Bab 3 Antara Rasa dan Rahasia
Rumah ini luas. Halamannya cantik. Furniturnya mahal. Tapi tetap saja...
tak ada tempat yang benar-benar bisa kusebut “rumah”.
Karena rumah, bukan cuma soal tempat tinggal. Tapi tentang hati yang menyambutmu.
Dan hatinya... jelas bukan untukku.
Aku berjalan sendirian di lorong lantai dua. Di sebelah kiriku, deretan pintu tertutup rapat.
Satu di antaranya adalah kamar Arzand. Aku belum pernah masuk. Tidak pernah mencoba. Karena aku tahu batas.
Tapi setiap lewat sana, aku selalu bertanya dalam hati—apa yang disembunyikan pria itu di balik pintu kayu gelap itu? Kenangan? Takut? Atau seseorang dari masa lalunya?
Di ruang tengah, ada rak buku besar. Aku mulai menghabiskan waktu membaca. Entah kenapa, membaca lebih menenangkan daripada mencoba memahami suamiku sendiri.
Liana datang membawa selimut. “Kamu tidak dingin duduk di sini terus?”
Aku tersenyum. “Lebih dingin kalau di kamar sendirian.”
Liana diam. Tapi aku tahu dia mengerti maksudku.
Dia tinggal di rumah ini lebih lama dari siapapun. Mungkin dia satu-satunya yang tahu apa yang benar-benar ada di balik semua diam dan peraturan itu.
Sore itu, aku memutuskan menyapu halaman belakang. Tak ada yang menyuruh. Aku hanya ingin merasa... berguna.
Tapi baru beberapa menit, suara berat terdengar dari belakangku.
“Kamu tidak perlu melakukan itu.”
Aku menoleh. Arzand berdiri di bawah pohon, mengenakan kemeja putih, tangan di saku. Tampak seperti pria di sampul majalah. Tapi matanya masih sama—dingin, menjaga jarak.
“Aku hanya ingin menyibukkan diri,” jawabku pelan.
Ia berjalan mendekat. “Kalau kamu bosan, bilang. Aku bisa kirimkan alat olahraga atau buku.”
“Aku tidak butuh barang, Arzand,” kataku pelan. “Aku butuh hidup.”
Tatapannya menegang sesaat.
“Lalu kenapa kamu pilih tinggal di pernikahan ini?”
Aku menatapnya balik. “Karena aku tidak punya pilihan waktu itu.”
Diam. Hening. Tapi tidak menusuk seperti biasanya.
Malamnya, aku mendapati meja bacaku dipenuhi buku-buku baru. Psikologi. Fiksi. Dan satu buku dengan judul yang membuat dadaku sesak:
“Hidup Setelah Trauma: Memaafkan Diri Sendiri.”
Tidak ada catatan. Tidak ada ucapan. Tapi aku tahu... itu dari dia.
Hari-hari setelah itu terasa ganjil.
Arzand mulai pulang lebih cepat. Mulai makan malam di rumah.
Kadang kami bicara. Bukan tentang hal penting. Tapi cukup untuk membuatku merasa... hidup.
Suatu malam, aku membuat teh hangat dan menyajikannya di ruang kerja. Ia sedang membaca dokumen, wajahnya serius. Tapi ketika aku meletakkan cangkir itu, ia berkata:
“Kamu pernah jatuh cinta?”
Pertanyaan itu mengejutkanku.
Aku menatapnya. “Pernah. Tapi rasanya tidak sama seperti yang ditulis di buku.”
Ia menunduk. “Sama. Cinta di hidupku... selalu datang sebagai utang. Bukan pilihan.”
Hening lagi. Tapi entah kenapa, malam itu aku tahu: aku tak lagi sendirian dalam sunyi ini.
Suatu hari, aku membuka pintu balkon dan menemukan bunga kecil di meja rotan. Bunga putih sederhana. Tidak ada catatan.
Tapi aku tahu itu bukan dari Liana.
Dan untuk pertama kalinya... aku tersenyum.
Bukan karena cinta. Tapi karena pengakuan.
Karena meskipun hatinya belum kubuka, setidaknya kini dia mulai mengetuk pintuku lebih dulu.
Aku masih istri kontrak.
Tapi setidaknya, kini aku tak lagi merasa seperti tahanan.
Aku mulai merasa... seperti seseorang yang layak dilihat, meski belum dicintai.
Liana berkata, “Tuan Arzand tidak akan ada di rumah malam ini.”
Aku mengangguk. Tapi anehnya, ada ruang kosong di dadaku yang tak bisa dijelaskan.
Biasanya aku lega kalau rumah ini sunyi. Tapi sekarang... justru terasa lebih sunyi saat dia tidak ada.
Aku menyalakan lampu balkon. Menyeduh teh untuk diri sendiri. Lalu menatap langit yang mendung, seolah sedang menahan hujan.
Aneh ya, pikirku. Sejak kapan aku mulai menunggu seseorang yang bahkan tidak mengizinkan hatinya disentuh?
Jam 10 malam, suara pintu depan membuka pelan.
Aku buru-buru berdiri. Arzand masuk rumah dengan wajah letih, dasinya dilepas separuh.
“Kamu pulang?” tanyaku, suara nyaris berbisik.
Ia menatapku. Kaget, mungkin. Tapi tidak marah.
“Aku berubah pikiran,” ucapnya. “Rumah ini terlalu dingin kalau hanya berisi kesunyian.”
Aku tersenyum kecil. “Kamu baru menyadari itu?”
Arzand mendekat. Tidak menyentuh. Tapi berhenti cukup dekat untuk membuat jantungku berdebar.
“Jangan jatuh padaku, Aulia.”
Aku menegang. “Apa maksudmu?”
“Aku tidak bisa memberi apapun padamu. Bukan cinta. Bukan masa depan. Bahkan... mungkin tidak bisa memberi diriku sepenuhnya.”
Suaranya tenang. Tapi penuh luka.
“Aku tidak minta apa-apa,” bisikku. “Aku hanya ingin tidak diabaikan.”
Dia menatapku lama.
Lalu mengangguk pelan. “Aku akan coba.”
Aku tahu itu bukan janji.
Tapi untuk seseorang seperti Arzand, ‘aku akan coba’ mungkin adalah bentuk perhatian terbesar yang bisa dia berikan.
Dan malam itu, kami duduk di balkon. Diam. Tidak bicara. Tapi juga tidak sendiri.
Mungkin aku tidak akan pernah memiliki hatinya.
Tapi setidaknya… aku tahu dia mulai membuka pintunya.
Dan itu cukup untuk hari ini.
Setelah malam itu, sesuatu berubah.
Tidak drastis. Tidak terlihat dari luar. Tapi aku bisa merasakannya.
Arzand tidak lagi menghindariku. Dia mulai melihat—bukan sebagai istri kontrak, tapi sebagai seseorang yang nyata.
Dia memintaku menemaninya sarapan.
Dia bertanya hal-hal kecil, seperti: "Tidurmu nyenyak?" atau "Kamu suka musik klasik?"
Dan saat aku bicara, dia mendengarkan.
Kami bahkan sempat pergi ke toko buku bersama—dengan syarat aku memakai masker dan kaca mata hitam. Katanya, “Aku tidak ingin siapapun mengenalmu sekarang.”
Bukan karena malu. Tapi karena dunia luar, menurutnya, selalu kejam pada perempuan yang dekat dengan nama besar miliknya.
Di mobil, dalam perjalanan pulang, aku memberanikan diri bertanya.
“Kenapa kamu nggak pernah bawa perempuan ke rumah ini sebelum aku?”
Dia menyandarkan kepala ke kursi. “Karena aku tak percaya siapa pun bisa tinggal tanpa merusak.”
Aku menatapnya lama. “Tapi kamu membiarkanku masuk.”
Dia tidak menjawab langsung. Tapi tangannya—yang biasanya kaku—kali ini membuka jendela sedikit, membiarkan angin masuk.
“Mungkin karena kamu datang bukan untuk mencintaiku.”
Kalimat itu aneh. Tapi juga jujur.
Aku tidak datang membawa cinta. Aku datang membawa luka dan kebutuhan bertahan. Sama seperti dia.
Dan mungkin... justru karena itu kami bisa tenang di hadapan satu sama lain.
Tapi masalahnya, perasaan tidak tinggal diam.
Aku menemukan foto lama terjatuh dari rak buku ruang kerja.
Seorang wanita, cantik, mengenakan gaun putih, sedang memeluk seorang anak laki-laki—mungkin usia 10 tahun.
Wajah anak itu familiar.
Itu Arzand kecil.
Aku menatap foto itu lama. Kemudian, tanpa berpikir panjang, aku menyelipkannya kembali ke dalam rak. Tapi saat aku berbalik, dia sudah berdiri di ambang pintu.
“Siapa yang menyuruhmu buka-buka?” suaranya pelan, tapi tajam.
“Maaf. Fotonya jatuh sendiri.”
Dia masuk, mengambil foto itu dari rak, lalu menyimpannya ke dalam laci terkunci.
“Jangan sentuh masa laluku, Aulia. Itu satu-satunya bagian hidupku yang tidak kubagi dengan siapa pun.”
Aku ingin bertanya: kenapa?
Tapi aku tahu kapan harus diam.
Dan malam itu, kami makan malam tanpa satu kata pun.
Aku kembali merasa seperti tamu. Seperti orang asing.
Mungkin... terlalu dekat juga bisa menyakitkan.
Karena saat seseorang mulai masuk ke ruang paling pribadi, ada ketakutan baru yang muncul—takut kehilangan kendali.
Aku masih di rumah ini. Masih menjadi istri di atas kertas.
Tapi hatiku… mulai terikat pada seseorang yang tidak pernah ingin aku mencintainya.
Aku tahu risikonya.
Aku tahu dia tidak menjanjikan apa pun.
Tapi aku juga tahu, hatiku mulai tumbuh di tempat yang tak seharusnya.
Dan satu-satunya cara untuk bertahan... adalah menekan rasa itu—sebelum ia tumbuh terlalu besar untuk dibendung.
Malam itu, aku kembali duduk di balkon. Sendiri. Hujan turun rintik-rintik, seolah tahu isi kepalaku yang gaduh.
Lalu, samar-samar dari arah lantai tiga,
terdengar bunyi pintu tua berderit,
diikuti suara langkah pelan...
dan suara perempuan menangis tertahan.
Aku berdiri. Menahan napas.
Tapi saat aku mencoba memastikan,
lampu balkon padam sendiri.
Gelap.
Sunyi.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku tinggal di rumah ini,
aku merasa... dia bukan satu-satunya rahasia yang ada di dalam rumah ini.
To be continued.
#H
