Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 06 Bandung, Aku Pulang dengan Kekalahan

Pagi hari telah tiba, mobil Toyota Alphard hitam milik papanya membelah jalan tol Cipularang yang mulai menanjak. Di kursi belakang, Galen duduk di antara kedua orang tuanya—sebuah posisi yang sudah bertahun-tahun tidak ia tempati. Biasanya, ia akan berada di balik kemudi mobilnya sendiri, atau duduk di kursi penumpang sambil sibuk memeriksa laporan keuangan di tabletnya. Namun hari ini, ia membiarkan dirinya "diasuh" dalam perjalanan pulang menuju tanah kelahirannya.

Ada rasa lega yang getir di dadanya. Semalam, ia telah memastikan tidak ada lagi jejak Sisil yang tersisa di apartemennya. Dengan tangannya sendiri, ia mengemas semua barang milik perempuan itu ke dalam kardus-kardus besar. Semuanya sudah ia kirimkan melalui jasa ekspedisi langsung ke rumah Sisil. Galen ingin memastikan bahwa ketika ia pergi, tidak ada satu pun alasan atau "barang yang tertinggal" yang bisa menariknya kembali ke masa lalu.

Galen menatap kosong ke luar jendela seiring roda mobil membawanya semakin jauh meninggalkan Jakarta. Ia pulang dengan bagasi hati yang kosong, persis seperti apartemen yang baru saja ia tinggalkan. Saat ia menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, kabut tipis sisa hujan subuh mulai menyelimuti deretan pepohonan hijau khas Priangan. Seharusnya, pemandangan itu terasa seperti pelukan rumah yang akrab, namun di mata Galen, segalanya nampak terdistorsi oleh kehampaan yang ia bawa.

Pikirannya melayang, terseret oleh aroma parfum kasmir mamanya yang bercampur dengan aroma kopi dari tumbler yang dipegang papanya. Tiba-tiba, sebuah memori muncul tanpa permisi.

Bukan kenangan tentang masa kecil di Bandung, tapi tentang sebuah sore yang sangat biasa di Kuningan, satu setengah tahun yang lalu.

Saat itu mereka sedang terjebak macet total. Hujan turun sangat deras—persis seperti hari saat ia memergoki pengkhianatan itu. Di dalam mobilnya yang sempit, Sisil sedang mencoba memperbaiki riasannya yang sedikit luntur.

"Len, liat deh," suara Sisil saat itu terngiang jelas di telinga Galen. Sisil menunjukkan sebuah gantungan kunci boneka beruang kecil yang ia temukan di dasbor. "Ini lucu banget. Kita kasih nama siapa? Gani? Galen-Sisil?"

Galen ingat saat itu ia hanya tertawa meremehkan. "Itu cuma barang promosi dari bank, Sil. Jangan norak."

Tapi Sisil tidak menyerah. Dia tetap memasang boneka itu di kunci mobil Galen, sambil bersenandung kecil mengikuti lagu di radio. Galen memejamkan mata di dalam mobil orang tuanya, dan ia bersumpah bisa merasakan kembali kehangatan jemari Sisil yang saat itu tak sengaja menyentuh punggung tangannya saat memindahkan persneling.

Hal-hal sepele. Hal-hal yang dulu ia anggap sebagai "gangguan" dalam hidupnya yang presisi, kini menjadi liabilitas emosional yang tak mampu ia lunasi.

Mobil melintasi jembatan tinggi yang memperlihatkan jurang di bawahnya. Galen teringat saat mereka makan di warung tenda pinggir jalan di daerah Ciledug. Sisil, yang biasanya menuntut restoran bintang lima, saat itu begitu antusias makan sate padang sambil kepedasan.

"Kalau nanti kita udah nikah, tiap dua bulan sekali kita ke sini ya, Len? Nggak perlu mahal-mahal, yang penting perut kenyang, hati senang," ucap Sisil waktu itu dengan bibir yang memerah karena sambal.

Saat itu, Galen merasa Sisil adalah "aset" paling berharga dalam neraca hidupnya. Ia merasa telah melakukan due diligence yang sempurna. Ternyata, ia hanyalah seorang analis amatir yang gagal melihat cacat pada subjek yang paling ia cintai.

"Len? Kamu melamun?" Suara lembut mamanya memecah keheningan. Sebuah tangan hangat mengusap punggung tangannya yang tanpa sadar mencengkeram lutut dengan kuat.

Galen membuka mata. Ia melihat pantulan wajahnya di kaca jendela—pucat, dengan mata yang menyimpan luka sedalam palung. "Enggak, Ma. Cuma... udaranya mulai dingin ya. Sudah terasa hawa Bandung-nya."

"Sebentar lagi sampai rumah," sahut papanya dari balik kemudi, matanya melirik melalui spion tengah dengan sorot empati. "Bandung selalu tahu caranya menyembuhkan anak-anaknya yang pulang, meski butuh waktu."

Galen hanya mengangguk lemah. Namun di dalam kepalanya, ia masih mendengar tawa Sisil. Ia teringat bagaimana Sisil pernah tertidur di bahunya saat mereka menonton film di apartemen, bagaimana aroma sampo stroberi Sisil memenuhi ruang pribadinya, dan bagaimana ia merasa dunianya seimbang hanya dengan kehadiran wanita itu.

Ia membenci dirinya sendiri karena masih merindukan bayang-bayang itu di tengah perjalanan menuju tempat paling aman yang ia miliki. Ia membenci kenyataan bahwa meskipun ia telah "melikuidasi" Sisil dari hidupnya secara profesional dan administratif, ia belum bisa menghapus jejak emosional yang tertinggal di memorinya.

Di tengah deru mesin mobil yang halus, Galen menyadari satu hal yang paling menyakitkan: Angka memang tidak pernah berbohong, tapi kenangan adalah pembohong paling ulung yang pernah ia temui. Ia sedang menuju rumah aslinya untuk mencari ketenangan, namun ia tahu, ia membawa serta seluruh kepingan hatinya yang hancur dalam koper yang ia simpan di bagasi.

Tidak lama kemudian, mobil berhenti dengan suara halus di depan pagar besi yang sedikit berkarat di beberapa sudutnya—sebuah kontras tajam dengan gerbang otomatis apartemen mewahnya di Jakarta. Saat pintu mobil dibuka, udara pegunungan yang lembap dan aroma tanah basah menyeruak masuk, menyambut Galen dengan pelukan yang jauh lebih tulus daripada keberhasilan kariernya.

"Ayo, Len. Masuk," ajak Mamanya lembut.

Galen melangkah melewati pintu jati tua yang berderit pelan. Langkah kakinya terasa berat, seolah setiap ubin yang ia injak menyimpan magnet memori yang menariknya ke masa lalu. Ruang tamu itu masih sama; sofa beludru cokelat yang sudah sedikit memudar dan wangi kayu cendana yang menenangkan.

Pandangannya tertuju pada dinding di samping lemari buku. Di sana, sebuah bingkai kayu sederhana memajang foto yang sudah agak menguning.

Galen melihat dirinya versi kecil mengenakan seragam kotak-kotak dengan tas ransel kuning yang kebesaran. Ia sedang tertawa lebar sambil memegang krayon, bangga menunjukkan gambar rumah sederhana dengan matahari di sudut kertas. Di foto itu, dunianya hanya sebatas warna-warni krayon, tanpa perlu memikirkan pengkhianatan atau strategi bisnis yang rumit.

Di sampingnya, ada foto masa SD. Galen berdiri di depan sekolah dengan lutut yang sedikit lecet karena jatuh saat bermain bola. Matanya berbinar, memegang piala plastik hasil lomba matematika tingkat kota. Sorot matanya penuh kebanggaan murni—jenis kebanggaan yang belum tercemar oleh ambisi dingin dunia korporat.

Foto terakhir dalam deretan itu menunjukkan Galen yang sudah lebih tinggi, mengenakan seragam SMK jurusan Akuntansi. Ia berpose bersama teman-temannya di depan meja praktikum yang penuh dengan lembar kerja kolom dan kalkulator, jemari mereka tampak sibuk namun senyum mereka sangat lepas.

Itulah masa di mana ia percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini harus bisa seimbang dan memiliki penjelasan yang logis—sebuah keyakinan yang kini hancur saat ia menyadari bahwa perasaan manusia tidak pernah mengikuti hukum debit-kredit, dan luka di hatinya adalah sebuah selisih yang tidak akan pernah bisa ia temukan jurnal penyesuaiannya.

Galen mendekat, menyentuh permukaan kaca bingkai itu dengan ujung jarinya yang gemetar. Dadanya mendadak sesak. Nostalgia ini bukan sekadar rindu pada masa kecil, melainkan sebuah teguran keras. Di rumah ini, ia pernah menjadi anak laki-laki yang percaya bahwa dunia adalah tempat yang jujur.

"Lihat foto itu, Len," suara Papanya terdengar dari belakang, meletakkan kunci mobil di atas meja. "Waktu itu kamu menangis karena takut pialanya patah. Kamu selalu menjaga apa yang kamu miliki dengan sepenuh hati."

Kalimat itu menghantam Galen lebih keras daripada pengkhianatan Sisil. Menjaga apa yang dimiliki dengan sepenuh hati. Itulah yang ia lakukan pada Sisil, namun hasilnya tetaplah kehancuran.

Ia beralih ke sudut ruangan lain, ke sebuah kursi kayu tempat ia biasa belajar. Di sana, ia teringat bagaimana Mamanya selalu membawakan susu hangat setiap malam. Tidak ada manipulasi, tidak ada agenda tersembunyi. Hanya kasih sayang yang linear dan absolut.

Air mata yang sejak tadi ia tahan di sepanjang jalan, kini menggenang. Di rumah sederhana ini, Galen menyadari betapa jauh ia telah melangkah pergi dari dirinya yang asli. Ia telah membangun benteng tinggi di Jakarta, mengisi hidupnya dengan angka dan logika, hanya untuk dihancurkan oleh satu variabel bernama cinta.

Ia menunduk, membiarkan rasa sesak itu menguasai dirinya sejenak di tengah keheningan rumah masa kecilnya. Di sini, di antara foto-foto kemenangan masa lalu dan kenangan masa kecilnya, Galen merasa seperti seorang pemenang yang pulang sebagai pecundang paling sunyi.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel