Bab 5 Aku Pergi Untuk Tetap Waras
“Aku tidak takut jatuh cinta, Aulia.
Aku takut cinta itu membuatku lemah lagi. Dan ketika aku lemah...
semua orang pergi.”
– Arzand
Hari ke-41.
Rumah ini kembali sepi. Bukan karena tak ada orang. Tapi karena setiap orang sibuk menyembunyikan perasaannya masing-masing.
Aku dan Arzand masih saling menyapa. Tapi seperti dua orang asing yang pura-pura saling mengenal.
Sampai akhirnya, sore itu, dia mengetuk pintu ruang bacaku.
Tidak membawa bunga. Tidak membawa alasan.
Hanya berkata pelan,
“Aku ingin menunjukkan sesuatu.”
Kami berkendara jauh sore itu. Melewati jalanan pinggir kota yang tidak pernah kukenal.
Langit mendung. Tapi anehnya… aku tidak takut. Karena untuk pertama kalinya, Arzand mengemudi sendiri. Bukan dengan sopir. Bukan dengan mobil mewahnya. Tapi dengan mobil tua, sederhana.
“Mobil ini peninggalan ibuku,” katanya tiba-tiba. “Satu-satunya yang tersisa darinya.”
Aku menoleh. “Kamu sangat menyayanginya, ya?”
Dia diam. Lalu mengangguk kecil.
Kami tiba di sebuah rumah tua. Sudah tidak dihuni. Tapi masih terawat.
“Dulu aku tinggal di sini,” ucapnya. “Sebelum semuanya berubah.”
Aku mengikuti langkahnya masuk. Bau kayu tua dan udara dingin menyambut.
Di ruang tengah, ada piano tua. Buku-buku berserakan. Dan di sudut... sebuah foto keluarga.
Arzand menatap foto itu lama.
“Ibuku bunuh diri, Aulia.”
Kalimat itu menamparku.
Aku nyaris tak percaya ia mengatakannya—begitu langsung. Begitu... jujur.
“Ayahku berselingkuh. Dia meninggalkan kami demi perempuan lain.
Ibuku mencoba kuat, tapi akhirnya menyerah.
Dan sejak saat itu, aku berjanji tidak akan pernah membiarkan diriku lemah karena cinta.”
Aku menahan napas.
Ingin mendekat. Ingin memeluk. Tapi aku tahu... dia belum siap.
“Jadi semua luka yang kamu simpan... berasal dari sini?”
Dia menoleh. Matanya merah. Tapi tidak menangis.
“Aku sudah kubur semuanya. Tapi kamu datang dan menggali semuanya lagi.”
Kami duduk di lantai kayu, di tengah ruang yang penuh kenangan itu.
Tidak ada yang bicara. Tapi kami saling tahu:
Inilah luka yang tak pernah disembuhkan.
Bukan karena tidak bisa... tapi karena tidak diizinkan untuk sembuh.
Saat kami kembali ke mobil, Arzand menggenggam tanganku untuk pertama kalinya.
Bukan genggaman posesif. Bukan karena kontrak. Tapi karena... butuh pegangan.
“Aku belum tahu apakah aku bisa sembuh, Aulia.
Tapi kalau kamu bersedia tinggal...
jangan paksa aku untuk mencintaimu sekarang.”
Aku menatapnya. Tersenyum. Walau pahit.
“Aku tidak butuh jawaban sekarang, Arzand. Aku hanya ingin kamu jujur. Dan hari ini... kamu sudah cukup jujur untuk membuatku bertahan.”
Hari ke-42.
Cinta bukan tentang bagaimana aku bisa memilikinya.
Tapi tentang bagaimana aku bisa mendampingi luka yang tak pernah disembuhkan... tanpa ikut hancur.
Malam itu, setelah pulang dari rumah masa kecil Arzand, aku duduk di kamar sendirian. Lampu kupadamkan. Hanya cahaya bulan yang menembus tirai.
Tanganku masih terasa hangat karena genggaman tadi. Tapi hatiku? Tidak tahu harus merasa apa.
Aku mencintainya. Itu pasti.
Tapi bagaimana mencintai seseorang yang belum mencintai dirinya sendiri?
Arzand tidak jahat. Dia hanya rusak.
Dan kadang, bagian tersulit dari mencintai orang yang rusak… adalah menyadari bahwa cinta kita saja tidak cukup untuk menyelamatkan mereka.
Aku merebahkan tubuhku. Menatap langit-langit.
Lalu menulis satu catatan kecil di ponselku—semacam pesan untuk diri sendiri:
“Aulia, jangan terlalu berharap.
Kamu boleh sayang, tapi jangan lupa untuk tetap waras.
Karena yang paling menyakitkan… bukan ditinggalkan,
tapi tetap tinggal saat kamu tidak pernah diminta untuk bertahan.”
Esok harinya, Arzand tidak banyak bicara. Tapi tatapannya lebih tenang. Lebih terbuka.
Dan aku memilih tidak memaksanya untuk bicara lebih.
Aku tahu perjalanan ini panjang.
Aku tahu lukanya dalam.
Tapi jika aku bisa berjalan bersamanya, meski pelan-pelan,
mungkin bukan cinta yang akan menyelamatkan kami—
tapi keberanian untuk tetap jujur, meski masih takut.
Hari ke-43.
Aku ingin tetap tinggal, tapi tidak untuk menyelamatkannya.
Aku tinggal... agar kami bisa saling menyembuhkan—jika dia bersedia membuka pintu itu.
Hari ke-44.
Pagi ini, aku berdiri di depan jendela. Menatap taman kecil di belakang rumah. Langit mendung lagi. Dan entah kenapa, aku mulai suka saat langit mendung. Rasanya pas dengan isi hatiku.
Aku masih memikirkan Arzand. Bukan karena ingin tahu lebih banyak. Tapi karena untuk pertama kalinya, aku merasa… aku mulai kelelahan.
Cinta tidak pernah sesulit ini.
Atau mungkin, memang sesulit inikah bentuk cinta yang tumbuh dari luka.
Saat sedang menyiram bunga, Liana menghampiriku.
“Kamu kelihatan diam sejak pulang dari rumah tua itu,” katanya.
Aku mengangguk. “Aku tahu sekarang kenapa dia selalu menjaga jarak.”
Liana menghela napas. “Kamu tahu, Aulia… orang seperti Tuan Arzand, butuh waktu lama untuk percaya. Tapi saat dia mulai membuka diri—itu artinya kamu sudah masuk terlalu dalam.”
Aku memeluk ember kecil di tanganku. “Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Aku nggak bisa terus menunggu, tapi juga nggak bisa berhenti berharap.”
Liana tersenyum lembut. “Kalau kamu ingin tetap tinggal, jangan untuk menyelamatkan dia. Tetaplah karena kamu ingin menemani… bukan memperbaiki.”
Aku tidak langsung menjawab. Tapi kata-kata itu menancap dalam sekali.
Malamnya, aku menuliskan sesuatu di buku catatan kecil yang kusimpan di bawah bantal. Buku itu tidak pernah kubuka untuk siapa pun. Isinya bukan puisi, bukan cerita. Tapi isi hatiku yang tidak berani kuucapkan.
Halaman baru itu kutulis begini:
“Arzand…
Aku tidak butuh kamu mencintaiku sekarang.
Aku hanya butuh kamu jujur, bahkan saat itu menyakitkan.
Karena aku lebih siap menerima kenyataan pahit, daripada terus menebak dan meraba arah yang tidak pernah jelas.
Aku tetap di sini. Tapi bukan tanpa batas.
Aku tetap menunggu. Tapi tidak selamanya.
Kalau suatu hari kamu tidak siap mencintaiku,
tolong beritahu aku.
Karena satu-satunya hal yang tidak akan kupertaruhkan…
adalah diriku sendiri.”
Aku menutup buku itu, memeluknya ke dada, dan membiarkan air mata turun. Bukan karena lemah. Tapi karena untuk pertama kalinya, aku memilih tetap kuat—meski sedang mencintai dalam ketidakpastian.
Hari ke-45.
Mencintaimu membuatku lebih mengenal diriku sendiri.
Tapi juga membuatku sadar… bahwa aku tidak bisa terus mencintaimu sambil mengabaikan diriku sendiri.
Hari ke-46.
Aku tidak bilang apa-apa pada siapa pun. Tapi pagi itu, aku memutuskan pergi sebentar.
Bukan kabur. Hanya mengambil jeda.
Aku menuliskan pesan singkat untuk Liana.
“Aku butuh waktu untuk bernapas. Aku akan kembali. Tolong jangan khawatirkan aku.”
Kupilih tempat yang tenang—penginapan kecil dekat danau. Tempat ini sunyi, jauh dari kebisingan kota, dan lebih jauh lagi dari rumah itu.
Bukan karena aku ingin melupakan Arzand. Tapi karena aku mulai merasa… aku juga berhak mendengar suara hatiku sendiri. Tanpa dia.
Di balkon penginapan, aku duduk sambil menyeruput teh hangat.
Membuka buku catatan kecilku lagi. Menulis tanpa berpikir. Hanya menumpahkan isi kepala:
“Terkadang, cinta bukan tentang siapa yang lebih kuat bertahan.
Tapi siapa yang lebih sadar kapan harus berhenti sejenak dan bertanya:
‘Masihkah aku mencintai tanpa kehilangan diriku sendiri?’
Aku tidak ingin jadi perempuan yang mencintai habis-habisan lalu hancur sendirian.
Kalau cinta ini tidak bisa tumbuh bersama… maka mungkin, untuk saat ini, aku harus tumbuh sendiri.”
Hari ke-47.
Hening. Tapi tidak kosong.
Aku mulai merasa damai. Bukan karena tak lagi mencintainya, tapi karena aku mulai memeluk diriku sendiri dengan utuh. Sesuatu yang tidak pernah aku pelajari saat bersama Arzand.
Dan di malam itu—di bawah cahaya lampu temaram kamar kecil ini—aku tiba-tiba menerima pesan.
Dari Liana.
“Tuan Arzand marah. Tapi bukan karena kamu pergi. Dia marah karena kamu tidak bilang langsung.
Tapi aku tahu… dia takut. Takut kamu tidak kembali.”
Pesan itu membuat nafasku tercekat.
Bukan karena aku tidak tahu perasaannya—tapi karena mungkin… dia mulai peduli. Tanpa tahu bagaimana cara menunjukkannya.
Hari ke-48.
Aku menulis pesan pendek untuk Arzand.
Bukan permintaan maaf. Bukan penjelasan. Hanya kejujuran.
“Aku pergi bukan karena menyerah. Tapi karena ingin tetap waras.
Aku ingin bersamamu. Tapi aku juga ingin bersamaku.
Jika suatu hari kamu siap melangkah, bukan hanya untuk menatap masa lalu, tapi juga untuk berjalan ke depan bersamaku—aku akan ada di sini.
Tapi kalau tidak… maka mungkin, kita ditakdirkan hanya untuk saling menyembuhkan sebentar.
Lalu berpisah dalam versi terbaik kita masing-masing.”
Hari ke-49.
Aku pulang.
Bukan karena pesan balasan. Bukan karena dijemput. Tapi karena aku tidak ingin hubungan ini berakhir dengan pelarian.
Saat aku membuka pintu rumah besar itu, Liana menyambutku dengan senyum lega.
“Dia di ruang kerja. Tidak tidur semalam.”
Aku mengangguk. Lalu melangkah pelan ke arah ruang kerja.
Kupikir akan ada kemarahan. Tapi ternyata…
Dia hanya duduk di kursinya, menatap jendela. Seperti sedang menunggu.
“Aku kembali,” ucapku pelan.
Dia tidak langsung menoleh. Tapi aku melihat tangannya mengepal di sisi meja.
“Jangan pergi diam-diam lagi, Aulia.”
“Kalau kamu mau menyerah... setidaknya, beri aku kesempatan untuk bertarung.”
Air mataku jatuh pelan. Tapi aku tersenyum.
Untuk pertama kalinya, dia tak bicara soal cinta. Tapi soal bertahan bersama.
Dan mungkin... itu lebih penting dari sekadar kata ‘sayang’.
Hari ke-50.
Aku pulang bukan karena dia membutuhkanku.
Tapi karena aku butuh tahu—aku bisa mencintainya tanpa kehilangan diriku sendiri.
To be continued
#H
