman. Aisyah menjawabnya dengan mengangguk.
“Kenapa neng Aisyah menangis?” tanya Pak Tarman lagi.
“Soal tadi, Pak.” jawab Aisyah.
“Soal Bima dan keluarganya?” tanya Pak Tarman. Aisyah menjawabnya dengan mengangguk.
“Gimana lagi, Pak. Aisyah harus menerimanya. Ibuk maunya begitu. Ya sudah Aisyah jalanin aja, Pak.” jawab Aisyah, lalu sesenggukan.
“Neng Aisyah yang sabar ya. Pasti ada hikmah di balik itu semua nanti. Pak Tarman sangat yakin, neng.” nasehat Pak Tarman.
“Baik, Pak.” jawab Aisyah singkat.
“Terima kasih banyak ya Pak sudah memberikan nasehat ke Aisyah.” kata Aisyah.
“Iya, neng.” jawab Pak Tarman. Aisyah sekarang mengusap-usap air matanya yang menggumpal di sudut-sudut kedua matanya yang indah. Pak Tarman mengamatinya.
“Maaf, pak. Sekarang Aisyah mau pergi ke kampus mau konsultasi skripsi.” kata Aisyah.
“Aisyah titip restoran ini sementara ya Pak.” pesan Aisyah sambil beranjak dari kursinya dan mengambil tasnya.
“Baik, neng.” jawab Pak Tarman. Setelah itu, Aisyah dan Pak Tarman bersalaman, lalu Aisyah memeluk sejenak Pak Tarman. Aisyah menangis.
“Kalau kondisinya neng Aisyah tidak memungkinkan ke kampus, sebaiknya neng Aisyah menundanya dulu ke kampus.” pesan Pak Tarman.
“Tidak bisa, Pak. Aisyah harus konsultasi skripsi sekarang biar cepet selesai.” jawab Aisyah sambil melepas pelukannya pada Pak Tarman.
“Aisyah tinggal dulu ya Pak.” pamit Aisyah.
“Iya, neng.” jawab Pak Tarman.
“Assalamu’alaikum.” salam Aisyah.
“Wa’alaikum salam.” balas Pak Tarman.
“Hati-hati di jalan ya neng.” pesan Pak Tarman.
“Baik, Pak.” jawab Aisyah sambil mencium punggung tangan kanannya Pak Tarman, lalu Pak Tarman mencium keningnya Aisyah. Setelah itu, Aisyah keluar dari dalam ruang kerjanya. Kedua mata Pak Tarman sekarang berkaca-kaca. Ketika Aisyah sudah di luar ruang kerjanya, Aisyah dan Arya tidak sengaja saling bertabrakan. Arya saat ini mau minta izin ke Aisyah untuk ke kampus untuk mengurus pengajuan beasiswa kuliah ke Australia. Kebetulan, Aisyah saat ini juga mau ke kampus dan letak kampusnya Arya tidak jauh dari kampusnya Aisyah, sehingga Aisyah memberikan tumpangan kepada Arya.
“Kamu hebat, mas Arya.” puji Aisyah ke Arya di sampingnya sambil menyetir mobil.
“Saya cuman mencoba saja, mbak.” jawab Arya dengan agak malu-malu.
“Semangat belajarmu masih tinggi, mas. Saya salut, mas.” puji Aisyah lagi.
“Biasa saja kok, mbak.” jawab Arya. Pada saat ini, Aisyah seperti menemukan sesuatu di dalam dirinya yang selama ini terpendam akibat permasalahan-permasalahan hidupnya. Sesuatu itu kini muncul. Sesuatu itu sedang berkobar-kobar. Sesuatu itu adalah cita-citanya.
“Seandainya mas Arya nanti diterima, mas Arya keluar dong dari restoran.” kata Aisyah setelah sempat terjadi hening antara dirinya dan Arya selama kira-kira lima belas menit. Perasaan suka Aisyah ke Arya pun kembali hadir.
“Pastinya, mbak. Tapi saya usahain untuk ke restoran kalau ada waktu senggang. Saya berjanji, mbak.” jawab Arya.
“Benarkah, mas?” tanya Aisyah untuk memastikannya. Aisyah sangat ingin tahu.
“Demi Allah saya berjanji, mbak.” jawab Arya serius. Aisyah terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu. Tidak beberapa lama kemudian, kedua mata Aisyah berkaca-kaca, lalu air matanya menetes. Aisyah sekarang mengusap-usapnya. Pandangan Aisyah masih tetap lurus ke depan sambil menyetir. Sekarang Aisyah menoleh ke Arya. Sejak Aisyah terdiam hingga sekarang Arya sesekali mengamatinya. Arya sudah tahu kalau pimpinannya itu sedang dilanda kesusahan. Arya hanya membatin saja. Arya tidak berani berkata apa-apa tentang hal itu. Arya kuatir menyinggung perasaannya Aisyah.
“Baiklah, mas. Terima kasih banyak ya mas.” ucap Aisyah dengan menoleh ke Arya sejenak, lalu kembali ke pandangan lurus ke depan. Sebentar lagi sampai di kampusnya Arya.
“Kenapa mbak Aisyah menangis?” Arya memberanikan diri bertanya.
“Apakah mbak Aisyah terharu dengan kepergian saya nanti?” tanya Arya lagi.
“Ah, enggak apa-apa kok, mas. Saya menangis itu karena sangat seneng saja melihat mas Arya sangat bersemangat melanjutkan kuliah.” jawab Aisyah mengalihkan perhatiannya Arya.
“Terima kasih banyak ya mbak atas perasaan senengnya.” kata Arya.
“Terima kasih kembali, mas.” jawab Aisyah.
“Mbak, tolong turunkan saya di tepi pintu gerbang kampus saya itu ya mbak.” pesan Arya.
“Loh? Apa nggak sebaiknya mas Arya turun di dalam kampus saja?” tanya Aisyah.
“Biarkan saja, mbak. Nanti saya jalan kaki saja, mbak.” jawab Aisyah.
“Baiklah, mas. Nanti mas Arya tunggu ya setelah saya dari kampus. Kita pulang bareng lagi ya mas.” pesan Aisyah.
“Baik, mbak.” jawab Arya. Tidak beberapa lama kemudian, Aisyah menghentikan mobilnya di tepi pintu gerbang kampusnya Arya sesuai dengan permintaannya Arya tadi. Setelah itu, Aisyah segera meluncur menuju ke kampusnya. Selama dalam perjalanan menuju ke kampusnya sendiri itu, Aisyah tersenyum-senyum ketika teringat dengan Arya tadi. Aisyah seperti telah menemukan seberkas harapannya kembali setelah sekian lama memudar. Di malam harinya sekitar pukul 19.30 WIB, Aisyah mencoba berdiskusi dengan Arya tentang salah satu tema di skripsinya. Aisyah menganggap Arya mengerti tentang skripsinya yang mengangkat sebuah permasalahan yang tak jauh dari Jurusannya Arya. Hasilnya, Aisyah mendapatkan jawaban-jawaban yang sangat memuaskan. Aisyah sangat senang.
