Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6 Benci dan Cinta

Di hari pertama Ibunya Aisyah dirawat di rumah sakit, Arya dan Pak Tarman berjanji kepada Aisyah sendiri akan setia merawat dan menginap di rumah sakit hingga Ibunya Aisyah sembuh. Aisyah sangat berterima kasih kepada Arya dan Pak Tarman atas bantuan yang ditawarkan. Pada malam harinya sekitar pukul 11 malam ketika Aisyah, Arya, dan Pak Tarman sedang menunggu di dalam ruang rawat inap Ibunya Aisyah, tiba-tiba pintunya diketuk-ketuk oleh seseorang dari luar dengan memanggil-manggil nama Aisyah dengan cepat. Ketukan-ketukannya terdengar cukup keras dan sepertinya si pengetuk pintu tersebut tergesa-gesa. Arya segera bangkit dari rebahannya di bawah kasurnya Ibunya Aisyah, lalu berjalan menuju ke pintu. Pak Tarman menggerutu dan mengomel-ngomel sendiri, karena si pengetuk pintu tidak sopan, menurutnya.

“Eh, mas Bima.” kata Aisyah setelah membuka pintu. Arya berdiri di belakang Aisyah, sedangkan Papanya Bima berdiri di belakang Bima.

“Ada apa, mas?” tanya Aisyah.

“Kenapa ada sontoloyo di sini?” Bima marah dengan kedua matanya melotot ke Arya. Arya menunduk.

“Maaf mas sebelumnya. Mas Arya dan Pak Tarman bersedia membantu Aisyah di sini.” jawab Aisyah kalem.

“Ah itu cuman alasan dia saja, sayang.” Bima marah lagi.

“Enggak, mas. Percayalah.” kata Aisyah kalem.

“Dia dan pak tua itu seharusnya izin dulu ke saya, sayang. Kamu jangan seenaknya menerima bantuan mereka berdua.” Bima marah lagi.

“Kan mas Bima tadi bilang kalau mas Bima nggak bisa datang ke sini. Nah ini malem-malem mas Bima ke sini sama Papanya mas bima malahan. Aisyah jadi nggak tahu, mas.” jawab Aisyah kalem lagi. Pak Tarman bangkit dari kursinya di dekat Ibunya Aisyah menuju ke Aisyah, karena Pak Tarman merasa risih dengan sikap Bima.

“Kalau memang saya tidak diijinkan di sini, saya akan pulang, mbak.” kata Arya ke Aisyah.

“Ada apa ini?” tanya Pak Tarman kepada Bima.

“Ini rumah sakit mas. Tolong jangan ribut-ribut di sini atau saya panggilkan satpam.” kata Pak Tarman.

“Pak Tua ini selalu saja ikut-ikut.” jawab Bima.

“Sayang, Papa dan aku mau ngomongin hal-hal penting.” kata Bima ke Aisyah.

“Baiklah, mas. Sebaiknya kita bicara di depan.” jawab Aisyah.

“Mas Arya dan Pak Tarman tolong kembali ke tempat semula ya. Aisyah mau menyelesaikan urusan-urusan penting dengan mas Bima dan Papanya sekarang.” kata Aisyah ke Arya dan Pak Tarman.

“Pintu saya tutup ya.” kata Aisyah lagi.

“Baik, mbak.” jawab Arya. Pak Tarman diam dengan cemberut. Aisyah segera menutup pintu. Setelah itu, Aisyah duduk di samping Bima di sebuah kursi deret di depan ruang rawat inap Ibunya. Papanya Bima duduk di samping Bima. Pak Tarman diam-diam membuka sedikit pintu ruang rawat inap Ibunya Aisyah untuk menyimak pembicaraannya Aisyah dengan Bima dan Papanya.

“Ada apa, mas? Sepertinya penting sekali yang mau diobrolkan.” tanya Aisyah kepada Bima. Bima beranjak dari kursi dengan berdiri di hadapan Papanya dan Aisyah. Kedua tangan Bima disarungkan ke dalam masing-masing saku celananya. Kedua mata indah Aisyah melihat ke Bima menunggu jawabannya.

“Sayang, besok aku akan melamar kamu. Papa di sini sebagai saksi aja.” kata Bima.

“Maaf, mas. Besok saya masih belum bisa memutuskan. Kan Ibu masih dalam keadaan belum sadar betul, mas.” jawab Aisyah.

“Nggak perlu menunggu Ibu kamu, Aisyah. Cukup kamu saja yang memutuskan. Lalu semuanya sudah selesai. Itu saja.” Papanya Bima menambahi.

“Pak, Aisyah terus terang belum bisa menentukan tanggal pernikahan mas Bima besok. Ibu harus tahu. Ibu harus ikut memutuskannya. Keputusan Aisyah tergantung Ibu, pak.” jawab Aisyah.

“Tapi aku mintanya besok, sayang. Aku dan Papa sudah mendapat restu dari Mama, sayang. Jadi, tolong jangan kecewakan aku dan Papa di sini, sayang.” kata Bima.

“Mas, Aisyah mohon maaf sebelumnya. Aisyah nggak bermaksud membuat mas Bima dan Papanya mas Bima kecewa. Aisyah masih belum bisa menerimanya.” jawab Aisyah.

“Sayang, ini menyangkut masa depan kita berdua nantinya. Kamu harus tahu itu, sayang.” bujuk Bima.

“Mas, tolong mengerti keadaan Aisyah saat ini ya mas. Ibu masih sakit, mas.” jawab Aisyah.

“Gimana ini, Pa?” tanya Bima ke Papanya.

“Sebaiknya kita pulang saja sekarang, Bim. Kita kasih tahu ke Mamamu.” jawab Papanya Bima.

“Baik, Pa.” kata Bima. Tidak beberapa lama kemudian, Bima dan Papanya pulang bersama. Setelah mereka berdua agak jauh dari Aisyah yang masih duduk termenung di salah satu kursi deret, Pak Tarman keluar perlahan-lahan dari balik pintu.

“Kenapa, neng?” tanya Pak Tarman.

“Kok melamun, neng?” tanya Pak Tarman lagi.

“Eh, Pak Tarman.” jawab Aisyah dengan melihat ke Pak Tarman di hadapannya.

“Sepertinya neng Aisyah punya masalah lagi dengan mereka berdua ya?” tanya Pak Tarman sambil duduk di samping Aisyah.

“Ah, enggak ada apa-apa kok, Pak.” jawab Aisyah sambil mengusap-usap air matanya yang sempat menetes ke kedua pipinya.

“Neng, mohon maap Pak Tarman sejak tadi menyimak pembicaraannya neng Aisyah dengan kedua orang itu di balik pintu, neng.” kata Pak Tarman.

“Jadi Pak Tarman sudah tahu semua apa yang tadi neng Aisyah dan kedua orang itu bicarakan, neng.” kata Pak Tarman lagi. “Mohon maap ya neng.”

“Nggak apa-apa, Pak. Aisyah ikhlas.” jawab Aisyah kalem dengan menunduk.

“Kalau boleh saran, Pak Tarman kasih saran ya neng. Ini demi kebaikan, neng.” kata Pak Tarman.

“Silakan, Pak. Aisyah nggak keberatan.” jawab Aisyah kalem dengan menegakkan kepalanya lagi, lalu menoleh ke Pak Tarman di samping kirinya.

“Neng Aisyah jangan terima mas Bima ya neng.” kata Pak Tarman.

“Memangnya kenapa, pak?” tanya Aisyah sangat serius dan ingin tahu.

“Mohon maap sebelumnya ya neng kalau Pak Tarman sekarang ngomong sejujur-jujurnya ya neng.” jawab Pak Tarman.

“Silakan, pak. Aisyah siap mendengarkan.” kata Aisyah dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang dia duduki, lalu bersendekap.

“Mas Bima dan keluarganya sepertinya sangat berambisi memiliki neng Aisyah dan segalanya yang neng Aisyah punya. Ini menurut Pak Tarman sendiri loh neng.” kata Pak Tarman. Aisyah seketika terdiam.

“Mereka berdua sepertinya bukan orang baik-baik, neng. Mas Bima dan Papanya sangat tidak mengerti sopan santun.” kata Pak Tarman lagi.

“Neng Aisyah jangan marah ya neng. Pak Tarman hanya berpendapat saja.” sambung Pak Tarman.

“Nggak apa-apa, Pak. Aisyah malah senang mendapat masukan-masukan seperti ini.” jawab Aisyah dengan menghembuskan nafas agak panjang pertanda kelegaan.

“Neng Aisyah jangan jauh-jauh mencari pendamping hidup yang sangat baik, sopan, dan rajin bekerja.” kata Pak Tarman.

“Orangnya ada di dekat neng Aisyah sendiri sekarang.” kata Pak Tarman lagi.

“Ah, Pak Tarman bisa aja.” jawab Aisyah sambil menyunggingkan senyum ke pegawainya yang sangat setia dan paling tua itu.

“Cepetan, neng. Keburu disamber orang lain.” goda Pak Tarman. Aisyah terdiam seketika seperti sedang memikirkan sesuatu, tapi tidak lama.

“Pak, mohon maap ya Aisyah mau masuk ke dalam. Takutnya ada apa-apa dengan Ibu. Saran dan pendapat Pak Tarman Aisyah tampung dulu ya pak. Terima kasih banyak untuk semuanya barusan ya pak.” jawab Aisyah diplomatis.

“Kalau Pak Tarman masih ingin di luar sini, silakan. Aisyah mau masuk ke dalam.” kata Aisyah lagi.

“Duh ngapain Pak Tarman di sini sendirian, neng! Bisa-bisa Pak Tarman kedinginan.” jawab Pak Tarman. “Pak Tarman juga ikut masuk dong neng.”

“Baik, pak. Mari kita masuk bersama.” kata Aisyah. Pak Tarman dan Aisyah segera beranjak bersamaan, lalu keduanya berjalan bersamaan juga menuju ke pintu ruang rawat inap.

“Neng, itu diperhatikan dong neng. Jangan didiemin aja.” kata Pak Tarman agak menggoda. Aisyah hanya tersenyum saja. Setelah masuk ke dalam ruangan dan Pak Tarman sedang menutup pintunya, Aisyah dan Pak Tarman melihat Arya sedang membenarkan kemul Ibunya Aisyah.

“Lihat tuh neng.” bisik Pak Tarman ke Aisyah. Aisyah tersenyum lagi.

“Maaf mas Arya. Gimana kondisi Ibu sekarang?” tanya Aisyah ke Arya.

“Sepertinya Ibu sudah mulai membaik kondisinya, mbak.” jawab Arya.

“Syukurlah kalau begitu, mas. Alhamdulillaahh.” Aisyah mengucap syukur.

“Semoga Ibu semakin membaik kondisinya, mbak. Aamiin.” kata Arya.

“Aamiin Ya Robbal ’Alamin.” ucap Aisyah.

“Aamiin Ya Robbal ‘Alamin.” ucap Pak Tarman.

“Terima kasih banyak ya mas Arya dan Pak Tarman sudah membantu Aisyah banyak.” ucap Aisyah.

“Sama-sama, neng. Ini sudah kewajibannya Pak Tarman kok neng untuk membantu neng Aisyah. Karena jasa-jasa neng Aisyah ke Pak Tarman banyak sekali.” kata Pak Tarman.

“Kalau mas Arya sendiri gimana?” tanya Pak Tarman ke Arya.

“Apa karena perasaan suka hingga rela menolong neng Aisyah ya?” goda Pak Tarman.

“Perasaan suka gimana, pak?” tanya Arya.

“Perasaan cinta itu loh, mas.” jawab Pak Tarman, lalu tersenyum dengan melirik dan menyenggol Aisyah di sampingnya. Aisyah tersenyum, lalu segera mengalihkan perhatiannya dengan membereskan barang-barang di atas meja pasien di dekatnya. Aisyah diam-diam tersenyum.

“Ah, Pak Tarman bisa aja. Saya memang berniat menolong mbak Aisyah, karena mbak Aisyah sudah banyak menolong saya, pak.” jawab Arya.

“Yaudah terserah mas Arya saja.” kata Pak Tarman.

“Mbok ya peka dikit dong, mas.” gerutu Pak Tarman.

“Mas Arya dan Pak Tarman sekarang istirahat saja ya. Biar Aisyah yang jaga Ibu.” kata Aisyah.

“Neng Aisyah saja yang istirahat. Biar Pak Tarman dan mas Arya yang jaga. Nggak baik perempuan disuruh jaga, sementara yang laki-laki tidur, neng.” jawab Pak Tarman.

“Baik, pak. Terima kasih banyak ya pak.” ucap Aisyah.

“Besok pagi Pak Tarman dan Mas Arya tetep kerja ya.” pesan Aisyah.

“Baik, neng.” jawab Pak Tarman. Aisyah tersenyum ke Pak Tarman.

“Gimana, mas? Besok Mas Arya juga harus kerja.” tanya Pak Tarman.

“Saya siap, pak.” jawab Arya.

“Apa mas Arya nggak keberatan kalau nanti ngantuk saat mas Arya kerja?” tanya Pak Tarman yang ingin tahu keseriusan Arya menolong Aisyah.

“Saya nggak keberatan sama sekali, pak.” jawab Arya dengan tegas. Sebenarnya, Arya belum memiliki perasaan suka ke Aisyah. Arya murni membantu dan menolong Aisyah sebagai kewajibannya terhadap pimpinannya yang sangat berjasa baginya hingga saat ini. Perasaan sukanya Aisyah mulai membesar di hatinya kepada Arya sejak Aisyah melihat ketulusan Arya membantu dan menolong dirinya sekarang ini. Namun, Aisyah masih menyimpannya. Aisyah tidak ingin terburu-buru menyatakan perasaannya kepada Arya, karena Aisyah masih harus menilai-nilai Arya lagi dari berbagai sisi menurut Aisyah sendiri. Malam ini, Bima dan kedua orang tuanya sangat jelek di kedua mata Aisyah. Aisyah sekarang sangat benci kepada calon suaminya itu.

“Apa benar begitu, mas?” tanya Pak Tarman setengah menggoda Arya.

“Benar, pak. Sumpah demi Allah, pak.” jawab Arya dengan muka serius. Aisyah tersenyum-senyum tanpa memperhatikan Arya dan Pak Tarman. Aisyah membelakangi mereka berdua lagi dengan berpura-pura membereskan barang-barang di atas meja pasien.

“Ya sudah kalau begitu, mas. Pak Tarman cuman nanya aja, mas.” kata Pak Tarman. Tidak beberapa lama kemudian, Aisyah minta pamit ke Arya dan Pak Tarman mau tidur. Keduanya pun tidak keberatan. Sekarang waktu menunjukkan pukul 12 malam WIB lebih sedikit. Arya dan Pak Tarman menjaga Ibunya Aisyah hingga pukul 3.00 WIB dini hari. Selebihnya, Aisyah yang menjaga. Pada pukul 07.00 WIB, Pak Tarman dan Arya ke restoran untuk kerja. Aisyah sudah mempercayakan sepenuhnya kepada Pak Tarman untuk menggantikan Aisyah apabila Aisyah berhalangan hadir ke restorannya. Bagi Aisyah, Pak Tarman sangat bisa dipercaya. Mengenai keberatannya Aisyah menentukan tanggal pernikahan dengan Bima tadi malam, Mamanya Bima mencak-mencak. Mamanya Bima merasa sangat tersinggung dengan penolakannya Aisyah tersebut. Mamanya Bima merasa sangat tidak dihargai Aisyah. Mamanya Bima sekarang menemui Aisyah sendiri di rumah sakit dengan ditemani Bima. Aisyah dan Mamanya Bima sekarang ngobrol-ngobrol di sebuah kursi logam berderet di depan ruang rawat inap Ibunya seperti tadi malam.

“Aisyah, Ibu sangat tersinggung dengan penolakanmu membicarakan tanggal pernikahanmu dengan Bima.” kata Mamanya Bima.

“Apa kamu masih tidak mengerti siapa aku?” tanya Mamanya Bima. Aisyah menunduk.

“Kenapa kamu dengan seenaknya menolak begitu saja? Tolong kamu jelaskan.” tanya Mamanya Bima dengan serius.

“Sayang, aku ingin kita menikah secepatnya.” kata Bima.

“Bima, tolong kamu diam dulu. Ibu pengin tahu jawabannya Aisyah.” kata Mamanya Bima.

“Baik, bu. Aisyah akan menjawabnya.” kata Aisyah dengan menegakkan kepalanya perlahan dengan pandangan lurus ke depan.

“Pertama, posisi Aisyah sekarang masih belum tepat, bu. Kedua, Aisyah tidak ingin terburu-buru menyudahi pertunangannya ini dengan mas Bima, bu.” jawab Aisyah tetap dengan sabar dan kalem.

“Posisi apa maksudmu??” tanya Mamanya Bima dengan ketus dan marah.

“Ibu saya masih sakit, bu.” jawab Aisyah singkat.

“Kamu sendiri kan bisa memutuskan segera kapan tanggal pernikahanmu dengan Bima.” kata Mamanya Bima. “Tanpa menunggu Ibu kamu sembuh. Iya kalau sembuh. Kalau enggak??”

“Bu, mohon maaf Aisyah belum bisa memutuskannya.” kata Aisyah.

“Kamu telah membuatku tersinggung!” kata Mamanya Bima.

“Aisyah mohon maaf, bu.” jawab Aisyah kalem.

“Kamu telah menghinaku!” kata Mamanya Bima.

“Aisyah mohon maaf, bu.” jawab Aisyah lagi dengan kalem.

“Aku beri waktu kamu satu minggu lagi untuk memutuskannya. Kalau masih belum bisa, semua utang Almarhum Papamu akan aku kembalikan kepadamu dan semua kekayaanmu akan aku sita.” kata Mamanya Bima dengan marah.

“Sekarang mari kita pulang, Bima. Kamu sudah untung selama ini masih menikmati fasilitas-fasilitasku.” kata Mamanya Bima dengan ketus. Tidak beberapa lama kemudian, Mamanya Bima dan Bima segera pergi begitu saja.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel