Pustaka
Bahasa Indonesia

Pemuas Nafsu Liar Sang Majikan

6.0K · Baru update
Callista Ivan
6
Bab
0
View
9.0
Rating

Ringkasan

"Ah! Ah! Tolong sentuh aku, Tuan Yudha! Tubuhku rasanya panas sekali." "Apa-apaan kamu ini, Emma? Aku ini majikanmu, dan kamu hanya babysitter putriku saja! Jangan minta hal yang berlebihan!" Emma merasakan keanehan di tubuhnya saat ia bertemu dengan kekasihnya di sebuah cafe. Namun, ia diseret pulang oleh Yudha karena Emma sudah waktunya memandikan majikan kecilnya. Sesampai di rumah, Emma justru gelisah dan tak nyaman. Dia hanya bisa merengek, meminta pertolongan dari Yudha untuk menyentuh tubuhnya. Meskipun Yudha bersikeras untuk tidak mau menolongnya. Krak! "Emma, apa yang kamu lakukan?" Yudha kaget, karena tiba-tiba Emma sudah merobek bajunya sendiri.

RomansaMetropolitanBillionaireDewasaOne-night StandWanita CantikTuan MudaNovel MemuaskanIbu PenggantiPlot Twist

1. Ah, Enak Banget

"Ah! Ah! Enak banget ishh!"

“Duh, kenapa hyper ku nggak hilang-hilang juga sih?"

Kedua mata Emma merem melek, seraya jari tangannya menyusup di balik celana dan terus bermain di bawah sana dan menggesek-gesek benda mungil yang semakin mengencang di sela-sela miliknya yang mulai banjir. Sementara sebelah tangannya ia pergunakan untuk meremas kedua bukit kembarnya secara bergantian.

Hanya karena tak sengaja melihat adegan ciuman di film barat yang tadi diputar di dalam angkot, Emma sudah merasakan gelora aneh yang membara di dalam tubuhnya. Emma merasakan tubuhnya memanas, hatinya gelisah, dan yang lebih parah karena ia merasa lembah kenikmatannya di bawah sana sudah terasa lembab dan membasah. Awalnya Emma ingin menahannya, tapi semakin lama justru bagian intimnya terasa semakin becek dan basah.

Setelah akhirnya angkot itu berhenti, Emma pun memutuskan untuk menuntaskan hasratnya dan masuk ke salah satu toilet.

"Ah sialan! Kenapa malah semakin becek sih?" Gerutu Emma sambil terus aktif memainkan jemarinya di bawah sana.

Gadis berusia 25 tahun itu masih terus merem melek merasakan kenikmatan permainan jarinya di lembah hangatnya yang semakin basah.

Dor! Dor! Dor!

Suara gedoran yang sangat keras terdengar mengejutkan. Emma terkejut dan segera membuka kedua matanya lebar-lebar saat ia mendengar suara keras dari pintu kamar mandi yang saat ini ditempatinya. GeRanggan tangannya pun refleks terhenti.

"Hey! Siapa yang ada di dalam sana? Cepat dong! Gantian juga sama yang lain!"

Dor! Dor! Dor!

Suara seorang wanita terdengar kesal, bersamaan dengan ia yang terus menggedor pintu sangat keras. Dengan cepat, Emma menarik tangannya dari dalam celana. Ia mendengus pelan, merasa kesal karena aktivitas menyenangkan itu terpaksa harus terhenti.

"Huh! Menyebalkan!" geramnya sambil merapikan pakaian dan juga rambutnya.

Brak!

Dengan kasar, Emma membuka pintu toilet. Tepat di depan pintu, ia langsung disambut dengan tatapan sinis oleh beberapa wanita yang sedang antri di sana.

"Lama banget sih? Ngapain aja di dalam?" sungut seorang wanita sambil melotot menatap Emma.

Emma membuang nafas kasar. Ia cepat-cepat membuang wajah tanpa mempedulikan mereka semua, lalu bergegas pergi meninggalkan tempat itu begitu saja.

Ia melangkah menjauh, meninggalkan deretan angkot yang terparkir di sana. Emma melangkah pergi semakin jauh, hingga ia tiba di dekat sebuah gang kecil. Merasa tersesat, ia memilih untuk meraih ponsel dari dalam tas lusuhnya, dan mulai menghubungi seseorang.

"Halo, Rangga. Aku sudah di Jakarta ini. Dimana kita mau ketemu?"

"Kamu share lok ya. Aku jemput."

"Oke."

Emma mematikan sambungan telfonnya. Ia mulai mengirim lokasinya pada Rangga. Ia sama sekali tak tahu daerah Jakarta, karena ia hanyalah gadis desa yang diiming-imingi akan diberi pekerjaan oleh Rangga di kota besar.

Rangga?

Ya, dia adalah pacar virtual Emma yang sudah menjalin hubungan sekitar 3 bulan. Berbekal janji manis dari Rangga, Emma pun nekat meninggalkan desanya demi bisa meraih impiannya bekerja di kota besar ini.

Namun, ternyata Jakarta tak seindah yang dibayangkan oleh Emma!

Hiruk-pikuk kendaraan, bau asap knalpot, dan ramainya orang berlalu lalang membuatnya sedikit pusing. Tas ransel kecil yang menggantung di bahunya terasa semakin berat seiring langkahnya yang cepat menyusuri trotoar.

Emma baru saja tiba di kota ini tadi pagi, dengan membawa harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Dengan satu koper kecil dan ransel di punggungnya, ia melangkah dengan penuh semangat, membayangkan masa depan yang lebih cerah. Namun, harapan itu hampir hancur dalam hitungan jam.

Saat berjalan di gang sempit yang menjadi jalan pintas menuju tempat penyaluran tenaga kerja, ia merasa ada yang tidak beres. Suasana di sekitarnya terasa sunyi, terlalu sunyi. Tak ada lalu lalang orang, tak ada suara kendaraan. Hanya langkah kakinya yang terdengar menggema di antara tembok kusam yang basah oleh sisa hujan semalam.

Kemudian, tiba-tiba suara itu datang mengagetkan Emma.

"Hei, cantik. Mau ke mana kamu?"

Emma tersentak. Tubuhnya seketika membeku saat melihat tiga pria muncul dari arah berlawanan. Pria yang berdiri di tengah memiliki wajah kasar dengan kumis tipis dan senyum licik. Dua pria lain berdiri di belakangnya, menatapnya dengan sorot mata yang membuat bulu kuduknya meremang.

"Siapa kalian?" tanya Emma dengan suara bergetar.

Pria di tengah terkekeh, sambil melirik pada dua rekannya sebelum menatap Emma kembali.

"Bukan siapa-siapa. Kami cuma mau kenalan sama kamu," katanya, suaranya serak dan santai, seolah-olah mereka adalah kawan lama.

Salah satu dari mereka mengusap bibirnya dengan punggung tangan, matanya tak lepas menelusuri wajah dan tubuh Emma. Ia menatap Emma dengan mesum, meskipun gadis itu mengenakan baju panjang dan celana panjang yang tertutup, meskipun agak sedikit ketat dan memperlihatkan kedua payudaranya yang menonjol sangat besar.

"Aku … aku nggak mencari masalah, Bang. Aku cuma pendatang di sini," ucap Emma pelan sambil mundur selangkah.

Pria itu kembali tertawa pelan. "Kami juga nggak cari masalah, Cantik. Cuma mau ngajak ngobrol sebentar. Sendirian aja, kan?"

Jantung Emma berdetak semakin cepat. Tangannya meremas tali tasnya erat-erat, pikirannya berusaha mencari jalan keluar.

"Aku harus pergi," ujarnya cepat, berharap mereka akan membiarkannya berlalu.

Namun, saat ia berbalik, salah satu pria sudah berdiri di belakangnya, menghadang jalannya dengan tubuh kekar.

"Santai aja. Jangan buru-buru gitu dong, Sayang," kata pria itu seraya menjulurkan tangan ke arah dada Emma yang berayun saking besarnya.

“Enggak! Jangan! Akh!"