Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 2. Rumah Kos Melati

Langit Surabaya mulai berubah warna ketika Framudia keluar dari area kampus Unesa. Aktivitas mahasiswa masih ramai di sekitar gerbang, beberapa sedang menunggu ojek online, sebagian lagi nongkrong di warung kopi dekat kampus.

Fram memasang helmnya lalu menyalakan motor.

"Besok jangan lupa tugas Pak Andi, Bro!" teriak Rendy dari kejauhan.

"Iya!"

"Kalau lupa, kita pura-pura sakit aja!"

"Itu lu, bukan gue!" balas Fram sambil tertawa.

Motor hitam miliknya melaju meninggalkan kampus.

Angin sore menerpa jaket yang dikenakannya. Jalanan Surabaya saat jam pulang kuliah cukup padat, tetapi Fram sudah hafal jalur yang biasa dilewatinya setiap hari.

Hari ini ia ingin cepat sampai ke kos.

Entah karena lelah setelah kuliah atau karena ingin segera merebahkan tubuh di kasur, Fram sedikit memutar gas motornya.

Mesin motor berdengung lebih kencang.

Kendaraan silih berganti di depannya. Sesekali ia menyalip dengan hati-hati sambil tetap memperhatikan kondisi jalan.

Kurang lebih satu jam perjalanan, akhirnya ia memasuki sebuah gang yang cukup tenang.

Di ujung gang berdiri sebuah bangunan kos tiga lantai dengan cat krem dan papan nama berwarna hijau.

*KOSAN MELATI*

Tempat itu sudah menjadi rumah kedua bagi Fram selama hampir dua tahun terakhir.

Padahal kalau mau, ia bisa tinggal di rumah keluarganya yang megah di kawasan elite Surabaya. Namun Fram lebih memilih hidup mandiri.

Tidak ada sopir pribadi.

Tidak ada mobil mewah.

Tidak ada asisten rumah tangga yang selalu melayani. Hanya dirinya sendiri.

Dan anehnya, justru kehidupan seperti itulah yang membuatnya merasa lebih bebas.

Fram memasuki area parkir. Beberapa motor mahasiswa lain sudah berjajar rapi. Ia mematikan mesin lalu melepas helm.

"Huft..."

Napas panjang keluar dari mulutnya.

Lumayan capek.

Setelah memastikan motornya terkunci dengan baik, ia mengambil tas ransel dari jok motor.

Suasana kos sore itu cukup ramai.

Di teras bawah beberapa penghuni sedang bermain game di ponsel.

Ada yang duduk sambil menyeruput kopi sachet, ada juga yang sibuk mengerjakan tugas dengan laptop di pangkuan.

"Balik, Fram?" sapa seorang penghuni kos.

"Iya, Bang."

"Kelas sampai sore?"

"Seperti biasa."

"Lumayan juga jadi mahasiswa."

Fram hanya tersenyum.

Kalau mereka tahu tugas dari Pak Andi hari ini, mungkin kata "lumayan" akan berubah jadi "menyedihkan."

Ia berjalan menuju tangga. Langkah demi langkah menaiki lantai dua.

Lorong kos cukup panjang dengan deretan kamar di kanan dan kiri.

Lampu-lampu lorong mulai menyala otomatis karena matahari semakin turun.

Fram berjalan santai hingga akhirnya berhenti di depan sebuah pintu berwarna cokelat. Nomor kamar itu terpasang jelas di bagian atas pintu 202.

Kamar favoritnya.

Tempat ia belajar.

Tempat ia beristirahat.

Tempat ia menyembunyikan identitas aslinya dari dunia kampus. Fram mengeluarkan kunci dari saku celana.

Klik.

Pintu terbuka perlahan. Ruangan sederhana itu langsung menyambutnya.

Sebuah kasur ukuran single, meja belajar, lemari pakaian, rak buku, dan kipas angin berdiri rapi di dalam kamar.

Tidak mewah.

Tidak istimewa.

Tapi nyaman.

Sangat nyaman.

Fram masuk lalu menutup pintu.

Tas ranselnya dilempar pelan ke atas kasur. Kemudian ia menjatuhkan tubuhnya di samping tas itu.

"Ya ampun..."

Matanya menatap langit-langit kamar.

Pikirannya kembali mengingat tugas tiga puluh halaman dari Pak Andi.

Belum lagi presentasi minggu depan.

Belum lagi pekerjaan di kafe nanti malam.

Dan entah kenapa... wajah seseorang tiba-tiba muncul dalam pikirannya.

Rina Yunita, gadis yang tadi sempat tersenyum di kantin.

Fram segera menutup wajahnya dengan bantal.

"Kenapa jadi kepikiran sih?" gumamnya pelan.

Namun semakin berusaha menghilangkan bayangan itu, semakin jelas senyum Rina teringat di benaknya.

Sore di kamar 202 pun berlalu dengan satu tugas yang belum disentuh sama sekali, dan satu nama yang justru terus memenuhi pikirannya.

Sekitar setengah jam berbaring di kasur, rasa lelah yang sejak tadi menempel di tubuh Fram akhirnya mulai berkurang.

Ia melirik jam dinding.

Masih ada waktu sebelum berangkat ke kafe nanti malam.

"Kayaknya mandi dulu enak."

Fram bangkit dari kasur lalu mengambil handuk dan perlengkapan mandi yang tersimpan di dalam ember plastik biru.

Di Kosan Melati, penghuni laki-laki menggunakan kamar mandi bersama yang berada di ujung lorong lantai dua. Jumlahnya ada lima kamar mandi yang bisa dipakai bergantian.

Sedangkan penghuni perempuan mendapatkan fasilitas kamar mandi di dalam kamar masing-masing.

Karena itu, lorong lantai dua biasanya lebih ramai oleh penghuni cowok yang mondar-mandir membawa ember atau handuk.

Fram membuka pintu kamarnya 202.

Baru saja melangkah keluar, pintu kamar nomor 200 di depan juga terbuka. Seorang gadis berambut sebahu keluar sambil membawa tas kerja berwarna hitam.

Kemeja putih dan rok hitam yang dikenakannya menunjukkan bahwa ia baru saja pulang dari kantor.

"Nah, ketemu juga."

Fram langsung tersenyum ramah.

"Hai, Nik."

Niken membalas senyuman itu.

"Hai juga."

Meski berusaha terlihat santai, dalam hati Niken sebenarnya senang sekali bisa bertemu Fram.

Sudah hampir setahun ia tinggal di Kosan Melati dan selama itu pula, perasaannya pada penghuni kamar 202 tersebut tidak pernah berubah.

Bahkan semakin lama semakin sulit disembunyikan.

"Baru pulang kerja?" tanya Fram.

"Iya. Baru selesai lembur dikit."

"Wah, capek dong."

"Lumayan."

Niken menghela napas sambil meletakkan tas kerjanya di depan pintu kamar.

Kadang ia heran.

Kenapa setiap berbicara dengan Fram, jantungnya selalu bekerja lebih keras dari biasanya.

Padahal Fram bersikap biasa saja. Ramah ke semua orang. Tidak pernah membeda-bedakan. Mungkin justru karena itulah ia semakin menyukainya.

Sementara bagi Fram... Niken adalah teman yang baik. Tidak lebih.

"Kerja di bank sekarang makin sibuk ya?" tanya Fram.

"Iya. Apalagi akhir bulan. Banyak laporan yang harus beres."

"Semangat, ya Nik."

"Terima kasih."

Sesaat mereka terdiam.

Fram memegang ember mandi di tangan kanannya. Niken memperhatikannya lalu tertawa kecil.

"Mau mandi?"

"Iya."

"Pantes bawa ember."

"Kalau bawa laptop ke kamar mandi kan aneh."

Niken langsung tertawa.

"Masih aja suka bercanda."

Fram ikut tersenyum.

Bagi Niken, senyum itu selalu berhasil membuat hari yang melelahkan terasa lebih ringan.

Sayangnya, ia juga tahu satu hal.

Fram tidak pernah menunjukkan tanda-tanda bahwa dirinya memiliki perasaan yang sama.

Tidak pernah menggoda. Tidak pernah memberi harapan berlebihan. Sikapnya selalu tulus sebagai teman. Dan justru itu yang membuat Niken sulit melupakannya.

"Ya udah, gue mandi dulu ya," kata Fram.

"Oke."

"Oh iya."

"Hm?"

"Jangan lupa istirahat. Kelihatan capek."

Mata Niken sedikit membesar. Ucapan sederhana itu saja berhasil membuat pipinya terasa hangat.

"Iya... nanti."

"Oke."

Fram melanjutkan langkah menuju kamar mandi umum. Sementara Niken masih berdiri beberapa detik di depan kamarnya.

Memperhatikan punggung Fram yang semakin menjauh di lorong. Lalu tanpa sadar ia tersenyum sendiri.

"Dasar, Fram..." gumamnya pelan.

Setelah itu ia masuk ke kamar nomor 200 sambil membawa tas kerjanya.

Di dalam hati, ia kembali menyimpan harapan yang sama.

Mungkin suatu hari nanti Fram akan melihatnya lebih dari sekadar teman. Meski sampai saat ini, harapan itu masih terasa sangat jauh.

*****

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel