Bab 4 - Ke Bali
Bab 4
Sore Harinya
Adnan dan Jasmine bersiap-siap untuk berangkat menuju bandara. Mereka pergi ke bandara dengan diantar oleh sopir pribadi Adnan. Sepanjang perjalanan hati Jasmine sedikit gelisah, Jasmine merasa bingung dan tidak mengerti dengan apa yang dirasakannya.
"Kenapa aku merasa sangat tidak tenang begini yaa? Oh Tuhan, semoga tidak ada hal buruk yang akan terjadi terhadap Mas Ammar," batin Jasmine.
Melihat Jasmine yang gelisah membuat Adnan melirik Jasmine, Adnan dapat merasakan jika Jasmine gelisah karena gestur tubuh Jasmine.
"Jasmine, kamu baik- baik saja?"
"Apakah saya terlihat tidak baik, Pak?"
"Saya dapat merasakan jika kamu seperti orang yang lagi gelisah, apa yang kamu fikirkan?"
"Itu hanya perasaan Pak Adnan saja, saya baik-baik saja kok."
Adnan pun hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawaban dari Jasmine.
Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan apapun diantara Jasmine dan Adnan, mereka hanya sibuk dengan fikiran mereka masing-masing.
Tanpa terasa kini mereka telah tiba di bandara, Jasmine dan Adnan pun bergegas untuk segera melakukan check in. Jadwal keberangkatan mereka sekitar pukul 16.00, kini jam telah menunjukkan pukul 15.30. Waktu tempuh Jakarta Bali sekitar 1 jam 50 menit.
*
Sekitar pukul 18.00, Jasmine dan Adnan pun telah tiba di Bali. Selesai mengambil bagasi, Adnan dan Jasmine pun segera segera menuju hotel yang dekat dengan bandara.
Setelah sampai di hotel, Jasmine dan Adnan pun bergegas untuk segera masuk ke kamar mereka masing-masing.
Sebelum Jasmine masuk ke kamar, Adnan pun menghampiri Jasmine.
"Jasmine, kamu istirahatlah !! Nanti sekitar pukul 20.00, saya akan jemput kamu lagi ke sini, malam ini kita akan bertemu dengan investornya," imbuh Adnan.
"Siap, Pak."
"Oke, kalau begitu saya ke kamar saya dulu. Kalau ada apa-apa, silahkan menghubungi saya," ucap Adnan dan hendak mendekatkan wajahnya ke arah Jasmine.
Melihat Adnan yang hendak mendekatkan wajahnya ke arah Jasmine, membuat Jasmine menjadi panik dan segera mundur hingga tubuh Jasmine terbentur di pintu kamar.
"Ba...Bapak, mau ngapain?" tanya Jasmine dengan gugup.
"Jangan takut Jasmine, saya tidak akan berbuat jahat dengan kamu," jawab Adnan dengan seringai senyuman yang mencurigakan.
Kini wajah Adnan benar-benar dekat dengan Jasmine, membuat Jasmine semakin takut. Selama ini Jasmine sangat takut dengan sikap Adnan.
"Kamu sangat cantik, sayang !!" ucap Adnan sambil menatap Jasmine dan Adnan Hendak mencium Jasmine.
"Bapak, jangan kurang ajar dengan saya !! Jika tidak ada yang mau dibicarakan lagi, saya akan segera masuk ke kamar, saya sudah sangat lelah," imbuh Jasmine dan segera mendorong tubuh Adnan.
Mendengar ucapan dari Jasmine, Adnan hanya tersenyum dan berlalu meninggalkan Jasmine.
"Boleh saja, sekarang kamu menolak saya. Lihat saja nanti, akan saya buat kamu bertekuk lutut dihadapan saya," batin Adnan.
Setelah Adnan pergi, Jasmine pun segera masuk ke kamarnya. Jasmine sangat takut dengan sikap Adnan yang tak pernah terduga.
Setelah membersihkan diri, Jasmine pun merebahkan tubuhnya di kasur. Jasmine pun tidak lupa untuk mengabari Ammar bahwa dia telah tiba di Bali.
*
Sementara itu saat ini di kamar Adnan, Adnan hanya tersenyum sambil memandangi foto seorang wanita yang membuat dia mabuk kepayang.
"Aku tidak akan pernah berhenti untuk bisa mendapatkan cinta kamu, Jasmine. Apapun akan aku lakukan demi bisa mendapatkan kamu," ucap Adnan sambil memandang foto Jasmine.
"Lihat saja, aku akan buat kamu bertekuk lutut kepadaku," ucap Adnan dengan senyum liciknya.
Saat asyik memandangi Foto Jasmine, tiba-tiba ponsel Adnan berdering dan menampilkan nama Jelita di layar handphonenya.
Saat ini, Adnan merasa sangat jenuh dengan jelita. Rasa cinta yang dimiliki untuk Jelita telah terkubur dengan rasa kecewanya, Adnan kecewa karena 10 tahun lamanya menikah buah hati yang dia harapkan tidak juga kunjung hadir.
Dengan rasa malas yang menyergapi hatinya, Adnan pun mengangkat panggilan dari Jelita.
"Hallo, Mas," sapa Jelita di seberang telefon.
"Iya, ada apa kamu nelfon? tanya Adnan.
"Mas, kamu sudah smpai Bali? Jam berapa kamu sampainya?" tanya Jelita.
"Sudah, jam 18.00 tadi aku tiba di Bali," jawab Adnan.
"Sudah ya, aku matikan handphonenya. Jam 20.00 nanti ada pertemuan dengan investor," ucap Adnan dan segera mematikan handphonenya dengan buru-buru.
Begitulah sikap Adnan terhadap Jelita, sikapnya begitu dingin terhadap istri yang hingga saat ini begitu setia untuk tetap berada di sisinya.
Setelah mematikan handphonenya, Adnan pun bergegas untuk bersiap-siap karena waktu telah menunjukkan pukul 19.20. Syukurnya meeting dengan investor itu di restoran hotel tempat Adnan menginap saat ini jadi Adnan tidak terlalu terburu-buru untuk untuk mempersiapkan dirinya.
*
Setelah mendapatkan pesan dari Adnan untuk segera bersiap-siap, Jasmine pun bergegas mempersiapkan dirinya untuk meeting bersama Adnan.
Tidak berapa lama, Adnan pun telah tiba di depan kamar Jasmine dan dengan segera Adnan menekan bel kamar Jasmine.
Setelah beberapa kali menekan bel, Jasmine pun keluar dari kamarnya. Saat Jasmine keluar dari kamarnya, Adnan pun tidak berhenti memandang Jasmine dengan rasa kagum.
"Jasmine, kamu benar-benar membuat aku bertambah gila. Malam ini, kamu harus menjadi milikku," batin Adnan.
Jasmine yang dilihat dengan tatapan yang tidak biasa, membuat Jasmine bergidik ngeri melihat Adnan.
"Pak Adnan, anda kenapa?" selidik Jasmine dengan tatapan curiga.
"Nggak kenapa-kenapa kok, saya hanya terpana saja melihat kecantikan kamu," gombal Adnan.
Mendengar pujian dari Adnan membuat Jasmine merona karena malu, sesungguhnya sebagai seorang wanita tentu saja Jasmine senang dengan pujian.
Sepersekian menit kemudian, Jasmine pun sadar dan berusaha menetralkan sikapnya di depan Adnan.
"Jasmine, sadar...sadar..., Kamu nggak boleh tergoda hanya karena pujian seorang laki-laki," batin Jasmine sambil menggelengkan kepalanya.
*
Saat ini Adnan dan Jasmine telah berada di restoran, mereka datang tepat pada waktunya. Namun, investor yang mereka tunggu belum tiba.
Jasmine dan Adnan pun menunggu dengan sabar.
"Pak, apa mereka lupa bahwa malam ini ada pertemuan?" tanya Jasmine.
"Ehmm, dari pagi saya sudah mengabari mereka kok. Nggak tahu juga kenapa mereka bisa telat, mungkin ada hal yang lebih penting sehingga mereka telat," jawab Adnan dengan santai.
"Kenapa Pak Adnan nggak khawatir sih, padahal ini kan hal yang penting, kenapa dia terlihat sangat santai," batin Jasmine sembari melirik ke Adnan.
"Oh gitu ya, Pak. Semoga saja deh mereka ingat ya," balas Jasmine.
Kini Jasmine dan adnan hanya diam tanpa berkata apapun, Jasmine juga merasa sangat lelah karena harus menunggu terlalu lama tapi yang ditunggu belum datang juga.
Sembari menunggu, Jasmine pun chatingan dengan Ammar. Jasmine merasa rindu dengan sang suami. Tanpa Jasmine sadari, Adnan pun melirik dirinya yang saat ini hanya fokus dengan hp sambil senyum-senyum. Melihat pemandangan seperti itu, membuat hati Adnan berkecamuk. Adnan sangat yakin jika saat ini Jasmine lagi berchatingan ria dengan sang suami.
"Kamu ngapain, Jasmine? Dari tadi senyum-senyum nggak jelas?" tanya Adnan sembari menatap lekat ke Jasmine.
"Senyum nggak jelas gimana? Wajar Pak, saya kan lagi chatingan dengan suami saya," jawab Jasmine tanpa melihat Adnan dan tetap fokus ke handphonenya.
Ide jahat yang sedari tadi mengusik Adnan pun segera Adnan lancarkan, Adnan tidak ingin menunggu terlalu lama.
*
