Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7 Takdir

Hari ini adalah hari ketujuh Ibunya Aisyah dirawat di rumah sakit akibat serangan jantung. Hari ini juga Ibunya Aisyah bisa dibawa pulang, karena kondisinya sudah sangat pulih. Aisyah sangat berterima kasih kepada Arya dan Pak Tarman yang juga sangat berjasa dalam kesembuhan Ibunya. Aisyah semakin cinta kepada Arya. Namun, Arya masih berjuang lagi untuk menggapai cita-citanya, yaitu bisa melanjutkan kuliah di Australia. Arya masih belum memikirkan cintanya meskipun Arya juga mulai punya perasaan suka ke pimpinannya itu. Berkali-kali Arya menepis perasaan sukanya kepadanya. Arya seringkali menyadarkan dirinya sendiri dalam menolong Aisyah agar dirinya menolongnya atas dasar kewajibannya kepada orang yang banyak membantunya selama ini. Di kedua mata indahnya Aisyah, Arya adalah sosok lelaki yang sederhana, rajin, sopan, bertanggungjawab terhadap pekerjaannya, suka menolong, dan tegar. Berkali-kali Aisyah jatuh hati kepadanya. Namun, Aisyah juga menepisnya, karena Aisyah masih memastikannya bahwa Arya adalah seorang lelaki yang tepat baginya. Maklum, Aisyah tidak ingin kecewa untuk yang ketiga kalinya. Pak Tarman selalu berusaha mendekatkan Aisyah dan Arya. Pak Tarman ingin pimpinannya yang sangat berjasa baginya itu hidup bersama dengan seorang lelaki yang sangat tepat menurutnya. Di kedua mata Pak Tarman yang sayu itu, Arya adalah sosok lelaki yang sama menurut Aisyah. Upaya-upaya Pak Tarman itu masih belum membuahkan hasil.

“Alhamdulillah Ibu sudah sembuh.” Aisyah mengucap syukur sambil mendorong kursi roda Ibunya menuju ke luar rumah sakit. Ibunya Aisyah diam dengan pandangan lurus ke depan seperti terpaku pada sesuatu hal mengenai keadaan dirinya, Aisyah, dan Rani.

“Alhamdulillah, neng. Syukur Ibu neng Aisyah sudah sembuh.” Pak Tarman juga mengucap syukur. Pak Tarman berjalan di samping kanannya Aisyah, sedangkan Arya berjalan di samping kirinya Aisyah.

“Iya, pak. Allah masih sayang ke Ibuk. Alhamdulillah.” Aisyah mengenang.

“Iya, neng.” kata Pak Tarman.

“Mas Arya kok diem aja ini? Ngomong dong, mas!” celetuk Pak Tarman. Aisyah menoleh ke Arya dengan tersenyum, lalu kedua mata indahnya lurus ke depan lagi. Aisyah sekarang tersenyum-senyum. Arya sejenak tersenyum ke pimpinannya itu, tapi senyum Arya tidak sungguh-sungguh.

“Ngomong apa’an, pak?” tanya Arya dengan agak canggung.

“Ya terserah mas Arya mau ngomong apa gitu.” jawab Pak Tarman.

“Masak saya suruh mas Arya nyanyi-nyanyi? Kan enggak etis namanya, mas.” sambung Pak Tarman.

“Iya, pak.” jawab Arya singkat. Aisyah tersenyum, karena menyimak. Setelah Arya menjawab, mereka bertiga terdiam selama sekitar 1 menit.

“Udah cuman gitu aja ngomongnya, mas?” tanya Pak Tarman.

“Gimana, pak?” tanya Arya balik karena tidak mengerti maksud Pak Tarman.

“Mas Arya nggak tahu ya?” tanya Pak Tarman lagi.

“Nggak tahu gimana, pak?” tanya Arya balik.

“Masya Allaaaahhh, mas.” ucap Pak Tarman sambil geleng-geleng kepala. Aisyah tersenyum-senyum dengan mendorong kursi roda.

“Maaf, pak. Saya benar-benar nggak ngerti apa yang akan saya omongkan ke mbak Aisyah.” jawab Arya dengan tersenyum kecut ke Pak Tarman.

“Bilang ke neng Aisyah Alhamdulillah Ibu sudah sembuh gitu, mas. Biar neng Aisyah jadi makin seneng ke mas Arya.” kata Pak Tarman. Kali ini Aisyah menyimaknya dengan serius.

“Enggak ah, pak.” jawab Arya. Setelah itu, Arya langsung diam seperti memikirkan sesuatu.

“Kenapa enggak, mas?” tanya Pak Tarman. Aisyah masih menyimaknya serius sambil mendorong kursi roda. Ibunya Aisyah sejak keluar dari kamar rawat inapnya tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.

“Nggak apa-apa, pak.” jawab Arya dengan agak dingin.

“Gimana mas Arya bisa dekat dengan neng Aisyah kalau sikap mas Arya seperti itu?” goda Pak Tarman. Arya diam, tapi Aisyah tersenyum.

“Pak, sudah dong ngobrol-ngobrolnya dengan mas Arya. Aisyah sangat sangat senang mas Arya bisa membantu meskipun mas Arya nggak ngomong apa-apa ke Aisyah sejak tadi.” kata Aisyah dengan tersenyum. Arya cuman melirik sejenak ke Aisyah dengan agak dingin.

“Terima kasih banyak ya mas sudah banyak membantu saya dan Ibu. Semoga Allah membalas kebaikan hati mas Arya.” kata Aisyah.

“Iya, mbak.” jawab Arya singkat. Tidak beberapa lama kemudian, Aisyah sudah di dekat mobilnya yang sejak tadi diparkir di tempat parkir mobil. Arya dan Pak Tarman membantu memasukkan Ibunya Aisyah ke dalam mobil. Aisyah juga sesekali membantu. Setelah itu, Aisyah mengendarai mobilnya menuju ke rumahnya. Setibanya di rumah, Bik Imah menyambutnya dengan sangat gembira setelah beberapa menit sebelum sampai rumah ditelpon Aisyah untuk memberitahukan kedatangannya. Mengenai Rani, semenjak Ibunya dirawat di rumah sakit, Rani jarang pulang. Rani semakin liar sekarang. Rani tidak menjenguk Ibunya sama sekali.

“Alhamdulillaahh neengg. Bibik sangat seneng Ibu sudah sembuh.” kata Bik Imah sambil memeluk Aisyah. Setelah itu, Bik Imah mengusap-usap kedua matanya, karena air matanya berlinang disebabkan terharu. Pak Tarman dan Arya berdiri di belakang Ibunya Aisyah menyaksikan Bik Imah dan Aisyah.

“Ini karena Allah masih sayang kepada Ibuk, Bik.” kata Aisyah sambil mengusap-usap air matanya yang menetes ke kedua pipinya.

“Iya, neng. Alhamdulillah.” kata Bik Imah yang barusan selesai mengusap-usap kedua matanya.

“Oh iya, Rani ke mana, Bik?” tanya Aisyah ke Bik Imah.

“Neng, sebaiknya Ibuk dibawa masuk ke dalam kamar saja. Biar nggak kena angin.” jawab Bik Imah mengalihkan perhatiannya Aisyah dari Rani.

“Nanti setelah Ibuk sudah masuk kamar, baru Bik Imah kasih tahu tentang Rani.” kata Bik Imah lagi. Ada kekuatiran tersirat di raut wajah Bik Imah mengenai Rani. Bik Imah sangat cemas.

“Baik, Bik.” jawab Aisyah. Setelah itu, Aisyah mendorong kursi roda yang diduduki Ibunya ke dalam kamar pelan-pelan. Tetapi, baru beberapa meter mendekati pintu kamar, kedua orang tuanya Bima dan Bima datang. Pak Tarman dan Arya masih berdiri di dalam ruang tamu.

“Hei Aisyah.” teriak Mamanya Bima memanggil Aisyah dengan suara agak keras. Langkah Aisyah pun terhenti seketika. Aisyah menoleh ke belakang.

“Aku ke sini mau menagih janjimu. Sekarang tepat seminggu lamanya.” kata Mamanya Bima dengan lantang.

“Hei bu! Tolong sopan sedikit kalau bertamu ya.” ingat Pak Tarman ke Mamanya Bima. Pak Tarman sangat marah.

“Hei, kamu siapa? Berani sama saya?” tanya Mamanya Bima dengan kedua matanya melotot dan kedua tangannya berkacak pinggang ke Pak Tarman. Mamanya Bima juga sangat marah.

“Sudah tua masih saja semangat hidup.” gerutu Mamanya Bima, tertawa-tawa.

“Ibu sendiri siapa? Tolong Ibu yang sopan ya kalau ngomong.” tanya Pak Tarman. Raut wajah Pak Tarman memerah karena marah.

“Hei pak tua, tolong jangan ikut campur urusanku dan keluargaku!” kata Bima ke Pak Tarman.

“Hei pak tua, rupanya kamu belum tahu siapa aku ya?” tanya Mamanya Bima.

“Aduuhhh....neng, gimana ini?” Bik Imah bertanya ke Aisyah. Bik Imah sangat kuatir dan resah.

“Kenapa mereka ke sini, Aisyah?” tanya Ibunya Aisyah ke Aisyah. Baru kali ini Ibunya

“Maaf, Ibu. Aisyah masih belum tahu.” jawab Aisyah.

“Bawa Ibu mendekat ke mereka sekarang, Aisyah.” perintah Ibunya Aisyah dengan dingin.

“Baik, Ibu.” jawab Aisyah.

“Neng, hati-hati ya. Jangan lupa berdoa ya neng.” pesan Bik Imah ke Aisyah. Bik Imah sangat gelisah dan kuatir.

“Bik Imah tenang aja ya. Biar Aisyah dan Ibuk yang menghadapinya.” jawab Aisyah kalem dan tenang.

“Baik, neng.” kata Bik Imah. Aisyah segera melanjutkan lagi mendorong kursi roda yang diduduki Ibunya menuju ke dekat kedua orang tuanya Bima dan Bima yang barusan selesai bersitegang dengan Pak Tarman.

“Ada apa ini?” tanya Mamanya Aisyah.

“Aku ke sini mau menagih Aisyah.” jawab Mamanya Bima dengan agak lantang.

“Menagih?” tanya Ibunya Aisyah, lalu terbatuk-batuk sejenak.

“Iya. Menagih janjinya.” jawab Mamanya Bima.

“Janji apa ya bu?” tanya Ibunya Aisyah.

“Janji apa? Bukannya Ibu Salamah sudah mengetahui sebelumnya dari Aisyah?” tanya Mamanya Bima dengan serius. Sementara itu, Arya dan Pak Tarman berdiri di dekat pintu menyimak pembicaraan Ibunya Aisyah dengan Mamanya Bima.

“Maaf saya tidak mengetahuinya, bu.” jawab Bu Salamah, lalu terbatuk-batuk sejenak lagi.

“Bik, tolong ambilkan segelas air putih hangat dari termos.” perintah Aisyah ke Bik Imah.

“Baik, neng.” jawab Bik Imah. Setelah itu, Bik Imah segera pergi menuju dapur.

“Tolong cepat katakan maksud kedatangan Ibu kemari. Tapi silakan duduk di sofa. Kita ngobrol-ngobrol di situ.” perintah Ibunya Aisyah kepada kedua orang tuanya Bima dan Bima.

“Oke.” jawab Mamanya Bima singkat. Mamanya Bima segera duduk di tengah sofa terpanjang yang menempel tembok. Setelah itu, diikuti oleh Papanya Bima, lalu Bima. Papanya Bima duduk di samping kanan istrinya, sedangkan Bima duduk di samping kiri Mamanya.

“Aisyah, tolong dekatkan Ibuk ke mereka bertiga.” perintah Ibunya Aisyah.

“Baik, bu.” jawab Aisyah. Aisyah segera mendorong kursi roda yang diduduki Ibunya menuju ke dekat Bima dan kedua orang tuanya. Tidak beberapa lama kemudian setelah Aisyah menghentikan laju kursi roda di dekat sebuah kursi sofa pendek, Bik Imah datang membawa segelas air hangat.

“Neng, ini minumannya.” kata Bik Imah kepada Aisyah.

“Makasih banyak ya bik.” jawab Aisyah sambil memegang segelas air hangat dari tangan Bik Imah.

“Iya, neng.” kata Bik Imah sambil melirik dengan ketus ke Bima dan kedua orang tuanya.

“Ibuk minum dulu ya biar nafas Ibuk lega.” perintah Aisyah ke Ibunya untuk meminum segelas air hangat. Tanpa berkata, Bu Salamah segera meminumnya dua teguk. Setelah itu, Bu Salamah menaruh gelasnya ke pinggir meja kaca ruang tamu yang ada di hadapan Bima dan kedua orang tuanya. Pandangan Bik Imah ketus sekali ke mereka bertiga.

“Bik, tolong buatkan tiga gelas teh hangat manis dan bawa beberapa kue di dapur yang biasanya untuk tamu ya bik.” bisik Aisyah ke Bik Imah.

“Neng, buat apa ngasih suguhan ke tamu-tamu macam mereka? Biarin aja, neng.” kata Bik Imah pelan.

“Bik, jangan begitu. Nggak baik.” Aisyah mengingatkan Bik Imah.

“Baiklah kalau begitu, neng.” jawab Bik Imah dengan ketus. Setelah itu, Bik Imah segera berlalu menuju ke dapur.

“Silakan Ibu utarakan maksud kedatangannya ke sini.” kata Bu Salamah, lalu batuk lagi, tapi cuman sekali.

“Maksudku ke sini itu mau menagih Aisyah untuk menentukan tanggal pernikahannya dengan Bima dalam seminggu ini. Kalau Aisyah belum bisa menentukannya, biar kita yang tentukan.” kata Mamanya Bima.

“Sudah jelas kan, bu?” tanya Mamanya Bima ke Ibunya Aisyah.

“Iya jelas, bu.” jawab Ibunya Aisyah.

“Bagaimana dengan nak Bima sendiri?” tanya Ibunya Aisyah ke Bima yang jaraknya paling dekat dengan dirinya.

“Aku minta dipercepat, bu. Aku minta tiga hari ke depan.” jawab Bima. Aisyah menunduk.

“Bagaimana dengan kamu, Aisyah?” tanya Ibunya kepadanya.

“Saya tidak ingin cepat-cepat menikah dengan mas Bima, bu.” jawab Aisyah masih menunduk.

“Apa alasan kamu, Aisyah?” tanya Ibunya lagi, lalu batuk lagi, tapi cuman sekali.

“Saya masih harus menyelesaikan skripsi, bu.” jawab Aisyah masih menunduk.

“Setelah menikah kan bisa dilanjutkan lagi skripsinya, Aisyah. Kamu jangan berbelit-belit ya Aisyah kalau nggak mau semua kekayaanmu aku sita.” sahut Mamanya Bima. Aisyah masih menunduk.

“Aku ingin cepat-cepat menikah dengan Aisyah, bu. Soal keuangan, nanti Bima bantu sepenuhnya, bu.” janji Bima kepada Ibunya Aisyah.

“Baik, nak Bima.” jawab Ibunya Aisyah. Pak Tarman dan Arya sejak tadi masih berdiri di dekat pintu.

“Aisyah, tolong jangan kecewakan Ibuk. Kamu sudah dewasa. Kamu sudah pantas menikah. Bima adalah pilihan Ibu.” kata Ibunya Aisyah dengan tegas. Aisyah masih menunduk dan diam.

“Ibu nggak mau kehilangan segalanya.” kata Ibunya Aisyah lagi dengan tegas.

“Baik, Ibu.” jawab Aisyah pelan.

“Baik, nak Bima. Saya setuju tiga hari ke depan Aisyah dan Bima menikah.” kata Ibunya Aisyah. Seketika itu, Arya pergi menuju ke sebuah rumah di sebelahnya untuk beristirahat. Tidak beberapa lama kemudian, Pak Tarman mengikuti Arya. Tidak beberapa lama kemudian juga, Bik Imah datang membawa tiga gelas teh hangat manis dan tiga toples kue untuk dihidangkan di atas meja kaca di hadapan Bima dan kedua orang tuanya. Pandangan Bik Imah sesekali ke mereka bertiga masih seketus tadi.

“Nah kalau sudah disetujui begini kan enak. Papa bisa mempersiapkan pesta pernikahan kalian berdua secepatnya. Tentu saja nanti dengan pesta yang mewah.” kata Papanya Bima.

“Terima kasih banyak, Pa.” ucap Bima ke Papanya.

“Siapa dulu dong kita.” sahut Mamanya Bima.

“Terima kasih banyak juga, Ma.” ucap Bima ke Mamanya. Bik Imah sekarang sudah tahu.

“Silakan diminum dan dinimkati kue-kuenya, pak, bu, mas.” Bik Imah mempersilakan mereka bertiga setelah menaruh satu per satu gelas dan satu per satu toples kue ke atas meja kaca dengan pandangan ketus.

“Sebentar lagi aku pulang!” celetuk Mamanya Bima.

“Maksudnya apa, bu?” tanya Bik Imah.

“Kamu kerjanya lambat!” jawab Mamanya Bima. Bik Imah segera terdiam.

“Sudah tahu maksudku?” tanya Mamanya Bima ke Bik Imah.

“Maaf bu tadi saya rebus air dulu. Soalnya air di termos sudah habis.” jawab Bik Imah kalem dan dengan menunduk.

“Lain kali awas ya kalau aku dan keluargaku ke sini. Aku pecat kamu nanti.” Mamanya Bima mengancam Bik Imah. Bik Imah langsung terdiam.

“Kok diem?” tanya Mamanya Bik Imah.

“Terus ngapain lagi, bu?” tanya Bik Imah.

“Cepat sana pergi.” jawab Mamanya Bima.

“Baik, bu.” jawab Bik Imah, lalu segera pergi dari hadapan kedua orang tuanya Bima dan Bima. Mamanya Bima segera pamit kepada Ibunya Aisyah dan Aisyah.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel