4. Melihat Tubuh Indah Majikanku
"Suara siapa itu?"
Emma tertegun. Tubuhnya mendadak terasa gemetar. Ia menajamkan indra pendengarannya, memastikan dirinya tidak salah dengar.
"Ahh! Ohh! Sshh! Mmpphh!"
Suara desahan itu semakin jelas, terdengar samar-samar dari dalam kamar mandi yang berada di dalam ruangan ini. Suaranya kian cepat dan terdengar semakin menuntut, seolah sedang melakukan sesuatu yang butuh penyelesaian dengan cepat.
Emma menelan ludah dengan susah payah. Ia melirik pada Yessy. Gadis kecil itu nampak tertidur nyenyak di ranjang, dan sepertinya ia tak terusik oleh suara aneh yang memenuhi kamarnya.
Jantung Emma terasa berdebar kencang. Keringat dingin mulai membasah di pelipisnya.
"Apakah ada orang lain di kamar ini? Siapa yang ada di dalam kamar mandi? Atau ... jangan-jangan ...?"
Pikiran negatif nya mulai berkelana ke berbagai kemungkinan.
Ia menggigit bibir bawahnya, ragu antara tetap berdiri di tempat atau mendekati kamar mandi untuk memastikan. Namun, rasa penasaran semakin menguasainya.
"Aku harus melihat, ada apa ini?"
Dengan langkah pelan, ia maju beberapa langkah. Tangannya bergetar saat ia hendak mengetuk pintu, tetapi sebelum sempat melakukan itu, tiba-tiba saja ....
Ceklek!
Pintu kamar mandi itu terbuka mendadak.
"Aaa!" Emma menjerit tertahan dan refleks melangkah mundur.
Dari balik pintu yang terbuka, seorang pria muncul dengan tubuh masih basah, hanya berbalut handuk putih yang melilit sebatas pinggangnya. Otot-otot perutnya yang six-pack terlihat jelas, dan mengilap karena tetesan air yang masih menempel. Rambutnya masih setengah basah, acak-acakan, tetapi tetap tampak memancarkan aura maskulin yang kuat.
Emma membeku di tempat. Matanya membelalak, wajahnya langsung memanas.
"Tu ... Tuan Yudha!"
Yudha tampak sangat terkejut saat melihat Emma berdiri di sana. Sejenak, hanya keheningan yang menyelimuti ruangan. Tatapan mereka berdua saling bertemu, hingga membuat jantung Emma kian berdetak kencang. Menyadari situasi itu, Emma pun buru-buru menunduk. Ia merasa malu luar biasa.
"Tu ... Tuan." Suaranya nyaris tak terdengar.
Ekspresi Yudha berubah cepat. Setelah rasa kagetnya mereda, kini mata elangnya menatap Emma dengan tajam. Rahangnya mengeras, dan dalam sekejap wajahnya terlihat penuh amarah. Ia berkacak pinggang, membuat dada bidangnya semakin terlihat mengeras dan macho.
"Emma, apa yang kamu lakukan di sini, hah?!" suaranya terdengar dingin dan penuh kemarahan.
Emma semakin panik. Wajahnya berubah memucat.
"Saya ... saya hanya ..."
Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Tidak mungkin ia berkata bahwa dirinya mendengar suara aneh dari kamar mandi dan mengira ada sesuatu yang tidak beres.
Itu terdengar konyol!
Yudha melangkah keluar mendekat ke arah Emma. Ketika tubuh tinggi tegapnya semakin mendekat, membuat Emma merasa semakin kecil. Ia buru-buru mundur selangkah, degup jantungnya kian kencang dan tak terkendali.
"Dasar orang miskin kampungan! Kamu lancang sekali masuk ke kamar putriku tanpa izin! Kamu itu di sini cuma babu, cuma Babysitter putriku! Jadi jangan merasa punya hak atas setiap sudut dari rumah ini. Keluar sekarang juga!" Suara Yudha terdengar geram.
Emma menunduk dalam, wajahnya terasa panas.
"Maaf, Tuan ..." suaranya bergetar.
Yudha mengembuskan napas keras, tampak kesal. Ia menegakkan tubuhnya, menyadari betapa salahnya situasi ini. Ia baru saja keluar dari kamar mandi dalam keadaan setengah tel*njang, sementara Emma berdiri di depannya dengan wajah merah padam dan tubuh kaku seperti patung.
Sial! Ini benar-benar canggung!
"Hey, gadis kampungan! Kenapa kamu masih berdiri di situ?!" bentaknya lagi, kali ini suaranya sedikit lebih tinggi, berusaha menutupi kecanggungannya sendiri.
"Pergi sekarang juga!" usir Yudha kasar.
"I ... Iya, Tuan."
Emma pun buru-buru berbalik dan nyaris tersandung kakinya sendiri saat berjalan menuju pintu. Dengan panik, ia membuka pintu dan segera melangkah keluar tanpa berani menoleh lagi.
Begitu pintu tertutup, Yudha mengusap wajahnya kasar dan mengembuskan napas panjang. Ia memejamkan mata sejenak, lalu menggeleng pelan.
"Sial ...." gumamnya seraya melayangkan tinju ke udara, merasa frustasi dengan apa yang baru saja terjadi.
Sementara itu, Emma berlari cepat meninggalkan kamar Yessy. Air matanya jatuh, tapi ia segera menyekanya dengan cepat.
Brak!
Ia berlari ke kamarnya dan membuka pintu dengan kasar. Begitu pintu tertutup dengan keras, Emma menyandarkan tubuhnya di daun pintu. Di sana ia langsung menangis sejadi-jadinya.
"Huhuhu! Kenapa Tuan Yudha tega banget? Padahal kan aku cuma ingin melihat keadaan putrinya." Emma meraup wajahnya kasar dan mengacak-acak rambutnya.
Ia memejamkan kedua matanya rapat-rapat, membiarkan air matanya jatuh menggelinding begitu saja membasahi pipi. Namun ketika matanya terpejam, tiba-tiba saja bayangan Yudha terlintas di pikirannya.
Bagaimana tubuh tinggi tegap itu berdiri tepat di hadapannya. Perutnya yang sixpack, lengannya yang berotot nan kekar, serta dada bidang yang tampak keras dan nyaman jika menjadi tempat bersandar ....
"Ah! Apa-apaan sih aku ini? Enggak enggak! Buang pikiran kotor ini jauh-jauh dari otakku." Emma tersentak dan segera tersadar.
Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat berulang kali, berusaha menepis bayangan tubuh atletis Yudha yang tiba-tiba saja masuk ke dalam pikirannya.
Tak ingin terbebani oleh pikiran yang bukan-bukan, Emma memilih untuk cepat-cepat pergi ke tempat tidurnya. Ia berbaring terburu-buru dan lekas menutupi seluruh tubuh dengan selimut hingga ke ujung kepalanya.
"Aku harus cepat-cepat tidur, supaya aku nggak teringat masalah ini terus," gumam Emma sambil berusaha memejamkan matanya rapat-rapat.
Akan tetapi, setiap kali ia berusaha untuk terpejam dan tertidur, tiba-tiba bayangan wajah tampan Yudha kembali melintas dalam pelupuk matanya.
***
Pagi ini di rumah megah milik Yudha, suasana masih terasa sunyi. Sinar matahari menerobos masuk melalui celah tirai, menghangatkan kamar tempat Emma tidur.
"Uhh!"
Gadis itu menggeliat malas, matanya masih berat akibat kurang tidur semalaman.
Emma duduk di tepi ranjang dan menghela napas panjang. Wajah Yudha muncul di benaknya, membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Ia menggeleng cepat, berusaha mengusir bayangan itu, lalu melihat jam di dinding.
"Astaga! Aku kesiangan!" serunya panik.
Dengan tergesa, ia bangkit dan berlari menuju dapur. Di sana, Bi Imah sudah selesai menata sarapan di meja.
"Maaf, Bi! Aku kesiangan, jadi nggak bisa bantu..." ucap Emma dengan wajah bersalah.
Bi Imah tersenyum maklum. "Nggak apa-apa, Na. Aku tahu kerjaan kamu juga berat. Ngurusin Nona kecil itu nggak gampang."
Emma tersenyum tipis, lalu mengambil nampan berisi sarapan untuk Yessy. Ia melangkah menuju kamar gadis kecil itu dan mengetuk pintu perlahan sebelum masuk.
"Selamat pagi, Nona kecil. Sarapannya sudah siap," ujar Emma lembut.
Yessy, gadis berusia lima tahun dengan rambut panjang dan mata tajam seperti ayahnya, hanya melirik sekilas tanpa berkata apa-apa. Ia tetap asyik dengan boneka di tangannya.
"Ayo, Yessy, sarapan dulu. Biar nanti nggak sakit perut," bujuk Emma, berusaha tersenyum.
Namun, Yessy tetap diam. Emma mencoba menyuapinya, tapi tiba-tiba gadis kecil itu menepis piring dari tangannya. Piring itu jatuh ke lantai, membuat bunyi nyaring yang langsung mengundang perhatian.
Prangg!
"Apa yang terjadi?" suara bariton terdengar dari arah pintu.
