Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2 Terpaksa

“Ada apa, mas?” tanya Aisyah ke Bima yang tiba-tiba sangat terkejut tangan kanannya digenggam Bima.

“Sayang, aku sangat mencintaimu.” jawab Bima sambil mengangkat pelan-pelan tangan kanannya Aisyah yang digenggamnya untuk didekatkan ke mulutnya. “Sebentar lagi aku akan melamarmu.”

“Mas, mau ngapain? Malu tuh dilihat banyak orang!” kata Aisyah dengan menarik tangan kanannya.

“Emang nggak boleh apa?” tanya Bima serius sambil melihat sekeliling, lalu pandangannya kembali ke kedua mata indahnya Aisyah dengan tajam.

“Kan kamu udah jadi tunanganku, sayang!” sambung Bima.

“Iya mas Aisyah tahu itu. Tapi tolong jangan di tempat umum ini dong, mas!” jawab Aisyah dengan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi yang didudukinya dan kedua tangannya diturunkan. Aisyah cemberut.

“Kenapa, sayang?” tanya Bima yang memang nggak ngerti sama sekali maksud Aisyah.

“Aisyah malu, mas!” jawab Aisyah singkat dengan menundukkan kepalanya.

“Kalau pengunjung-pengunjung cafe ngetawain Aisyah, gimana?” tanya Aisyah.

“Oh begitu!” jawab Bima.

“Maafkan aku ya sayang!” kata Bima. Aisyah cuman mengangguk sekali.

“Sebentar lagi aku akan melamar kamu, sayang!” sambung Bima.

“Kapan, mas?” tanya Aisyah dengan memberanikan diri menatap Bima.

“Satu bulan lagi, sayang!” jawab Bima.

“Aisyah minta satu tahun lagi ya mas!” kata Aisyah.

“Kenapa, sayang?” tanya Bima. “Itu terlalu lama buatku, sayang!”

“Mas, Aisyah butuh persiapan dulu!” jawab Aisyah dengan menundukkan wajahnya lagi. Aisyah mulai cemberut lagi.

“Persiapan apa, sayang?” tanya Bima dengan suara agak keras hingga beberapa pengunjung yang duduk di samping kanan dan kirinya menoleh ke arahnya, tapi cuman sebentar. “Bukan kah aku tak kekurangan materi sedikitpun?”

“Bukan itu maksud Aisyah, mas!” jawab Aisyah dengan melirik Bima.

“Terus apa?” tanya Bima. Aisyah diam sejenak. Tidak beberapa lama kemudian, seorang pelayan cafe mengantarkan segelas kopi cappuccino pesanannya Aisyah dan segelas kopi Mocca pesanannya Bima.

“Aisyah butuh persiapan mental dan fisik, mas!” jawab Aisyah kalem.

“Saat ini aktifitas Aisyah padet banget, mas!” sambung Aisyah. Bima terdiam sejenak.

“Oke!” jawab Bima dengan mendongkol.

“Hutang-hutang Almarhum Papa kamu udah Papa anggep lunas!” kata Bima dengan dingin.

“Mas, tolong jangan ingatkan Aisyah tentang hal itu! Tolong ya mas!” kata Aisyah. Bima terdiam dengan memalingkan mukanya dari Aisyah. Bima tersenyum-senyum meremehkan. Sekarang Aisyah meminum kopinya hingga setengah gelas.

“Mas, maaf sebelumnya ya!” kata Aisyah.

“Kenapa?” tanya Bima.

“Aisyah nggak mau ninggalin Mama lama-lama. Aisyah mau pulang sekarang. Terima kasih banyak ya mas udah ngajak Aisyah ke cafe yang bagus ini!” jawab Aisyah. “Assalamu’alaikum!”

“Sayang, aku ingin ngobrol-ngobrol lama dengan kamu soal ini! Satu jam lagi ya sayang!” mohon Bima.

“Maaf ya mas saat ini Aisyah belum bisa!” jawab Aisyah sambil berdiri dan membawa tas jinjingnya yang selalu dibawa ke mana-mana. Aisyah pulang dengan mobil pribadinya peninggalan Almarhum Papanya. Setengah jam yang lalu Pak Tarman sudah berada di rumah inapnya di samping rumahnya Aisyah, sedangkan Arya pulang ke rumahnya. Lima belas menit kemudian, Aisyah sudah tiba di rumahnya. Sepanjang perjalanan pulang, Aisyah menangis mengingat Almarhum Papanya karena omongannya Bima tadi. Seperti biasanya, sebelum mobilnya bisa diparkir di garasinya, Aisyah harus membunyikan klakson agar Pak Tarman tahu, lalu segera membuka pintu pagar besi. Hingga menjelang Maghrib ini, Rani, adik satu-satunya Aisyah, masih belum pulang entah ke mana dan Bu Hanum, Mamanya Aisyah, masih resah menunggu kedua putrinya yang belum pulang hingga menjelang Maghrib ini di dekat sebuah jendela kaca depan di samping pintu. Bik Imah, seorang pembantu, sekarang sedang mandi setelah menyiapkan makan malam. Sebelum masuk ke dalam rumah, Aisyah membunyikan bel pintu. Setelah mendengar bel pintu rumahnya berbunyi karena dipencet Aisyah, dengan tertatih-tatih menjalankan kursi rodanya sendiri, Bu Hanum segera membuka pintu.

“Eh, Mama! Tumben bukain pintu untuk Aisyah.” kata Aisyah dengan tersenyum sambil mengusap-usap linangan air matanya di kedua pipinya dengan cepat, lalu mencium telapak tangan kanannya Bu Hanum dengan membungkuk penuh hormat. Setelah itu, Aisyah mencium kedua pipi Mamanya itu dengan sangat sayang. Bu Hanum sekarang curiga kalau Aisyah sedang bersedih entah karena apa Bu Hanum masih belum tahu.

“Bik Imah sedang mandi.” jawab Mamanya agak dingin. “Kok kamu pulang telat?”

“Aisyah barusan pulang dari cafe, Ma. Mas Bima yang ngajak Aisyah!” jawab Aisyah sambil mendorong kursi roda menuju ke meja makan. “Bik Imah udah siapin makan malam, Ma?”

“Sudah. Sebelum mandi!” jawab Mamanya masih agak dingin menjawabnya.

“Oh iya, Rani sudah pulang, Ma?” tanya Aisyah masih mendorong kursi roda hampir sampai di dekat meja makan. Bu Hanum cuman menggelengkan kepalanya saja sambil menyampirkan syalnya dari kanan ke bahu kiri. Bu Hanum terlihat cemberut. Aisyah sejenak meliriknya.

“Ya Allaahh, nih anak udah seminggu pulang nggak jagain Mama sepulang kuliah. Awas ya kalau pulang!” kata Aisyah sambil menghentikan kursi roda Mamanya, karena udah dekat dengan meja makan. Setelah itu, Aisyah segera membuka penutup makanan. Bu Hanum melirik Aisyah dengan cemberut.

“Heemmm...masih hangaaattt!!” kata Aisyah melihat semangkuk nasi, sayur, dan ikan-ikan yang baru selesai digoreng Bik Imah. Bu Hanum terdiam. “Mama sudah makan?”

“Belum.” jawab Bu Hanum singkat dan agak dingin.

“Kenapa Mama belum makan?” tanya Aisyah dengan mendekati Mamanya itu dan memeluknya.

“Mama nunggu kamu dan adikmu!” jawab Bu Hanum dengan cemberut lagi.

“Ma, kalau Aisyah belum datang, Mama makan dulu aja. Entar sakit gimana?” nasehat Aisyah. “Entar Aisyah yang omelin Rani. Mama jangan kuatir!”

“Sekarang Mama makan ya sama Aisyah.” bujuk Aisyah. Bu Hanum mengangguk.

“Nah gitu dong!” kata Aisyah. Setelah itu, Aisyah segera mengatur kursi rodanya Mamanya sedikit ke posisi menghadap makanan dekat dengan meja makan.

“Mama diem aja. Biar Aisyah yang ambilkan.” kata Aisyah.

“Gimana hubunganmu dengan Bima?” tanya Bu Hanum dengan melirik Aisyah mengambilkan nasi untuk dirinya. Aisyah berhenti sejenak, lalu menoleh ke Mamanya. Bu Hanum terlihat cemberut.

“Mama jangan kuatirkan hubungan Aisyah dan Mas Bima. Tugas Mama sekarang adalah makan, lalu minum obat. Setelah itu, tidur.” jawab Aisyah menutupi kesedihannya terhadap omongannya Bima tadi yang menyinggung perasaannya tentang Almarhum Papanya. Bu Hanum terdiam. Setelah itu, Aisyah melanjutkan kembali mengambil nasi ke sebuah mangkok besar dan tebal dengan sebuah perkakas dari plastik yang dibuat khusus untuk mengambil nasi.

“Mama cuman nanya sejauh mana hubunganmu dengan Bima hingga sekarang ini.” sela Mamanya itu, lalu terbatuk-batuk sejenak.

“Kenapa Mama menanyakan itu?” tanya Aisyah tanpa menoleh ke Mamanya sambil mengambil dua ekor ikan goreng ditaruh di atas sekumpulan nasi, lalu menyiraminya dengan sayur bayam dan kuahnya secukupnya. Bu Hanum menghembuskan nafas panjang.

“Mama ingin tahu.” jawab Bu Hanum sambil melihat Aisyah menaruh sepiring nasi yang udah berkuah dan bersayur dengan dua ekor ikan goreng di hadapannya.

“Mama makan dulu ya.” perintah Aisyah. Bu Hanum masih diam. Aisyah sekarang mengambil nasi beserta lauk dan pauknya untuk dirinya sendiri.

“Sebelum kamu nyampe rumah, Bima menelpon Mama.” sambung Bu Hanum singkat. Aisyah berhenti sejenak, lalu menoleh ke Mamanya dengan sorot kedua matanya tajam.

“Mas Bima bilang apa ke Mama tadi?” tanya Aisyah serius.

“Bima ingin menikahimu secepatnya. Sepertinya dia marah. Kalau enggak, semua utang Almarhum Papa kamu harus dikembalikan.” jawab Bu Hanum dengan menunduk sedih.

“Ma, Aisyah masih belum siap. Tadi di cafe Mas Bima udah bilang begitu ke Aisyah dan Aisyah udah sampein ke Mas Bima kalau Aisyah masih belum cepet-cepet nikah.” jawab Aisyah, lalu melanjutkan kembali mengambil nasi.

“Kenapa?” tanya Bu Hanum.

“Mama makan aja dulu dech.” perintah Aisyah. “Ngapain ngurusin dia!”

“Mama pengin tahu jawabanmu!” kata Mamanya masih belum mau makan. Aisyah berhenti sejenak mengambil kuah sayur bayam, lalu menoleh ke Mamanya dengan menyeringai.

“Ma, Aisyah masih punya cita-cita. Aisyah masih pengin sendiri. Aisyah masih pengin berprestasi. Aisyah masih nggak mau direpotin suami.” jelas Aisyah.

“Terus apa lagi?” tanya Mamanya pengin tahu lagi.

“Mending Mama makan dulu aja dech. Itu perkara gampang, Ma.” perintah Aisyah lagi sambil kembali mengambil kuah sayur bayam untuk menyirami nasi dan dua ekor ikan gorengnya. Bu Hanum masih belum mau makan. Aisyah sekarang duduk di kursi bersebelahan dengan Mamanya.

“Ma, ayo dimakan dong. Entar Mama sakit gimana?” perintah Aisyah lagi. “Ngapain ngurusin dia!”

“Apa kamu nggak suka Bima?” tanya Bu Hanum dengan melirik Aisyah. Aisyah diam nggak menjawab. Aisyah melahap makanannya dengan lahap. Tidak beberapa lama kemudian, Bu Hanum mulai makan.

“Aisyah, Mama pengin tahu!” kata Bu Hanum. Aisyah menghentikan makannya.

“Sebenarnya, Aisyah terpaksa menerima tunangannya Mas Bima demi Almarhum Papa.” jawab Aisyah.

“Mama setuju Aisyah menikah dengan Mas Bima?” tanya Aisyah.

“Utang-utang Almarhum Papa kamu ke Papanya Bima melebihi rumah dan segala isinya serta restoran.” jawab Bu Hanum dengan mengelap mulutnya dengan selembar tisu yang barusan diambilnya di dekat semangkok nasi. Bu Hanum sudah cukup hanya dengan beberapa sendok saja. “Kamu jangan kecewakan Mama.”

“Ma, Aisyah nggak mau menikah .....!” kata Aisyah, tapi omongannya terpotong.

“Sudah. Mama nggak mau mendengar alasan-alasanmu lagi! Jangan kecewakan Mama.” kata Bu Hanum. “Turuti semua perintah Bima. Mama nggak mau kehilangan semuanya.”

“Sampai sejauh ini Aisyah belum tahu untuk apa sih Papa dulu berutang sebanyak itu ke Papanya Mas Bima?” tanya Aisyah yang kedua matanya mulai berkaca-kaca.

“Itu semua demi kamu dan Rani.” jawab Bu Hanum agak membentak.

“Uang kuliah Aisyah dan Rani nggak mungkin sebesar itu, Ma.” kata Aisyah yang sekarang mulai meneteskan air matanya.

“Pokoknya, Mama nggak mau kecewa.” jawab Bu Hanum singkat dan nada cukup keras hingga Bik Imah mendengarnya dari dalam. Karena ingin tahu apa yang terjadi, Bik Imah mendekat. Setelah ngomong seperti itu, Bu Hanum pergi menuju ke dalam kamarnya.

“Ada apa, non?” tanya Bik Imah berbisik ke Aisyah. “Sepertinya Ibu sedang marah.”

“Eh, Bibik. Nggak ada apa-apa kok Bik.” jawab Aisyah dengan menoleh ke Bik Imah di sampingnya yang muncul tiba-tiba.

“Jangan begitu dong, non. Cerita ke Bibik siapa tahu Bibik bisa bantu non Aisyah.” kata Bik Imah dengan perasaan kuatir ada apa-apa dengan Aisyah dan Ibunya. “Anggep aja Bibik di sini tempat curhatannya non Aisyah juga.”

“Bener nggak ada apa-apa, Bik! Mama cuman pengin Aisyah lebih giat lagi.” elak Aisyah sambil menunduk dengan memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.

“Sepertinya non Aisyah sedih gitu.” curiga Bik Imah.

“Ayo dong non cerita ke Bibik.” sambung Bik Imah masih mengkuatirkan Aisyah.

“Bik, tolong nanti beberapa makanan kasihkan ke Pak Tarman ya Bik sama sayur dan kuahnya!” perintah Aisyah untuk mengelak menjawab tawaran bantuannya Bik Imah.

“Beres non kalau itu. Bibik pasti laksanakan perintah non Aisyah.” jawab Bik Imah. “Bener non nggak ada apa-apa?”

“Iya, bener, Bik. Nggak ada apa-apa kok.” jawab Aisyah melanjutkan makan.

“Yaudah kalau begitu, non. Bibik sayang banget sama non Aisyah dan non Rani. Ibuk juga.” kata Bik Imah masih mengkuatirkan Aisyah.

“Terima kasih banyak ya Bik.” ucap Aisyah.

“Iya, non.” jawab Bik Imah. Tidak beberapa lama kemudian, terdengar klakson mobil berbunyi cukup panjang di luar pintu pagar besi. Aisyah dan Bik Imah terperangah sejenak mendengarnya. Pak Tarman yang sejak tadi santai menonton tivi sambil merokok kesukaannya dan meminum kopi segera keluar untuk membukakan pintu pagar besi untuk Rani.

“Sepertinya non Rani, non!” kata Bik Imah.

“Iya, Bik.” jawab Aisyah.

“Rani mulai kapan keluar rumah, Bik?” tanya Aisyah.

“Setelah non Aisyah keluar.” jawab Bik Imah. Tidak beberapa lama kemudian, bel pintu berbunyi setelah Rani menaruh mobilnya di garasi bersebelahan dengan mobilnya Aisyah. Bik Imah hendak membuka pintu depan.

“Biar Aisyah aja yang buka, Bik. Bik Imah silakan makan aja.” kata Aisyah menghentikan kedua kaki Bik Imah melangkah dengan memegang lengan kanannya Bik Imah.

“Setelah ngasih makanan ke Pak Tarman aja non.” jawab Bik Imah. Aisyah sepertinya marah ke Rani. Tidak beberapa lama kemudian, Aisyah membuka pintu. Rani terlihat kusut dan bete.

“Kamu dari mana aja, Rani? Jam segini baru pulang.” tanya Aisyah. Bik Imah menatap tajam Aisyah yang sedang menginterogasi Rani sambil membungkuskan makanan untuk Pak Tarman.

“Kak, Rani banyak kegiatan di kampus. Cepet minggir!” jawab Rani. Seketika itu bau alkohol dan rokok tercium Aisyah.

“Astaghfirullah, Rani.” ucap Aisyah dengan mengelus dada.

“Kenapa, kak? Kak Aisyah nggak percaya?” tanya Rani marah.

“Mulut kamu bau alkohol dan rokok. Masya Allah, dik.” jawab Aisyah.

“Kakak jangan nuduh sembarangan. Rani baru selesai kuliah, Kak. Hari ini Rani banyak tugas.” kata Rani marah-marah lagi. “Udah Rani capek mau istirahat.” Aisyah menatap Rani dengan penuh curiga sambil menutup pintu, lalu menguncinya. Rani berjalan sedikit sempoyongan menuju ke kamarnya di lantai dua.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel