Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2 - Membela Suami

Bab 2

Membela Suami

Ammar hanya bisa diam di saat mertuanya mengusir dia dari rumahnya sendiri. Ammar bingung dengan apa yang harus dia lakukan, apakah tetap bertahan atau memilih untuk pergi.

Rasa cinta Ammar pada Jasmine sangatlah besar, Ammar nggak ingin jika pernikahan mereka hancur karena hanya mertuanya.

"Kamu, mau tunggu apa lagi? Saya sudah sangat muak melihat lelaki cacat seperti kamu !! yang bisanya hanya menyusahkan anak saya saja !!" hina Mama Jasmine.

"Saya juga nggak pernah sudi jika uang saya untuk biaya pengobatan lelaki cacat seperti kamu !" umpat Papa Jasmine.

Ammar merasa sebagai kepala rumah tangga sudah tak memiliki wibawa, segala kesakitan yang dia alami membuat dia menjadi manusia yang tidak punya harga diri.

Sewaktu Ammar masih bekerja, orang tua Jasmine memang tidak pernah menyetujui pernikahan anaknya dengan Ammar tapi setidaknya pada saat itu Ammar tidak pernah dihina serendah ini.

"Pergi dari rumah ini !! rumah ini bukan milik kamu. Rumah ini milik anak saya, dia yang berhak terhadap rumah ini. Anggap saja rumah ini sebagai ganti biaya pengobatan yang dia keluarkan untuk kamu," ucap Mama Jasmine dengan santainya.

"Maaf, saya tidak bisa pergi dari rumah ini. Saya punya hak untuk tetap bertahan di rumah ini," jawab Ammar.

"Rumah ini untuk anak saya, bukan milik kamu lagi. Karena kamu telah menyusahkan hidup anak saya," sahut Mama Jasmine.

"Papa dan Mama tidak berhak mengatur hidup saya, rumah ini adalah hasil dari jerih payah saya. Saya akan tetap bertahan di rumah ini hingga akhir hayat saya," jelas Ammar dengan tegas.

"Kurang ajar kamu yaa !!" umpat Mama Jasmine dan hendak mendorong kursi roda Ammar.

Pada saat Mama Jasmine hendak mendorong kursi roda Ammar, Jasmine pun berteriak. Pada saat Adnan menggoda Jasmine dikantor tadi, Jasmine memutuskan untuk segera pulang karena Jasmine merasa sakit hati dengan perkataan Adnan yang telah menghina Ammar.

"Mama, hentikan Ma !!" teriak Jasmine dan berlari menghampiri Ammar.

Mama dan Papa Jasmine merasa sangat kaget melihat kedatangan Jasmine, mereka tidak menyangka jika Jasmine pulang kerja secepat ini.

"Jasmine ? Kok kamu sudah pulang kerja?" tanya Mama Jasmine.

"Nggak penting soal itu, Ma. Aku mau tanya dengan Mama, kenapa Mama mau mendorong kursi roda Mas Ammar? Apa salah Mas Ammar kepada Mama?" tanya Jasmine.

"Salah laki-laki ini adalah telah menjadi benalu dalam kehidupan kamu, Mama muak melihat dia !!" umpat Mama Jasmine.

"Siapa yang menjadi benalu? Mas Ammar ini suaminya Jasmine, Mas !! Sudah tugas Jasmine untuk merawat dia disaat kondisinya seperti ini," jawab Jasmine.

"Dia bukan tanggung jawab kamu, Jasmine !! yang bertanggung jawab memberi nafkah itu adalah suami bukannya istri !!" teriak Mama Jasmine.

"Iya aku paham, Ma !! Tapi, saat ini kondisinya berbeda. Mas Ammar lagi sakit, sebagai istri aku bertanggung jawab untuk merawat dia hingga sembuh," tegas Jasmine.

"Sudahlah, lebih baik kamu tinggalkan dia. Dia sudah nggak berguna untuk kamu, sampai kapan kamu bertahan dengan laki-laki lumpuh seperti dia?" tegas Papa Jasmine sambil menunjuk ke arah Ammar.

"Apapun kondisinya, aku akan tetap bertahan di sisi Mas Ammar. Aku sangat mencintai Mas Ammar, biarkan aku tetap bertahan di sisinya hingga maut yang memisahkan kami !!" Harap Jasmine kepada orangtuanya sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di dada.

Ammar merasa sangat terharu mendengarkan ucapan pembelaan dari Jasmine, Ammar merasa sangat beruntung memiliki istri seperti Jasmine. Tanpa Ammar sadari, air matanya luruh begitu saja. Ammar bisa melihat ketulusan sang istri dalam mencintai dan merawat dirinya.

"Makasih ya sayang, Mas sungguh beruntung memiliki istri seperti kamu. Semoga Allah segera memberikan kesehatan untuk Mas," batin Ammar dengan manik yang berkaca-kaca.

"Dasar bodoh kamu, Jasmine !! Mau-maunya bertahan di sisi laki-laki nggak ada gunanya, makan tu cinta !! Orang tua kamu, tahu yang terbaik untuk kamu. Kami nggak tega melihat kamu menderita, tapi kamu sangat keras kepala !! hardik Papa Jasmine.

"Apa yang aku lakukan bukan suatu kebodohan, tapi hal yang harus aku lakukan terhadap suami aku. Saat aku memutuskan untuk menikah dengan Mas Ammar, saat itu juga aku sudah siap dengan apapun yang konsekuensinya. Suka dan duka akan kami lalui bersama," ucap Jasmine.

Mendengar pembelaan yang diberikan Jasmine untuk Ammar membuat kedua orang tuanya murka, dengan kemarahan orang tuanya pergi begitu saja dengan melontarkan ucapan yang sangat menyakitkan.

"Ingat Jasmine !! Jika suatu saat nanti terjadi sesuatu yang buruk dengan kamu, jangan pernah menemui kami, kami kecewa dengan kamu !! teriak Mama Jasmine dan segera meninggalkan rumah Jasmine bersama Papa Jasmine.

Jasmine tidak ingin membantah lagi, kini Jasmine hanya diam. Jasmine merasa apapun yang akan dikatakannya, tidak akan pernah dianggap benar oleh orang tuanya. Apa yang dia kerjakan selalu dianggap salah.

Melihat Jasmine yang hanya diam, membuat Ammar merasa Iba. Ammar merasa bersalah, karena membela dirinya membuat kedua orang tua Jasmine menjadi murka terhadap Jasmine.

"Sayang, maafin aku yaa. Semuanya ini salah aku, andai aku tidak seperti ini, mungkin ini tak akan pernah terjadi. Apa yang dikatakan oleh orang tua kamu benar adanya, aku memang benalu yang hanya menyusahkan hidup kamu saja," ungkap Ammar sembari memegang tangan sang istri.

"Stop, Mas !! Jangan katakan apapun itu, ini ujian pernikahan kita. Menikah itu bukan hanya sekedar untuk hidup bersenang-senang saja, namun dalam keadaan duka kita harus selalu jalan beriringan," papar Jasmine sembari menatap mata sang suami.

"Aku laki-laki cacat, aku nggak ada gunanya untuk kamu, sayang. Tiga tahun aku seperti ini, aku lelah. Aku lelah karena telah menyusahkan hidup kamu. Aku lelah melihat orang-orang yang mencibir kamu dan mengatakan kamu wanita yang bodoh," ungkap Ammar.

Ammar merasa putus asa dengan sakit yang dia alami dan yang lebih menyakitkan baginya adalah melihat wanita yang sangat dicintainya harus berjuang keras demi mengobati dirinya.

Rasa putus asa itu semakin menjadi saat mertuanya menghina dirinya sebagai benalu.

"Justru aku sangat lelah jika melihat kamu putus asa begini, Mas !! Mari kita berjuang bersama-sama, apapun itu akan aku hadapi asalkan aku hidup berdampingan dengan kamu," jelas Jasmine.

"Maafkan aku ya, sayang. Aku janji akan lebih kuat dan tidak akan pernah berputus asa," imbuh Ammar.

"Nah gitu dong sayang," ucap Jasmine sambil tersenyum.

*******

Pukul 23.35 di sebuah rumah mewah yang terletak di pinggiran kota.

"Mas, sampai kapan kamu bersikap seperti ini kepadaku?" tanya seorang wanita cantik berkulit kuning langsat.

"Sampai kamu bisa memberikan keturunan untuk aku," jawab Pria tersebut dengan acuh.

"Mas, kamu tahu sendiri kan? Kita sama-sama subur, jika kita belum diberikan keturunan mungkin saat ini kesabaran kita lagi di uji oleh Allah," papar wanita tersebut.

"Kesabaran seperti apa yang harus aku miliki? 10 tahun sudah aku bersabar menanti seorang anak, tapi hingga saat ini belum juga dikaruniai anak," imbuh Pria tersebut.

*******

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel