
Ringkasan
Galen Dirgantara, seorang analis keuangan senior yang terobsesi pada presisi, hidupnya hancur saat memergoki tunangan dan asistennya berselingkuh. Alih-alih larut dalam emosi, Galen memilih jalan seorang analis: menghancurkan karier pengkhianat dan membatalkan pernikahan bernilai miliaran. Namun, setelah semua "diliquidasi", hatinya tetap pailit. Galen pun pulang ke rumah masa kecilnya, memulai perjalanan pahit untuk menemukan kembali dirinya yang utuh—belajar bahwa tidak semua luka bisa dihitung, dan manusia tidak selalu seakurat angka.
Bab 01 Pesan yang Menghancurkan Segalanya
Bagi Galen, hidup adalah tentang presisi.
Di usia 30 tahun, ia telah menduduki kursi analis senior di Vanguard Financial, sebuah firma keuangan terkemuka di Jakarta. Posisinya bukan hasil keberuntungan semata, melainkan akumulasi dari keputusan-keputusan dingin yang diambil dengan kepala jernih sejak usia muda. Di mejanya, segalanya terukur. Neraca harus seimbang. Aset harus melebihi liabilitas. Risiko harus dikelola.
Galen menyukai angka karena angka tidak pernah berbohong. Angka tidak memiliki agenda tersembunyi.
Namun, sore itu, presisi hidupnya dikacaukan oleh sebuah variabel yang tidak pernah ia masukkan ke dalam rumus: sebuah pesan WhatsApp dari Aldo.
Pukul 15.45. Hujan mengguyur kaca jendela kantornya di lantai 20, menciptakan distorsi kelabu pada pemandangan kota yang basah. Galen baru saja selesai memeriksa laporan pengeluaran departemen yang disusun oleh asistennya, Doni.
Laporannya rapi. Terlalu rapi, bahkan.
Doni kini berusia 27 tahun. Empat tahun lalu, saat masih berusia dua puluh tiga dan baru lulus kuliah, Galen-lah yang menarik bocah itu masuk ke dunia keuangan yang keras dan tanpa ampun. Galen yang membentuknya dari nol—mengajarinya membaca laporan seperti membaca peta perang, menajamkan insting risiko, menekan ego, dan bekerja dengan kepala dingin.
Dari staf junior yang kikuk, Doni tumbuh menjadi asisten pribadinya. Setia. Penurut. Ambisius dengan cara yang tampak sehat.
Doni selalu menatap Galen dengan pandangan kagum, seolah Galen bukan sekadar atasan, melainkan kompas hidupnya.
Ponsel Galen bergetar di atas meja mahoni, berdenting keras di ruangan yang sunyi.
Aldo:
Len. Gue nggak tahu gimana ngomongnya. Gue di Hotel Amara sekarang, lobi bar. Lo harus ke sini. Sekarang. Jangan tanya kenapa.
Galen mengerutkan kening dan mengetik balasan cepat.
Galen:
Gue lagi closing bulanan, Do. Nanti malem aja.
Balasan Aldo datang hampir seketika.
Aldo:
Ini soal Sisil. Dan Doni.
Darah Galen seolah berhenti mengalir. Dingin yang tidak wajar merambat dari ujung kakinya, naik ke tulang belakang, dan mencengkeram lehernya. Nama tunangannya dan nama asistennya—anak yang ia didik sendiri selama empat tahun—dalam satu kalimat yang sama, di lokasi yang sama: hotel.
Otak logis Galen mencoba menyangkal. Mungkin ada kesalahpahaman. Meeting mendadak? Tidak. Jadwal Doni kosong sore ini. Ia izin sakit sejak pagi. Sisil? Sisil bilang ia sedang fitting baju pengantin dengan ibunya.
Pernikahan mereka tinggal dua bulan lagi. Uang muka gedung sudah lunas. Katering sudah dipesan.
Pesan Aldo berikutnya menghantam lebih keras.
Aldo:
Kamar 304. Gue liat mereka check-in setengah jam lalu. Tangan mereka… Len, lo harus lihat sendiri sebelum lo nikah sama dia.
Ponsel itu terlepas dari tangan Galen, jatuh berdebum ke atas tumpukan berkas.
Tanpa mematikan komputer, tanpa merapikan jasnya, Galen menyambar kunci mobil dan berlari keluar ruangan, mengabaikan sapaan resepsionis yang memanggil namanya dengan bingung.
Perjalanan dari kantor ke Hotel Amara terasa seperti simulasi neraka.
Macet Jakarta seolah berkonspirasi untuk menyiksanya. Wiper mobil bergerak panik, seirama dengan detak jantung Galen yang menghantam rusuk. Ia memukul setir.
“Nggak mungkin,” bisiknya. “Sisil cinta sama gue.”
Bayangan Sisil muncul—senyumnya saat dilamar di Bali, caranya menunggu Galen pulang lembur, kesabarannya selama bertahun-tahun Galen menunda banyak hal demi karier.
Lalu bayangan Doni.
Anak yang dulu gugup mempresentasikan laporan pertamanya. Anak yang ia belikan kopi setiap malam lembur. Anak yang memanggilnya, “Mas Galen, panutan saya.”
Kombinasi kedua wajah itu di dalam sebuah kamar hotel membuat perut Galen mual. Asam lambung naik ke kerongkongannya.
Galen memarkir mobilnya sembarangan di lobi hotel, melempar kunci ke valet dengan tangan gemetar, dan melangkah masuk. Hotel Amara adalah tempat yang mewah. Lantai marmer, lampu gantung kristal, dan aroma bunga lili yang menyengat. Aroma yang biasanya menenangkan, kini tercium seperti formalin di kamar mayat bagi indra penciuman Galen.
Ia tidak menelepon Aldo. Ia tidak butuh Aldo lagi. Ia butuh pembuktian.
Lift berdenting. Lantai 3.
Lorong hotel itu panjang dan sunyi, diredam oleh karpet tebal bermotif bunga merah darah. Galen berjalan seperti hantu. Langkahnya cepat namun senyap. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia bisa mendengar desingan darah di telinganya sendiri.
301... 302... 303...
Pintu itu tertutup rapat. Tanda Do Not Disturb tergantung miring di gagang pintu.
Galen berdiri di sana, mematung. Tangannya terangkat, ragu-ragu. Bagian dari dirinya—bagian yang pengecut—ingin berbalik pergi. Jika ia pergi sekarang, ia bisa berpura-pura tidak tahu. Ia bisa pulang, menikahi Sisil, dan hidup dalam kebohongan yang nyaman.
Tapi Galen adalah orang keuangan. Ia butuh audit. Ia butuh kebenaran, seburuk apa pun itu.
Ia menempelkan telinganya ke pintu kayu yang tebal itu.
Dan dunia Galen pun hancur.
Bukan dengan ledakan, tapi dengan suara.
Suara itu terdengar jelas, menembus sela-sela pintu yang ternyata tidak tertutup dengan sempurna—mungkin karena terburu-buru, grendelnya tidak masuk sepenuhnya ke lubang kunci. Celah kecil, tak kasat mata bagi orang lewat, tapi cukup untuk meloloskan suara dosa dari dalam.
"Ahh... Doni... please..."
Itu suara Sisil.
Lutut Galen lemas. Ia harus berpegangan pada dinding agar tidak ambruk. Suara itu bukan suara Sisil yang ia kenal—bukan suara lembut yang membahas daftar tamu atau menu katering. Ini adalah suara Sisil yang penuh nafsu, serak, basah, dan menuntut. Suara yang selama tiga tahun ini Galen pikir hanya miliknya.
"Sempit banget, Mbak Sisil... gila..."
Suara laki-laki itu menjawab. Doni. Suaranya berat, terengah-engah, diselingi tawa kecil yang meremehkan. Panggilan "Mbak" itu terdengar menjijikkan di telinga Galen, sebuah formalitas yang dilanggar dengan cara paling kotor.
Bunyi pegas kasur berderit ritmis, semakin lama semakin cepat, menghantam dinding keheningan di lorong itu. Kriet. Kriet. Kriet. Iramanya memburu, kasar, tanpa jeda.
Galen memejamkan mata, air mata panas mendesak keluar tanpa izin. Ia bisa mendengar segalanya. Suara kulit yang beradu dengan kulit—bunyi plak basah yang memuakkan saat tubuh mereka bertumbukan. Desahan napas yang saling memburu, erangan panjang Sisil yang menyebut nama asistennya berulang kali, seolah nama itu adalah doa.
"Lebih dalam, Don... Fuuuck, di situ... jangan berhenti..."
"Mas Galen nggak pernah gini kan, Mbak?" tanya Doni, suaranya terdengar di antara napas yang tersengal. Ada nada ejekan di sana. Ejekan untuk Galen.
"Jangan sebut nama dia..." Sisil mengerang, suaranya meninggi, bergetar hebat. "Aku maunya kamu... cuma kamu sekarang..."
Kalimat itu adalah belati yang menikam dada Galen, memutar, dan mencabut jantungnya paksa.
Sisil tidak hanya mengkhianati tubuhnya. Dia mengkhianati harga diri Galen. Di dalam sana, di atas seprai hotel yang mungkin belum satu jam mereka tempati, mereka sedang menertawakan ketidaktahuan Galen sambil menikmati keringat satu sama lain.
Amarah menggantikan rasa sakit. Rasa panas menjalar dari dada ke kepalan tangannya. Logika Galen mati. Analis keuangan yang tenang itu lenyap.
Galen tidak mengetuk.
Ia memundurkan langkahnya sedikit, lalu dengan sisa tenaga yang dipacu adrenalin, ia menendang pintu itu tepat di dekat gagangnya.
BRAKK!
Pintu yang memang tidak terkunci sempurna itu terhentak terbuka, menghantam dinding di belakangnya dengan suara keras yang menggema.
Pemandangan di depannya adalah potret kehancuran yang tak akan pernah bisa dihapus dari ingatan Galen seumur hidupnya.
Kamar itu berantakan. Pakaian berserakan di lantai—kemeja kerja Doni yang tadi pagi Galen lihat rapi di kantor, gaun floral Sisil yang seharusnya dia pakai untuk fitting baju pengantin.
Di atas ranjang king size dengan seprai putih yang kini kusut masai, dua tubuh itu membeku.
Posisi mereka begitu vulgar, begitu binatang. Sisil berada di atas, punggungnya melengkung, rambutnya yang panjang berantakan menutupi sebagian wajahnya yang berkeringat. Kulitnya yang putih memerah karena gairah yang baru saja mencapai puncaknya. Doni terlentang di bawahnya, tangannya masih mencengkeram pinggul Sisil.
Waktu seolah berhenti. Hanya ada suara dengungan AC dan napas mereka yang terputus kaget.
Mata Sisil membelalak lebar saat melihat sosok di ambang pintu. Pupil matanya mengecil, wajahnya yang tadi merah padam karena nafsu kini memucat seputih kertas dalam hitungan detik.
"G... Galen?" suaranya tercekat, nyaris tak terdengar.
Doni, dengan refleks panik seorang pengecut, mendorong tubuh Sisil menjauh darinya hingga wanita itu terguling ke samping, lalu menarik selimut dengan kasar untuk menutupi ketelanjangannya sendiri.
"Mas... Mas Galen..." Doni tergagap, wajah bocah itu pucat pasi, matanya bergerak liar mencari jalan keluar yang tidak ada. "Mas, ini... ini nggak seperti yang Mas pikir..."
Galen melangkah masuk. Satu langkah. Dua langkah.
Ia tidak berteriak. Ia tidak mengamuk. Keheningan Galen justru jauh lebih menakutkan daripada teriakan mana pun. Ia berdiri di kaki ranjang, menatap mereka berdua dengan tatapan kosong, mati. Ia melihat cincin pertunangan bertahta berlian yang ia beli dengan bonus tahunannya masih melingkar di jari manis Sisil. Cincin itu berkilau, mengejeknya di tengah situasi yang kotor ini.
Aroma di kamar itu membuat Galen ingin muntah. Campuran parfum Sisil, keringat laki-laki lain, dan aroma seks yang pekat dan menyesakkan. Udara terasa lengket.
"Fitting baju pengantin?" tanya Galen. Suaranya datar, sangat tenang, namun memiliki ketajaman silet.
Sisil terisak, menarik bantal untuk menutupi dadanya, air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya yang masih merah. "Galen, dengerin aku dulu, sayang... Sayang, tolong..."
"Jangan panggil gue sayang," potong Galen. Matanya beralih ke Doni yang gemetar di sudut tempat tidur.
"Dan lo," Galen menatap asistennya. "Lo ijin sakit? Sakit apa? Sakit jiwa?"
"Mas, sumpah Mas, Mbak Sisil yang mulai... dia yang ngajak saya..." Doni merengek, mencoba menyelamatkan dirinya sendiri, melempar kesalahan pada wanita yang baru saja ia tiduri.
Mendengar itu, Sisil menoleh ke arah Doni dengan tatapan tak percaya, lalu kembali menatap Galen dengan putus asa. "Galen, aku khilaf... Aku takut nikah, aku cuma bingung, Galen... Aku cintanya sama kamu!"
Galen tertawa. Tawa yang kering, hampa, dan menyedihkan.
"Cinta?" Galen mengulangi kata itu seolah sedang mencicipi makanan basi.
Ia menatap cincin di jari Sisil lagi. "Lo berdua..." Galen menggelengkan kepalanya pelan. "Lo berdua pantes buat satu sama lain. Sampah sama sampah."
Galen berbalik badan. Ia tidak memukul Doni, meskipun tangannya gatal ingin menghancurkan wajah anak itu. Ia tidak menarik rambut Sisil. Mereka tidak pantas mendapatkan sentuhan tangannya lagi, bahkan dalam bentuk kekerasan sekalipun. Galen merasa jika ia menyentuh mereka, ia akan tertular penyakit yang lebih buruk dari virus mana pun: ketidaksetiaan.
"Galen! Jangan pergi! GALEN!" Sisil menjerit histeris, suara bedebum terdengar saat ia mungkin mencoba turun dari ranjang dan tersandung selimut, jatuh ke lantai. "Galen, aku mohon! Pernikahan kita!"
Galen berhenti sejenak di ambang pintu, tanpa menoleh.
"Undangan belum disebar," ucap Galen dingin. "Gedung bisa dibatalin. Dan lo, Doni..."
Galen menarik napas panjang, menghirup udara lorong yang lebih bersih.
"Jangan repot-repot datang ke kantor besok. Lo udah gue pecat. Dan gue pastikan, nggak akan ada perusahaan keuangan di kota ini yang mau terima lo setelah gue sebar referensi lo."
Galen melangkah keluar, meninggalkan Kamar 304.
Di belakangnya, suara tangisan Sisil meledak, meraung-raung memanggil namanya, bercampur dengan suara makian Sisil kepada Doni. Tapi bagi Galen, suara-suara itu kini terdengar jauh. Seperti suara dari masa lalu yang sudah mati.
Ia berjalan menyusuri lorong panjang itu kembali. Kakinya terasa berat, seolah ia menyeret beban berton-ton. Hatinya hancur lebur, berserakan di lantai marmer hotel mewah itu. Namun, di tengah kehancuran itu, logika Galen perlahan kembali mengambil alih.
Satu aset busuk telah dilikuidasi. Satu liabilitas telah dihapus.
Meskipun neraca hatinya kini defisit parah, setidaknya, ia tahu kebenarannya.
Galen masuk ke dalam lift, menekan tombol lobi, dan saat pintu logam itu tertutup, memisahkan dirinya dari lantai terkutuk itu, barulah pertahanan dirinya runtuh. Galen merosot di sudut lift, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, dan menangis tanpa suara.
