Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 4. Dapat Hadiah Di Kantin

Pagi itu suasana Fakultas Ekonomi Unesa jauh lebih ramai dari biasanya.

Mahasiswa berbondong-bondong memasuki ruang kuliah Pak Andi dengan berbagai ekspresi.

Ada juga yang masih sibuk membuka laptop untuk mengecek tugas yang akan dipresentasikan.

Di antara kerumunan mahasiswa itu, Fram, Rendy, dan Tomy berjalan bersama menuju kelas. Berbeda dengan minggu lalu, kali ini mereka terlihat jauh lebih segar.

Maklum... perjuangan lembur di Kafe Gaul selama beberapa malam akhirnya membuahkan hasil.

Meski sempat diwarnai berbagai drama.

Mulai dari Tomy yang ketiduran di atas laptop. Rendy yang berkali-kali salah memasukkan data.

Sampai listrik kafe yang sempat mati sesaat karena hujan deras. Namun semua kesulitan itu berhasil mereka lewati.

Laporan tiga puluh halaman yang awalnya terasa seperti mimpi buruk akhirnya selesai tepat waktu.

"Beneran deg-degan gue," kata Tomy sambil duduk di bangkunya.

"Lu presentasinya juga bagus," jawab Fram.

"Iya, tapi tetap aja." Rendy mengangguk.

"Gue juga penasaran nilai kita."

Belum sempat obrolan mereka berlanjut, Pak Andi masuk ke dalam kelas. Suasana langsung tenang. Semua mahasiswa kembali ke tempat duduk masing-masing.

Pak Andi meletakkan map berisi lembar penilaian di atas meja dosen.

"Selamat pagi."

"Pagi, Pak."

"Hari ini saya akan mengumumkan hasil tugas kelompok kalian."

Kalimat itu langsung membuat seluruh kelas tegang. Beberapa mahasiswa bahkan terlihat menelan ludah.

Pak Andi mulai memanggil satu per satu kelompok.

Nilainya beragam.

Ada yang mendapat B.

Ada yang B plus.

Ada pula yang berhasil meraih A.

Hingga akhirnya...

"Kelompok Framudia, Rendy, dan Tomy."

Ketiganya langsung duduk tegak.

Pak Andi melihat lembar penilaian di tangannya.

"Laporan kalian sangat lengkap. Analisisnya bagus, data yang digunakan juga cukup kuat."

Tomy mulai menahan napas.

"Untuk kelompok ini..." Pak Andi mengangkat pandangannya. "Nilainya A plus."

Sesaat suasana kelas terasa hening.

Lalu... "Wihhh..."

Beberapa mahasiswa langsung bersorak pelan. Tomy hampir berdiri dari kursinya. Rendy memukul meja pelan karena terlalu senang.

Sedangkan Fram hanya tersenyum lega.

Semua rasa kantuk, kopi tengah malam, dan lembur berhari-hari akhirnya terbayar lunas.

Pak Andi melanjutkan.

"Pertahankan kualitas seperti ini."

"Siap, Pak!" jawab mereka bertiga hampir bersamaan.

Setelah kelas berakhir dan Pak Andi meninggalkan ruangan, Tomy langsung meloncat dari kursinya.

"Brooooo!"

Rendy tertawa lebar.

"A plus, cuy!"

"A plus!"

Tomy memeluk bahu Fram.

"Gue nggak nyangka hidup gue bisa sampai titik ini."

"Lebay."

"Nggak, serius."

Rendy ikut tertawa.

"Untuk pertama kalinya gue merasa jadi mahasiswa teladan."

"Tiga menit lagi juga hilang."

"Benar juga."

Mereka bertiga tertawa bersama.

Suasana hati mereka benar-benar sedang bagus. Kerja keras memang tidak pernah mengkhianati hasil.

Begitu keluar dari gedung kuliah, Tomy langsung mengangkat tangan seperti seorang pemimpin revolusi.

"Sebagai bentuk rasa syukur..."

"Apalagi?" tanya Fram.

"Kita rayakan."

"Setuju," kata Rendy.

"Ke mana?"

Tomy menunjuk ke arah yang sangat mereka kenal.

"Kantin!"

Tanpa menunggu jawaban lagi, mereka bertiga langsung berjalan cepat. Atau lebih tepatnya... Ngacir.

Beberapa mahasiswa yang berpapasan sampai menoleh karena melihat tingkah mereka. Sesampainya di kantin, Tomy langsung memilih meja favorit dekat jendela.

"Akhirnya..."

Ia menjatuhkan tubuh ke kursi.

Rendy ikut duduk.

"Hari ini gue traktir es teh."

"Wah, sultan."

"Jangan banyak komentar."

Fram tertawa sambil mengambil kursi di depan mereka. Tak lama kemudian pesanan datang.

Es teh.

Bakso.

Mie ayam.

Dan beberapa gorengan.

"Untuk perjuangan kita," kata Tomy sambil mengangkat gelas es tehnya.

"Untuk A plus," sahut Rendy.

Fram ikut mengangkat gelas.

"Untuk kerja keras."

Tiga gelas pun beradu pelan.

"Cess!"

Mereka bertiga tertawa.

Di tengah suasana santai itu, Fram tanpa sengaja melirik ke arah pintu kantin.

Dan seperti biasanya... seseorang yang selalu berhasil menarik perhatiannya baru saja masuk Rina Yunita, diikuti Amelia dan Mira.

Tomy yang paling cepat menyadarinya langsung menyeringai nakal.

"Oho..."

"Waduh." Rendy ikut menoleh.

"Udah, jangan salting kalian!" Cetus Fram.

Fram, Rendy, dan Tomy kembali menikmati momen kemenangan mereka setelah berhasil mendapatkan nilai A plus dari tugas Pak Andi.

Tomy bahkan sudah menghabiskan semangkuk bakso dan sekarang sedang menyerang gorengan.

"Gue bilang apa?" kata Tomy sambil mengunyah. "Kalau ada kopi gratis dan deadline mepet, otak manusia bisa naik level."

"Itu bukan teori ilmiah," bantah Rendy.

"Tapi terbukti."

Fram hanya tertawa sambil menggelengkan kepala.

Saat itulah suasana di sekitar meja mereka mendadak sedikit berubah.

Beberapa mahasiswa yang sedang lewat tampak menoleh ke arah belakang Fram.

Tomy yang duduk menghadap lorong tiba-tiba menghentikan kunyahannya.

Matanya membesar.

"Waduh..."

"Hm?" kata Fram.

Rendy ikut melihat ke arah yang sama.

Lalu senyumnya langsung melebar.

"Wah, ini baru menarik."

Fram mengernyit. "Kalian kenapa sih?"

Belum sempat mendapat jawaban, sebuah suara lembut terdengar dari belakangnya.

"Maaf..."

Fram spontan menoleh dan jantungnya langsung berdetak sedikit lebih cepat.

Rina yang berdiri disampingnya Amelia dan Mira. Ketiga gadis itu membawa nampan makanan dan minuman.

Rina tersenyum sopan.

"Boleh gabung di sini?"

Selama beberapa detik, justru Tomy dan Rendy yang terlihat paling gugup.

Biasanya mereka berisik, sekarang malah bengong.

Fram yang akhirnya menjawab.

"Oh... iya. Boleh."

"Serius?"

"Iya."

"Makasih."

Mira langsung menarik kursi.

"Nah gitu dong."

Amelia ikut duduk. Sedangkan Rina memilih kursi yang... entah kebetulan atau tidak... berada tepat di samping Fram.

Tomy langsung melirik Rendy.

Rendy balas melirik Tomy.

Keduanya menahan senyum seperti dua orang yang baru menemukan gosip terbesar abad ini.

"Kenapa?" tanya Rina.

"Nggak ada," jawab mereka kompak.

Malah semakin mencurigakan.

Tak lama kemudian obrolan mulai mengalir.

Awalnya tentang tugas Pak Andi.

Tentang presentasi.

Tentang nilai.

Sampai akhirnya Amelia berkata,

"Ngomong-ngomong, selamat ya."

Fram terlihat bingung.

"Selamat apa?"

"Kalian dapat A plus."

Rendy langsung tersenyum bangga.

"Berita cepat juga nyebarnya."

Mira tertawa.

"Ya iyalah. Pak Andi sampai muji kelompok kalian di kelas lain."

Tomy langsung menegakkan badan.

"Tunggu dulu."

"Apa?"

"Beliau muji kita?"

"Iya."

Tomy terlihat terharu.

"Gue pengen nangis."

Semua langsung tertawa. Lalu datanglah kejutan yang sama sekali tidak diduga Fram.

Rina membuka tasnya. Kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru.

Ia meletakkannya di atas meja.

"Ini buat kalian."

Fram berkedip.

"Apa ini?"

"Hadiah."

"Hah?"

Rendy dan Tomy langsung merapat.

"Hadiah apaan?"

Rina tersenyum.

"Sebenarnya kelompok kami juga dapat A plus."

"Wah, selamat!" kata Fram.

"Makasih."

"Lalu?"

Rina menunjuk kotak itu.

"Kemarin waktu diskusi antar kelompok, kalian banyak bantu kami cari referensi data."

"Oh itu."

"Makanya kami sepakat mau traktir."

Mira langsung membuka kotak tersebut.

Isinya enam cup es krim premium berbagai rasa.

Tomy hampir berdiri dari kursinya.

"YA ALLAH..."

Amelia tertawa.

"Lebay banget."

"Bukan lebay."

Tomy memegang dadanya.

"Ini pertama kalinya dalam sejarah hidup gue ada cewek cantik ngasih es krim gratis."

Seluruh meja langsung pecah oleh tawa.

Bahkan Rina sampai menundukkan kepala karena ikut tertawa.

Sementara Fram hanya bisa tersenyum.

Namun di dalam hatinya ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan.

Bukan karena es krim.

Bukan karena nilai A plus.

Melainkan karena untuk pertama kalinya, ia bisa duduk satu meja, mengobrol santai, dan tertawa bersama Rina tanpa rasa canggung.

Saat semua orang sibuk memilih rasa es krim, Rina sempat melirik ke arahnya.

"Kamu suka rasa cokelat, kan?"

Fram sedikit terkejut.

"Hm? Kok tahu?"

Rina langsung salah tingkah.

"Eee... waktu di kantin pernah lihat."

"Oh."

Senyum kecil muncul di wajah Fram.

"Berarti kamu memperhatikan juga?"

Kalimat itu membuat pipi Rina langsung memanas. Sedangkan Amelia dan Mira yang mendengar percakapan itu langsung saling pandang.

Begitu pula Rendy dan Tomy.

Empat orang itu sama-sama berpikir hal yang sama.

Akhirnya... ada juga kemajuan.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal, Fram dan Rina sama-sama tersenyum tanpa berusaha menyembunyikan perasaan yang diam-diam mulai tumbuh di antara mereka.

*****

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel