Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 02 Bukti di dalam Map Coklat

Hujan belum berhenti. Langit Jakarta sepertinya turut berduka—atau mungkin sedang menertawakan Galen.

Setelah keluar dari hotel itu, Galen tidak pulang. Apartemennya—tempat yang seharusnya menjadi sanctuary baginya dan Sisil setelah menikah nanti—kini terasa seperti tempat kejadian perkara yang belum dibersihkan. Setiap sudut di sana menyimpan jejak Sisil. Foto mereka di rak TV, sikat gigi cadangan di kamar mandi, bahkan mug kopi couple yang mereka beli saat liburan di Jepang. Galen tidak sanggup melihat benda-benda itu tanpa dorongan untuk membantingnya ke dinding.

Di lampu merah pertama setelah keluar dari area hotel, Galen menghentikan mobilnya terlalu lama. Klakson di belakang membahana, tapi ia tidak peduli. Tangannya gemetar saat membuka ponsel.

Nama Aldo masih ada di layar percakapan terakhir mereka.

Tanpa berpikir panjang, Galen mengetik singkat.

Galen:

Gue di Senopati. The Midnight Archive. Datang ke sini. Sekarang.

Ia menekan tombol send, lalu mematikan layar. Tidak ada penjelasan. Tidak ada pertanyaan. Jika Aldo sudah sejauh itu ikut campur, maka Galen berhak atas seluruh kebenaran—tanpa filter.

Ia melajukan mobilnya tanpa tujuan selama hampir satu jam, membiarkan jalan tol dalam kota yang macet menelan sisa amarahnya, sebelum akhirnya benar-benar berbelok ke bar itu. The Midnight Archive. Tempat yang remang, berbau tembakau mahal dan kayu tua. Tempat yang cocok untuk pria yang baru saja kehilangan segalanya.

Galen duduk di sudut paling gelap, segelas whiskey on the rocks di hadapannya. Es batu mencair pelan, mengencerkan cairan amber itu—persis seperti keyakinan Galen yang larut menjadi kepahitan.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, ponselnya di meja bergetar pelan.

Bukan dari Sisil—nomor wanita itu sudah ia blokir sejak tadi. Itu dari Aldo.

Aldo:

Gue liat mobil lo di depan. Gue masuk.

Galen tidak membalas. Ia hanya mengangkat gelasnya dan menenggak isinya dalam sekali teguk. Sensasi terbakar di tenggorokan setidaknya mengingatkannya bahwa ia masih hidup—bahwa ia bukan sekadar bangkai bernapas.

Tak lama kemudian, sosok Aldo muncul dari balik pintu kayu berat. Ia tampak kusut. Kemejanya yang biasanya rapi kini keluar dari celana di satu sisi. Di tangannya ada sebuah map cokelat tebal, lusuh di sudut-sudutnya, seolah sudah terlalu sering dibuka dan ditutup.

Aldo menatap Galen sebelum berjalan mendekat. Tatapannya penuh rasa bersalah—jenis rasa bersalah orang yang tahu ia datang membawa palu terakhir untuk menghancurkan sesuatu yang sudah retak sejak lama.

Ia menarik kursi di hadapan Galen tanpa suara. Tidak memesan minum. Hanya meletakkan map itu di meja, tepat di antara mereka.

“Len,” panggil Aldo pelan.

Galen tidak menatapnya. Ia sibuk memainkan cincin pertunangannya sendiri yang sudah ia lepas dan kini tergeletak di atas meja yang basah oleh embun gelas. Benda logam itu berputar pelan saat disentil jari telunjuk Galen.

“Kenapa baru sekarang, Do?” suara Galen serak. “Kenapa lo biarin gue jadi badut selama ini?”

Aldo menarik napas panjang. “Karena gue mulai curiga dari Januari, Len. Tiga bulan lalu. Tapi curiga doang nggak cukup buat orang kayak lo.”

Galen tertawa hambar.

“Januari?” ulangnya lirih. “Jadi selama tiga bulan ini—”

“—gue ngamatin,” potong Aldo cepat. “Doni berubah. Jam pulang aneh. Sikapnya ke Sisil kelewat santai. Dan Sisil… terlalu sering punya alasan kosong tiap lo lagi sibuk kerja. Tapi gue nggak punya bukti.”

Aldo mendorong map cokelat itu sedikit ke arah Galen.

“Gue baru yakin seratus persen tiga hari lalu. Sebelumnya cuma potongan-potongan kecil. Gosip divisi marketing. Lo tahu gue, Len. Gue nggak akan ngerusak hidup lo cuma modal asumsi.”

“Gosip?” Galen tertawa kering. “Jadi satu kantor udah punya bahan omongan, ya? Cuma gue—gue satu-satunya orang tolol yang nggak sadar.”

“Nggak satu kantor,” sanggah Aldo cepat. “Cuma segelintir orang. Doni sendiri yang mulai ceroboh. Dia pamer. Ngomong lagi deket sama ‘wanita matang’ yang hidupnya mapan. Awalnya dikira sok jago. Sampai pola waktunya kebaca.”

Aldo membuka map itu. Di dalamnya, tersusun rapi cetakan foto, timestamp, catatan lokasi, dan laporan singkat.

“Makanya gue sewa orang buat kumpulin bukti dulu, Len. Karena gue tahu—kalau gue datang ke lo tanpa data, lo bakal cari pembenaran buat mereka.”

Galen menatap map coklat tebal yang tergeletak di atas meja. Sudut-sudutnya sudah lusuh, seperti terlalu sering dibuka dan ditutup. Jantungnya kembali berpacu; rasa mual yang sempat hilang kini merayap naik lagi.

“Buka,” perintah Galen dingin.

“Lo yakin? Apa yang lo liat di hotel tadi belum cukup?”

“Gue bilang buka, Aldo!” bentak Galen, membuat beberapa pengunjung bar menoleh. Galen tidak peduli. Ia butuh melihat seberapa dalam lubang kebohongan ini digali. Ia perlu tahu apakah ini insiden satu malam karena ‘khilaf’ seperti yang diteriakkan Sisil tadi, atau sebuah drama terencana.

Aldo mengangguk pelan. Ia membuka pengait map coklat itu, lalu membentangkannya di atas meja. Di dalamnya tersusun rapi foto-foto cetak beresolusi tinggi, masing-masing dimasukkan ke dalam plastik bening, lengkap dengan catatan tanggal, jam, dan lokasi di sudut bawah. Di bagian samping map, tersemat sebuah flashdisk hitam kecil dengan label tulisan tangan: Case 24.

“Liat sendiri,” bisik Aldo.

Galen menarik map itu mendekat. Lampu meja bar yang redup memantul di permukaan plastik foto, menyinari wajah Galen yang keras dan lelah.

Foto pertama diambil dari jarak jauh, zoom lensa telefoto. Tanggalnya tercetak jelas di pojok kanan bawah: 14 Februari. Hari Valentine lalu.

Di foto itu, Sisil dan Doni sedang duduk di sebuah kafe outdoor di daerah Kemang. Tangan Doni menyuapkan potongan kue ke mulut Sisil. Sisil tertawa lebar, mata menyipit bahagia—ekspresi yang sama yang ia berikan pada Galen saat Galen memberinya kalung emas putih malam itu juga.

“Tanggal 14,” gumam Galen, otaknya memutar kembali memori. “Sore itu dia bilang meeting sama vendor dekorasi. Gue nunggu dia sampai jam 8 malam di restoran buat dinner. Dia datang telat, alasannya macet total.”

Galen membalik plastik foto berikutnya.

Tanggal 3 Maret. Di dalam mobil Doni. Kaca mobil tidak terlalu gelap, dan pencahayaan jalan cukup terang untuk memperlihatkan siluet dua orang yang sedang berciuman panas di kursi depan. Tangan Sisil mencengkeram leher Doni.

“Tanggal 3 Maret gue lagi dinas ke Surabaya,” desis Galen. Tangannya mulai gemetar menahan amarah. “Doni izin pulang cepat hari itu, katanya ibunya sakit. Gue bahkan kasih dia uang tambahan buat beli obat ibunya.”

Galen merasa seperti orang bodoh. Bukan—lebih buruk dari bodoh. Ia merasa dieksploitasi. Kebaikan hatinya, kepercayaannya, uangnya—semuanya dipakai untuk memfasilitasi perselingkuhan mereka. Uang yang ia berikan pada Doni mungkin dipakai untuk membeli bensin mobil itu. Mobil tempat mereka bercumbu.

Galen terus membalik foto-foto di dalam map. Jumlahnya semakin banyak.

Mereka berpegangan tangan di mal pinggiran kota, di tempat yang kecil kemungkinan bertemu kenalan. Mereka makan di warung tenda—Sisil yang elegan dan selalu menuntut restoran bintang lima pada Galen, tampak begitu nyaman duduk di pinggir jalan bersama Doni.

“Dia terlihat bahagia,” ucap Galen lirih. Itu tusukan paling dalam. Bukan seksnya, tapi keintiman emosional yang tercetak jelas di foto-foto itu. Bersama Doni, Sisil terlihat lepas. Tidak ada tuntutan. Tidak ada obrolan berat tentang KPR atau investasi saham. Hanya kesenangan dangkal.

“Dan ini yang terakhir, Len. Ini yang bikin gue nelpon lo hari ini,” kata Aldo pelan. Ia menunjuk flashdisk hitam di dalam map. “Isinya video.”

Aldo mengeluarkan ponselnya, menyambungkan flashdisk dengan adaptor kecil, lalu meletakkannya di meja di antara mereka. Ia memutar file yang sudah disiapkan.

Galen menatap layar ponsel itu.

Video diambil dua hari yang lalu. Lokasinya di parkiran basemen kantor Galen, di sudut yang tidak terjangkau CCTV gedung, tapi tertangkap kamera orang suruhan Aldo dari balik pilar.

Di video itu, Sisil baru saja turun dari mobilnya. Doni menghampirinya. Mereka berbicara sebentar, terlihat serius.

Suara rekaman agak kresek-kresek, tapi karena basemen sepi, suaranya memantul dan tertangkap jelas.

“…Galen curiga nggak?” suara Sisil terdengar.

“Nggak lah, Mbak. Mas Galen itu terlalu sibuk sama angka. Dia nggak peka sama orang,” jawab Doni sambil tertawa kecil. “Lagian dia percaya banget sama aku. Gampang dibohongin.”

Darah Galen mendidih hingga ke ubun-ubun. Gelas wiski di tangannya ia remas begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Di layar, Sisil tertawa. “Ya udah, sabar ya. Dua bulan lagi aku nikah. Nanti kalau udah sah, harta dia kan harta aku juga. Kita bisa lebih leluasa. Kamu nggak perlu jadi asisten selamanya.”

“Janji ya, Mbak? Aku capek disuruh-suruh dia terus. Sok pinter banget orangnya.”

“Iya sayang… sabar ya.”

Sisil kemudian mencium pipi Doni sekilas sebelum masuk ke dalam lift khusus tamu.

Video berakhir. Layar menjadi hitam.

PRANG!

Galen membanting gelas wiskinya ke lantai. Pecahan kaca berhamburan, cairan amber menggenang di lantai kayu gelap. Suara pecahan itu menghentikan seluruh aktivitas di bar. Bartender menatap tajam, tapi Aldo segera mengangkat tangan memberi isyarat minta maaf dan meletakkan beberapa lembar uang ratusan ribu di meja.

Napas Galen memburu. Wajahnya merah padam, urat-urat lehernya menonjol.

Ini bukan sekadar perselingkuhan. Ini adalah rencana jahat. Ini adalah parasit yang menempel di hidupnya. Sisil tidak hanya mencintai pria lain; dia berencana menjadikan Galen sapi perah seumur hidup—menikah demi status dan uang, sementara hatinya, dan tubuhnya, milik asistennya sendiri.

“Mereka…” Galen tercekat, air mata kemarahan menggenang di pelupuk matanya. “Mereka ngerencanain ini? Doni… gue didik dia dari nol, Do. Gue ajarin dia segalanya.”

Aldo mencondongkan tubuh, suaranya tegas. “Mereka predator, Len. Dan lo mangsanya…”

Galen menatap Aldo. Tatapan yang tadinya penuh kesedihan kini perlahan berubah. Kesedihan itu mengeras, membeku menjadi sesuatu yang dingin dan tajam. Seperti baja yang baru ditempa.

Aldo mendorong map coklat tebal itu ke arahnya. “Ini semua milik lo sekarang, Len,” katanya pelan. “Tenang aja, gue pegang salinannya. Lengkap. Kalau map ini kenapa-kenapa, gue masih punya cadangan.”

Galen mengangguk tipis, lalu mengambil cincin pertunangannya dari atas meja. Ia menatap benda berkilau itu sekali lagi. Dulu, benda ini adalah simbol masa depan. Sekarang, ini hanyalah aset yang terdepresiasi total. Nilainya nol.

“Map ini gue simpen,” kata Galen tenang. Tenang yang mengerikan. Ia menyelipkan cincin itu ke dalam saku jasnya, bukan ke kotak perhiasan. “Foto cetak, kronologi, sama flashdisk di dalamnya—jangan ada yang bocor ke mana-mana dulu.”

“Buat apa, Len?” tanya Aldo hati-hati. “Lo nggak kepikiran buat nyebarin, kan? Bisa kena UU ITE.”

Galen menggeleng pelan. Ia berdiri, merapikan jasnya yang kusut. Posturnya kembali tegak. Punggung yang tadi melengkung karena beban duka, kini lurus siap berperang. Galen si analis keuangan telah kembali mengambil alih kendali dari Galen si kekasih yang terluka.

“Menyebar aib itu cara orang amatir, Do,” ujarnya datar. “Ribut, tapi nggak efektif. Gue nggak butuh simpati. Gue butuh hasil.”

“Terus lo mau ngapain?”

Galen menatap lurus ke mata Aldo. Ada kilatan berbahaya di sana—kilatan perhitungan matematis yang presisi.

“Besok jam 9 pagi ada Town Hall Meeting di kantor,” kata Galen datar. “Seluruh jajaran direksi hadir. Semua manajer divisi hadir.”

Ia berhenti sejenak, memberi jeda yang disengaja—seperti pembicara yang tahu kapan harus menekan audiensnya.

“Dan secara kebetulan, besok siang saya juga punya agenda makan bersama Pak Hermawan dan Bu Rina, dalam rangka finalisasi vendor dan katering pernikahan.”

Sudut bibir Galen terangkat sedikit. Senyum tipis, terkontrol. Senyum seorang eksekutif yang sudah menghitung risiko dan imbal hasil.

“Sisil bilang dia mau ‘hartanya jadi harta aku juga’, kan? Dia ingin status?” Galen menepuk map coklat itu pelan. “Baik. Kita pakai mekanisme yang sesuai.”

“Len…” Aldo mencoba menyela.

“Di Town Hall besok,” lanjut Galen, suaranya stabil, profesional, “akan ada agenda tambahan. Evaluasi internal. Bukan pengumuman emosional, bukan drama. Tapi laporan kinerja dan kepatuhan.”

Ia menatap Aldo lurus-lurus.

“Doni akan dievaluasi secara terbuka—berdasarkan pelanggaran etika kerja, konflik kepentingan, dan penyalahgunaan kepercayaan atasan. Semua data pendukung sudah ada.” Ia mengetuk map itu sekali lagi. “Lengkap. Terdokumentasi. Bisa diaudit.”

Aldo terdiam.

“Dan setelah itu,” lanjut Galen, “HR akan mengambil alih. Dengan catatan resmi. Dengan rekomendasi yang membuat namanya tercatat buruk secara profesional. Bukan cuma di perusahaan ini.”

“Terus Sisil?” tanya Aldo pelan.

“Sisil bukan karyawan,” jawab Galen singkat. “Tapi dia bagian dari due diligence pribadi gue.”

Ia berhenti, lalu menambahkan dengan nada netral, nyaris dingin, “Dan orang tuanya berhak tahu dengan transparan nilai sebenarnya dari ‘investasi jangka panjang’ yang hampir mereka tandatangani.”

Galen menepuk bahu Aldo. “Makasih. Lo nyelametin nyawa gue. Dan simpen salinannya baik-baik. Kalau gue butuh, gue tau ke mana nyarinya.”

Tanpa menunggu jawaban, Galen berbalik dan berjalan keluar dari bar. Langkahnya mantap. Hujan di luar masih deras, tapi Galen tidak lagi merasa dingin. Api di dalam dadanya sudah cukup untuk membakar seluruh kota.

Di dalam mobilnya, Galen mengeluarkan ponsel. Ia membuka aplikasi mobile banking. Semua kartu kredit tambahan atas nama Sisil diblokir. Cek pelunasan gedung pernikahan dibatalkan.

Lalu, ia membuka kalender.

Besok: 09.00 — Town Hall Meeting.

Galen menekan tombol edit dan menambahkan catatan kecil di bawahnya:

Agenda Tambahan: Evaluasi Kinerja Asisten & Penilaian Aset Masa Depan.

Malam ini ia tidak akan tidur. Ada “laporan” khusus yang harus ia susun. Laporan tanpa grafik saham—diisi foto cetak, kronologi waktu, dan rekaman yang tersimpan rapi di dalam map coklat itu.

Galen menyalakan mesin mobil. Roda berputar, membelah genangan air. Pria yang naif itu telah mati di kamar 304 Hotel Amara. Yang tersisa kini hanyalah kalkulator dingin—siap menagih seluruh hutang rasa sakit, lengkap dengan bunganya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel