Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3 - Merencanakan Sesuatu

Bab 3

Merencanakan sesuatu

"Aku begitu merindukan seorang anak ditengah-tengah pernikahan kita, tapi hingga saat ini belum juga dikaruniai keturunan oleh tuhan. Aku lelah menunggu terlalu lama," lanjut sang Pria.

Pria tersebut adalah Adnan Javier, Adnan Javier telah menikah selama 10 tahun pada saat dia berusia 25 tahun, kini usianya telah menginjak 35 tahun.

"Aku pun merindukannya, Mas !! tapi, bisakah kamu bersabar menunggunya? saat ini kita sedang di uji oleh sang pemilik kehidupan, inilah ujian yang kita harus sabar menghadapinya," imbuh sang wanita.

"Kesabaran aku telah berakhir, aku sudah lelah untuk bersabar," ucap Adnan dan berlalu meninggalkan Jelita.

Jelita hanya bisa pasrah dengan sikap sang suami. Terkadang rasa lelah dan ingin menyerah terhadap pernikahan itu telah ada dalam diri Jelita. Namun, Jelita pun berusaha untuk menahan segala egonya demi keutuhan rumah tangganya.

Dua tahun belakangan ini, Adnan telah berubah total. Adnan yang dulunya hangat, kini berubah menjadi dingin. Tidak ada lagi keharmonisan dalam rumah tangga Adnan dan Jelita.

Perubahan Adnan disebabkan karena rasa cintanya pada Jasmine. Pertemuan Adnan dan Jasmine terjadi sekitar 2.5 tahun yang lalu, saat Adnan ditugaskan oleh sang Papa untuk memimpin perusahaan cabang mereka.

Delapan tahun kesetiaan Adnan begitu terjaga untuk Jelita, namun kesetiaan itu runtuh ketika dia dipertemukan oleh Jasmine.

"Kamu fikir, hanya kamu yang tersiksa Mas !! Aku pun juga tersiksa dengan keadaan ini. Bukan hanya kamu yang merindukan buah hati, aku pun juga," lirih Jelita sambil menangis terisak-isak seorang diriiii.

"Rasanya aku sudah nggak kuat lagi menghadapi segala sifat kamu, kamu berubah. Kamu bukanlah Mas Adnan yang aku kenal dulu, hiks... hiks..."

Dengan hati yang perih jelita berjalan tertatih menuju kamar tamu, Jelita tak ingin menuju kamarnya. Karena menurut Jelita, percuma saja.

Segala sikap dingin suaminya, membuat Jelita enggan untuk menghampiri sang suami.

******

Keesokan harinya, pada pukul 12.00.

Saat ini Adnan memiliki sebuah rencana agar dia bisa mendapatkan cinta Jasmine, obsesi Adnan untuk memiliki Jasmine sangatlah besar.

Saat tiba di kantor, Adnan pun menemui Jasmine di ruangannya. Melihat kedatangan Adnan, membuat Jasmine sangat muak.

"Maaf Pak, ada apa yaa?" tanya Jasmine saat Adnan duduk di atas meja kerja Jasmine.

"Jasmine, nanti sore pukul 17.00 kita pergi ke Bali, tolong kamu siapkan diri ya !!" titah Adnan kepada Jasmine.

"Apa apa ya, Pak?" tanya Jasmine.

"Kita akan meeting dengan investor asal Australia," jawab Adnan.

"Maaf Pak, seharusnya yang ikut dengan Bapak adalah sekretaris atau asisten Pak Adnan, tapi kenapa saya yang harus ikut dengan Bapak?" tanya Jasmine dengan raut wajah yang bingung.

"Saya atasan kamu, kamu harus ikutin perintah dari saya. Saya mau ajak siapapun, itu hak saya sebagai atasan kamu !!" ucap Adnan dengan tegas.

"Oke, Pak !!" jawab Jasmine.

"Pada saat istirahat siang nanti kamu segera pulang dan persiapkan diri kamu untuk berangkat ke Bali !! titah Adnan sambil menatap Jasmine.

Jasmine yang ditatap dengan Adnan merasa sangat canggung, karena Adnan menatap Jasmine dengan jarak yang cukup dekat.

"Ba..baik," ucap Jasmine sambil memundurkan wajahnya dan Jasmine pun segera berdiri.

Melihat Jasmine yang salah tingkah, membuat Adnan tersenyum dengan sejuta arti.

"Jasmine... kamu akan aku miliki untuk selama-lamanya. Kamu terlalu indah bagiku, tidak akan aku biarkan kamu bersama laki-laki cacat itu, kamu hanya milikku," batin Adnan.

"Nanti kamu bareng dengan saya ke bandaranya, sekitar jam 15.00 kamu harus sudah berada di kantor," titah Adnan.

"Baik, Pak !!

Setelah memberikan perintah untuk Jasmine, Adnan pun bergegas keluar dari ruangan Jasmine.

Saat Adnan telah keluar dari ruangannya, Jasmine pun mengelus dadanya.

"Ya ampun, melihat dia sungguh mengerikan sekali. Aku takut banget, kenapa aku yang harus diajaknya untuk meeting di Bali," batin Jasmine.

"Kalau aku ke Bali, terus siapa ya yang mengurus Mas Adnan," batin Jasmine sambil memikirkan sang suami.

"Ya ampun, aku jadi bingung jika sudah begini. Aku nggak mau jika kejadian kemarin terjadi lagi dengan Mas Ammar, sungguh aku sangat khawatir."

Jasmine yang masih sangat bingung karena memikirkan sang suami, lebih memilih untuk pulang ke rumah dan minta izin dengan sang suami. Karena memikirkan sang suami membuat Jasmine tidak fokus dan dia lebih memilih untuk pulang terlebih dahulu.

******

Sesampainya di rumah, Jasmine pun segera menemui Ammar. Saat ini Ammar tengah berbaring di kamar.

"Assalamualaikum, Mas," sapa Jasmine dan segera menciumi tangan sang suami, Jasmine pun duduk di dekat sang suami.

"Sayang? Kok kamu pulang cepat?" tanya Ammar.

"Mas, nanti sore aku berangkat ke Bali. Ada meeting dengan investor asal Australia, aku bingung Mas. Jika, aku pergi terus kamu dirumah dengan siapa?" imbuh Jasmine dengan nada penuh kekhawatiran.

"Sayang, kamu nggak perlu khawatirin aku yaa. Aku masih bisa ngapa-ngapain sendiri kok, yang nggak berfungsi saat ini cuma kakiku, tangan aku masih berfungsi dengan sangat baik," ucap Ammar sambil menatap sang istri.

"Benaran nggak apa-apa, Mas?" tanya Jasmine untuk meyakinkan dirinya sendiri.

"Nggak apa-apa, sayang. Percaya deh dengan aku, insyaallah aku akan baik-baik saja kok. Tujuan kamu pergi kan karena ada urusan kerjaan, jadi nggak mungkin kan jika kamu nggak pergi," ucap Ammar menanggapi pertanyaan Jasmine.

"Oh ya sayang, kamu pergi dengan siapa?" tanya Ammar.

"Sama Pak Adnan, Mas." Jawab Jasmine.

"Berdua saja?" tanya Ammar lagi.

"Iya, Mas," jawab Jasmine sambil menganggukkan kepalanya.

"Loh, kok cuma berdua saja? pegawai yang lainnya nggak ikutan ya sayang?" cecar Ammar.

Mendadak perasaan Ammar menjadi tidak enak, Ammar yang awalnya setuju jika Jasmine berangkat ke Bali, kini Ammar merasa sangat berat.

"Iya, Mas. Aku juga nggak tahu, kenapa cuma berdua saja. Tapi, kamu percaya dengan aku ya Mas .Jika, aku tidak akan berbuat yang macam-macam," imbuh Jasmine sambil menatap Ammar.

Sejujurnya saat ini Ammar merasa sangat berat jika harus membiarkan istrinya pergi berdua saja dengan Adnan, tapi Ammar tidak punya pilihan yang lain, karena ini memang sudah tugas dari perusahaan tempat Jasmine bekerja.

"Iya sayang, aku selalu percaya dengan kamu. Aku yakin kamu adalah istri yang terbaik yang tuhan berikan untuk aku, tapi kamu selalu hati-hati ya sayang," papar Ammar.

"Iya, Mas... Aku akan selalu hati-hati," imbuh Jasmine.

"Mas, kamu sudah sarapan ya? Maaf ya karena buru-buru aku jadi meninggalkan kamu sarapan sendirian" tanya Jasmine.

"Sudah sayang," jawab Ammar dengan seuntai senyum.

"Bagaimana kalau kita makan lagi, Mas ? Aku lapar karena belum sarapan. Aku juga pengen makan bareng kamu," tanyaJasmine.

"Oke, sayang," jawab Ammar.

"Aku siapkan makan untuk kita dulu ya, Mas. Kita makan bareng sebelum aku berangkat" imbuh Jasmine.

"Oke, sayang," sahut Ammar sambil mengacungkan jempolnya.

Jasmine pun beranjak menuju dapur dan segera menyiapkan makan untuk dirinya serta suaminya.

********

Jelita saat ini sedang menyiapkan pakaian sang suami yang hendak berangkat ke Bali. Dengan penuh keikhlasan Jelita mengurusi suami yang sangat abai padanya.

"Mas, berapa hari kamu di Bali?" tanya Jelita saat melihat sang suami yang baru saja masuk ke kamarnya.

"Aku nggak tahu, belum pasti juga. Lagian ya, ada apa nggak aku di rumah ini kayaknya nggak terlalu penting deh," jawab Adnan dengan cuek.

Perih bagai ditujam dengan ribuan belati, begitulah perasaan Jelita saat ini. Dengan buru-buru Jelita memasukkan pakaian Adnan ke dalam koper, setelah selesai menyiapkan pakaian suaminya Jelita pun segera berlalu meninggalkan kamar.

Adnan sedikitpun tidak peduli dengan perasaan Jelita, melihat Jelita yang meninggalkan kamarnya membuat Adnan hanya menghembuskan nafasnya.

"Sampai kapan kita hidup seperti ini, tinggal serumah namun bagai orang asing yang tidak saling mengenal? aku sudah lelah dengan pernikahan ini, sampai kapan kamu bertahan dengan sikap aku yang mengabaikan kamu, jelita?" gumam Adnan dengan suara yang pelan.

"Aku harus berhasil dengan rencana yang telah aku susun dengan matang, rencana ini harus berhasil," gumam Adnan dengan menyunggingkan senyumnya.

*******

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel