Pustaka
Bahasa Indonesia

Pengantin Sementara Tuan Arzand

73.0K · Tamat
Euphoria1306
52
Bab
24
View
9.0
Rating

Ringkasan

Aulia, gadis biasa yang terpaksa menikah secara kontrak dengan Arzand—seorang pria dingin, kaya, dan penuh batasan. Dalam rumah yang penuh peraturan dan luka masa lalu, Aulia mencoba bertahan. Namun seiring waktu, benih perasaan tumbuh—di hati yang seharusnya tak pernah ia miliki. Tapi Arzand punya batas yang tak boleh dilanggar: jangan jatuh cinta padanya. Apakah pernikahan ini hanya permainan waktu, atau awal dari luka baru?

RomansaModernBillionaireIstriLove after MarriageKawin KontrakPernikahanDinginKehidupan MisteriusDewasa

Bab 1 Hari Pernikahan

Langit sore menggantung kelabu. Bukan karena akan hujan, tapi mungkin karena langit turut merasakan sesak yang merambat di dada Aulia. Jari-jarinya yang dingin menggenggam gaun putih yang membalut tubuhnya, sementara pantulan dirinya di cermin terasa asing—seperti melihat orang lain yang tersenyum palsu dalam bingkai yang rapuh.

Hari ini, seharusnya menjadi hari yang membahagiakan. Setidaknya, itu yang orang-orang katakan tentang pernikahan. Tapi bagi Aulia, ini hanyalah panggung sandiwara yang harus dijalani. Tanpa cinta. Tanpa kebebasan memilih.

Aroma melati memenuhi ruangan, bercampur dengan wangi dupa yang samar. Aulia berdiri kaku di depan cermin besar berbingkai emas. Gaun putih sederhana melekat di tubuhnya, kontras dengan rona wajah yang pucat. Riasan di wajahnya tampak terlalu sempurna, seperti topeng yang menyembunyikan gejolak batin.

Gaun putih ini bukan milikku. Bahkan, cermin pun menolak memantulkan bayanganku dengan jujur.

Hari ini seharusnya bukan aku yang berdiri di pelaminan itu. Tapi kakakku.

“Aulia.”

Suara Ayah terdengar pelan tapi tegas. “Jangan buat malu keluarga. Ingat hutang kita. Ingat siapa dia.”

Aku hanya mengangguk, meski dadaku penuh sesak. Nafasku tak beraturan. Jantungku memukul keras dinding dada, seolah tubuhku sendiri memberontak atas keputusan ini.

Di balik pintu, suara-suara pelan terdengar. Liana, asisten rumah tangga keluarga Arzand, tengah mempersiapkan segala keperluan untuk prosesi akad. Waktu terus berjalan, tapi Aulia merasa seperti terjebak dalam ruang hampa. Nafasnya berat, dan jantungnya berdetak tidak beraturan.

Hari ini ia menikah. Bukan karena cinta, bukan karena mimpi yang ia rajut sejak remaja. Tapi karena... sebuah kesepakatan.

Pernikahan sementara.

"Aulia, sebentar lagi rombongan akan masuk," suara Liana pelan namun tegas. Wanita itu masuk tanpa menunggu jawaban, lalu memperbaiki kerudung Aulia yang sedikit miring.

Aulia mengangguk kaku. Tangannya mengepal di pangkuan. Ada banyak hal yang ingin ia katakan. Tapi tidak ada satupun yang lolos dari bibirnya. Ia terlalu takut. Terlalu asing dengan semua yang terjadi.

Pikirannya melayang pada percakapan seminggu lalu. Kala Arzand—lelaki yang nyaris tak ia kenal—mengajukan tawaran itu. Menikah sementara, dengan kontrak selama enam bulan. Setelah itu, pisah secara baik-baik.

Aku membaca kontrak itu. Panjang, penuh pasal-pasal yang kaku. Mulai dari larangan keluar rumah, menjaga citra keluarga, hingga batas waktu enam bulan. Tapi di saat itu... aku terlalu lelah untuk peduli.

"Anggap saja kamu tinggal di rumahku selama enam bulan sebagai istri, tanpa kewajiban macam-macam. Setelah itu, kamu bebas pergi," ucap lelaki itu dengan nada datar, seperti sedang bicara soal kontrak kerja.

Aulia tahu ia bisa menolak. Tapi kenyataannya, ia tidak punya pilihan lain. Ia butuh tempat tinggal. Butuh ketenangan. Dan di saat semua orang menjauh, lelaki itu justru menawarkan sesuatu yang... aneh tapi menyelamatkannya.

"Semua Sudah siap di bawah?" suara Liana, asisten rumah tangga keluarga Arzand, membuyarkan lamunannya. Perempuan paruh baya itu menatapnya dengan mata lembut, seolah tahu apa yang sedang berkecamuk dalam hati Aulia.

“Kamu yakin dengan semua ini, Aulia?”

Pertanyaan itu membuat napas Aulia tercekat. Tidak. Ia tidak yakin. Tapi ia sudah terlanjur berdiri di sini, mengenakan gaun ini, dan bersiap mengucap ijab kabul.

Beberapa detik Aulia hanya diam, lalu berbisik lirih, "Yakin atau tidak... aku tetap harus jalani, kan?"

Liana menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan. "Baiklah. Aku akan temani kamu turun.”

Aulia hanya mengangguk. Tak ada kata yang cukup aman untuk diucapkan.

Langkah mereka menyusuri tangga perlahan. Di ruang tamu, beberapa orang berdiri. Semuanya tampak formal, tegang, dan dingin. Tidak ada tawa bahagia atau pelukan hangat. Hanya formalitas dan kesunyian.

Arzand berdiri di sisi meja. Kemeja putih dan jas abu yang ia kenakan membuatnya terlihat semakin asing di mata Aulia. Tatapannya tajam tapi datar. Tidak ada senyum

Beberapa langkah keluar dari kamar, aroma bunga melati menyeruak dari pelaminan yang telah dihias mewah di halaman belakang rumah megah itu. Semua terasa begitu sempurna di mata tamu undangan. Namun di balik tirai kebahagiaan itu, Aulia merasakan kehampaan.

Di ujung aula, seorang pria berdiri tegak.

Matanya menatapku seperti menilai barang.

berdiri di sisi meja. Kemeja putih dan jas abu yang ia kenakan membuatnya terlihat semakin asing di mata Aulia. Tatapannya tajam tapi datar. Tidak ada senyum.

Tuan Arzand Arsyad.

Pewaris kerajaan bisnis yang namanya lebih sering disebut dengan nada takut daripada hormat. Lelaki yang akan menjadi suamiku—meski dia belum tahu bahwa aku bukan calon pengantin yang seharusnya.

Arzand, pria yang akan menikahinya hari ini, berdiri tegak dengan jas hitam dan tatapan tajam yang sulit ditebak. Ia tak banyak bicara sejak kesepakatan itu dibuat. Pernikahan ini hanyalah formalitas—perjanjian yang ditandatangani di atas kertas, demi sesuatu yang lebih besar dari sekadar cinta.

"Ingat, ini hanya sementara," kata Arzand pelan saat mereka duduk bersebelahan di pelaminan. Senyumnya tak sampai ke mata.

Aulia mengangguk. Kata-kata itu semacam mantra yang terus ia ulangi dalam hati.

Karena pernikahan ini hanya kontrak.

Enam bulan. Tanpa cinta. Tanpa perasaan.

“Tuan Arzand hanya punya tiga syarat,” ucap asistennya sebelum akad dimulai.

“Satu, jangan mencampuri urusan pribadinya. Dua, jangan ganggu waktunya. Tiga... jangan berharap dia akan mencintaimu.”

Aku menelan ludah. Tak bisa berkata apa-apa. Bahkan menatap mata sang asisten pun aku tak sanggup.

Aku hanya boneka. Pengganti. Pemenuh janji. Penebus dosa keluarga.

.

Ayah berdiri disampingku, menggenggam tanganku dengan paksa, seolah memastikan aku tidak akan lari.

"Setelah ini, semuanya akan baik-baik saja," bisiknya tanpa menatapku.

Benarkah?

Bagaimana bisa semuanya baik-baik saja jika bahkan aku tak tahu siapa lelaki itu sebenarnya?

"Kita mulai saja," kata seorang pria tua yang menjadi penghulu.

Aulia duduk di samping Liana. Tangannya gemetar.

Saat akad dimulai, dunia seakan berhenti berputar. Suara penghulu menggema di aula besar itu, tapi terdengar jauh di telingaku

Suara ijab kabul menggema. Lalu hening. Semua terjadi begitu cepat, dan ketika nama Aulia disebut dalam satu kalimat panjang, ia baru tersadar: dia sudah sah menjadi istri Arzand.

Aku mengangguk tanpa benar-benar tahu apa yang kuucapkan. Ada getar halus di tanganku saat menyentuh tangan dinginnya untuk salaman.

Tepuk tangan kecil terdengar. Tapi tidak ada yang benar-benar tersenyum.

Sentuhan pertama yang terasa seperti peringatan: jangan berharap apapun dari pernikahan ini.

Tamu undangan bertepuk tangan. Tapi tidak ada senyum di antara kami berdua. Bahkan, saat fotografer meminta kami berdiri berdampingan, Arzand tak menoleh sedikitpun ke arahku.

Sementara para tamu sibuk berswafoto dan mengucapkan selamat, Aulia hanya fokus mengatur napas. Ia tersenyum, menjawab basa-basi, bahkan sesekali tertawa kecil. Tapi semuanya hanya permukaan. Di dalam dirinya, ada ruang kosong yang bergema.

“Ayo senyum sedikit,” bisik fotografer.

Arzand hanya mengeraskan rahangnya.

Aku mencoba tersenyum, meski hatiku kosong. Seperti boneka yang dibentuk untuk pesta ini.

Setelah acara usai, aku duduk di kamar pengantin yang terasa asing. Gaun putihku masih menempel di tubuh, tapi dingin merayap pelan ke kulitku.

Pesta selesai menjelang malam dan seluruh tamu mulai meninggalkan rumah satu per satu. Gaun putih berganti dengan piyama santai, Aulia duduk di tepi ranjang kamar pengantin, menatap vas mawar putih di meja kecil

Arzand belum masuk. Entah ke mana dia pergi. Entah apakah dia akan masuk.

Ketukan di pintu membuatku tersentak.

Kupikir itu dia. Tapi bukan.

Yang masuk adalah Liana—wanita setengah baya yang katanya asisten rumah tangga keluarga Arsyad.

“Selamat malam, Nona Aulia,” sapanya sopan.

Aku mengangguk. “Tuan Arzand...?”

“Beliau masih di ruang kerja. Mungkin akan pulang larut malam.”

Larut malam? Di malam pernikahan?

Aku tertawa hambar. Tentu saja. Untuk apa lelaki itu repot datang menemuiku? Ini hanyalah pernikahan kontrak.

Liana meletakkan segelas susu di meja kecil dekat tempat tidur. “Kalau Nona butuh apa-apa, panggil saja saya.”

Aku mengangguk lagi. Tak tahu harus bicara apa. Bahkan aku tidak tahu bagaimana seharusnya bersikap sebagai seorang istri—terlebih istri kontrak.

Setelah Liana keluar, aku duduk diam di pinggir ranjang. Menatap jam dinding yang berdetak pelan.

Satu jam. Dua jam. Tiga jam.

Hampir tengah malam. Dan akhirnya...

Pintu kamar terbuka.

Arzand masuk dengan langkah ringan tapi tegas. Matanya langsung menatapku, kosong. Tak ada sisa lelah, tak ada sapaan.

Dia melepaskan jasnya, duduk di sofa, dan membuka laptop.

Aku menegakkan punggung. “Selamat malam, Tuan Arzand.”

“Tak perlu basa-basi,” jawabnya tanpa menoleh. “Ingat kesepakatan kita.”

Aku menggigit bibir. Diam. Tidak ingin memperpanjang suasana.

Tapi... saat dia mematikan laptop dan berdiri, langkahnya tiba-tiba berhenti. Matanya tajam mengarah padaku.

"Kamu bisa tidur di sisi kanan," ujar Arzand singkat sambil membuka kancing kemejanya, seolah semua ini begitu biasa.

Aulia tidak menjawab. Ia hanya memandang ranjang besar di depannya, lalu berdiri dan melangkah ke balkon.

Dari lantai dua, kota tampak sunyi. Angin malam berhembus pelan, membawa serta segala kecemasan yang belum sempat ia cerna.

"Apa kau pernah membayangkan menikah seperti ini, Arzand?" tanyanya tanpa menoleh.

Hening sesaat. Lalu terdengar langkah kaki pelan.

"Tidak. Tapi hidup jarang berjalan sesuai rencana, bukan?"

Aulia mengangguk samar. Ia menggenggam pagar balkon erat-erat, seolah takut dirinya terhempas oleh semua yang tak ia mengerti.

Pernikahan ini bukan tentang cinta. Tapi tentang janji, kepentingan, dan mungkin... pelarian.

Dan malam itu, di balik semua kemewahan dan kesunyian, Aulia tahu: hidupnya akan berubah. Entah menjadi lebih baik, atau justru sebaliknya.

Namun satu hal pasti—tidak ada jalan kembali.

“Besok pagi, kita akan ke rumah keluarga besar. Berpura-puralah bahagia.”

Aku mengangguk cepat. “Baik.”

Tapi sebelum dia keluar kamar, dia berkata pelan namun menusuk, “Dan satu lagi...”

Aku menahan napas. Menunggu ucapannya.

“…jangan pernah masuk ke ruangan di lantai atas.”

Aku menatapnya bingung. “Kenapa?”

Dia hanya menatapku tanpa menjawab, lalu melangkah keluar begitu saja.

Aku duduk membeku. Suara pintu tertutup pelan.

Dan saat aku menoleh ke arah jendela, sesuatu membuatku berhenti bernapas.

Ada bayangan samar berdiri di balik tirai luar.

Diam. Tapi nyata.

To be continued

#H