Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5 Seandainya

Setelah memarkir mobilnya di sebuah halaman parkir mobil di depan restorannya, Aisyah segera masuk ke dalam restorannya sambil mengusap-usap air matanya yang masih keluar akibat peristiwa tadi di kampusnya. Sekarang pukul 16.30 WIB yang artinya restorannya Aisyah setengah jam yang lalu sudah tutup. Namun, tak satupun pegawainya Aisyah yang memberanikan diri pulang, karena Pak Tarman yang menyuruh mereka untuk menunggu Aisyah datang sebelum pulang demi pemeriksaan oleh Aisyah sendiri. Kedatangan Aisyah dalam keadaan bersedih ini membuat Pak Tarman berperasangka buruk terhadap Bima, tunangannya Aisyah.

“Maaf ya Pak. Aisyah terlambat datang, karena ada urusan penting di kampus.” kata Aisyah kepada Pak Tarman yang duduk menunggu bersama semua pegawainya Aisyah paling depan atau dekat dengan pintu masuk. Aisyah mengusap-usap air matanya yang menetes di kedua matanya.

“Iya, non. Kami semua di sini sabar menunggu non Aisyah kok.” jawab Pak Tarman.

“Semua berjalan lancar, Pak?” tanya Aisyah ke Pak Tarman. Aisyah masih berdiri di dekat Pak Tarman.

“Alhamdulillah, non. Semua berjalan dengan lancar.” Pak Tarman mengucap syukur.

“Alhamdulillah, Pak.” Aisyah mengucap syukur juga.

“Kalau begitu semua boleh pulang, kecuali Pak Tarman.” kata Aisyah. Setelah Aisyah ngomong seperti itu, semua pegawainya Aisyah segera bergegas beranjak dari tempat duduknya masing-masing untuk bersalaman dan mencium tangan Aisyah, lalu pulang, kecuali Arya dan Pak Tarman. Arya sejak tadi duduk di samping Pak Tarman.

“Loh? Mas Arya kok nggak pulang?” tanya Aisyah.

“Maaf, mbak. Hari ini saya mulai tinggal bersama dengan Pak Tarman seperti yang mbak Aisyah bilang kemarin.” jawab Arya.

“Oh iya. Maaf saya lupa, mas.” kata Aisyah sambil mengusap-usap kedua matanya lagi. Aisyah masih berdiri di samping Pak Tarman.

“Sebaiknya non Aisyah duduk dulu di situ. Pak Tarman ingin ngomong sesuatu ke non Aisyah.” kata Pak Tarman.

“Baik, Pak. Terima kasih.” jawab Aisyah, lalu berjalan ke sebuah kursi di dekat Pak Tarman.

“Ada yang ditanyakan, Pak?” tanya Aisyah. Arya diam saja menyimak.

“Non Aisyah sepertinya sedang bersedih. Kalau boleh, non Aisyah cerita ke Pak Tarman biar Pak Tarman bantu kalau bisa, non.” jawab Pak Tarman.

“Nggak ada apa-apa kok, Pak.” kata Aisyah.

“Bener nggak ada apa-apa, non?” tanya Pak Tarman lagi memastikannya.

“Iya, Pak. Nggak ada apa-apa.” jawab Aisyah.

“Syukurlah kalau nggak ada apa-apa, non. Pak Tarman juga jadi ikut sedih kalau non Aisyah sedih, non.” kata Pak Tarman.

“Pak Tarman anggep non Aisyah seperti putri Pak Tarman sendiri.” sambung Pak Tarman. Pada saat ini, Bima sedang memarkir mobilnya di samping mobilnya Aisyah. Pak Tarman dan Arya sempat sejenak melihatnya.

“Terima kasih banyak ya Pak sudah menganggap Aisyah sebagai putri Pak Tarman sendiri.” Aisyah mengucap terima kasih kepada Pak Tarman.

“Sebaiknya kita langsung pulang saja ya pak biar nggak kemaleman sampai di rumah.” kata Aisyah sambil beranjak dari kursinya.

“Sayang, kamu langsung pulang?” tanya Bima ke Aisyah. Aisyah langsung menoleh ke belakang ke Bima. Pak Tarman dan Arya segera berdiri dari kursinya masing-masing.

“Eh, mas Bima. Iya, mas. Aisyah langsung pulang bersama Pak Tarman dan Mas Arya. Biar nggak kemaleman sampai di rumah, mas.” jawab Aisyah.

“Memangnya kenapa, mas?” tanya Aisyah.

“Apa? Dia ikut juga?” tanya Bima balik.

“Iya, mas. Mulai hari ini Mas Arya tinggal bersama dengan Pak Tarman.” jawab Aisyah.

“Kenapa seperti itu, sayang?” tanya Bima. Arya menunduk.

“Lah iya dong, mas. Kan rumahnya jauh banget jaraknya ke restoran. Mas Arya bisa telat kalau ke restoran, mas.” jawab Aisyah.

“Cecunguk itu pintar sekali bikin alesan. Paling rumahnya deket dengan restoran. Ngaku-ngakunya jauh biar gaji kecilnya bisa terasa.” kata Bima dengan angkuhnya.

“Kalau Mas Bima nggak percaya, saya bisa dianter pulang sekarang. Perjalanan dari restoran ke rumah saya memakan waktu sekitar 4 jam, mas.” kata Arya.

“Ngapain nganterin kamu pulang? Nggak ada kerjaan apa?” kata Bima dengan marah-marah.

“Sudah dulu ya mas. Aisyah harus pulang sekarang.” kata Aisyah. Seketika itu, Bima langsung terdiam.

“Sayang, aku mau mengajak kamu ke cafe seperti kemarin lagi sekarang. Ada yang perlu aku omongkan. Ini penting, sayang. Menyangkut status hubungan kita.” kata Bima.

“Mas, mohon maaf ya. Sekarang Aisyah belum bisa menerima ajakannya Mas Bima. Mungkin lain kali ya Mas kalau Aisyah ada waktu. Mohon maaf ya Mas.” jawab Aisyah sambil mulai berjalan ke depan untuk mengunci pintu restoran. Bima pun mengikuti Aisyah perlahan-lahan. Demikian juga dengan Pak Tarman dan Arya.

“Ini pasti gara-gara cecunguk sialan itu!” kata Bima asal menuduh.

“Mas, ini bukan salah Mas Arya. Ini memang Aisyah yang minta Pak Tarman dan Mas Arya langsung segera pulang.” jawab Aisyah sambil menutup pintu restoran.

“Kamu kok terus belain dia sih, sayang? Belain aku napa!” tanya Bima.

“Loh yang salah bukan Mas Arya, Mas Bima. Kan barusan non Aisyah bilang.” Pak Tarman menambahi.

“Hei, Pak Tua. Jangan ikut campur urusanku dengan Aisyah ya.” Bima jadi marah. Pak Tarman terdiam dengan menarik kesimpulan dalam hatinya tentang Bima.

“Mas, sudah dong. Pak Tarman cuman ngasih penjelasan ke Mas Bima.” kata Aisyah.

“Penjelasan apa, sayang? Dia itu ikut campur!” jawab Bima. Aisyah menghembuskan nafas agak panjang.

“Sayang, gimana kalau nanti malem aku ke rumahmu buat ngajak kamu nonton bioskop? Bagus banget filmnya, sayang.” tanya Bima.

“Tergantung nanti ya Mas. Aisyah nggak janji.” jawab Aisyah sambil membuka pintu mobilnya.

“Kok begitu, sayang?” tanya Bima dengan serius.

“Aisyah masih punya tanggungan ngerjain tugas, Mas.” jawab Aisyah. Bima terdiam. Pak Tarman dan Arya senyum dengan memalingkan muka agar tidak terlihat oleh Bima.

“Kalau Mas Bima bantuin Aisyah ngerjain tugas ya nggak apa-apa daripada nonton bioskop. Pulang malem, kecapekan, terus ketiduran dech jadinya nanti.” kata Aisyah.

“Terus kapan dong kita berduaan, sayang?” tanya Bima.

“Insya Allah kalau Aisyah ada waktu ya Mas. Aisyah mau masuk mobil dulu ya Mas.” jawab Aisyah.

“Pak Tarman dan Mas Arya ayo cepet masuk ke dalam mobil. Udah mulai gelap nih.” perintah Aisyah ke Pak Tarman dan Arya. Tidak beberapa lama kemudian, Aisyah masuk ke dalam mobilnya, sedangkan Pak Tarman dan Arya masih membuka pintu mobilnya Aisyah di sebelah kiri. Pak Tarman duduk di depan bersama Aisyah dan Arya di belakang. Bima terdiam. Tidak beberapa lama kemudian, Aisyah menghidupkan mesin mobilnya, lalu mulai beranjak pergi perlahan-lahan dulu meninggalkan Bima. Setelah Aisyah menempuh jarak kira-kira 10 meter dari Bima yang masih berdiri dan terdiam melihat Aisyah, Aisyah mulai mempercepat laju mobilnya.

“Sialan! Ini semua gara-gara Cecunguk dan Pak Tua brengsek itu! Awas kalian berdua nanti! Gue pecat kalau restoran itu sudah jadi milikku! Gue nggak butuh kalian berdua! Lihat saja nanti! Hahahaha!” kata Bima sendirian dengan tertawa-tawa. Setelah itu, Bima berjalan menuju ke mobilnya untuk pulang. Di tengah perjalanan pulang, Pak Tarman bertanya ke Aisyah mengenai Bima. Pada saat ini, Arya membaca sebuah buku perkuliahannya dulu. Aisyah sempat melihatnya sejenak melalui sebuah kaca spion di dalam mobilnya.

“Non, bolehkah Pak Tarman nanya sesuatu?” tanya Pak Tarman yang mulai memberanikan diri bertanya tentang Bima kepada pimpinannya itu.

“Nanya apa, Pak? Silakan aja asal Aisyah bisa menjawabnya.” jawab Aisyah sambil sesekali melihat Arya dari spionnya sambil tetap fokus nyetir mobil.

“Non Aisyah sepertinya kurang menyukai Mas Bima ya? Ini menurut Pak Tarman sendiri loh, Non. Nggak tahu kalau perasaan non Aisyah sendiri.” tanya Pak Tarman dengan disertai sedikit alasannya. Arya segera melihat Aisyah dan Aisyah segera melihat ke Arya pada kaca spionnya. Pada saat ini, pandangan Arya dan Aisyah bertemu. Aisyah sedikit tersenyum, lalu sejenak menunduk. Hati Aisyah berdebar-debar. Arya juga tersenyum, tapi sebentar. Arya kembali membaca bukunya. Bagi Aisyah, seorang cowok yang suka membaca adalah cowok yang keren dan kegantengannya menjadi naik.

“Kok malah senyum-senyum, non?” tanya Pak Tarman.

“Non Aisyah masih suka Mas Bima?” tanya Pak Tarman lagi. Arya melirik Pak Tarman sejenak dengan lirikan yang tajam, lalu kembali membaca sambil serius menyimak.

“Sebenarnya, Aisyah kurang menyukai Mas Bima, Pak.” jawab Aisyah singkat.

“Tapi Aisyah nggak bisa berkutik, Pak.” sambung Aisyah. Arya sekarang pura-pura membaca. Fokus pikirannya sekarang ke pembicaraannya Aisyah dan Pak Tarman. Arya menyimak dengan serius.

“Non Aisyah nggak bisa berkutik kenapa?” tanya Pak Tarman agak mendesaknya.

“Ya karena utang-utangnya Almarhum Papa, Pak.” jawab Aisyah dengan jujur.

“Kalau boleh tahu, ada apa dengan Almarhum Papanya non Aisyah?” tanya Pak Tarman yang semakin ingin tahu.

“Almarhum Papa banyak berutang ke Papanya Mas Bima, Pak.” jawab Aisyah.

“Aisyah terpaksa melunasinya dengan bertunangan dengan Mas Bima.” sambung Aisyah.

“Oh begitu toh ceritanya, non.” kata Pak Tarman.

“Aisyah nggak tahu lagi harus gimana ke Mas Bima, Pak. Mas Bima semakin mendesak Aisyah untuk segera menikah, Pak.” kata Aisyah.

“Kalau non Aisyah nggak suka, non Aisyah bisa mencabut atau membatalkan pertunangan non Aisyah dengan Mas Bima toh.” Pak Tarman menyarankan.

“Nggak semudah itu, Pak.” jawab Aisyah.

“Kalau sampai Aisyah membatalkannya, Aisyah dan keluarga bakal kehilangan semuanya, Pak.” kata Aisyah.

“Rumah, mobil, masa depan Rani, masa depannya Aisyah sendiri, dan restoran juga, Pak.” Aisyah menambahi.

“Masya Allaaahhh kok sampai sebegitunya, non.” gumam Pak Tarman.

“Aisyah masih memikirkan sebuah cara terbaik untuk segera keluar dari cengkeraman ketamakannya Mas Bima dan Papanya, Pak.” kata Aisyah.

“Untuk itu, Aisyah mengulur waktu ketika Mas Bima mau mengajak nikah cepat-cepat.” sambung Aisyah. “Almarhum Papa dulu dijebak Mas Bima dan Papanya agar banyak berutang, Pak.”

“Kalau boleh, nanti Pak Tarman bantu ya non.” kata Pak Tarman.

“Nggak apa-apa, Pak. Silakan.” jawab Aisyah.

“Miris sekali kisah non Aisyah ini. Selama lima tahun ini saya bekerja di restorannya non Aisyah jujur saya katakan kalau saya baru sekarang mengetahuinya, non. Maafkan Pak Tarman ya non yang lancang bertanya tentang hubungannya non Aisyah dengan Mas Bima.” kata Pak Tarman dengan nada sedih.

“Nggak apa-apa, Pak. Aisyah justru senang kalau ada yang membantu.” jawab Aisyah.

“Saya juga ikut membantu ya mbak.” Arya menawarkan diri.

“Loh Mas Arya menyimak toh sejak tadi?” tanya Pak Tarman sambil menoleh dari belakang.

“Iya, Pak.” jawab Arya.

“Maaf ya mbak Aisyah.” kata Arya.

“Gimana, non? Mas Arya mau bantu juga.” tanya Pak Tarman.

“Baik, Pak. Nggak apa-apa, Pak. Silakan. Aisyah terima dengan senang hati kalau ada yang membantu Aisyah.” jawab Aisyah sambil tertawa lepas seperti beban hidupnya hilang setengahnya.

“Mohon maaf sebelumnya ya Pak dan Mas Arya.” kata Aisyah singkat.

“Kenapa, non?” tanya Pak Tarman. Arya berhenti membaca lagi. Pandangan Arya sekarang ke Aisyah di depannya.

“Aisyah mohon dengan sangat untuk tidak menceritakan ke orang lain soal hubungan saya dengan Mas Bima.” jawab Aisyah.

“Baik, non.” kata Pak Tarman. Arya diam saja.

“Gimana dengan Mas Arya?” tanya Pak Tarman dengan menoleh ke Arya di belakangnya.

“Mas Arya kok diem saja?” tanya Pak Tarman lagi.

“Eh, iya, Pak.” jawab Arya yang barusan tersadar dari lamunannya.

“Iya apa, Mas? Kok jawab iya?” tanya Pak Tarman lagi masih menoleh ke Arya di belakangnya. Aisyah tersenyum sambil fokus nyetir. 5 menit lagi Aisyah sampai di rumah. Kondisi di jalanan sekarang gerimis.

“Saya nggak akan ceritain ke orang lain, Pak.” jawab Arya dengan tersenyum. Aisyah tersenyum lagi. Aisyah sekarang merasakan ada rasa suka menyelinap di hatinya kepada Arya.

“Kok Mas Arya jawabnya sambil senyum?” tanya Pak Tarman masih menoleh ke Arya.

“Yang serius dong, Mas. Ini menyangkut kisah hidupnya pimpinannya Mas Arya sendiri.” kata Pak Tarman. Aisyah tersenyum lagi.

“Pak, saya serius jawabnya tadi. Sumpah demi Allah, Pak.” jawab Arya dengan serius. Aisyah tersenyum lagi.

“Tapi kenapa Mas Arya tersenyum?” tanya Pak Tarman dengan serius. Pak Tarman benar-benar serius kali ini, karena Pak Tarman tidak mau mengecewakan Aisyah yang selama 5 tahun bekerja untuknya sudah sangat baik kepadanya hingga Aisyah dianggap sebagai putrinya sendiri.

“Pak, saya tadi tersenyum karena saya nggak mau terlihat sedih.” jawab Arya.

“Tapi di situasi seperti ini jangan tersenyum.” kata Pak Tarman dengan serius dan masih menoleh ke Arya. Pak Tarman memang tidak mau melihat orang yang tidak serius di saat situasi sedang penting atau genting. Pak Tarman tidak segan-segan langsung menasehati orang seperti itu.

“Baik, Pak. Saya mohon maaf atas kekhilafan saya tadi.” ucap Arya. Aisyah tersenyum lagi. Tidak beberapa lama kemudian, Aisyah menghentikan mobilnya tepat di depan pagar besi rumahnya. Kondisi jalanan sekarang sedang diguyur hujan, tapi tidak terlalu deras. Sebelum turun, Aisyah membunyikan klakson agak panjang agar Bik Imah mendengarnya untuk membuka pagar. Setelah Aisyah membunyikan klakson yang kedua, Bik Imah bergegas keluar dari dalam rumah menuju ke pagar besi. Sekitar 30 menit kemudian, Aisyah, Pak Tarman, dan Arya sudah berada di teras rumah.

“Sekarang Pak Tarman langsung saja masuk ke dalam rumah bersama Mas Arya dan tolong Pak Tarman tunjukkan kamarnya Mas Arya ya Pak.” Aisyah menyuruh Pak Tarman.

“Baik, non.” jawab Pak Tarman.

“Non Aisyah nggak ikut masuk ke dalam?” tanya Pak Tarman.

“Aisyah masuk ke dalam rumah saja, Pak. Tolong Pak Tarman urus semuanya ya. Aisyah mau istirahat sekarang.” jawab Aisyah.

“Baik, non.” jawab Pak Tarman. Pak Tarman segera membuka pintu penginapannya dengan sebuah kunci yang selalu dibawanya. Rumah penginapannya Pak Tarman bersebelahan dengan rumahnya Aisyah. Sejatinya, rumah penginapan yang sudah lima tahun ditempati Pak Tarman dan sekarang ditempati Arya juga itu dulunya ditempati Aisyah dan adiknya, Rani. Berhubung Papanya Aisyah sudah meninggal dan pada saat itu Aisyah merasa kasihan dengan Pak Tarman, karena tempat tinggalnya sangat jauh dari restorannya, Aisyah menyuruh Pak Tarman menempatinya agar Aisyah memiliki pembantu lelaki juga. Pada saat ini, Bik Imah terlihat sangat sedih bercampur mengkuatirkan sesuatu.

“Non Aisyah jangan kaget ya. Bik Imah mau ngomong sesuatu ke non Aisyah sekarang.” kata Bik Imah sambil masuk ke dalam membawakan tasnya Aisyah.

“Kenapa, Bik? Rani lagi?” tanya Aisyah.

“Bukan, non. Non Rani belum pulang sampai sekarang, non.” jawab Bik Imah. Aisyah diam sejenak dan berusaha tenang.

“Mungkin sedang sibuk, Bik. Biarin saja.” kata Aisyah sambil menyeret sebuah kursi di meja makan, lalu mendudukinya.

“Bukan itu, non.” kata Bik Imah.

“Ada apa sih, Bik? Kok sepertinya sangat penting.” tanya Aisyah.

“Non Aisyah jangan kaget ya.” kata Bik Imah lagi.

“Iya...iya...Bik.” jawab Aisyah.

“Ngomong aja langsung, Bik. Aisyah siap mendengarkan kok, Bik.” kata Aisyah.

“Mama badannya panas banget, non. Bibik jadi sangat kuatir. Sekarang Mama terbaring di tempat tidurnya.” kata Bik Imah dengan berbisik.

“Astaghfirullah.” ucap Aisyah.

“Sudah berapa lama, Bik?” tanya Aisyah sambil beranjak dari kursinya.

“Sudah sekitar tiga jam, non.” jawab Bik Imah.

“Kenapa Bik Imah nggak nelpon saya tadi?” tanya Aisyah sambil bergegas menuju ke kamarnya Mamanya yang pintunya tidak terkunci. Bik Imah hanya mengompresnya saja. Bik Imah mengikuti Aisyah dari belakang.

“Bik Imah nggak tahu harus gimana tadi, non. Bik Imah bingung banget, non.” jawab Bik Imah. Setelah sampai di samping Mamanya, Aisyah segera memeriksa salah satu tangan dan kakinya untuk memeriksa seberapa panas Mamanya. Aisyah terdiam.

“Kondisi tubuhnya Mama lemas, non.” kata Bik Imah pelan.

“Seharusnya Bik Imah menelpon saya sejak tadi.” jawab Aisyah.

“Maafkan Bibik ya non. Bibik bingung banget, non.” kata Bik Imah yang sekarang meneteskan air mata.

“Ma...Mama nggak apa-apa?” tanya Aisyah ke Mamanya dengan membelai-belai rambut kepalanya. Mamanya Aisyah masih belum sadarkan diri. Bik Imah sekarang menangis terisak-isak.

“Tadi Mama sempat pingsan, Bik?” tanya Aisyah.

“Iya, non. Bibik yang bawa Mama ke kamar.” jawab Bik Imah sambil menangis terisak-isak dan mengusap-usap air matanya.

“Mama terjatuh, Bik?” tanya Aisyah yang selalu berusaha tenang sekalut apapun masalah yang menimpanya.

“Enggak, non. Mama tadi pingsan di kursi rodanya, non. Mama tadi sempat mengeluhkan kepalanya pusing, non.” jawab Bik Imah yang masih menangis terisak-isak.

“Sekarang bantu Aisyah ya Bik. Aisyah mau nelpon dokter.” kata Aisyah.

“Baik, non.” jawab Bik Imah. Setelah menelpon seorang dokter panggilan yang dinas di sebuah rumah sakit terdekat, satu jam kemudian, Mamanya Aisyah dibawa ke rumah sakit. Pak Tarman, Arya, dan Aisyah ikut mendampingi ke rumah sakit dengan sebuah mobil ambulance. Bik Imah sendirian jaga rumah menunggu Rani pulang. Mamanya Aisyah kondisinya sedang drop, karena terlalu banyak memikirkan Rani yang sudah sebulan ini menunjukkan kebandelannya. Setengah jam kemudian, Rani pulang dalam kondisi setengah mabuk dan kondisinya kusut.

“Pada ke mana semua, Bik? Kok sepi?” tanya Rani.

“Barusan kak Aisyah membawa Mama ke rumah sakit, non.” jawab Bik Imah kalem. Rani tidak menggubrisnya. Rani tetap berjalan menuju ke meja makan yang ada di dapur. Bik Imah membuntutinya dari belakang. Bik Imah diam.

“Kalau non Rani laper, non Rani langsung saja makan. Sudah Bibik siapkan sejak tadi, non.” kata Bik Imah.

Setelah Rani sampai di meja makan, Rani segera membuka penutup makanan.

“Ini-ini terus masakannya Bibik. Rani bosen!” kata Rani dengan marah.

“Makanan-makanan itu sangat bagus untuk kesehatan, non.” jawab Bik Imah dengan perasaan agak takut. Bik Imah menunduk di hadapan Rani.

“Siapa yang menyuruh masak seperti itu, Bik?” tanya Rani.

“Kak Aisyah, non. Katanya untuk kesehatannya Mama sekeluarga, non.” jawab Bik Imah masih menunduk.

“Halah kuno, Bik!” jawab Rani sambil mengambil sebungkus rokok di dalam saku samping jaketnya, lalu menyulutnya sebatang. Rani mengepulkan asapnya dengan santainya ke atas.

“Loh? Sejak kapan non Rani merokok?” tanya Bik Imah.

“Nggak penting dijawab.” jawab Rani dengan berlalu dari hadapannya Bik Imah.

“Non Rani mau ke mana?” tanya Bik Imah dengan membuntutinya dari belakang.

“Non Rani nggak jenguk Mama?” tanya Bik Imah lagi.

“Rani mau tidur, Bik. Rani capek. Tolong Bibik jangan nanya-nanya Rani lagi.” jawab Rani dengan menoleh ke Bik Imah di belakangnya. Bik Imah menunduk.

“Bikin makin capek kalau Rani jawab. Urus sendiri urusan Bik Imah. Sekarang Rani mau tidur.” kata Rani sambil mengepulkan asap rokok dengan santainya. Bik Imah sejenak meliriknya. Setelah berkata seperti itu, Rani naik tangga menuju ke kamarnya. Bik Imah menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Sabar ya non Aisyah.” gumam Bik Imah dengan mengelus-elus dada. Pada saat ini, Arya dan Pak Tarman dengan sigap membantu pimpinannya itu di rumah sakit. Setelah Mamanya Aisyah sudah terbaring di sebuah ruang rawat VVIP dengan ditangani tiga perawat dan seorang dokter, Bima menelpon Aisyah mau mengajak keluar.

“Sayang, apa kamu sudah dandan?” tanya Bima.

“Ada apa, mas?” tanya Aisyah balik.

“Kan aku mau mengajak kamu nonton bioskop, sayang.” jawab Bima.

“Mohon maaf ya Mas. Aisyah nggak bisa.” kata Aisyah.

“Nggak bisa kenapa, sayang?” tanya Bima.

“Filmnya mau mulai ini, sayang. Sayang sekali kalau dilewatkan.” kata Bima.

“Aisyah sekarang sedang menunggui Mama di rumah sakit, Mas.” jawab Aisyah. Sejak tadi Pak Tarman dan Arya menyimak obrolan-obrolannya Aisyah dan Bima via HP. Bima sekarang terdiam.

“Mas Bima ke sini ya. Temani Aisyah ya Mas.” kata Aisyah untuk memancing kepedulian calon suaminya itu. Malam ini Aisyah pasrah dengan takdir yang dijalaninya. Seandainya Bima tergerak hatinya malam ini juga mendampingi Aisyah merawat calon mertuanya hingga sembuh, Aisyah akan setia kepada Bima. Namun, kenyataannya, Bima menutup pembicaraannya dengan Aisyah tanpa berkata sepatah katapun kepadanya. Aisyah diam dan tetap berusaha tenang menghadapinya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel