Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 03 Pemecatan di depan Semua Orang

Malam itu, Galen tidak memejamkan mata sedetik pun.

Apartemennya terasa asing—terlalu rapi untuk pria yang hidupnya baru saja runtuh. Ia duduk di meja kerja, di hadapannya sebuah map coklat tebal terbuka. Di dalamnya tersusun rapi hasil kerja Aldo: foto-foto cetak beresolusi tinggi, transkrip percakapan, timeline kejadian, serta satu flashdisk kecil yang dijepit klip logam di sudut map.

Aldo tidak memberinya tablet. Aldo memberinya bukti yang bisa diaudit, disentuh, dan diserahkan ke Legal.

Galen menyusun ulang semuanya. Ia tidak membaca dengan emosi—ia membacanya seperti laporan risiko. Setiap foto diberi tanggal. Setiap pernyataan diberi konteks. Setiap potongan fakta dipasangkan dengan konsekuensi.

Lalu ia membuka laptopnya.

Ia mulai mencocokkan isi map coklat itu dengan data internal perusahaan. Klaim pengeluaran Doni. Laporan aktivitas. Izin sakit. Log akses sistem. Semua ia tarik, cetak, tandai.

Sebagai analis senior, Galen tahu satu hal:

bukti emosional menghancurkan reputasi, tapi bukti administratif menghancurkan karier.

Menjelang subuh, map coklat itu kini lebih tebal. Di sampul depannya, Galen menempelkan satu label sederhana:

AUDIT INTEGRITAS – INTERNAL USE ONLY

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pukul 08.30 pagi.

Gedung Vanguard Financial berdiri angkuh di bawah matahari. Galen melangkah masuk dengan jas abu-abu gelap yang disetrika sempurna. Di tangan kirinya, map coklat itu—tidak mencolok, tapi berat. Berat oleh kebenaran.

Di lift, beberapa manajer menyapanya.

“Pagi, Galen. Siap buat Town Hall?”

“Sangat siap,” jawab Galen singkat.

Ruang auditorium lantai 15 penuh. Direksi dan kepala departemen duduk di barisan depan. Karyawan memenuhi kursi hingga ke belakang.

Galen melihat Doni.

Pemuda itu duduk di barisan tengah. Wajahnya pucat. Bahunya tegang. Ketika mata mereka bertemu, Doni buru-buru menunduk.

Bagus, pikir Galen. Takut adalah awal dari kejujuran.

Presentasi CEO berjalan seperti biasa. Target. Grafik. Optimisme.

Lalu moderator memanggil namanya.

“Selanjutnya, Galen Dirgantara, untuk laporan efisiensi dan pengawasan internal.”

Galen berdiri.

Ia melangkah ke podium tanpa membawa tablet. Tidak ada layar yang ia sambungkan. Ia hanya meletakkan map coklat itu di atas podium, membukanya perlahan—suara gesekan kertas terdengar jelas di ruangan yang tiba-tiba sunyi.

“Selamat pagi,” ucap Galen. Suaranya stabil, berwibawa.

“Hari ini saya tidak akan membahas pertumbuhan angka. Saya ingin membahas satu hal yang lebih fundamental.”

Ia berhenti sejenak.

“Integritas personel sebagai variabel risiko.”

Beberapa direksi saling bertukar pandang.

“Satu bulan terakhir,” lanjut Galen, “saya melakukan audit internal terbatas terhadap klaim pengeluaran dan aktivitas operasional di departemen saya sendiri.”

Ia membuka halaman pertama.

“Dalam proses itu, saya menemukan anomali serius.”

Galen mengangkat satu lembar dokumen.

“Seorang asisten analis—yang selama ini dinilai kompeten—melakukan manipulasi klaim secara sistematis.”

Ia tidak langsung menyebut nama.

“Sdr. Doni Prasetya.”

Doni membeku.

“Dalam tiga bulan terakhir,” Galen melanjutkan, “terdapat selisih sebesar empat puluh lima juta rupiah pada klaim biaya entertainment vendor.”

Ia menyerahkan beberapa lembar fotokopi ke staf Legal dan HR yang sudah duduk di sisi ruangan.

“Verifikasi silang dengan vendor menunjukkan bahwa kuitansi tersebut tidak pernah diterbitkan. Dana digunakan untuk kepentingan pribadi—lokasi dan tanggalnya tercantum jelas.”

Bisik-bisik mulai menyebar.

“Tapi pelanggaran finansial bukan satu-satunya masalah,” suara Galen mengeras. “Yang lebih fatal adalah penyalahgunaan akses dan kepercayaan.”

Ia membuka halaman berikutnya.

“Pada tanggal 3 Maret, Sdr. Doni mengajukan izin sakit. Namun log sistem menunjukkan akses ke data klien dari lokasi non-otoritatif. Di saat bersamaan, kendaraan operasional kantor digunakan di luar jam dan tujuan kerja.”

Galen menutup mapnya perlahan.

“Saya sudah menyerahkan seluruh dokumen pendukung ini ke bagian Legal dan HR sebelum rapat dimulai.”

Doni berdiri setengah panik. “Mas Galen, saya bisa jelasin—”

Tatapan CEO menghentikannya.

“Penjelasan akan dilakukan sesuai prosedur,” potong Galen dingin. “Di luar forum ini.”

Ia menarik napas, lalu menambahkan kalimat terakhir—yang paling ia timbang semalaman.

“Namun perlu saya sampaikan,” ucap Galen, “bahwa pelanggaran ini juga beririsan dengan konflik kepentingan pribadi yang berpotensi merusak reputasi perusahaan. Detailnya telah tercantum dalam lampiran confidential.”

Tidak ada nama Sisil disebut.

Tidak ada drama.

Tapi semua orang mengerti.

“Cukup,” kata CEO tegas. “Keamanan, silakan.”

Doni berteriak saat diseret keluar. “Ini urusan pribadi! Lo nggak berhak—”

Galen mendekat, berdiri tepat di hadapannya.

“Doni,” bisiknya pelan, nyaris tanpa emosi, “di dunia profesional, yang paling mahal itu reputasi. Dan hari ini, lo bangkrut total.”

Pintu auditorium tertutup.

Sunyi.

Galen kembali ke podium, menunduk singkat ke arah direksi.

“Saya bertanggung jawab penuh atas kelalaian ini. Laporan restrukturisasi sudah saya siapkan.”

CEO menepuk bahunya. “Kamu melakukan yang benar.”

Satu jam kemudian, Galen duduk di mejanya.

Ruang asisten kosong.

Barang-barang Doni dikemas dalam kardus coklat, diletakkan rapi di dekat lobi.

Di dalam laci Galen, map coklat pertama—yang Aldo berikan—masih utuh.

Belum ia sentuh lagi.

Karena perang terbesarnya belum selesai.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel