Bab 4 Cinta yang Tak Dijanjikan
“Jangan jatuh padaku, Aulia.”
Kalimat itu kembali terngiang-ngiang di kepalaku.
Bukan karena dia mengatakannya dengan marah. Tapi justru karena dia mengatakannya dengan takut.
Takut jika aku berharap.
Takut jika dia menyakitiku.
Atau... takut karena dia mulai peduli?
Hari ke-37.
Aku dan Arzand duduk di ruang makan. Makan malam tanpa pembicaraan seperti biasa. Tapi tidak ada ketegangan. Hanya keheningan yang entah kenapa… terasa nyaman.
Sampai tiba-tiba, Arzand meletakkan garpunya dan menatapku.
“Besok kita akan ke acara gala perusahaan. Kamu akan menemaniku.”
Aku terdiam. “Kamu yakin? Di depan umum?”
“Kamu istriku.”
Kalimat itu sederhana. Tapi bagiku… terasa asing.
Aku tersenyum tipis. “Kontrak bilang begitu.”
Dia membalas dengan lirih, “Dan aku sedang belajar memperlakukanmu seperti itu.”
Pagi harinya, gaun pesta sudah tergantung di kamarku. Warna navy gelap. Elegan. Mahal. Tapi tidak mencolok.
Aku menatap bayanganku di cermin. Rasanya seperti sedang bersiap menjadi orang lain. Seorang istri yang sempurna. Yang tahu harus diam saat dia diam. Yang tahu harus tersenyum saat pria di sebelahnya bicara.
Tapi apa artinya jadi istri kalau hatinya tak pernah benar-benar diberikan?
Acara gala itu mewah. Gemerlap. Penuh orang penting.
Arzand menggenggam lenganku erat saat berjalan menyusuri red carpet.
Beberapa orang menyapa kami. Beberapa hanya menatap penuh rasa ingin tahu.
Dia memperkenalkanku dengan tenang. Tidak menyebut kata istri kontrak. Tidak membuat batas.
Tapi di balik itu semua, tatapannya tetap penuh penjagaan.
Di sudut ruangan, kami akhirnya berdiri berdua. Arzand mengambil dua gelas minuman.
“Kamu tampak gugup,” katanya pelan.
Aku menahan senyum. “Karena aku takut melakukan kesalahan.”
Dia menatapku. Lama. “Kamu tidak perlu jadi sempurna, Aulia. Cukup jadi kamu.”
Kalimat itu membuat jantungku berhenti sejenak.
Bukan karena romantis. Tapi karena dia baru saja berkata sesuatu yang selama ini tidak pernah kudengar dari siapa pun.
Tapi saat kami hendak pulang, semuanya berubah.
Di area parkir, seorang wanita tinggi menghampiri kami. Cantik. Elegan. Mata tajam. Senyumnya menyeringai.
“Sudah ganti istri, Zan? Cepat juga move on-nya.”
Aku menatap Arzand. Wajahnya menegang. Rahangnya mengeras.
“Maaf, siapa dia?” tanyaku pelan.
“Dia masa laluku,” jawab wanita itu sebelum Arzand sempat bicara. “Yang kamu tinggalkan tanpa penjelasan. Karena takut cinta, katanya.”
Arzand menarikku menjauh sebelum sempat ku ucap satu kata pun.
Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada suara.
Aku tahu wanita itu bukan sembarang orang. Aku tahu dia bagian dari luka lama Arzand.
Tapi aku juga tahu... luka itu masih belum benar-benar sembuh.
Malam itu, aku menunggunya bicara. Tapi dia justru menatapku lama, lalu berkata:
“Itu sebabnya aku bilang jangan jatuh cinta padaku. Karena aku... bukan tempat yang aman untukmu.”
Aku menunduk. “Terlambat.”
Dia menegang. “Apa maksudmu?”
Aku tersenyum getir. “Aku sudah jatuh. Meskipun aku tahu kamu tidak akan menangkapku.”
Hari ke-38.
Aku jatuh cinta pada pria yang takut dicintai.
Dan aku tahu… hatiku tidak akan kembali utuh.
Aku kembali ke kamar, melepas gaun pesta perlahan.
Dunia diluar sana terlalu gemerlap. Tapi ruanganku... terlalu sunyi.
Aku jatuh cinta pada pria yang tak pernah menjanjikan apa-apa.
Salahku. Tapi juga bukan sepenuhnya salah. Karena siapa yang bisa mengendalikan hati?
Pukul 01.00 dini hari, pintu kamarku diketuk pelan.
Arzand berdiri di ambang pintu, masih mengenakan kemeja gala yang kini kusut. Tatapannya… berbeda. Bukan marah. Bukan juga dingin. Tapi lelah.
“Kamu belum tidur?” tanyanya.
Aku menggeleng. “Masih berpikir.”
Ia masuk, duduk di kursi sudut kamar. Diam. Lalu berkata,
“Wanita tadi… namanya Karina. Dia orang yang dulu pernah kucintai. Tapi dia juga orang yang paling membuatku takut mencintai lagi.”
Aku menatapnya. Tidak ingin menyela.
“Dia tahu semua kelemahanku. Tapi dia juga yang meninggalkanku ketika aku paling rapuh.”
Tangannya mengepal. Nafasnya berat.
“Setelah itu, aku belajar hidup pakai tembok. Aku hanya izinkan orang masuk sampai batas yang bisa diatur. Kamu... terlalu pelan-pelan menghancurkan batas itu.”
Aku tidak tahu apakah itu pujian, atau peringatan.
Tapi saat dia menatapku lagi, aku tahu:
Arzand mulai takut. Bukan padaku. Tapi pada dirinya sendiri.
“Kalau kamu tetap tinggal, kamu akan sakit, Aulia.”
Aku berdiri pelan, mendekatinya.
“Kalau aku pergi, aku juga tetap akan sakit.”
Dia memejamkan mata. Lalu berkata pelan,
“Kamu keras kepala.”
Aku tersenyum tipis. “Biar imbang. Kamu keras kepala juga.”
Malam itu, dia tidak tidur di kamarnya. Tapi juga tidak tidur di kamarku.
Dia duduk di balkon, sendiri, menatap langit.
Dan aku hanya bisa memandangi punggungnya dari celah gorden...
sambil memeluk dadaku sendiri yang semakin hari...
semakin takut jatuh terlalu dalam.
Hari ke-39.
Cinta bukan selalu tentang memiliki.
Kadang cinta hanya tentang memilih bertahan… meski tahu dia belum bisa membalas.
Pagi itu, aku bangun lebih awal. Tapi tempat tidurku masih terasa dingin.
Arzand tidak pernah tidur di sebelahku, dan aku tidak tahu… apakah aku ingin dia melakukannya atau tidak.
Liana membawa sarapan seperti biasa. Tapi pagi ini, ia duduk di sampingku.
“Kamu kelihatan capek,” katanya pelan.
Aku tersenyum lemah. “Mungkin karena aku menunggu sesuatu yang tidak akan datang.”
Liana menggenggam tanganku. Hangat. Sehangat ibu sendiri.
“Tuan Arzand bukan tidak bisa mencintai. Dia hanya belum tahu bagaimana caranya menunjukkan cinta.”
Aku menunduk. “Tapi seberapa lama harus menunggu?”
Liana tidak menjawab. Dan aku tahu, itu karena dia pun tidak punya jawabannya.
Siangnya, Arzand mengajakku keluar. Bukan untuk gala. Bukan untuk rapat.
Hanya jalan-jalan.
Kami pergi ke tempat yang sepi, seperti taman kecil di ujung kota. Tak banyak orang. Hanya suara angin dan daun-daun jatuh.
Aku duduk di bangku panjang. Arzand berdiri di samping, menatap danau kecil di depan kami.
“Ibuku dulu sering membawaku ke taman seperti ini,” katanya tiba-tiba. “Dia bilang, kalau hidup terlalu bising, datanglah ke tempat yang tenang. Dengarkan apa yang kamu rasakan.”
Aku menatapnya. Suaranya lebih lembut dari biasanya.
Ia duduk di sebelahku. Bahunya menyentuh pundakku sekilas. Tapi cukup untuk membuatku menahan napas.
“Dulu aku pikir, semua orang yang datang pasti pergi. Jadi aku tak mau dekat siapa-siapa lagi.”
“Dan sekarang?” tanyaku.
Ia menoleh pelan. Menatap mataku tanpa perlindungan.
“Sekarang aku takut... karena kamu datang pelan-pelan, tapi membekas terlalu dalam.”
Hatiku seperti diremas.
“Kamu masih bisa menolak perasaan itu,” kataku dengan senyum getir. “Aku sudah tidak bisa.”
Dia tertawa pelan. Tapi tawanya getir.
“Kalau kamu tahu aku punya luka, kenapa tetap memilih tinggal?”
Aku menggigit bibir. Menahan getar di dada.
“Karena luka bukan hal yang membuatku takut. Yang membuatku takut… adalah mencintai seseorang yang tak ingin disembuhkan.”
Kami pulang tanpa banyak bicara. Tapi aku tahu, hari itu Arzand mulai goyah.
Dan aku? Aku mulai mempertanyakan diriku sendiri.
Apakah aku sedang menunggu sesuatu yang tidak pernah dijanjikan?
Malam harinya, aku duduk sendiri di ruang baca. Tanganku membuka-buka buku yang diberikan Arzand minggu lalu.
Lembar demi lembar seperti cermin. Semua tentang trauma, luka, dan perjalanan menuju pulih.
Tapi satu kutipan membuatku terdiam lama:
“Cinta bisa menyembuhkan. Tapi juga bisa menjadi luka baru… kalau kamu menaruhnya di tangan orang yang belum siap menerimanya.”
Aku menutup buku itu perlahan.
Dan untuk pertama kalinya sejak menikah...
aku mulai berpikir untuk menjaga hatiku sendiri lebih dulu.
Hari ke-40.
Aku tidak menyesal jatuh cinta.
Tapi mungkin… aku harus belajar berhenti berharap.
Karena dia belum siap, dan aku terlalu mudah tersesat.
To be continued
#H
