Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 5. Obrolan Hangat Di Kampus

Angin siang berembus pelan di halaman kampus Unesa.

Di bawah sebuah pohon trembesi yang rindang, Framudia duduk santai di bangku panjang sambil menikmati waktu luangnya sebelum kelas berikutnya dimulai.

Di tangannya ada sebuah novel dengan sampul yang sudah sedikit kusam karena sering dibaca. Sesekali ia tersenyum sendiri ketika menemukan bagian cerita yang menarik.

Fram begitu fokus membaca hingga tidak menyadari seseorang sedang berjalan mendekat.

"Halo."

Fram langsung mengangkat kepala.

"Hah?" Dan seketika ia sedikit terkejut. "Rina...? Bikin kaget."

Gadis itu berdiri di samping bangku sambil tersenyum.

"Boleh duduk?"

"Oh, tentu."

Rina lalu duduk di sebelahnya. Tidak terlalu dekat. Tapi juga tidak terlalu jauh.

Untuk beberapa detik suasana menjadi sedikit canggung. Sampai akhirnya Rina melirik novel yang sedang dibaca Fram.

"Kamu suka baca novel?"

Fram terlihat agak kaget.

"Iya."

"Sering?"

"Kalau lagi ada waktu luang."

Wajah Rina langsung terlihat antusias.

"Sama."

"Kamu juga?"

Rina mengangguk.

"Bahkan sejak SMA."

Mata Fram langsung berbinar.

Ini pertama kalinya ia menemukan topik yang ternyata mereka berdua sukai.

"Genre apa?"

"Romantis, misteri, kadang-kadang fantasi."

"Wah, mirip."

"Serius?"

"Iya."

Rina tertawa kecil.

"Kirain cowok lebih suka buku bisnis atau motivasi."

"Aku mahasiswa ekonomi, bukan robot."

Rina langsung tertawa.

Dan untuk pertama kalinya mereka mengobrol tanpa rasa canggung. Mereka saling bertukar cerita tentang novel favorit.

Tentang tokoh-tokoh yang mereka sukai.

Tentang ending cerita yang bikin kesal.

Bahkan beberapa kali mereka tidak sadar sudah tertawa bersama.

Obrolan yang awalnya hanya beberapa menit berubah menjadi hampir setengah jam. Hingga akhirnya Rina menghela napas panjang.

"Ngomong-ngomong... hmm?" Rina agak ragu mau ngomong, "aku lagi ada sedikit masalah."

Fram menutup novelnya.

"Masalah apa?"

Rina terlihat berpikir sejenak.

"Tempat kos."

"Kenapa?"

"Pemilik kos yang sekarang mau renovasi bangunan. Jadi beberapa penghuni diminta cari tempat lain bulan depan."

"Oh."

"Aku lagi cari kos baru."

Fram mengangguk pelan.

"Kriteria tertentu?"

"Iya."

"Apa?"

"Kamar mandi dalam."

Fram langsung teringat sesuatu.

"Tunggu."

Rina menatapnya penasaran.

"Kenapa?"

"Di tempat kosku kayaknya ada kamar kosong."

"Serius?"

"Iya."

Rina terlihat tertarik.

"Kos putri?"

"Campuran sih. Tapi aman kok, Rin."

"Oh."

"Kalau nggak salah kamar nomor 203 baru kosong minggu lalu."

"203?"

"Iya. Persis sebelah kamar aku."

Begitu mengucapkan kalimat itu, Fram baru sadar. Persis sebelah kamar aku.

Entah kenapa kalimat itu terdengar agak aneh.

Rina sendiri tampak menahan senyum.

"Berarti kamu di 202?"

"Iya."

"Wah, dekat banget ya."

Fram menggaruk belakang kepala.

"Iya sih."

"Kamarnya bagus?"

"Lumayan. Bersih. Ada kamar mandi dalam juga."

Rina terlihat semakin tertarik.

"Kalau harganya?"

"Nah, itu aku nggak hafal."

"Hmm..."

"Tapi aku punya nomor Bu Ratna."

"Bu Ratna?"

"Ibu kos, Melati."

Mata Rina langsung berbinar.

"Boleh minta?"

"Tentu."

Fram segera mengambil ponselnya.

Kemudian membuka daftar kontak.

Beberapa detik kemudian ia menuliskan nomor telepon Bu Ratna pada secarik kertas dari buku catatannya.

"Nih."

Rina menerimanya.

"Makasih banyak ya."

"Sama-sama."

"Kalau memang masih kosong, aku mau langsung hubungi beliau nanti sore."

"Bagus."

Rina tersenyum.

"Kalau jadi dapat kamar di sana, berarti aku punya tetangga yang suka baca novel juga."

Fram ikut tersenyum.

"Iya."

Tanpa mereka sadari, suasana siang itu terasa begitu nyaman. Obrolan sederhana yang awalnya hanya tentang novel kini membawa mereka mengenal satu sama lain sedikit lebih dekat.

Sementara di kejauhan, dua pasang mata sedang memperhatikan dari balik koridor gedung kampus.

Rendy dan Tomy.

"Bro..."

"Iya."

"Menurut lu itu udah level PDKT belum?"

"Kalau sampai pindah kos sebelahan?"

"Hmm."

Tomy mengangguk mantap.

"Ini bukan lagi PDKT."

"Terus?"

"Ini perkembangan yang sangat menjanjikan."

Mereka berdua langsung tertawa sambil menjauh sebelum ketahuan.

Angin siang masih berembus pelan di bawah pohon rindang itu.

Setelah membahas novel dan urusan kos, obrolan Fram dan Rina perlahan berubah menjadi lebih santai. Bukan lagi soal kuliah atau tugas kampus, melainkan tentang kehidupan pribadi mereka.

Hal yang sebenarnya belum pernah terjadi sebelumnya. Rina duduk menyandarkan punggungnya ke bangku.

"Kamu asli Surabaya?"

"Iya."

"Lahir di sini juga?"

"Iya."

Rina mengangguk pelan.

"Keluarga kamu tinggal di Surabaya juga?"

Pertanyaan itu membuat Fram sedikit terdiam.

Sesaat.

Hanya sesaat.

Lalu ia tersenyum santai.

"Iya."

"Kerja apa orang tua kamu?"

Fram menatap halaman novel yang masih ada di pangkuannya. Ia sudah terbiasa menjawab pertanyaan seperti itu. Bahkan jawabannya hampir selalu sama.

"Biasa aja kok."

"Biasa gimana?"

"Ayah kerja usaha kecil-kecilan."

"Oh."

"Ibu bantu ngurus rumah."

Rina mengangguk.

Tidak ada sedikit pun rasa curiga di wajahnya. Sementara Fram diam-diam merasa bersalah.

Bukan karena tidak percaya kepada Rina. Tapi karena ia belum siap memperlihatkan siapa dirinya yang sebenarnya.

Selama ini banyak orang yang mendekat hanya karena status dan kekayaan keluarganya. Ia tidak ingin itu terjadi lagi.

"Aku malah suka orang yang sederhana," kata Rina tiba-tiba.

"Hmm?"

"Soalnya lebih enak diajak ngobrol."

Fram tersenyum kecil.

"Makasih."

"Lho, aku nggak lagi muji kamu."

"Oh."

"Tapi kalau mau merasa dipuji juga nggak apa-apa."

Fram tertawa.

"Baiklah."

Rina ikut tersenyum. Kemudian matanya memperhatikan tangan Fram yang sedikit kasar.

"Kamu kerja ya?"

"Iya."

"Part time?"

"Kurang lebih."

"Di mana?"

"Kafe."

"Wah."

Rina terlihat tertarik.

"Barista?"

"Iya."

"Serius?"

"Iya."

"Keren juga."

Fram mengangguk santai.

"Kerja di kafe orang."

Kalimat itu keluar begitu saja. Padahal kenyataannya, kafe itu miliknya sendiri.

Namun lagi-lagi ia memilih menyimpan fakta tersebut.

Baginya, hidup lebih tenang ketika orang lain melihatnya sebagai mahasiswa biasa.

"Capek nggak sih kuliah sambil kerja?" tanya Rina.

"Kadang capek."

"Tapi tetap dijalanin?"

"Iya."

"Kenapa?"

Fram berpikir sejenak.

"Lumayan buat belajar mandiri."

Rina memandangnya beberapa detik.

Entah kenapa jawaban itu membuatnya semakin kagum.

Di zaman ketika banyak mahasiswa bergantung pada orang tua, Fram justru memilih bekerja sambil kuliah. Menurutnya itu tidak mudah.

"Salut sih."

Fram hanya tersenyum.

Kemudian gantian ia bertanya.

"Kalau kamu?"

"Kenapa?"

"Pernah kerja part time?"

Rina langsung tertawa.

"Nggak pernah."

"Kenapa?"

"Aku takut pelanggan marah kalau aku salah kasih kembalian."

Fram ikut tertawa.

"Bisa jadi."

Mereka kembali mengobrol beberapa menit. Suasananya semakin nyaman.

Semakin alami. Sampai akhirnya Rina mengajukan pertanyaan yang membuat Fram sedikit salah tingkah.

"Ngomong-ngomong..."

"Hmm?"

"Kamu punya pacar?"

Fram hampir tersedak air minumnya sendiri. Untung hanya hampir.

"Kenapa nanya begitu?"

"Ya penasaran aja."

Fram tertawa kecil. Untuk pertama kalinya hari itu, ia menjawab dengan jujur.

"Nggak punya."

"Serius?"

"Serius."

"Belum pernah?"

"Pernah suka seseorang."

"Nembak?"

"Nggak."

Rina menahan tawa.

"Jadi sekarang statusnya?"

Fram mengangkat bahu.

"Jomblo."

"Oke."

"Jomblo permanen."

Rina langsung tertawa keras. Sampai harus menutup mulutnya dengan tangan.

"Apaan sih? Kenapa ketawa? Jomblo permanen?"

"Iya, kok bisa ngomong begitu dengan santainya?"

Fram malah terlihat bangga.

"Soalnya itu fakta."

"Harusnya malu."

"Kenapa malu?"

"Karena jomblo."

Fram menggeleng.

"Justru aku bangga."

Rina makin tertawa.

"Ya ampun."

"Kenapa?"

"Pertama kali aku ketemu orang yang mengaku jomblo permanen dengan ekspresi bangga."

Fram ikut tertawa.

"Soalnya belum ada yang mau."

"Atau mungkin kamunya yang nggak peka."

"Nah, itu juga mungkin."

Rina masih tersenyum sambil menggelengkan kepala. Entah kenapa, percakapan sederhana itu terasa sangat menyenangkan.

Tidak dibuat-buat.

Tidak penuh pencitraan.

Hanya dua orang yang saling mengenal sedikit demi sedikit.

Dan jauh di dalam hati Rina, muncul satu pertanyaan kecil yang bahkan belum berani ia ucapkan.

Kalau memang Fram masih "jomblo permanen..."

Apakah mungkin suatu hari nanti ada seseorang yang berhasil mengubah status itu?

Sementara di sampingnya, Fram sama sekali tidak menyadari bahwa gadis yang sedang tertawa di hadapannya mungkin saja adalah jawaban dari pertanyaan tersebut.

*****

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel