Bab 7 - Ancaman Adnan
Bab 7
Ancaman Adnan
"Angkat telefon dari saya, Jasmine !!" pesan singkat yang kedua kalinya Adnan kirim kepada Jasmine.
Adnan dengan begitu teganya mengancam seseorang yang saat ini tengah terluka hanya demi kesenangan semata.
Padahal saat ini Jasmine tengah memeluk lututnya, menangis terisak-isak untuk menumpahkan segala rasa yang menyakitkan baginya.Jasmine mengabaikan panggilan dari Adnan, melihat nama Adnan yang terpampang nyata membuat Jasmine merasa sangat jijik. Berkali-kali fikirannya teringat pada video yang dia lihat, bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal yang sangat terkutuk itu.
Hati Jasmine semakin terluka pada saat dia harus berbohong pada sang suami. Bertahun-tahun menikah, untuk kali pertamanya Jasmine membohongi sang suami.
Kasih sayang sang suami kepadanya membuat dia merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi.
*
Berkali-kali Adnan menellfon namun Jasmine tetap saja menolak panggilannya, membuat Adnan menjadi uring-uringan. Bahkan saat telah diancam, Jasmine masih juga mengabaikan panggilan dari Adnan.
"Baiklah kalau begitu, aku akan segera mendatangi kamu !! Kamu tidak bisa lari kemana-mana, Jasmine !!"
Jarak kamar yang hanya beberapa langkah saja, membuat Adnan tiba dengan cepat di depan kamar Jasmine. Bel kamar pun ditekan berulangkali agar Jasmine segera membukakan pintu kamarnya.
"Siapa manusia terkutuk yang menekan bel berulang kali itu," umpat Jasmine.
Hatinya yang tengah bersedih, kini bertambah jengkel karena mendengar suara bel berulang kali. Dengan gontai, Jasmine berjalan menuju pintu kamar dan segera membukakan pintu kamarnya.
Baru saja pintu dibuka, membuat Jasmine semakin muak melihat tingkah Adnan.
"Kenapa Bapak menekan bel berkali-kali? apakah bapak sama sekali tidak memiliki hati? Bapak telah membuat hidup saya menjadi hancur, kini datang menemui saya seperti manusia tanpa dosa? Hah?" pekik Jasmine sambil menarik kerah baju Adnan.
"Santai... nggak perlu kamu menjerit seperti ini, saya belum tuli kok. Saya masih dapat mendengar dengan jelas apa yang kamu ucapkan," kata Adnan sambil melepaskan cengkraman tangan Jasmine yang saat ini menarik kerah kemejanya.
"Kenapa saya harus merasa berdosa? Kamu bisa lihat sendiri kan video itu? Dalam video itu, kamu yang menggoda saya terlebih dahulu. Kamu bisa lihat juga kan? Di video itu, kamu sangat menikmati permainan kita, bahkan kita melakukannya hingga pagi tiba," jelas Adnan dengan seuntai senyum liciknya.
"Tidak !!! Jika saja bapak tidak memasukkan obat ke dalam minuman saya, mungkin hal menjijikkan itu takkan pernah terjadi," umpat Jasmine.
"Hei, sayang... kayaknya kamu perlu meralat kata-kata kamu deh, menjijikkan bagaimana sih? Saya lihat kamu benar-benar menikmatinya, sekarang kamu marah-marah nggak jelas gini dengan saya?"
Adnan pun mendorong Jasmine untuk masuk ke dalam kamar Jasmine, Adnan menatap lekat wajah Jasmine dan membisikkan sesuatu ke pada Jasmine.
"Saya merasa sangat candu dengan permainan kamu, karena itu saya ke sini menemui kamu," jelas Adnan.
Mendengar ucapan dari Adnan membuat Jasmine membulatkan matanya.
"Anda gila !! silahkan keluar dari kamar ini !!" teriak Jasmine.
"Saya tidak akan keluar dari kamar ini sebelum kamu memenuhi keinginan saya," ungkap Adnan.
"Saya akan menyebarluaskan video ini jika kamu tidak memenuhi keinginan saya," ancam Adnan sambil memperlihatkan video yang ada di handphonenya.
Mendengar ucapan dari Adnan membuat Jasmine benar-benar nggak berkutik, Jasmine takut jika suaminya mengetahui hal terkutuk ini.
"Ya Allah, maafkan aku atas dosa-dosaku. Saat ini, aku berada dalam kebimbangan. Aku bingung harus berbuat apa, hanya berharap akan ada pertolongan yang nyata untukku," batin Jasmine sambil memegang dada yang terasa sangat sesak.
Air mata tidak berhenti mengalir di pipi mulus Jasmine, mau tidak mau dia harus menuruti keinginan Adnan.
"Kenapa saya begitu bodoh, dengan mudahnya saya percaya kepada anda !!
"Anda begitu licik, Pak Adnan !! teriak Jasmine.
"Lebih baik anda b*n*h saja saya !! saya tak sudi jika harus menjadi budak nafsu anda !!
"Berhentilah menangis, Jasmine !! Karena apapun itu tidak akan merubah keadaan dan keinginan saya," sahut Adnan dan segera menarik Jasmine yang saat ini luruh di lantai. Kemudian Adnan pun meletakkan Jasmine di atas ranjang.
Jasmine hanya diam, kini Jasmine tak berkutik karena ancaman dari Adnan.
*
Setelah menyelesaikan apa yang diinginkannya, Adnan pun bersiap untuk kembali ke kamarnya. Namun, sebelum meninggalkan kamar Jasmine Adnan pun mengucapkan,
"Besok pagi kita akan kembali ke Jakarta, saya sudah pesan tiket untuk kamu. Kamu harus berangkat dengan saya. Jika kamu kabur, kamu tahu sendirikan konsekuensinya?" ucap Adnan dan segera berlalu meninggalkan Jasmine.
Setelah Adnan meninggalkan Jasmine, Jasmine pun hanya menangis terisak-isak. Jasmine merasa sangat kotor, Jasmine merasa telah menodai pernikahannya.
"Dasar laki-laki br*ngs*ek !!!! maki Jasmine.
"Maafkan aku, Mas Ammar. Ini semua karena kebodohanku. Jika, kamu mengetahui semua ini apakah kamu bisa memaafkan kesalahanku yang sangat besar," lirih Jasmine sambil meremas rambutnya.
*
Pagi harinya, Jasmine dan Adnan pun mempersiapkan diri untuk kembali ke Jakarta. Saat bertemu dengan Adnan, Jasmine hanya bersikap tak acuh. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Jasmine.
Melihat Jasmine yang hanya diam saja, membuat Adnan ingin menggoda Jasmine.
"Hei sayang, kenapa pagi-pagi gini kamu cemberut? cantiknya hilang loh," canda Adnan tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Berhenti memanggil saya dengan panggilan sayang, yang berhak memanggil saya dengan panggilan itu, hanya suami saya saja," jawab Jasmine.
"Saat kita telah melakukannya, saat itu juga kamu telah menjadi milik saya," sahut Adnan.
Mendengar ucapan dari Adnan hanya membuat Jasmine semakin muak, Jasmine pun hanya diam dan tak membalas ucapan dari Adnan lagi.
*
Setelah menempuh perjalanan yang sangat melelahkan, akhirnya Jasmine pun telah tiba di rumahnya.
Sang suami menyambut istrinya dengan begitu hangat.
"Sayang, kamu sudah pulang ? Kok, nggak ada ngabarin aku ?" tanya Ammar saat Jasmine mencium telapak tangannya.
"Surprise buat kamu, Mas. Aku kangen banget dengan kamu, jadi buru-buru deh mau sampai rumah," jawab Jasmine.
Ammar pun mengecup pucuk kepala Jasmine dengan penuh cinta, dan pada saat itu juga air mata Jasmine lolos begitu saja. Rasa bersalah yang begitu besar pada sang suami membuat Jasmine merasa sangat hancur.
Setelah itu, Jasmine pun segera masuk ke kamar yang diikuti oleh suaminya dari belakang.
"Sayang, kamu kenapa? Kenapa wajah kamu murung? Kamu terlihat lagi sedih," tanya Ammar sambil menatap mata Jasmine.
"Ha... nggak apa-apa kok, Mas. Kita jarang banget berjauhan yaa, tiga hari saja nggak bertemu kamu, aku sudah merasa kangen banget," jawab Jasmine.
"Pulang dari Bali, istri aku jadi sweet banget sih. Alhamdulillah," kata Ammar sambil tersenyum.
Selama menikah, Jasmine memang sangat jarang mengucapkan kata-kata kangen atau apapun itu, oleh karena itu saat Jasmine mengucapkan kata-kata itu membuat Ammar sangat bahagia.
"Aku memang kangen, Mas. Memangnya kamu nggak kangen aku yaa?" tanya Jasmine.
"Aku kangen banget, sayang. Oh ya sayang, apa kamu sudah makan?" tanya Ammar.
"Belum, Mas. Tadi aku buru-buru, jadi malas mau makan. Pengennya makan di rumah saja bareng dengan kamu," jawab Jasmine.
"Sekarang kan udah pukul 11.00, lebih baik kita makan yuk," tawar Ammar.
"Yuk, aku sudah lapar banget ni."
*
Saat malam harinya, Jasmine dan Ammar pun bersiap-siap untuk tidur. Jasmine dan Ammar pun tengah berbaring sambil berhadap-hadapan.
Namun pada saat tengah asyik berbicara, Ammar melihat ada yang beda dari sang istri.
"Sayang, leher kamu kenapa merah-merah kayak begitu?" tanya Ammar dengan raut wajah yang bertanya-tanya.
*
