Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 04 Makan Malam yang Menyakitkan

Restoran itu berada di lantai atas sebuah hotel tua di kawasan Menteng. Interiornya klasik—lampu gantung kristal, meja kayu gelap, dan musik piano yang mengalun pelan. Biasanya, tempat seperti ini identik dengan jamuan keluarga dan kesepakatan bisnis. Malam ini, bagi Galen, tempat itu terasa seperti ruang sidang tanpa palu hakim.

Galen datang sendiri.

Ia tiba lima menit lebih awal, memilih meja di sudut yang cukup privat. Ia duduk tegak, jasnya rapi, napasnya stabil. Di samping kursinya, sebuah map coklat tebal ia letakkan dengan hati-hati. Tidak ada logo firma hukum di sana. Tidak ada tulisan apa pun. Tapi beratnya cukup untuk mengingatkan Galen bahwa hidupnya baru saja berubah arah.

Tak lama kemudian, Pak Hermawan dan Bu Rina datang lebih dulu. Wajah mereka tegang, senyum sopan yang dipaksakan. Menyusul di belakang mereka, Sisil.

Galen langsung tahu—tanpa perlu membaca ekspresi lebih jauh—bahwa Sisil sudah diberi gambaran tentang apa yang akan terjadi. Langkahnya ragu, matanya sembab, wajahnya pucat seolah sudah menangis terlalu lama.

“Terima kasih sudah datang,” kata Galen sambil berdiri singkat, menjabat tangan Pak Hermawan dengan formal. Tidak ada pelukan. Tidak ada basa-basi.

Mereka duduk. Pelayan datang, menawarkan menu. Galen menolak dengan anggukan halus. “Saya tidak akan lama,” katanya datar.

Keheningan menggantung di meja itu, berat dan canggung.

“Galen,” Pak Hermawan membuka suara lebih dulu, suaranya serak tapi berusaha tegar. “Kami… sangat terkejut dengan semua yang terjadi hari ini di kantor. Sisil sudah menjelaskan versinya. Kami berharap masih ada ruang untuk bicara baik-baik.”

Galen mengangguk pelan. Ia meraih map coklat itu, meletakkannya di atas meja dengan gerakan tenang. Tidak dibuka. Belum.

“Kita memang bicara baik-baik, Pak,” jawabnya. “Justru karena itu saya memilih tempat netral. Saya tidak ingin ini jadi keributan, tapi juga tidak ingin ada ilusi.”

Sisil menatap map itu seakan sedang melihat benda berbahaya. Tangannya mencengkeram tasnya erat-erat.

“Len…” suaranya bergetar. “Aku tahu aku salah. Tapi semua yang terjadi di kantor hari ini—itu berlebihan. Itu menghancurkan hidup Doni. Kamu nggak perlu sejauh itu.”

Kalimat itu membuat Galen akhirnya menatap Sisil. Tatapannya tenang, nyaris kosong.

“Yang menghancurkan hidup Doni,” kata Galen pelan, “bukan saya. Tapi pilihan-pilihannya sendiri. Sama seperti pilihan kamu.”

Ia membuka map coklat itu.

Tidak ada adegan dramatis. Tidak ada bantingan. Hanya gerakan rapi, terkontrol—seperti seseorang yang sedang mempresentasikan laporan.

Ia mengeluarkan beberapa lembar foto, disusun menghadap ke arah Pak Hermawan dan Bu Rina. Foto-foto yang sudah mereka lihat sebelumnya, tapi kali ini tanpa layar, tanpa jarak digital. Kertas cetak. Nyata. Tidak bisa di-*delete*.

“Ini bukan cuma soal perselingkuhan,” lanjut Galen. “Ini soal pola. Kebohongan yang konsisten. Perencanaan.”

Bu Rina menutup mulutnya. Nafasnya tersengal saat melihat tanggal-tanggal di sudut foto.

“Sisil…” suaranya hampir tak terdengar. “Ini semua benar?”

Sisil tidak menjawab. Air matanya jatuh satu per satu ke taplak meja putih.

Galen mengeluarkan satu lembar dokumen lagi.

“Ini rincian biaya pernikahan yang sudah saya keluarkan,” katanya, nada bicaranya tetap profesional. “Total satu koma dua miliar rupiah. Semua kontrak sudah saya batalkan. Kerugian DP—saya tanggung sendiri. Saya tidak menagih apa pun.”

Pak Hermawan mengangkat wajahnya, jelas terpukul. “Galen… kami bisa mengganti—”

“Tidak perlu, Pak,” potong Galen halus tapi tegas. “Ini bukan soal uang. Ini soal penutupan.”

Ia lalu mengeluarkan surat pembatalan pertunangan yang sudah ditandatangani.

“Saya ingin semuanya jelas. Tidak ada ruang untuk salah paham. Tidak ada cerita versi lain.”

Sisil terisak, akhirnya bicara dengan suara patah. “Aku masih cinta sama kamu, Len…”

Galen menatapnya lama. Tidak ada amarah di sana. Hanya kelelahan.

“Kalau itu cinta,” katanya lirih, “harusnya kamu berhenti sebelum semuanya sejauh ini. Bukan menghitung masa depan di atas kebohongan.”

Ia menutup map coklat itu kembali. Suaranya pelan, tapi final.

“Setelah malam ini, saya minta tidak ada kontak lagi. Tidak langsung, tidak lewat orang tua, tidak lewat narasi simpati. Saya ingin hidup saya bersih dari cerita ini.”

Pak Hermawan mengangguk berat. “Saya mengerti. Dan… saya minta maaf. Sebagai orang tua.”

Galen berdiri. “Terima kasih, Pak.”

Ia menoleh ke Sisil untuk terakhir kalinya.

“Saya harap kamu belajar sesuatu dari ini. Bukan tentang kehilangan saya—tapi tentang harga dari ketidakjujuran.”

Tanpa menunggu jawaban, Galen melangkah pergi. Tidak ada teriakan. Tidak ada adegan dramatis. Hanya suara kursi yang bergeser dan piano yang terus bermain, seolah dunia tidak peduli ada satu hubungan yang baru saja dikubur dengan rapi.

Di dalam lift hotel, Galen berdiri sendiri. Tangannya masih menggenggam map coklat itu.

Bukan lagi sebagai senjata.

Tapi sebagai arsip.

Dan ketika pintu lift tertutup, Galen tahu—ini benar-benar akhir.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel