Bab 05 Malam ketika Mama dan Papa Melihat Segalanya
Waktu terus berlalu, menggerus ritme hidup Galen dengan cara yang nyaris tak terasa. Baginya, hidup selalu tentang eliminasi variabel yang merusak keseimbangan. Namun, malam ini, proses itu terasa lebih menguras tenaga daripada audit keuangan mana pun yang pernah ia lakukan.
Setelah pulang kerja dengan sisa energi yang menipis, Galen bergerak cepat. Ia menyingkirkan semua barang milik Sisil ke dalam kardus-kardus besar dengan efisiensi seorang algojo—cepat dan tanpa ekspresi. Sikat gigi merah muda, mug couple dari Jepang, hingga foto-foto dalam bingkai perak. Semuanya masuk ke dalam kotak. Ia ingin apartemen ini bersih dari jejak Sisil sebelum fajar tiba.
Saat ia sedang menyegel kardus ketiga dengan lakban yang suaranya memekakkan telinga, bel pintu apartemennya berbunyi. Galen tersentak. Ini sudah jam sembilan malam.
Di depan sana, berdiri dua sosok yang sangat ia kenali. Ayahnya, dengan setelan linen mahal, dan ibunya yang elegan dengan syal kasmir. Mereka tersenyum lebar, membawa tas berisi oleh-oleh.
"Surprise! Mama sama Papa sengaja nggak bilang mau ngunjungi kamu. Sisil mana? Mama bawakan syal yang dia titip kemarin," ucap mamanya ceria, mencoba melongok ke dalam apartemen.
Senyum itu perlahan membeku saat mereka melangkah masuk. Mereka tidak menemukan suasana hangat rencana pernikahan, melainkan sebuah ruangan yang tampak seperti zona penggusuran. Mata sang ayah langsung tertuju pada tumpukan kardus di tengah ruangan yang biasanya rapi itu. Ia melihat foto pertunangan Galen dan Sisil yang menyembul dari salah satu kotak—dengan kaca yang sudah retak seribu.
"Len... ini ada apa?" suara papanya berubah berat, menyadari ada sesuatu yang sangat salah.
Mama Galen mendekati salah satu kardus, mengambil sebuah bingkai foto yang baru saja dibuang Galen. "Kenapa barang-barang Sisil dikemas begini? Kalian berantem?"
Galen berdiri mematung di tengah ruangan. Suaranya serak saat akhirnya ia mampu bicara. "Nggak ada pernikahan, Pa. Semuanya sudah selesai."
Keheningan yang mencekam menyergap. Mamanya menutup mulut dengan tangan, tas belanjanya luruh ke lantai. "Selesai? Tapi undangan sudah mau dicetak, Len. Apa yang terjadi?"
Galen mencoba memungut sikat gigi yang terjatuh di dekat kaki mamanya, tapi tangannya gemetar hebat. Sikat itu malah terlempar lebih jauh. Ia terdiam, menatap tangannya sendiri yang seolah mengkhianatinya.
"Galen sudah hitung semuanya, Ma," suara Galen mulai bergetar. "Galen pikir kalau Galen kerja lebih keras, kalau Galen jadi orang yang paling sukses buat dia... semuanya akan berjalan lancar. Tapi kenapa hitungannya salah? Kenapa Galen nggak lihat kalau dia selingkuh di depan mata Galen selama ini?"
Tiba-tiba, ia terduduk di atas salah satu kardus. Bahunya merosot. "Dia selingkuh sama Doni, Pa. Orang yang Galen didik dari nol."
Mendengar itu, kemarahan di mata papanya seketika berubah menjadi empati yang amat dalam. Sang ayah melepaskan jasnya, lalu berlutut di depan Galen—sebuah pemandangan langka dari pria yang biasanya duduk di kursi direktur. Ia memegang kedua lutut putranya.
"Dengar, Galen. Dalam hidup, ada hal-hal yang tidak bisa kamu masukkan ke dalam laporan keuangan. Manusia bukan angka. Mereka punya celah, dan terkadang mereka sangat bodoh hingga membuang berlian demi kerikil. Itu bukan salah analisnya. Itu salah subjeknya."
Mamanya langsung memeluk Galen dari samping, membiarkan syal kasmirnya basah oleh air mata putranya yang mulai jatuh. "Nangis aja, Sayang. Di kantor kamu boleh jadi singa, tapi di sini, kamu cuma anak Mama yang lagi luka. Nggak perlu pura-pura kuat di depan kami."
Pertahanan Galen runtuh total. Isak tangis yang sejak kemarin ia tahan, kini pecah. Di tengah tumpukan kardus berisi barang-barang masa lalu, Galen menyadari bahwa meski "aset" hidupnya sedang pailit, ia masih punya cinta yang tidak akan pernah bisa dihitung dengan angka.
"Besok kita pulang ke rumah ya, Len? Sebentar saja," bisik mamanya lembut. "Biar Mama yang masakan makanan kesukaan kamu. Lupakan angka-angka itu sebentar saja."
Galen hanya bisa mengangguk lemah di bahu ibunya, sementara di luar, hujan Jakarta seolah ikut menangisi sisa-sisa harga diri yang sedang ia kumpulkan kembali dari lantai apartemennya.
