
Ringkasan
"Perahu Cinta Mencari Dermaga" Framudia bukan sekadar mahasiswa Ekonomi Unesa biasa. Di balik kemeja flanel lusuh dan motor bututnya, tersimpan identitas sebagai putra tunggal dinasti bisnis terkaya di Surabaya. Bagi Fram, kemewahan adalah penjara, dia memilih hidup sederhana demi satu hal yang tak bisa dibeli uang, cinta tulus tanpa pamrih. Namun, topeng kerendahan hatinya justru menjadi bumerang. Saat hati Fram akhirnya berdebar untuk seorang gadis, harapan itu hancur berkeping-keping bukan karena penolakan sang gadis, melainkan karena hinaan pedas dari orang tua gadis tersebut yang menganggapnya "tidak layak" dan "tidak pantas". Sakit hati itu menggores luka mendalam, membuktikan bahwa prasangka sosial lebih tajam daripada realita. Kini, Fram kembali ke dalam kesendiriannya. Perahu cintanya masih terus berlayar tanpa arah, mencari dermaga untuk berlabuh.
Bab 1. Pandangan Pertama Di Kantin
Siang itu matahari Surabaya lagi panas-panasnya. Mahasiswa Fakultas Ekonomi berhamburan keluar dari gedung perkuliahan setelah kelas Pak Andi yang terkenal bikin kepala berasap.
Framudia memasukkan laptop ke dalam tas ranselnya sambil menghela napas panjang.
"Anjir, gue kira hari ini cuma presentasi biasa," gerutu Rendy sambil merapikan rambutnya. "Eh, ujung-ujungnya dikasih tugas tiga puluh halaman."
Tomy langsung nyamber.
"Tiga puluh halaman, Bro! Tiga puluh! Itu tugas apa skripsi percobaan?"
Fram ketawa kecil.
"Kalian lebay."
"Lebay pala lu," sahut Rendy. "Lu emang nggak punya perasaan. Pak Andi tuh kayak lagi balas dendam sama mahasiswa."
Mereka bertiga berjalan menuju kantin kampus yang mulai ramai. Aroma gorengan dan es teh langsung menyambut begitu mereka masuk.
Tomy menjatuhkan tubuhnya ke kursi plastik kosong.
"Gue sumpah ya, kalau tugas ini dikumpulin minggu depan, gue bakal berubah jadi zombie."
"Lu sekarang juga udah mirip zombie," kata Fram santai.
"Kurang ajar."
Rendy menunjuk Fram dengan ekspresi curiga.
"Yang bikin gue kesel tuh lu."
"Gue kenapa?"
"Lu santai banget."
"Iya, emang."
"Nah itu! Kita panik, lu malah chill."
Fram membuka botol air mineralnya.
"Panik juga nggak bakal ngurangin jumlah halaman tugas."
Tomy memukul meja pelan.
"Denger nggak? Ini nih yang bikin gue pengen nonjok dia. Jawabannya selalu masuk akal."
Mereka bertiga tertawa. Lalu seorang ibu kantin datang menghampiri.
"Seperti biasa, Nak?"
"Iya, Bu," jawab Fram.
"Nasi ayam dua, es teh tiga," kata Rendy.
"Eh empat. Gue haus berat," tambah Tomy.
"Kata lu nggak punya duit?"
"Nggak punya duit bukan berarti nggak punya haus."
Fram menggeleng sambil terkekeh.
Suasana kantin semakin ramai. Mahasiswa dari berbagai jurusan memenuhi meja-meja yang ada.
Saat sedang mendengarkan Rendy mengeluh untuk keseratus kalinya tentang tugas Pak Andi, tanpa sengaja pandangan Fram mengarah ke pintu kantin.
Pandangannya seakan berhenti. Seorang gadis baru saja masuk bersama beberapa temannya, Rina Yunita.
Dia primadona Fakultas Ekonomi.
Rambut panjangnya tergerai rapi. Senyumnya membuat beberapa mahasiswa yang melihat langsung kehilangan fokus.
Tomy yang sadar arah pandangan Fram langsung menyeringai.
"Oalah..."
Fram buru-buru mengalihkan pandangan.
"Apa?"
"Tuh."
"Apa tuh?"
Rendy ikut menoleh, lalu langsung paham.
"Ohhh... ternyata, itu toh."
Fram memasang wajah polos.
"Ternyata apaan?"
"Ternyata tugas Pak Andi bukan satu-satunya yang bikin lu fokus di kelas."
Tomy langsung ngakak.
"Woi, jangan-jangan dari tadi dia semangat masuk kelas gara-gara ada primadona... Rina."
"Ngawur kalian."
"Ngawur dari Hong Kong."
Fram mengambil sedotan dan melemparkannya ke arah Tomy.
Tomy menghindar sambil tertawa.
"Kenapa maluu...? Satu fakultas ini juga tahu Rina cantik."
"Iya, cantik. Terus apa hubungannya ama gue?"
"Nah tuh ngaku."
Fram menghela napas. Kadang punya dua sahabat yang terlalu kepo memang melelahkan.
Di sisi lain kantin, Rina yang sedang berjalan bersama teman-temannya nyari tempat duduk tiba-tiba menoleh.
Entah kebetulan atau tidak. Tatapannya bertemu dengan Fram. Hanya beberapa detik. Tapi cukup membuat suasana di sekitar Fram seakan melambat.
Rina tersenyum kecil. Senyum yang sederhana. Namun entah kenapa membuat jantung Fram berdebar sedikit lebih cepat dari biasanya.
"Waduh..." bisik Rendy.
Tomy ikut melongo.
"Bro... dia senyum ke arah sini."
Fram berusaha tetap tenang.
"Ya terus?"
"Terus katanya nggak ada apa-apa."
"Kalian kebanyakan drama."
Meski begitu, saat Fram meneguk air minumnya, ia sadar satu hal. Untuk pertama kalinya sejak kelas Pak Andi berakhir, tugas tiga puluh halaman itu tidak lagi terasa terlalu berat.
Di sudut kantin yang nggak terlalu jauh dari meja Fram, Rina, Amelia, dan Mira akhirnya menemukan tiga kursi kosong.
"Untung masih dapat tempat," kata Amelia sambil meletakkan tasnya di kursi.
"Kalau telat lima menit lagi, kita makan sambil berdiri," sahut Mira.
Tak lama kemudian, pesanan mereka datang.
Semangkuk bakso panas untuk Mira, mie ayam untuk Amelia, dan mie ayam bakso favorit Rina.
"Akhirnya..." desah Mira. "Gue lapar banget."
Mereka langsung mulai makan.
Namun belum sampai lima menit, topik obrolan mereka kembali ke satu hal yang sama, tugas dari Pak Andi.
"Serius deh," kata Amelia sambil mengaduk mie ayamnya. "Pak Andi tuh kayak nggak percaya kalau mahasiswa punya kehidupan selain ngerjain tugas."
Mira mengangguk cepat.
"Setuju. Tiga puluh halaman itu keterlaluan."
"Belum termasuk presentasi minggu depan," tambah Rina.
Amelia langsung menepuk meja.
"Nah itu! Presentasi sama laporan. Gue curiga Pak Andi lagi ikut lomba bikin mahasiswa stres."
Mereka bertiga tertawa.
Di tengah obrolan, Mira tiba-tiba melirik ke arah meja sebelah. Matanya langsung berbinar usil.
"Wih..."
"Apa?" tanya Amelia.
Mira memberi kode dengan dagunya.
"Itu lho."
Amelia mengikuti arah pandang Mira.
Beberapa detik kemudian senyumnya melebar.
"Oalah..."
Rina yang sedang makan pura-pura fokus pada mangkuknya.
"Apa sih?"
"Framudia."
Seketika tangan Rina berhenti sesaat.
Hanya sepersekian detik. Lalu kembali normal.
"Oh."
Mira menyikut lengan Rina pelan.
"Oh doang?"
"Iya, emang kenapa?"
"Dia ada di sana."
"Ya memang dia kuliah di sini."
Amelia langsung tertawa.
"Buset, jawabannya dingin banget."
Rina mengambil segelas es teh dan meminumnya santai.
"Gue harus jawab apa?"
Mira menahan senyum.
"Minimal lihat kek."
"Nggak perlu."
"Kenapa?"
Rina mengangkat bahu.
"Ya nggak kenapa-kenapa."
Padahal dalam hati, Rina sudah sadar sejak pertama masuk kantin kalau Fram duduk di sana.
Bahkan dia sempat melihat Fram lebih dulu sebelum Mira menyadarinya. Amelia memperhatikan wajah sahabatnya dengan tatapan curiga.
"Rina."
"Hm?"
"Lu bohong ya?"
"Apa lagi?"
"Lu pasti udah lihat dia dari tadi."
Rina langsung menggeleng.
"Nggak."
"Serius?"
"Serius."
Mira dan Amelia saling pandang. Mereka sama-sama tahu.
Kalau Rina menjawab terlalu cepat seperti itu, biasanya justru ada sesuatu yang sedang disembunyikan.
Mira tersenyum jahil.
"Kalau gue sih ya, kalau ada cowok ganteng, baik, pintar, terus rendah hati kayak Fram, gue pasti nengok."
"Ya silakan."
"Lu nggak tertarik?"
Rina memasukkan satu suapan mie ke mulutnya.
"Nggak ada hubungannya sama tugas Pak Andi."
"Eh malah ngeles."
Amelia ikut menimpali.
"Jujur aja deh, Rin."
Rina menatap kedua sahabatnya bergantian.
"Ada yang bisa bahas selain Fram nggak?"
Mira ngakak.
"Nah tuh. Kalau udah defensif berarti kena."
"Apaan sih kalian."
Namun tanpa disadari, saat Amelia dan Mira kembali sibuk bercanda, mata Rina sempat melirik ke arah meja Fram.
Hanya sekilas. Sangat singkat. Tapi cukup untuk melihat Fram yang sedang tertawa bersama Rendy dan Tomy.
Senyum kecil tanpa sadar muncul di bibirnya. Untung saja Mira dan Amelia sedang tidak melihat. Kalau sampai ketahuan, habislah dia dijadikan bahan godaan sampai akhir semester.
*****
