Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

5. Ahh, Sentuh Aku, Tuan

Emma menoleh dan melihat Yudha berdiri di ambang pintu dengan ekspresi tajam. Mata elangnya langsung menangkap pecahan piring di lantai dan wajah putrinya yang cemberut.

"Maaf, Tuan. Saya …."

"Apa susahnya mengurus anak kecil?" potong Yudha dingin. "Kalau nggak becus, bilang!"

Emma menunduk, menahan tangis yang mulai menggenang di pelupuk mata. Yudha menghela napas, lalu berjongkok dan mencoba berbicara dengan Yessy.

"Kamu nggak apa-apa kan, Sayang?" tanya Yudha dengan nada panik.

Yessy hanya menggeleng pelan, membuat papanya tersenyum dan mengusap lembut rambut sang putri.

"Syukurlah kalau begitu. Yessy jaga diri baik-baik di rumah ya. Papa berangkat kerja dulu, sayang."

Namun, gadis kecil itu tidak merespons. Ia hanya berbalik dan berjalan keluar menuju ruang bermainnya, meninggalkan Yudha yang tampak sedikit kecewa. Yudha bangkit dan menatap Emma tajam.

"Jaga dia baik-baik. Aku nggak mau dengar laporan buruk lagi. Kalau sampai terjadi hal buruk pada putriku, maka kamu akan menerima hukuman berat dariku."

Emma hanya mengangguk tanpa berani menatap pria itu.

Setelah Yudha pergi, Emma menghabiskan waktu seharian untuk membujuk dan menemani Yessy. Hingga sore menjelang, rasa lelah menyergapnya. Ia akhirnya duduk di ranjang kamarnya, mengambil ponselnya dan melihat ada pesan masuk.

Itu dari Rangga, kekasihnya. Pesan itu membuat Emma tersenyum ringan.

[Sayang, Kapan kita ketemu? Aku kangen. Masa selama kamu di Jakarta, kita cuma pacaran virtual terus?]

Emma menggigit bibir, merasa sedikit bersalah. Selama ini, ia memang sibuk bekerja hingga belum pernah menemui Rangga secara langsung. Setelah berpikir sejenak, ia akhirnya mengetik balasan.

[Oke, kita ketemu sore ini. Di kafe ya. Nanti aku shareloc.]

[Serius? Yes! Aku tunggu ya, sayang.]

Emma menghela napas lalu bangkit. Ia keluar kamar dan menghampiri Bi Imah di dapur.

"Bi, aku mau ke minimarket sebentar, ya. Ada yang mau dititip?" tanyanya dengan nada santai.

Bi Imah menggeleng.

"Nggak ada. Kamu hati-hati ya, Emma. Jangan pulang malam-malam."

"Iya, Bi," jawab Emma sebelum melangkah keluar.

Namun, ia tidak pergi ke minimarket. Langkahnya justru mengarah ke sebuah kafe kecil di pusat kota, tempat ia akhirnya akan bertemu Rangga untuk pertama kalinya.

*

Emma akhirnya tiba di kafe itu, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Tangannya masih memegang ponsel, jempolnya cepat mengirim shareloc ke Rangga. Suara denting pintu kaca berbunyi saat ia masuk, aroma kopi yang pekat langsung menyambutnya, bercampur dengan suara mesin espresso dan musik jazz lembut yang mengalun pelan.

Ia duduk di salah satu meja dekat jendela. Dari balik kaca, sinar matahari sore menembus tirai tipis, menciptakan bayangan hangat di wajahnya. Tak lama kemudian, pintu kafe kembali terbuka. Rangga masuk dengan senyum yang selama ini hanya ia lihat lewat layar ponsel.

“Emma?” panggilnya, suaranya lebih nyata daripada pesan suara yang biasa ia dengar.

Emma tersenyum kikuk, dan berdiri sebentar untuk menyambut sang kekasih.

“Hai, akhirnya ketemu juga ya.”

Mereka duduk berhadapan. Rangga menaruh tasnya di samping kursi lalu melambai ke arah barista.

“Kamu suka cappuccino nggak?” tanyanya.

Emma mengangguk pelan. “Aku suka kok.”

“Pas banget, aku juga. Biar aku yang pesen, ya.”

Rangga bangkit, lalu kembali beberapa menit kemudian dengan dua cangkir cappuccino hangat di atas nampan. Buih putih dengan sedikit taburan cokelat menghiasi permukaan, mengeluarkan aroma manis yang menggoda.

Mereka mulai berbincang, canggung pada awalnya, tapi perlahan obrolan mengalir. Tawa kecil, pandangan yang saling bertemu lalu cepat-cepat dialihkan. Emma merasakan kehangatan berbeda yang tak pernah ada saat mereka hanya berhubungan lewat layar.

Ia mengangkat cangkir cappuccino, menyeruput pelan. Rasa pahit dan manis bercampur, meninggalkan jejak hangat di tenggorokannya. Namun, beberapa saat setelah menelan tegukan kedua, Emma tiba-tiba merasakan sesuatu yang janggal.

Kepalanya terasa sedikit ringan, seperti ruangan berputar pelan. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan lagi karena gugup. Tangannya yang memegang cangkir mulai gemetar samar.

“Rangga,” suara Emma terdengar lirih, hampir tenggelam di antara riuh pelan kafe. Ia meletakkan cangkir itu kembali ke meja dengan hati-hati, takut isinya tumpah.

“Aku … aku merasa aneh.”

Rangga menatapnya dengan alis berkerut dan khawatir.

“Aneh gimana? Kamu pucat, Emma.”

Emma mengatur napasnya, tapi tubuhnya semakin tak terkendali. Kehangatan cappuccino yang tadi menenangkan kini justru meninggalkan sensasi asing di tubuhnya, entah apa yang sedang terjadi.

"Kamu kenapa, Emma? Wajahmu merah banget."

Suara Rangga terdengar samar di telinga Emma. Kepalanya terasa berat, napasnya tersengal, dan tubuhnya seperti terbakar dari dalam. Ia mengerjap, berusaha fokus pada pria di hadapannya, tetapi pandangannya mulai kabur.

"Aku … nggak tahu, Rangga." Suaranya gemetar, tangannya mencengkeram tepi meja kafe. "Tubuhku panas, aneh, dan seperti ada yang salah."

Rangga mengernyit. "Kamu sakit? Kita ke dokter sekarang."

Emma ingin mengangguk, tapi tiba-tiba ....

Brak!

Seseorang mencengkeram lengannya kuat-kuat. Emma mendongak dan bertemu dengan tatapan tajam Yudha.

"Waktumu sudah habis," ujar pria itu dingin. "Ayo pulang."

Emma tersentak.

“Ta … tapi aku …."

"Tidak ada tapi. Pulang sekarang!"

"Tunggu dulu, Bro! Dia di sini karena ada urusan denganku. Tidak seharusnya kau langsung menariknya seperti itu," ujar Rangga tak terima.

"Persetan denganmu, Sialan!"

Yudha menarik Emma berdiri dengan kasar mengabaikan Rangga yang terkejut dan memprotes. Dengan langkah tegas, pria itu menyeret Emma keluar dari kafe, dan membawanya masuk ke dalam mobilnya tanpa memberikan penjelasan sedikit pun.

"Tuan, lepas! Jangan perlakukan saya seperti ini!"

Emma ingin marah, ingin berteriak, tapi tubuhnya terlalu lemah. Matanya mulai berair, tubuhnya gemetar, dan dadanya bergemuruh dengan perasaan asing yang semakin tak tertahankan.

Setibanya di rumah, Yudha segera menghempaskan tubuh Emma dan mendorongnya ke sofa ruang tamu hingga kepala gadis itu membentur sandaran sofa. Kebetulan rumah sedang tampak sepi sore itu, sehingga tak ada yang melihat keributan antara Emma dan Yudha. Emma menangis dan terduduk di sofa sambil mencengkeram bajunya sendiri. Nafasnya semakin berat.

"Hari ini kau sudah membuat kesalahan fatal! Apa kau ini tidak pernah diajari tata tertib oleh orang tuamu, hah?" bentak Yudha murka.

"Tuan Yudha!" suaranya nyaris hanya bisikan.

Yudha berkacak pinggang, sambil menoleh tajam penuh amarah.

"Apa lagi, hah? Kau sudah lancang karena berani keluar tanpa izin. Ini waktumu untuk memandikan Yessy, tapi kau malah pergi ke cafe dan bertemu dengan pacarmu itu. Apa kau lupa kalau kau itu di sini untuk bekerja, hah? Kau itu hanya gadis kampung miskin yang harus cari uang untuk bisa makan. Setelah aku berikan kesempatan, apa ini yang bisa kau kerjakan hah? Pacaran nggak jelas sama laki-laki tadi!"

Emma menelan ludah. Bibirnya bergetar saat mengucapkan kata-kata yang bahkan membuatnya sendiri kaget.

"Tuan."

"Tutup mulutmu!"

"Tolong sentuh aku, Tuan!"

Yudha tiba-tiba membeku di tempatnya.

"Apa?"

"Aku nggak tahan. Tubuhku rasanya panas sekali." Emma merintih, lututnya lemas hingga ia terjatuh ke lantai.

Yudha menatapnya dengan sorot mata tak percaya.

"Jangan bicara sembarangan, Emma!"

Tapi Emma tidak bisa lagi berpikir jernih. Dengan tangan gemetar, ia meraih bajunya sendiri dan ....

KRAK!

Kain itu robek begitu saja.

"Emma, apa yang kamu lakukan?" Yudha semakin terperangah dan membelalak melihat Emma merobek bajunya sendiri.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel