Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3. Kafe Gaul

Malam mulai turun di Surabaya, lampu-lampu jalan di kawasan Kembang Jepun menyala satu per satu, menerangi deretan ruko yang masih ramai oleh aktivitas warga.

Di antara deretan bangunan itu berdiri sebuah kafe bergaya modern dengan papan nama neon yang cukup mencolok.

*KAFE GAUL*

Tempat nongkrong favorit mahasiswa, pekerja kantoran, hingga anak-anak muda yang ingin menghabiskan malam sambil menikmati secangkir kopi.

Dari luar, suasana kafe terlihat hangat dan nyaman.

Dinding bata ekspos dipadukan dengan lampu gantung berwarna kuning temaram menciptakan suasana yang santai. Di sudut ruangan terdapat rak-rak berisi biji kopi dari berbagai daerah Indonesia.

Mesin espresso modern berdiri gagah di belakang meja bar.

Suara mesin penggiling kopi terdengar sesekali bercampur dengan musik akustik yang mengalun pelan.

Di balik meja bar, seorang pemuda mengenakan apron hitam sedang sibuk meracik pesanan pelanggan, Framudia.

Tidak ada yang menyangka bahwa pemilik kafe itu adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi yang siang tadi masih duduk di bangku kuliah.

Tangannya bergerak lincah mengoperasikan mesin espresso.

Desis uap panas terdengar saat susu diproses hingga menghasilkan busa lembut.

Beberapa pelanggan memperhatikan dengan kagum.

"Mas Fram, satu caramel latte ya!" teriak seorang pelanggan.

"Siap, Kak."

"Sama kurang manis."

"Oke."

Fram langsung bekerja dengan cekatan.

Biji kopi yang baru digiling mengeluarkan aroma harum yang memenuhi ruangan.

Tak lama kemudian segelas latte cantik tersaji di atas meja.

"Pesanan caramel latte."

"Makasih, Mas."

"Sama-sama."

Sejak awal membuka usaha ini, Fram memang tidak pernah ingin hanya menjadi pemilik yang duduk santai menerima keuntungan.

Ia ingin terlibat langsung.

Menjadi barista.

Melayani pelanggan.

Belajar menghadapi berbagai macam karakter manusia.

Semua itu jauh lebih menarik daripada hanya menerima uang dari keluarganya.

Padahal kalau mau jujur, Fram tidak pernah kekurangan uang. Ayahnya adalah seorang pengusaha sukses di Surabaya.

Keluarganya memiliki berbagai bisnis yang nilainya mencapai miliaran rupiah.

Saat Fram mengutarakan keinginannya membuka kafe beberapa tahun lalu, kedua orang tuanya langsung mendukung.

Modal awal pun diberikan tanpa banyak pertanyaan. Namun ada satu syarat yang Fram buat sendiri. Ia ingin mengelola semuanya secara mandiri.

Mulai dari konsep usaha, perekrutan karyawan, pengelolaan keuangan, hingga operasional harian.

Bahkan untuk biaya kuliah, kebutuhan sehari-hari, dan uang sakunya, ia memilih menggunakan hasil usaha kafenya sendiri.

Keputusan itu sempat membuat ayahnya heran.

"Kenapa repot-repot?" tanya sang ayah waktu itu.

Jawaban Fram sederhana.

"Aku cuma pengen tahu rasanya menghasilkan uang sendiri."

Dan sejak saat itu, ia benar-benar menjalani pilihannya.

Malam ini Kafe Gaul cukup ramai.

Beberapa mahasiswa tampak mengerjakan tugas kelompok.

Ada pasangan muda yang duduk berdua di dekat jendela. Ada pula pelanggan tetap yang menikmati kopi sambil membaca buku.

Di dekat kasir, salah satu karyawan menghampiri Fram.

"Mas Fram."

"Hm?"

"Biji kopi Arabica tinggal sedikit."

"Nanti habis tutup kita cek stok."

"Siap."

Fram mengangguk.

Pengetahuan ekonominya yang dipelajari di kampus ternyata sangat membantu dalam mengelola usaha.

Ia terbiasa mencatat pemasukan, pengeluaran, laba, hingga strategi promosi sendiri.

Karena itulah Kafe Gaul berkembang cukup pesat meski usianya belum terlalu lama.

Saat sedang membersihkan portafilter mesin kopi, ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk dari grup kelas.

Rendy:

"Woi, tugas Pak Andi udah mulai belum?"

Tomy:

"Gue baru buka file, langsung pusing."

Rendy:

"Sama."

Fram tersenyum kecil. Lalu mengetik balasan.

Fram:

"Kerjain pelan-pelan aja."

Tak sampai lima detik.

Tomy:

"Enak lu ngomong pelan-pelan. Lu tuh manusia apa robot?"

Fram tertawa kecil sambil menggelengkan kepala.

Di tengah kesibukan kampus, tugas kuliah, dan pekerjaan di kafe, hidupnya sebenarnya sudah cukup sibuk.

Namun anehnya, saat berdiri di belakang meja bar dengan aroma kopi yang memenuhi ruangan, ia selalu merasa tenang.

Seolah semua beban bisa berkurang untuk sementara. Hanya saja, malam itu ada satu hal yang sesekali mengganggu fokusnya.

Entah kenapa, setiap melihat pelanggan perempuan masuk ke dalam kafe, pikirannya tanpa sadar teringat pada seseorang.

Seorang gadis dari Fakultas Ekonomi.

Rina Yunita.

Dan tanpa disadari, senyum tipis kembali muncul di wajah Fram saat namanya melintas dalam benaknya.

Malam semakin ramai di Kafe Gaul.

Suara mesin espresso, dentingan gelas, dan obrolan para pelanggan bercampur menjadi satu suasana yang sudah sangat akrab bagi Fram.

Saat sedang menuangkan latte art berbentuk hati ke atas secangkir cappuccino, ponselnya yang terletak di dekat mesin kasir tiba-tiba bergetar.

Bzztt... Bzztt...

Dua notifikasi masuk hampir bersamaan. Fram melirik layar. Grup WhatsApp mereka bertiga.

"Pejuang Tugas Pak Andi"

Nama grup yang dibuat Tomy sore tadi.

Fram langsung tersenyum geli.

Pesan pertama dari Rendy.

Rendy:

"Bro, lu sekarang di mana?"

Belum sempat membalas, pesan kedua muncul.

Tomy:

"Jangan bilang lu udah tidur."

Rendy:

"Atau lagi ngerjain tugas diam-diam?"

Tomy:

"Kalau iya, persahabatan kita selesai."

Fram terkekeh pelan.

Ia segera mengetik.

Fram:

"Di kafe."

Belum sampai satu menit.

Pesan balasan langsung berdatangan.

Tomy:

"ALHAMDULILLAH."

Rendy:

"LOKASI AMAN."

Tomy:

"OTW."

Rendy:

"Gas sekarang?"

Tomy:

"Gas."

Rendy:

"Ngopi gratis kan?"

Tomy:

"Nah ini pertanyaan penting."

Fram menggeleng sambil tertawa.

Lalu membalas.

Fram:

"Datang aja dulu."

Detik berikutnya.

Tomy:

"Artinya gratis."

Rendy:

"Gue suka cara berpikir lu."

Tomy:

"Persahabatan memang indah."

Rendy:

"Apalagi kalau ngopi gratis."

Fram sampai menutup wajahnya sebentar. Dua sahabatnya itu memang tidak pernah berubah.

Kalau mencium aroma kopi gratis, kecepatan mereka bisa mengalahkan pembalap MotoGP.

Sekitar dua puluh menit kemudian.

Pintu kaca Kafe Gaul terbuka. Dua sosok yang sangat dikenal Fram langsung masuk dengan wajah sumringah.

Rendy dan Tomy.

Tomy bahkan mengangkat kedua tangannya seperti baru memenangkan lomba.

"Selamat malam, pemilik usaha sukses!"

Beberapa pelanggan langsung menoleh.

Fram yang berada di belakang meja bar cuma geleng-geleng kepala.

"Pelan dikit napa."

Rendy mendekat ke meja kasir.

"Kami datang sebagai mahasiswa yang sedang terzalimi."

"Lebay."

"Ini bukan lebay. Ini fakta."

Tomy langsung ikut menimpali.

"Pak Andi kasih tugas tiga puluh halaman. Kami korban pendidikan."

"Terus?"

"Kami butuh terapi."

"Terapi apa?"

"Kopi gratis."

Fram langsung tertawa.

"Tuh kan. Ujung-ujungnya itu."

Rendy menarik kursi.

"Sebagai sahabat sejati, lu wajib mendukung kesehatan mental kami."

Tomy mengangguk serius.

"Benar, kopi adalah investasi masa depan."

"Kalian berdua nggak ada obatnya."

"Makanya kasih kopi."

Fram akhirnya menyerah.

"Oke. Mau pesan apa?"

Mata Tomy langsung berbinar.

"Beneran?"

"Iya."

"Aku cinta kamu, Bro."

"Jangan lebay."

Rendy langsung membuka menu.

"Gue caramel latte."

"Gue hazelnut cappuccino," sambung Tomy cepat.

"Lalu?"

"Kue gratis ada nggak?" tanya Tomy polos.

Fram mengambil lap kecil dari meja bar.

"Keluar sendiri atau gue usir?"

Tomy langsung ngakak.

"Nah, ini Fram yang gue kenal."

Tak lama kemudian mereka sudah duduk di meja dekat jendela.

Laptop terbuka.

File tugas Pak Andi muncul di layar.

Namun lima belas menit berlalu. Yang dikerjakan baru halaman judul. Sisanya dipakai untuk minum kopi dan bercanda.

Fram yang sedang membersihkan mesin kopi melirik ke arah mereka.

Rendy dan Tomy masih sibuk berdebat soal siapa yang harus mengerjakan bagian pendahuluan.

Melihat tingkah kedua sahabatnya itu, Fram hanya bisa tersenyum. Malam terasa lebih hidup ketika mereka ada.

Meski kadang lebih banyak menghabiskan kopi daripada mengerjakan tugas. Dirinya tidak pernah protes, karena buat dia yang penting temennya bahagia.

*****

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel