Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

3. Suara Desahan di Kamar Mandi

"Mau punya Mama?" Yudha mengulangi pertanyaan putrinya itu.

"Iya, Pa." Yessy mengangguk cepat.

Yudha terdiam sejenak. Ada bayangan duka melintas di matanya sebelum ia menoleh ke Emma, memberi isyarat agar ia berbicara.

Emma mengangguk dan tersenyum lembut, lalu berjongkok agar sejajar dengan Yessy.

"Halo, Yessy," katanya dengan suara hangat. "Aku nggak akan mengganggumu kalau kamu nggak mau. Aku cuma ada di sini kalau kamu butuh teman."

Gadis kecil itu masih menatapnya lama, seolah menimbang apakah Emma pantas berada di kamarnya.

Lalu, dengan suara pelan, ia mendengus.

"Kita lihat saja nanti."

Yudha menatap Emma dalam-dalam sebelum berkata, "Kita coba seminggu dulu. Kalau kau bisa membuat Yessy menerimamu, kamu boleh tetap di sini."

Emma mengangguk. Ia tahu, ini bukan sekadar pekerjaan. Ini ujian, dan ia harus berhasil.

“Aku akan buktikan kalau aku bisa, Pak,” ucap Emma yakin.

***

Sudah dua hari ini, Emma resmi memulai pekerjaannya sebagai pengasuh Yessy. Namun, sejak ia bangun hingga matahari hampir mencapai titik tertingginya, gadis kecil itu tidak menunjukkan sedikit pun tanda ingin berinteraksi dengannya.

Saat sarapan tadi, Yessy hanya diam, menunduk, dan menyuapkan makanannya tanpa berkata sepatah kata pun. Bahkan ketika Emma mencoba berbasa-basi, anak itu hanya melirik sekilas sebelum kembali mengaduk-aduk makanannya.

Emma menarik napas panjang. Sepertinya butuh waktu lebih lama untuk mendapatkan kepercayaan gadis kecil itu.

Akhirnya, daripada duduk diam menunggu, Emma memutuskan untuk membantu Bi Imah di dapur. Wanita paruh baya itu adalah kepala asisten rumah tangga di rumah ini. Dengan wajah ramah dan senyum lembut, Bi Imah menyambutnya dengan senang hati.

“Kamu bisa kupas bawang ini, Nak?” tanya Bi Imah sambil menyodorkan beberapa siung bawang merah.

Emma tersenyum dan mengangguk. “Tentu, Bi. Saya juga suka masak, kok.”

Bi Imah terkekeh. “Bagus kalau begitu. Rumah ini memang besar, tapi sepi. Jarang ada orang yang bisa diajak ngobrol lama.”

Emma mengangguk pelan, memahami maksud perkataan Bi Imah. Rumah ini memang luas dan mewah, tapi ada perasaan hampa yang menggantung di udara. Seolah penghuninya membawa luka yang belum sembuh.

Saat ia sibuk mengupas bawang, tiba-tiba ponselnya yang masih di-charge berbunyi nyaring. Emma tersentak dan buru-buru mengelap tangannya sebelum mengambil ponselnya yang layar retaknya makin terlihat jelas.

Rangga is Calling!

Emma membelalak. Dia lupa memberi tahu Rangga bahwa ia sudah mendapat pekerjaan. Segera ia menekan tombol jawab.

“Halo, Rangga?”

“Emma, kamu di mana sih? Aku dari kemarin pergi ke lokasi yang kamu share, tapi kamu nggak ada!” suara Rangga terdengar kesal di seberang sana.

Emma menggigit bibirnya. Kemarin ponselnya nya lowbat dan ia baru mencharge ponselnya hari ini. Ia bahkan lupa menghubungi kekasihnya itu.

“Maaf, Rangga. Aku lupa menghubungi kamu. Jadi aku kemarin tuh dikejar preman, jadi aku harus kabur. Tapi aku baik-baik aja sekarang. Aku … aku juga sudah dapat kerja.”

Hening sejenak sebelum Rangga menghela napas berat. “Kenapa nggak bilang? Aku panik, tahu!”

Emma menunduk, merasa bersalah.

“Maaf … aku lupa.”

Rangga masih terdengar kesal. “Aku mau ketemu. Kapan kita bisa ngobrol?”

Emma menatap ke arah Bi Imah yang masih sibuk memasak. “Aku nggak bisa keluar sekarang. Aku masih baru kerja di sini. Jadi aku nggak bisa keluar seenaknya aja, Rangga.”

“Besok sore, gimana?” desaknya.

Emma ragu. Ia baru mulai bekerja dan belum tahu apakah bisa keluar rumah atau tidak. Tapi jika ia menolak lagi, Rangga pasti akan semakin kesal.

“Oke,” katanya akhirnya. “Aku bakal cari cara buat keluar.”

“Bagus.” Suara Rangga melembut. “Jangan sampai batal, ya.”

“Hmm, iya iya. Aku usahakan.” Emma cepat-cepat mengakhiri panggilannya dengan Rangga.

Setelah menutup telepon, Emma menarik napas panjang. Namun, sebelum ia bisa kembali membantu Bi Imah, suara jeritan melengking terdengar dari lantai atas.

“Papa!”

Itu suara Yessy!

“Astaga! Apa yang terjadi sama dia?”

Jantung Emma berdegup kencang. Ia segera berlari menaiki tangga, napasnya memburu. Ia membuka pintu kamar Yessy dan melihat gadis kecil itu duduk di tempat tidur, menangis dengan tubuh gemetar.

“Mama… Yessy mau Mama…” isaknya pelan.

Emma segera mendekat dan duduk di sampingnya. Dengan hati-hati, ia merangkul gadis kecil itu.

“Ssst, Yessy. Kakak di sini,” bisiknya lembut. “Gak apa-apa. Itu cuma mimpi buruk.”

Tapi Yessy tetap menangis. “Papa di mana?”

Emma menoleh ke sekeliling ruangan. Yudha tidak ada.

“Papa masih di luar, Yessy,” katanya lembut. “Tapi Kakak di sini. Kamu aman.”

Namun, sebelum Yessy sempat merespons, pintu kamar terbuka lebar, dan Yudha muncul dengan wajah penuh kemarahan.

“Apa yang terjadi?” suaranya tajam. Matanya langsung tertuju pada Emma yang masih memeluk Yessy.

Yessy masih menangis, tidak bisa menjawab.

“Dia mimpi buruk, Pak,” jawab Emma dengan hati-hati. “Saya cuma menenangkannya.”

Yudha melangkah mendekat. Tatapannya dingin dan penuh kecurigaan.

“Kamu dipekerjakan di sini untuk menjaga anakku, bukan membuatnya semakin takut!”

Emma tersentak. “Tapi, Pak. Saya tidak ….”

“Keluar!”

Suaranya tegas dan tidak memberi ruang untuk penjelasan.

Emma menunduk, merasa dipermalukan. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia bangkit dan melangkah keluar dengan mata berkaca-kaca. Saat ia menutup pintu, hatinya terasa begitu berat.

Di bawah, Bi Imah melihatnya dengan tatapan prihatin. “Kamu dimarahi, ya?”

Emma mengangguk lemah.

“Iya, Bi.”

Bi Imah menghela napas. “Tuan Yudha memang begitu. Sejak istrinya meninggal dua tahun lalu, dia berubah jadi lebih keras.”

Emma terdiam. Jadi itu alasannya.

Mungkin, pria itu tidak benar-benar marah padanya. Mungkin, kemarahannya lahir dari luka yang belum sembuh.

***

Malam semakin larut dan saat semua sudah tertidur, Emma masih terjaga di tempat tidurnya dan memainkan ponselnya. Tiba-tiba ada sebuah pesan masuk dari Rangga. Lalu, sebuah foto menyusul.

“Pap untuk kesayanganku,” ujar Rangga di foto itu.

Emma tersenyum kecil dan membalas dengan foto dirinya.

“Capek banget.” Emma memberi caption pada fotonya yang terlihat cantik, tapi lelah.

“Foto yang lain dong, Sayang,” pinta Rangga dalam pesannya.

“Yang mana?”

“Itu yang bawah.”

“Nggak mau! Kamu nggak usah hubungi aku lagi kalau cuma minta itu!” tolak Emma, membalas pesan itu dengan kesal.

“Ya udah ya udah! Nggak lagi deh.”

Emma kesal karena Rangga selalu minta pap foto bagian itunya. Dia tak membalas kekasihnya itu lagi dan langsung meletakkan ponselnya begitu saja. Ia memutuskan untuk tidur saja. Namun, tiba-tiba pikirannya kembali melayang pada Yessy.

“Bagaimana kalau dia mengalami mimpi buruk lagi?”

“Huft! Lagipula kan dia sudah sama papanya. Tapi ….” Tiba-tiba Emma merasa cemas.

Tanpa pikir panjang lagi, ia cepat-cepat bangkit dan berjalan menaiki tangga dengan hati-hati menuju kamar Yessy. Pintu kamar Yessy tidak tertutup sepenuhnya. Emma pun mengintip ke dalam dengan hati-hati.

Yessy terlihat tidur sendirian, wajahnya terlihat lelah setelah menangis tadi.

“Kenapa dia sendirian? Di mana Tuan Yudha?” Emma menatap ke arah kamar besar itu dengan alis berkerut.

Khawatir dengan kesendirian Yessy, Emma pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dan duduk di lantai, tepat di samping gadis kecil itu. Ia menatap Yessy dengan senyum di wajahnya.

“Aku akan menemani kamu di sini, supaya kamu nggak takut lagi.” Emma kemudian menguap, merasakan kantuk luar biasa.

“Ahh! Ohh! Sshhh!”

“Hah?”

Suara desahan terdengar, membuat Emma membuka kedua matanya lebar-lebar.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel