Bab 4 Sang Mantan
“Aisyaahh...tungguu!!” teriak Kevin ke Aisyah sambil berlari cukup kencang di sela-sela Mahasiswa dan Mahasiswi yang sedang berjalan di depannya. Namun, Aisyah tidak mendengarnya. Aisyah tetap berjalan menuju ke mobilnya di tempat parkir mobil di dekat gedung perkuliahannya.
“Aisyaahhh..!” teriak Tomi cukup kencang sambil memegang lengan tangan kirinya Aisyah, sehingga membuat Aisyah berhenti berjalan dan menoleh ke Kevin.
“Oh kamu!” jawab Aisyah pelan dan pandangan cukup sinis ke Kevin. Setelah itu, Aisyah langsung diam dan mulai mencoba membuka pintu mobilnya lagi.
“Aisyah, aku pengin ngobrol-ngobrol sama kamu.” kata Kevin dengan memegang lengan kirinya Aisyah lagi.
“Ngobrol-ngobrol? Soal apa?” tanya Aisyah tanpa memandang wajahnya Kevin yang ada di samping kirinya. Aisyah kembali berhenti sejenak membuka pintu mobilnya.
“Ini penting, Aisyah.” jawab Kevin dengan serius masih memegang lengan kirinya Aisyah.
“Maaf, aku nggak punya waktu banyak. Aku harus kembali mengurus restoran sekarang juga.” kata Aisyah.
“Aisyah, aku mohon beri aku waktu setengah jam saja untuk membicarakan hal ini denganmu.” kata Kevin dengan memelas. Aisyah terdiam sejenak.
“Please, Aisyah.” Kevin memohon lagi. Aisyah masih terdiam.
“Aisyah, aku mohon dengan sangat kepadamu untuk memberiku kesempatan kepadaku kali ini saja.” Kevin memohon lagi. Aisyah segera menutup kembali pintu mobilnya yang sudah sedikit dia buka tadi.
“Terima kasih banyak, Aisyah.” ucap Kevin.
“Aku tidak punya banyak waktu. Aku batasi hingga 15 menit saja.” kata Aisyah dengan cemberut.
“Baiklah, Aisyah. Tidak masalah bagiku asalkan kamu mau mendengar isi hatiku.” jawab Kevin. “Kita ngobrol-ngobrol di bawah pohon rindang itu saja.”
“Di sini saja.” kata Aisyah dengan melipat kedua tangannya, lalu menyandarkan punggungnya ke pintu mobilnya. Kedua mata indahnya Aisyah tajam menatap mantan kekasihnya itu. Karena tatapan kedua mata Aisyah tajam mengarah ke wajahnya, Kevin menunduk seakan-akan Kevin tak berdaya di hadapan Aisyah.
“Cepat katakan apa yang akan kamu sampaikan kepadaku, mas.” kata Aisyah dengan tegas.
“Aku ingin kembali kepadamu, Aisyah.” jawab Kevin masih dengan menunduk.
“Cuman itu saja yang kamu sampaikan kepadaku, mas?” tanya Aisyah.
“Iya, Aisyah.” jawab Kevin.
“Maaf, mas. Aku sekarang harus ke restoran.” kata Aisyah sambil membalikkan badan, lalu mencoba membuka pintu mobilnya lagi, tapi Kevin menahannya.
“Aisyah, tolong dengarkan aku.” Kevin memohon dengan memegang tangan kanannya Aisyah yang hendak membuka pintu mobilnya.
“Dengarkan apa sih, mas? Bukannya kamu cuman bilang seperti itu saja ke aku?” tanya Aisyah.
“Memang aku cuman bilang seperti itu ke kamu, Aisyah.” jawab Kevin masih menahan tangan kanannya Aisyah membuka pintu mobilnya. Aisyah terdiam.
“Maaf, mas. Aku nggak bisa menerima kamu. Biarkan aku masuk ke dalam mobilku sekarang.” kata Aisyah.
“Aku nggak akan biarin kamu masuk ke mobil sebelum kamu menjawab permintaanku tadi, sayang.” jawab Kevin masih menahan tangan kanannya Aisyah.
“Jawaban apa lagi sih yang kamu inginkan, mas?” tanya Aisyah. “Bukannya aku barusan sudah menjawabnya?”
“Aku rasa kamu belum menjawabnya, sayang.” jawab Kevin.
“Apa? Aku belum menjawabnya?” Aisyah tersentak, lalu terdiam dan menatap wajahnya Kevin. Kevin menunduk lagi.
“Kenapa kamu menginginkan aku kembali kepadamu, mas?” tanya Aisyah serius. “Kenapa kamu menunduk, mas?”
“Sayang, tolong dengarkan aku baik-baik ya.” jawab Kevin.
“Aku masih mencintaimu, sayang.” kata Kevin.
“Cuman itu alasanmu, mas?” tanya Aisyah. Kevin mengangguk, lalu menunduk lagi.
“Bagaimana dengan istri dan anak kamu, mas?” tanya Aisyah.
“Sayang, kehidupanku bersama istri dan anakku sudah tiga bulan ini berantakan.” jawab Kevin.
“Lalu kenapa kamu menyuruhku kembali kepadamu sekarang, mas?” tanya Aisyah serius.
“Karena aku yakin bersamamu aku bahagia, sayang.” jawab Kevin.
“Mas, tolong jangan panggil aku lagi dengan kata itu. Aku sudah muak kepadamu, mas.” kata Aisyah. “Aku sudah muak kepadamu di saat aku membutuhkanmu selalu di sisiku dulu kamu malah memilih perempuan lain.”
“Aisyah, maafkan aku. Aku dulu menikahi perempuan lain karena aku terpaksa.” jawab Kevin.
“Terpaksa? Bukannya kamu sengaja menyakitiku, mas?” tanya Aisyah.
“Aisyah, tolonglah aku ingin kembali kepadamu.” jawab Kevin.
“Tidak, mas.” kata Aisyah.
“Why?” tanya Kevin.
“Karena aku sudah punya calon suami, mas.” jawab Aisyah menitikkan air mata.
“Kamu terpaksa bertunangan dengannya karena utang-utangnya Almarhum Papa kamu kan?” tanya Kevin.
“Mas, tolong jangan ingatkan aku tentang itu.” kata Aisyah dengan sesenggukan.
“Aisyah, aku sudah menceraikan istriku.” kata Kevin.
“Itu urusan kamu, mas.” jawab Aisyah.
“Sekarang tolong jauhi aku, mas. Aku nggak mau sakit hati ini muncul lagi karena kamu telah mengkhianatiku, mas.” kata Aisyah.
“Aisyah, aku nggak bermaksud mengkhianatimu, sayang.” jawab Kevin.
“Cukup sekali ini saja aku kamu kecewakan, mas. Aku minta kamu jauhi aku selamanya, mas. Dan, kembalilah ke istri dan anakmu, mas.” kata Aisyah dengan menitikkan air mata. Setelah itu, Aisyah mencoba membuka pintu mobilnya lagi, tapi Kevin menahannya lagi.
“Aisyah, tolong dengarkan aku dulu.” kata Kevin.
“Dengarkan apa lagi sih mas?” tanya Aisyah.
“Aku masih mencintaimu. Izinkanlah aku kembali kepadamu, sayang.” kata Kevin.
“Mas, aku sudah katakan kepadamu tadi kalau aku sudah tidak bisa menerimamu lagi.” jawab Aisyah.
“Aisyah, sampai kapanpun aku akan mendapatkanmu, karena kamu masih milikku.” kata Kevin. Aisyah terdiam. Tidak beberapa lama kemudian, Bima datang menghampiri Aisyah.
“Sayang, kamu kok masih di sini?” tanya Bima sambil berjalan menghampiri Aisyah.
“Siapa dia, sayang?” tanya Bima. Aisyah sesenggukan.
“Kamu kenapa, sayang?” tanya Bima lagi.
“Oh ini calon suami itu!” jawab Kevin dengan geram. Sekarang kedua matanya Bima menatap marah ke Kevin.
“Hei, kamu siapa? Kamu apakan calon istriku ini hingga menangis begini?” tanya Bima ke Kevin.
“Mas, sudah jangan bertengkar di sini.” Aisyah melerai Bima yang hendak berkelahi dengan Kevin.
“Sayang, kamu diapain dia?” tanya Bima.
“Aisyah nggak apa-apa kok mas. Aisyah mau pergi ke restoran sekarang, mas.” jawab Aisyah.
“Jangan dulu, sayang. Aku ingin tahu kenapa dengan kamu hingga kamu menangis begini?” tanya Bima dengan sangat mengkuatirkan Aisyah.
“Hei, kamu! Kenapa kamu membuat calon istriku menangis?” tanya Bima ke Kevin dengan suara lantang dan menarik bajunya Kevin seperti hendak memukulnya saja langsung.
“Mas, sudah jangan ribut-ribut di sini.” Aisyah melerai. Beberapa Mahasiswa dan Mahasiswi melihatnya sambil berlalu lalang di hadapan mereka bertiga.
“Tolong kamu diam aja ya sayang. Aku akan menyelesaikan urusan ini.” kata Bima kepada Aisyah.
“Aku bukan siapa-siapanya Aisyah sekarang. Aku dulu cuman pernah saling mencintai, mas.” kata Kevin yang bajunya masih ditarik oleh Bima hingga kedua mata Bima dan kedua mata Kevin saling berdekatan bertatap pandang dengan tajam.
“Jadi, kamu mantannya Aisyah?” tanya Bima.
“Iya. Betul.” jawab Kevin dengan tegas.
“Lalu kenapa Aisyah sampai menangis?” tanya Bima. Kevin diam sambil tersenyum.
“Hei, jawab. Ayo cepat jawab atau aku pukul wajahmu.” gertak Bima dengan suara cukup lantang di dekat mukanya Kevin. Beberapa Mahasiswa dan Mahasiswi bergerombol sambil saling berbisik menyaksikan Bima yang sedang marah ke Kevin. Pada saat ini Aisyah menutupi wajahnya menangis tersedu-sedu di belakang Bima.
“Ayo cepat jawaabb!” gertak Bima lagi.
“Karena aku masih mengharapkan Aisyah kembali mencintaiku.” jawab Kevin sambil tertawa-tawa ngakak.
“Bangsat kamu! Dia itu sebentar lagi akan menjadi calon istriku.” kata Bima.
“Apa salahnya aku akan menjadikannya calon istriku juga? Aku juga berhak menjadikannya calon istriku juga, karena Aisyah masih belum menjadi istrimu kan?” tanya Kevin dengan gagah beraninya ke Bima.
“Kamu jangan macem-macem ya sama Aisyah. Meskipun begitu kamu nggak berhak. Aku sudah memilikinya.” jawab Bima.
Praaakkk!!
Sebuah kepalan tangan kanannya Bima mendarat di pipi kanannya Kevin dengan cukup kencang dan cepat. Bima masih menarik bajunya Kevin. Kevin malah senyum-senyum meskipun pukulannya Bima barusan terasa sakit olehnya.
“Kenapa kamu malah senyum-senyum?” tanya Bima dengan sangat marah ke Kevin.
“Pukul aku sesukamu! Aku masih ingin mengharapkan Aisyah mencintaiku lagi. Aku masih sangat mencintainya.” jawab Kevin dengan senyum-senyum lagi.
Praaaakkk!!
Kepalan tangan kanannya Bima mendarat lagi di pipi kanannya Kevin dengan cukup kencang dan cepat.
“Ayo lakukan lagi sesukamu, Bima!” Kevin menantang Bima. Tidak beberapa lama kemudian, Bima melepaskan bajunya Kevin.
“Asal kamu tahu ya. Aku nggak akan melepaskan Aisyah kepada siapapun. Ingat itu. Jangan coba-coba merebutnya dariku atau kamu akan menderita.” ancam Bima.
“Sekarang kamu minggir dari pintu mobil ini!” Bima mendorong Kevin menjauh dari pintu mobilnya Aisyah.
“Aku juga nggak akan jauh dari Aisyah. Sampai kapanpun aku akan berusaha mendapatkan Aisyah kembali. Ingat itu, mas.” kata Kevin. Setelah itu, Kevin pergi menjauh dari Bima dan Aisyah.
“Sayang, kamu sekarang pulang ya. Urusanku dengan dia sudah selesai.” kata Bima ke Aisyah yang masih menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Tetapi, tidak beberapa lama kemudian, Aisyah perlahan-lahan membuka wajahnya.
“Iya, mas. Terima kasih banyak ya sudah menyelesaikannya.” jawab Aisyah dengan kalem. Kedua mata Aisyah terlihat sembab akibat telah menangis. Aisyah masih sesenggukan.
“Kamu nggak apa-apa kan sayang? Memang kurang ajar sekali dia. Kalau dia memperlakukanmu seperti itu lagi, aku nggak segan-segan akan membuatnya menderita.” kata Bima.
“Aisyah nggak apa-apa kok, mas.” jawab Aisyah sambil berjalan menuju ke pintu mobilnya.
“Syukurlah kalau kamu nggak apa-apa, sayang.” kata Bima.
“Kamu sekarang mau pulang ya sayang?” tanya Bima.
“Enggak, mas.” jawab Aisyah singkat.
“Ke mana sayang?” tanya Bima lagi.
“Ke restoran, mas.” jawab Aisyah sambil membuka pintu mobilnya.
“Nanti aku menyusul ya sayang. Sekarang aku masih ada perlu dengan Jurusanku.” kata Bima.
“Iya, mas.” jawab Aisyah sambil menutup pintu mobilnya, tapi Bima menahannya, sehingga Aisyah memandang Bima. Bima terdiam dan menatap Aisyah dengan penuh rasa sayang dan cinta.
“Ada apa, mas?” tanya Aisyah.
“Hati-hati di jalan ya sayang.” jawab Bima.
“Iya, mas. Terima kasih ya mas.” kata Aisyah. Bima melepaskan pegangannya pada pintu mobilnya Aisyah. Aisyah segera menutup pintu mobilnya. Tidak beberapa lama kemudian, Aisyah menghidupkan mesin mobilnya, lalu perlahan-lahan meninggalkan Bima yang masih berdiri menatap Aisyah.
