Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2 Kontrak yang Tak Bisa Di Langgar

Malam itu, Arzand menunjukkan sisi yang bahkan ia sendiri tak siap hadapi.

Tapi Aulia sudah terlanjur melangkah masuk ke dunia yang dingin dan penuh aturan.

Akankah hati bisa tumbuh dari rasa takut?

Tidak semua kurungan butuh jeruji. Kadang, cukup selembar kertas dan tanda tangan untuk membuatmu kehilangan kebebasan.

Hari itu, Arzand memanggilku ke ruang kerjanya untuk pertama kalinya setelah pernikahan. Ruangan itu dingin, semua tersusun simetris. Buku-buku tebal berjajar rapi, tidak ada satupun foto pribadi. Bahkan tidak ada aroma parfum—hanya bau kayu tua dan kopi yang mulai dingin.

Ia duduk dibalik meja, mengenakan kemeja hitam dan jam tangan perak yang terlihat mahal. Tatapannya seperti biasa: dingin, lurus, tanpa niat berempati.

“Baca ulang ini,” ucapnya sambil mendorong map berwarna abu-abu ke arahku.

Aku duduk pelan. Membuka map itu dengan hati-hati. Aku sudah membaca kontrak ini sejak malam pernikahan, tapi kali ini… dia ingin aku memahami sepenuhnya.

“Klausul 5.1,” katanya. “Apa isinya?”

Aku menarik napas. “Pihak kedua tidak boleh keluar rumah tanpa izin dari pihak pertama. Jika melanggar, kontrak dapat dibatalkan sepihak.”

“Bagus,” jawabnya pendek. “Aku tidak suka mengulangi peringatan.”

Aku mengangguk. Tapi sebelum aku menutup map itu, mataku terhenti pada satu bagian yang dulu tak begitu kupahami:

Pihak kedua wajib menjaga citra pihak pertama dan keluarganya di mata publik. Segala bentuk kontak, komunikasi, atau hubungan dengan media, pihak luar, atau keluarga sendiri harus seizin pihak pertama.

Aku menatapnya. “Jadi… aku tidak boleh bertemu keluargaku?”

“Ada alasannya kenapa ini disebut pernikahan kontrak, Aulia,” jawabnya. “Dan dalam kontrak ini, kamu milikku. Sampai waktunya habis.”

Hatiku mencelos. “Aku bukan barang.”

“Kamu yang menandatanganinya,” katanya tanpa ekspresi. “Kamu tahu resikonya.”

Aku ingin membantah. Tapi mulutku berat. Mungkin karena… dia tidak salah. Tidak ada yang memaksaku meneken kontrak ini—kecuali keadaan.

Malamnya, aku duduk di kamar sambil menatap selembar kertas kosong. Aku ingin sekali menuku tapi apa yang harus kutulis?

“Aku baik-baik saja di rumah suami yang tidak mencintaiku?”

“Aku tidur sendirian di kamar mewah yang dinginnya seperti kutukan?”

“Aku tidak boleh menemuimu selama enam bulan hanya karena uang?”

Kertas itu tetap kosong.

Besok paginya, Liana membawakanku ponsel baru.

“Ini dari Tuan Arzand,” katanya.

Ponsel itu terkunci. Hanya ada dua aplikasi di layar utama: Notes dan Kalender. Tak ada media sosial. Tak ada WhatsApp. Hanya alat untuk mencatat dan menjadwalkan.

Aku menatap Liana. “Ini buat apa?”

“Kalau Nona punya permintaan, catat di Notes. Atau kalau ingin bicara dengan Tuan, buat janji di Kalender. Seperti sekretaris.”

Hatiku nyeri. Bukan karena ponsel itu. Tapi karena sekarang… aku bahkan harus minta izin untuk bicara.

Aku tinggal di rumah suamiku, tapi tidak benar-benar diizinkan hidup di dalamnya.

Malam itu, aku nekat keluar kamar dan berjalan ke arah ruang musik—ruangan yang katanya dulu milik ibunya. Ruangan yang selalu terkunci… kecuali malam itu.

Ketika aku mendorong pintunya, aroma lavender menyambutku. Ada grand piano putih di tengah ruangan. Foto seorang wanita elegan tergantung di dinding. Wajahnya tenang, tapi matanya menyimpan kesedihan yang tak bisa dijelaskan.

Aku melangkah masuk. Menyentuh piano pelan.

Dan baru kusadari—di pojok ruangan, Arzand berdiri. Membelakangiku. Membeku.

“Kamu tidak seharusnya di sini,” katanya tanpa menoleh.

Aku nyaris minta maaf. Tapi pertanyaanku lebih cepat keluar.

“Itu ibumu?”

Ia menoleh perlahan. Matanya tajam. Tapi untuk pertama kalinya, ada retak kecil dalam tatapannya.

“Dia mati karena orang-orang yang menganggap hidup itu permainan.”

Aku terpaku. Tak tahu harus berkata apa.

“Aku tidak akan biarkan siapapun mengotori hidupku lagi,” ucapnya, lalu melangkah melewatiku, keluar dari ruangan itu.

Aku berdiri lama di sana, sendirian. Mendengarkan gema suaranya di kepalaku.

Mungkin ini sebabnya dia membuat kontrak.

Mungkin ini sebabnya dia menjaga jarak.

Tapi bagaimana kalau aku tidak ingin hidup seperti perjanjian ini? Bagaimana kalau… aku mulai ingin hidup sebagai seseorang, bukan sebagai syarat?

Setelah kejadian di ruang musik malam itu, aku tidak melihat Arzand dua hari.

Bukan karena dia pergi. Tapi karena dia menghilang dari segala jejak. Tidak di ruang kerja, tidak di meja makan, bahkan pintu kamarnya tertutup rapat.

Liana bilang, “Kalau dia menarik diri, jangan ganggu.”

Tapi bagaimana mungkin aku tidak penasaran? Aku tinggal di rumah ini, tapi rasanya seperti tinggal di museum yang hanya boleh dilihat dari jauh.

Aku ingin tahu lebih banyak tentang pria yang kunikahi. Bukan karena ingin jatuh cinta—tapi karena aku tidak mau terus menjadi bayangan yang hidup dari rasa takut.

Aku mulai bertanya-tanya, bukan tentang kontrak, tapi tentang hatinya.

Siapa yang menghancurkannya sampai segitunya?

aku tidak bisa tidur. Jadi aku keluar ke dapur.

Di sana, cahaya redup menyala. Dan Arzand... duduk sendiri. Memegang gelas kecil, tanpa kopi.

“Kamu belum tidur?” tanyaku pelan.

“Aku jarang tidur,” jawabnya tanpa menoleh.

Aku berdiri kaku. Tapi entah kenapa... dia tidak mengusirku.

“Kenapa kamu buat kontrak yang seketat ini?” tanyaku akhirnya. “Kenapa menikah kalau kamu sendiri tidak percaya pada pernikahan?”

Arzand mendongak pelan. Wajahnya masih datar, tapi matanya tidak.

“Karena aku tidak percaya pada cinta.”

Aku mengangguk. “Tapi... kamu percaya kontrol.”

Ia menatapku. “Kontrol menyelamatkanku. Cinta menghancurkanku.”

Jawaban itu mengendap di benakku. Lama.

“Kamu tahu?” bisikku lirih. “Aku menikah karena cinta... tapi bukan cinta dariku. Cinta dari keluarga yang ingin menyelamatkan kehormatan mereka. Dan cinta itu juga... menghancurkanku.”

Hening. Tapi kali ini, bukan hening yang dingin.

Hening yang sama-sama mengerti luka masing-masing.

“Mungkin,” ucapnya akhirnya. “Kita berdua sama-sama korban dari cinta yang salah.”

Di meja itu, untuk pertama kalinya, kami tidak saling menyerang.

Tidak juga saling menutupi.

Kami hanya duduk. Diam. Tapi tidak lagi sendirian.

Besok paginya, aku mendapati map kontrak itu di meja kamarku.

Tapi kali ini, ada catatan kecil di atasnya.

“Klausul 6.2: Jika kedua belah pihak sepakat, kontrak bisa disesuaikan. Tapi konsekuensi tetap berlaku.”

Di bawahnya, tulisan tangan itu menambahkan:

“Kalau kamu ingin menambahkan aturan... kamu boleh.”

Aku menggenggam kertas itu erat.

Mungkin hatinya masih terkunci.

Tapi dia mulai mengetuk balik.

Aku meletakkan map itu di pangkuanku. Mataku terpaku pada tulisan tangan Arzand:

“Kalau kamu ingin menambahkan aturan... kamu boleh.”

Bagian dari diriku ingin tersenyum. Tapi bagian lainnya... terlalu lelah berharap.

Kukembalikan map itu ke mejanya tanpa menambahkan apa-apa. Karena saat seseorang mulai memberimu izin untuk memilih... kadang itu justru lebih menyesakkan. Seolah ia sedang bilang: “Kau boleh menetap, tapi jangan berharap tinggal selamanya.”

Ruang rumah ini masih sama. Tapi atmosfernya berubah sedikit.

Aku kini diperbolehkan keluar kamar tanpa merasa harus sembunyi. Tapi itu tidak berarti aku bebas.

Aku masih harus izin untuk keluar rumah. Masih harus menjadwalkan waktu untuk bicara. Dan yang paling sulit: aku masih harus menenangkan diriku sendiri setiap kali merasa kosong.

Liana bilang, “Tuan Arzand memang seperti itu. Tapi dia tidak seburuk yang kamu pikir.”

Aku hanya tersenyum tipis. Bukan karena aku setuju. Tapi karena aku mulai mengerti satu hal:

Arzand bukan pria yang tidak punya hati.

Dia hanya terlalu sering mengunci dirinya sendiri. Dan lupa dimana kuncinya.

Malam itu, aku kembali duduk di balkon.

Udara dingin menyelinap ke sela leherku. Tapi rasanya masih lebih hangat dibanding dinginnya sikap suamiku.

Saat sedang menyeduh teh, aku mendengar suara langkah.

Arzand.

“Teh?” tawarku, tanpa menoleh.

Ia tidak langsung menjawab. Tapi akhirnya duduk di kursi sebelah.

“Kamu suka malam?” tanyanya pelan.

Aku mengangguk. “Malam lebih jujur. Semua jadi sunyi. Jadi bisa dengar diri sendiri.”

Ia memejamkan mata sebentar. “Aku benci malam. Terlalu banyak kenangan datang tanpa diundang.”

Kami diam cukup lama setelah itu. Tapi kali ini, diamnya tidak membunuh.

Diamnya membuatku bertanya-tanya... berapa banyak kenangan yang ia simpan sendirian selama ini?

Beberapa hari berikutnya, kami seperti masuk zona abu-abu.

Tidak bisa dibilang dekat. Tapi tidak sejauh dulu.

Aku beberapa kali mendapati dirinya pulang lebih cepat. Atau meninggalkan buku di meja bacaku. Atau sesekali menatapku lebih lama dari biasanya, sebelum kembali menekuk wajah dinginnya.

Sampai suatu sore, aku melanggar satu aturan.

Aku keluar rumah.

Tanpa izin.

Bukan karena ingin memberontak. Tapi karena ibuku tiba-tiba sakit dan adikku menghubungi lewat nomor lama yang masih tersambung. Aku panik. Dan aku pergi, tanpa sempat berpikir panjang.

Satu jam kemudian, ketika aku pulang...

Arzand sudah berdiri di depan pintu.

Wajahnya gelap. Matanya dingin. Tapi bukan dingin biasa—ini dingin yang mengancam.

“Siapa yang mengizinkan kamu keluar?”

Aku menunduk. “Aku minta maaf. Aku hanya—”

“Bukan itu yang kutanya, Aulia.”

Suaranya pelan. Tapi lebih tajam dari teriakan mana pun.

“Aku sudah bilang. Kontrak ini ada batas. Kau melanggar. Kau tidak lebih baik dari orang-orang yang kupaksa keluar dari hidupku.”

Hatiku nyeri. Aku ingin menjelaskan. Tapi dia tidak memberi ruang.

“Kau pikir aku membuat semua aturan ini untuk menyiksamu? Tidak. Aku membuatnya agar tidak ada satupun yang bisa menghancurkan sistem yang kubuat... termasuk kamu.”

Aku menggigit bibirku. Menahan tangis yang sudah sampai di pelupuk.

“Aku hanya ingin menjenguk Ibu. Dia—”

“Kau tetap melanggar.”

“Kalau begitu, batalkan saja kontraknya.”

Aku tidak tahu dari mana keberanian itu keluar. Tapi aku tak bisa lagi menerima bahwa semua yang kulakukan harus diaudit dengan dingin seperti itu.

Dia menatapku dalam-dalam. Untuk pertama kalinya, aku lihat sesuatu di matanya—bukan amarah, bukan benci. Tapi takut.

Takut ditinggalkan?

Takut kehilangan kontrol?

Atau takut... karena ia mulai mengizinkan dirinya peduli?

To be continued

#H

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel