Bab 3 Galau
Pagi-pagi sekali sekitar pukul 5.00 WIB Arya sudah standby di depan restorannya Aisyah. Arya tak ingin terlambat masuk kerja untuk pertama kalinya dimulai hari ini. Arya membawa sebuah tas punggung warna hitam agak besar berisi beberapa buku bacaan umum dan Matakuliah-matakuliah ketika masih kuliah dulu, pakaian-pakaian seperlunya, sajadah, sarung, Al-Qur’an, dan kopiah. Sambil membaca sebuah buku Matakuliahnya semester 1, Arya menunggu restorannya Aisyah buka pukul 7.00 WIB satu jam lagi. Tetapi, ketika pukul 05.45 WIB, Aisyah datang bersama dengan Pak Tarman. Aisyah biasa datang lebih awal bersama Pak Tarman hanya untuk mengecek sebelum restoran benar-benar siap dibuka.
“Non, sepertinya itu mas yang kemarin melamar kerja pas hujan lebat.” bisik Pak Tarman kepada Aisyah yang duduk di sampingnya.
“Aisyah masih belum tahu apa iya mas yang kemarin, Pak! Kayaknya iya, pak.” jawab Aisyah sambil mematikan mesin mobilnya setelah memarkirnya di halaman parkir restoran dekat dengan pintu kaca restoran, lalu melepas sabuk pengamannya. Arya segera menutup bukunya, lalu berjalan mendekati mobilnya Aisyah yang masih asing bagi Arya.
“Tuh kan non emang bener mas yang kemarin.” kata Pak Tarman sambil menutup pintu mobil dengan pelan setelah Aisyah.
“Iya, pak.” jawab Aisyah sambil menoleh ke Arya dengan tersenyum yang sedang berjalan mendekatinya.
“Assalamu’alaikum..” salam Arya dengan membalas senyumannya Aisyah.
“Wa’alaikum salam..” balas Aisyah.
“Selamat pagi, mbak.” sapa Arya sambil mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman dengan Aisyah. Arya masih menyunggingkan senyum ke pimpinannya yang bermata indah itu.
“Selamat pagi juga, mas.” balas Aisyah dengan tersenyum dan menjabat tangan Arya. Pak Tarman sekarang berjalan mendekati Arya dan Aisyah. Arya bersalaman dengan Aisyah dengan agak membungkukkan badan sebagai tanda menghormati Aisyah sebagai pimpinannya. Setelah bersalaman dengan Aisyah, Arya bersalaman dengan Pak Tarman yang sudah berdiri di samping Aisyah.
“Pagi banget kamu ke sini, mas.” kata Aisyah. Satu menit kemudian pada pukul 05.55 WIB, satu per satu pegawainya Aisyah datang membawa motor matiknya masing-masing yang terdiri dari dua orang pelayan, satu orang kasir, dan dua koki.
“Kuatirnya terlambat masuk kerja, terus mbak Aisyah marah-marah dech.” jawab Arya.
“Betul itu, mas.” sahut Pak Tarman. “Oh iya, nama kamu siapa, mas?”
“Ar-ya ya mas?” tanya Aisyah agak ragu-ragu.
“Betul, mbak.” jawab Arya singkat.
“Sekarang udah datang semua. Yuk kita ke depan pintu.” ajak Aisyah kepada semua pegawainya. Aisyah berjalan lebih dulu dengan diikuti pegawai-pegawainya dari belakang menuju ke depan pintu kaca untuk membukanya dengan sebuah kunci yang selalu dibawanya.
“Mas Arya bawa apa aja itu? Kok sepertinya banyak banget, mas.” tanya Pak Tarman sambil melihat tas punggungnya Arya.
“Buku-buku, pakaian seperlunya, sarung, sajadah, dan Al-Qur’an, pak.” jawab Arya.
“Kok bawa banyak perbekalan, mas?” tanya Pak Tarman.
“Mas Arya mau ngekost juga ya di sekitar sini?” tanya Pak Tarman lagi.
“Mas Arya nanti tinggal sama Pak Tarman, karena rumahnya mas Arya jauh, pak.” jawab Aisyah.
“Betul, pak.” Arya menambahi.
“Alhamdulillah saya punya teman di rumah.” ucap Pak Tarman.
“Pak Tarman senang punya teman mas Arya?” tanya Aisyah yang tinggal beberapa langkah lagi sudah sampai pintu kaca.
“Seneng sekali, non. Apalagi orang seperti mas Arya ini, non.” jawab Pak Tarman dengan tegas. Aisyah tersenyum mendengarnya sambil membuka gembok pintu kaca depan restoran.
“Kok bisa begitu, pak?” tanya Aisyah.
“Mas Arya ini tipe orang rajin dan penurut, non.” jawab Pak Tarman. Aisyah kesulitan membuka sebuah gembok yang menempel pada pintu kaca.
“Ah, Bapak bisa aja.” sahut Arya dengan tersenyum malu-malu.
“Oh iya, nama Bapak siapa?” tanya Arya.
“Nama saya Tarman, mas.” jawab Pak Tarman.
“Sepertinya non Aisyah kesulitan membuka gembok. Sini non biar Pak Tarman yang membuka.” kata Pak Tarman.
“Iya sulit banget, Pak. Nggak biasanya seperti ini.” jawab Aisyah. Setelah itu, Aisyah memberikan kunci gembok ke Pak Tarman.
“Biar Pak Tarman coba, non.” kata Pak Tarman sambil menerima kunci gembok dari Aisyah.
“Silakan, pak.” Aisyah mempersilakan Pak Tarman mencobanya. Tidak sampai satu menit kemudian, Pak Tarman berhasil membuka gembok setelah mencoba membukanya dengan sekuat tenaganya.
“Alhamdulillah bisa kebuka akhirnya.” ucap Aisyah.
“Lubang gembok dan kuncinya ini perlu dikasih minyak oli, non.” kata Pak Tarman.
“Kok bisa begitu, pak?” tanya Aisyah.
“Biar mudah dibuka, non.” jawab Pak Tarman singkat.
“Makasih banyak ya Pak.” ucap Aisyah.
“Sama-sama, non.” jawab Pak Tarman. “Ini sudah menjadi tugas saya juga, non. Membantu non Aisyah kalau dalam kesulitan.”
“Sekarang kalian semua bersih-bersih dulu. Persiapkan apa yang seharusnya dipersiapkan sebelum bekerja. Ingat ya, jangan sampai mengecewakan pelanggan dan pembeli.” kata Aisyah dengan suara cukup keras kepada semua pegawainya.
“Oh iya, Aisyah minta tolong ke Pak Tarman untuk membimbing mas Arya ya Pak. Untuk mas Arya, kalau ada pesanan yang mau diantar, nanti langsung saya hubungi. Sekarang mas Arya ikut Pak Tarman ya.” kata Aisyah ke Pak Tarman dan Arya.
“Baik, non.” jawab Pak Tarman.
“Aisyah tinggal dulu ya pak. Aisyah sekarang ke ruang kerja buat ngecek-ngecek.” kata Aisyah ke seorang pegawainya yang paling tua di antara pegawai-pegawai lainnya.
“Silakan, non.” jawab Pak Tarman. Setelah itu, Aisyah berjalan menuju ke ruang kerjanya. Aisyah selalu mengenakan jilbab ala kadarnya dan membawa sebuah tas wanita yang membawanya kedua talinya cukup dimasukkan ke salah satu tangannya. Sebuah tas wanita itu sangat disukai Aisyah, karena motif bunga-bunganya yang sangat indah. Meskipun memakai jilbab ala kadarnya, Aisyah masih tampak anggun dan ayu. Kedua mata dan bulu mata Aisyah yang membuat keanggunan dan keayuan Aisyah terpancar kuat.
“Mas Arya sudah siap bekerja?” tanya Pak Tarman.
“Sudah siap, pak.” jawab Arya dengan tersenyum-senyum.
“Kok mas Arya senyum-senyum gitu ke saya? Ada apa, mas?” tanya Pak Tarman sangat penasaran.
“Nggak apa-apa, pak. Cuman senyum-senyum aja, pak.” jawab Arya senyum-senyum lagi.
“Mas Arya terpesona kepada non Aisyah ya?” tuduh Pak Tarman.
“Nggak kok, pak.” jawab Arya singkat.
“Beneran, mas?” tanya Pak Tarman lagi.
“Bener, pak. Sumpah demi Allah!” jawab Arya dengan mengisyaratkan dua jari kanannya tanda bersumpah.
“Jangan macem-macem loh, mas.” ingat Pak Tarman. Karena Aisyah mendengar percakapan antara Pak Tarman dan Arya dari luar, Aisyah perlahan-lahan berjalan mendekati pintu ruang kerjanya yang sejak awal dibiarkan terbuka agar udara pagi yang masih segar dan sejuk bisa masuk ke dalam ruang kerjanya.
“Macem-macem gimana, pak?” tanya Arya dengan serius, karena Arya senyum-senyum memang bukan karena Aisyah. Aisyah sekarang mengintip Pak Tarman dan Arya yang masih bercakap-cakap di dekat pintu depan restoran. Aisyah tersenyum-senyum.
“Non Aisyah itu udah bertunangan, mas.” jawab Pak Tarman.
“Itu urusannya, pak.” kata Arya.
“Terus mas Arya senyum-senyum kenapa?” tanya Pak Tarman sangat penasaran.
“Senyum kan bagian dari ibadah, pak.” jawab Arya diplomatis.
“Halah gombal!.” gerutu Pak Tarman. Arya tersenyum-senyum.
“Pak Tarman dan mas Arya tolong jangan banyak ngobrol ya. Biar semuanya cepat selesai.” ingat Aisyah dengan muncul di depan pintu ruang kerjanya.
“Eh, non Aisyah.” Pak Tarman kaget dengan menoleh ke Aisyah.
“Baik, non.” kata Pak Tarman. “Mas Arya senyum-senyum terus dari tadi, non.”
“Biarin saja, pak. Senyum juga ibadah, pak.” jawab Aisyah.
“Tuh kan apa kata mbak Aisyah, pak.” Arya setuju dengan pimpinannya itu.
“30 menit lagi restoran ini buka, pak. Tolong dipercepat dan jangan banyak ngobrol ya pak.” ingat Aisyah lagi ke Pak Tarman.
“Baik, non.” jawab Pak Tarman. Tidak beberapa lama kemudian, Pak Tarman dan Arya segera mulai bekerja, sedangkan Aisyah masuk lagi ke dalam ruang kerjanya. Pada saat ini, pegawai-pegawainya Aisyah tampak serius bersih-bersih dan mempersiapkan apa yang perlu dipersiapkan sebelum mulai bekerja tiga puluh menit lagi.
“Mbak Aisyah kayaknya baik, ramah, dan penyabar ya pak.” kata Arya.
“Sssttt...udah jangan bicara lagi. Emang non Aisyah seperti itu, mas.” jawab Pak Tarman sambil berjalan menuju ke belakang ruang kasir untuk mengambil sapu dan kemoceng.
“Ini untuk kamu, mas.” kata Pak Tarman sambil memberikan sebuah sapu ke Arya.
“Terus apa yang harus saya lakukan dengan sapu ini, pak?” tanya Arya.
“Tugas mas Arya adalah menyapu lantai dimulai dari sini, terus ke dalam ruang kerjanya non Aisyah, dan terus ke ruang utama.” jelas Pak Tarman.
“Baik, pak.” jawab Arya.
“Ini dibawa juga buat nampung kotoran-kotoran yang mas Arya sapu.” suruh Pak Tarman sambil memberikan sebuah cikrak plastik ke Arya.
“Siap, pak.” jawab Arya. Setelah itu, Pak Tarman mulai membersihkan meja-meja dan kursi-kursi di ruang utama dengan kemoceng dan Arya mulai menyapu lantai. Tidak beberapa lama kemudian, Arya mendekati Pak Tarman mau bertanya.
“Pak, maap saya mau nanya.”
“Nanya apa, mas?” tanya Pak Tarman balik.
“Buang kotoran-kotoran dari menyapu di mana, pak?” tanya Arya.
“Ke tempat sampah di pinggir pintu kaca itu, mas.” jawab Pak Tarman sambil menunjuk ke arah dua tempat sampah di pinggir pintu kaca yang terlihat jelas.
“Terima kasih, pak.” ucap Arya, lalu kembali ke tempatnya semula menyapu tadi. Pak Tarman diam tak membalas ucapan terima kasihnya Arya. Setelah mengecek-ngecek beberapa arsip di sebuah rak kayu di belakang meja kerjanya, Aisyah sudah selesai dengan pekerjaannya. Sekarang Aisyah menulis puisi-puisi pada buku hariannya yang selalu dibawa ke mana-mana. Aisyah menulis puisi kegalauan hatinya. Di saat menulis, kedua mata Aisyah mulai berkaca-kaca. Tidak beberapa lama kemudian, Arya muncul di depan pintu ruang kerjanya Aisyah yang sejak tadi dibiarkan terbuka agar udara pagi yang segar dan sejuk masuk ke dalam ruang kerjanya.
“Permisi, mbak!” kata Arya sambil mengetuk-ngetuk pintu.
“Eh, mas Arya.” jawab Aisyah sambil menoleh ke Arya yang berdiri di tengah-tengah pintu.
“Ada apa, mas?” tanya Aisyah sambil mengusap-usap air matanya. Aisyah sedikit sesenggukan.
“Apa ruangan mbak Aisyah ini perlu saya bersihin juga?” tanya Arya sambil tersenyum.
“Silakan, mas. Nggak apa-apa kok, mas.” jawab Aisyah singkat, lalu Aisyah menulis puisi lagi.
“Sejuk dan segar banget udara pagi hari ini ya mbak!” kata Arya mulai membuka omongan untuk mengajak pimpinannya itu ngobrol-ngobrol. Tetapi, Aisyah diam. Konsentrasinya Aisyah menuliskan uneg-uneg di dalam hatinya dalam bentuk puisi telah membuat dirinya tak mendengar perkataannya Arya. Sejenak Arya melirik Aisyah sambil terus menyapu sedikit demi sedikit. Arya tidak berani membuka omongan lagi. Arya juga melihat pimpinannya itu mengusap air matanya yang sempat berlinang ke pipinya. Arya diam dan sejenak-sejenak meliriknya sambil terus menyapu. Tidak beberapa lama kemudian, Bima datang.
“Hai, sayang! Selamat pagi.” sapa Bima dengan suara agak keras yang muncul tiba-tiba. Karena suaranya Bima agak keras, Aisyah menoleh. Konsentrasinya menulis puisi pun terputus. Tetapi, Aisyah hanya memandangi calon suaminya itu dengan diam. Arya masih tetap menyapu yang kali ini membelakangi Bima dan Aisyah.
“Kok kamu diem, sayang?” tanya Bima sambil duduk sebuah kursi di depan meja kerjanya Aisyah.
“Kenapa, sayang?” tanya Bima lagi.
“Aisyah ngantuk, mas.” Aisyah beralasan.
“Heemm...aku kira ada apa-apa, sayang.” kata Bima.
“Heeii, kamu.” Bima memanggil Arya.
“Iya, pak.” jawab Arya sambil menoleh ke belakang.
“Ada yang bisa saya bantu, pak?” tanya Arya dengan berjalan mendekati Bima.
“Sepertinya kamu yang kemarin terlambat melamar kerja ya?” tanya Bima sambil memandangi Arya dari bawah ke atas dengan pandangan meremehkan.
“Iya betul, pak.” jawab Arya.
“Kamu memang pantas bekerja seperti ini.” kata Bima, lalu tertawa terbahak-bahak.
“Ini hanya untuk sementara kok, pak.” jawab Arya.
“Sementara atau enggak, kamu pantes bekerja seperti ini.” kata Bima, lalu tertawa terbahak-bahak lagi. Aisyah cemberut.
“Mas, jangan diajak ngobrol-ngobrol dulu. Biarin dia bekerja.” ingat Aisyah ke Bima. Arya menunduk.
“Sebentar aja kok, sayang.” kata Bima.
“Kalau Bapak nggak ada perlu sama saya, saya lanjutkan menyapu sekarang.” kata Arya.
“Hei, tunggu dulu. Memang aku ada perlu dengan kamu.” jawab Bima.
“Mas, biarin dia bekerja. Restoran ini sebentar lagi buka, mas.” kata Aisyah.
“Sayang, sebentar aja kok.” jawab Bima.
“Ada perlu apa, pak?” tanya Arya tetap berusaha sabar.
“Kalau sampai ada kotoran di lantai dan membuat pelanggan restoran ini kecewa, aku langsung pecat kamu.” jawab Bima dengan berdiri.
“Jangan begitu, mas.” ingat Aisyah. Arya menunduk.
“Biarin, sayang. Itu kan termasuk kesalahan fatal.” kata Bima dengan serius dan berkacak pinggang di depan Arya.
“Nggak mungkin mas Arya melakukan kesalahan fatal itu, mas.” jawab Aisyah.
“Kamu tahu dari mana, sayang?” tanya Bima.
“Ini kan hari pertama dia kerja.” kata Bima.
“Aisyah sangat yakin kalau mas Arya adalah seorang pekerja yang sangat bertanggungjawab terhadap pekerjaannya, mas.” kata Aisyah membela Arya.
“Aku nggak mau tahu soal itu, sayang. Pokoknya kalau dia berbuat kesalahan fatal semacam itu di sini, aku akan langsung memecatnya.” kata Bima. Arya masih menunduk sejak tadi.
“Mas Arya sekarang gabung aja dengan Pak Tarman untuk bersih-bersih lagi. Ruangan ini saya rasa sudah bersih.” perintah Aisyah ke Arya.
“Baik, mbak.” jawab Arya, lalu berjalan menjauh dari Bima dan Aisyah.
“Mas Bima jangan mentang-mentang seperti itu dong ke pegawainya Aisyah.” kata Aisyah.
“Sayang, aku lakuin ini demi menjaga reputasi restoran ini.” jawab Bima. Aisyah diam dan cemberut dengan memasukkan sebuah pulpen dan buku hariannya ke dalam tasnya.
“Aku juga berhak mengelola restoran ini kan, sayang?” tanya Bima.
“Tapi kan bisa ditegur dulu, mas.” jawab Aisyah sengaja nggak menjawab pertanyaannya Bima langsung tersebut.
“Orang ceroboh ya tetep ceroboh, sayang. Nggak bisa ditawar-tawar lagi.” kata Bima asal nuduh.
“Rejeki nggak akan tertukar, mas. Kalau memang bukan rejeki ya bukan milik kita rejeki itu, mas.” ingat Aisyah.
“Kita kan harus hati-hati dengan orang seperti Arya tadi, sayang.” kata Bima asal nuduh lagi.
“Hati-hati gimana mas?” tanya Aisyah.
“Arya itu ceroboh, sayang.” jawab Bima asal nuduh lagi.
“Buktinya apa kalau mas Arya ceroboh, mas?” tanya Aisyah.
“Buktinya dia masih baru kerja seperti ini, sayang.” jawab Bima.
“Dia pasti sangat berhati-hati, mas.” kata Aisyah.
“Terserah kamu mau bilang apa soal dia. Pokoknya, kalau dia atau siapa aja pegawai kamu membuat kesalahan fatal, aku langsung memecatnya.” kata Bima dengan tegas dan suara agak keras hingga membuat beberapa pegawai mendengarnya di ruang utama. Setelah itu, Bima keluar menuju ke kantornya. Setengah jam kemudian, semua pegawainya Aisyah sudah melakukan tugasnya dengan baik dan restoran siap dibuka. Pengunjung-pengunjung dan pelanggan-pelanggan mulai berdatangan silih berganti. Satu jam kemudian, Aisyah pamit ke Pak Tarman mau kuliah. Aisyah mempercayakan sepenuhnya kepada Pak Tarman untuk menggantikan posisinya sebagai pimpinan daripada Bima.
