Bab 6 Jika Aku Jatuh Padamu
Kalau aku jatuh padamu, Aulia…
Bisakah kamu tetap tinggal, bahkan saat aku belum bisa mencintaimu dengan benar?”
– Arzand
Hari ke-51.
Suasana rumah tidak lagi terasa sama. Tidak lebih hangat. Tapi juga tidak sedingin dulu.
Sejak aku pulang, tidak ada perbincangan panjang antara kami. Tapi tatapan Arzand mulai berubah. Tidak lagi dingin dan tajam—melainkan ragu. Seolah-olah dia sedang menakar… apakah aku sungguh akan tetap bertahan?
Pagi itu, kami sarapan bersama.
Tidak ada percakapan. Tapi tiba-tiba Arzand meletakkan sendoknya dan menatapku.
“Kalau suatu hari aku jatuh padamu, kamu akan tetap ada di sini?”
Pertanyaan itu sederhana. Tapi membuat jantungku terdiam.
Aku mengangkat wajah. Mencari makna di balik matanya yang kini tidak bisa kubaca.
“Kalau kamu jatuh padaku karena butuh seseorang, aku akan terluka. Tapi kalau kamu jatuh padaku karena kamu ingin belajar mencinta, mungkin aku akan tetap tinggal.”
Dia tidak langsung menjawab. Tapi aku tahu, kalimat itu menancap.
Siangnya, Arzand mengajakku ke tempat ibunya dimakamkan.
Perjalanan ke sana sunyi. Tapi hatiku ribut. Karena aku tahu:
Seorang pria tidak akan membawa siapa pun ke makam ibunya… kecuali orang yang sedang mencoba ia percayai.
Di depan nisan sederhana bertuliskan “R. A. Murni Astari”, Arzand berdiri dalam diam.
Lalu perlahan, tangannya meraih jemariku.
“Ibuku perempuan yang sangat kuat. Tapi dia menyerah karena terlalu sering sendirian.”
“Aku takut jadi seperti ayahku. Mencintai tapi tidak bisa menjaga.”
Aku meremas jemarinya. “Dan aku takut mencintai orang yang tidak ingin dijaga.”
Kami duduk berdua di bangku tua dekat makam.
Untuk pertama kalinya, aku merasa… kami bicara sebagai dua manusia. Bukan dua orang dengan perjanjian kontrak.
Arzand berkata pelan, “Aku tidak janji bisa mencintaimu sekarang, Aulia. Tapi aku ingin belajar.”
Aku menarik napas dalam. Menatapnya dengan tenang.
“Kalau kamu benar-benar ingin belajar… aku akan tetap tinggal. Tapi bukan untuk jadi penenangmu, melainkan teman perjalananmu.”
Dia tersenyum. Sangat kecil. Tapi itu senyum pertamanya yang jujur sejak aku mengenalnya.
Hari ke-52.
Kalau kamu jatuh padaku karena luka, aku akan membantu mengobati.
Tapi kalau kamu jatuh padaku karena cinta, aku akan menyambutmu… tanpa perlu terburu-buru.
Malam itu, aku duduk sendiri di balkon kamar. Angin malam lembut menerpa wajahku.
Kehangatan dari sentuhan Arzand siang tadi masih terasa. Tapi pikiranku justru sibuk menimbang:
Apakah cinta saja cukup?
Aku membuka buku kecilku lagi dan menulis:
“Aku mencintaimu, Arzand. Tapi aku juga mencintai diriku.
Aku tidak ingin mencintaimu dengan cara yang membuatku kehilangan arah.
Kalau suatu hari kamu memutuskan untuk pergi, aku tidak akan menahannya.
Karena aku sudah cukup mencintai diriku untuk tahu,
bahwa cinta yang sehat… tidak membuatku mengejar orang yang ragu.”
Keesokan harinya, saat sarapan, Arzand berkata tanpa melihatku:
“Aku akan menghapus satu pasal dari kontrak kita.”
Aku menoleh pelan. “Pasal apa?”
“Yang membatasi perasaan.”
Jantungku menegang. Tapi aku tetap tenang.
“Berarti kita boleh saling jatuh cinta?” tanyaku lirih.
Ia menatapku. Wajahnya tenang, tapi matanya mengandung ribuan ketakutan.
“Bukan ‘boleh’. Tapi kalau itu terjadi… kita tidak akan menyangkalnya lagi.”
Hari ke-53.
Aku tak tahu akan dibawa ke mana perasaan ini.
Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak takut lagi.
Karena apapun yang terjadi… aku sudah memilih untuk tidak hilang dalam cinta.
Hari ke-54.
Hari ini aku menemukan sebuah kertas kecil di dalam buku yang tertinggal di ruang baca.
Tulisan tangan Arzand. Tegas. Tapi ragu-ragu. Isinya singkat:
“Kalau aku bilang aku takut jatuh padamu, itu bukan karena aku tidak mau.
Tapi karena aku tidak tahu… apakah kamu benar-benar bisa menunggu seseorang sepertiku.”
Aku tidak tahu sejak kapan dia menulisnya.
Tapi aku tahu, itu bukan untuk ditunjukkan.
Mungkin dia hanya ingin melepaskan sebagian ketakutannya ke dalam tulisan.
Sesuatu yang selama ini kulakukan... dan kini dia mulai mencoba.
Aku genggam kertas itu erat. Bukan sebagai bukti cinta. Tapi sebagai tanda:
Dia sedang belajar membuka pintu. Dan itu lebih dari cukup.
Sore itu, aku membuatkan teh jahe—favoritku, bukan miliknya. Tapi kubawa dua cangkir.
“Teh?” tanyanya, saat aku meletakkannya di meja kerja.
Aku mengangguk. “Kamu boleh suka. Tapi kalau nggak suka, tetap harus dicoba.”
Dia mengangkat alis. “Kenapa?”
Aku tersenyum. “Karena yang terasa asing belum tentu tidak cocok. Kadang kita hanya belum terbiasa.”
Dia menatapku lama. Lalu menyesap sedikit. Wajahnya mengernyit, tapi tidak menolak.
“Aku akan coba pelan-pelan,” katanya.
Dan entah kenapa… rasanya seperti dia sedang bicara tentang lebih dari sekadar teh.
Malam itu, aku duduk di kamarku dan menulis lagi:
Hari ke-55.
Cinta itu bukan keajaiban besar. Tapi kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari.
Dan hari ini, dia memulainya.
Bukan dengan janji. Tapi dengan secangkir teh hangat dan keberanian kecil untuk mencoba.
Hari ke-56.
Aku duduk di ruang baca, mencoba menulis. Tapi pikiranku masih di kertas kecil itu. Tulisan Arzand.
Terkadang kejujuran paling menyakitkan… justru yang paling sederhana.
Lalu, tanpa suara, Arzand masuk ke ruangan. Membawa buku tebal—novel tua dalam bahasa Inggris.
Ia duduk di seberangku, meletakkan bukunya, dan berkata pelan,
“Aku suka buku ini. Tapi setiap kali mau mulai baca, aku takut terseret ke kenangan yang pernah kutinggalkan.”
Aku meletakkan pena. “Kenapa kamu bawa ke sini?”
“Karena aku ingin mencoba membacanya lagi. Dan aku ingin kamu yang duduk di depanku waktu aku melakukannya.”
Kalimat itu pelan. Tapi berat.
Aku tidak menjawab. Hanya mengangguk kecil.
Kami membaca dalam diam. Hanya derik kipas langit-langit yang terdengar.
Lalu tiba-tiba, Arzand berkata:
“Aulia… kamu tahu apa yang paling kutakutkan sebenarnya?”
Aku menoleh.
“Bukan cinta. Tapi kehilangannya.
Karena kehilangan itu… membuatku ingin mati. Dan aku tak mau lagi sampai ke titik itu.”
Hatiku mencelos. Ini… jauh dari semua kalimat dingin yang pernah ia ucapkan sebelumnya.
Aku mendekatinya, duduk di samping.
“Kalau aku jatuh padamu dan kamu hilang, aku takut kehilangan arah lagi.”
Aku menjawab pelan, menahan air mata yang nyaris jatuh,
“Kalau kamu jatuh padaku, aku akan berusaha untuk tidak pergi.
Tapi kamu juga harus menjagaku agar aku tidak merasa sendirian.”
Dia menatapku. Kali ini lama. Tidak ada benteng. Tidak ada kedipan.
“Ajari aku caranya.”
Malam itu, kami tidak bicara lagi.
Tapi ketika aku berdiri untuk meninggalkannya, dia menahan tanganku.
“Boleh aku temani kamu malam ini?
Bukan untuk apa-apa. Hanya… duduk. Mungkin diam. Tapi tetap dekat.”
Aku tidak berkata apa pun. Hanya menggenggam jemarinya, lalu mengajaknya masuk ke kamarku.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Arzand duduk di sebelahku, di sofa kecil dekat jendela.
Kami sama-sama menatap langit. Tidak ada pelukan. Tidak ada kata cinta. Tapi ada sesuatu yang lebih tulus dari itu.
Kebersamaan yang lahir dari keberanian kecil untuk mencoba lagi.
Sebelum aku tertidur, aku mencatat satu hal terakhir:
Hari ke-56 (malam):
Mungkin dia belum mencintaiku.
Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sendirian lagi..
To be continued
#H
