Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

2. Mau Punya Mama

“Jangan berani mendekat!”

Saat itulah, ketakutan Emma berubah menjadi keberanian yang didorong oleh naluri bertahan hidup. Ia tahu, jika ia pasrah, maka segalanya bisa berakhir buruk.

Dengan gerakan spontan, ia mengayunkan ranselnya dengan sekuat tenaga. Tas itu menghantam wajah pria di depannya.

"Brengsek!" pria itu mengumpat, mundur sambil memegangi hidungnya.

Emma tak menunggu lebih lama. Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk berlari secepat mungkin ke arah jalan raya. Napasnya memburu, jantungnya serasa hendak meledak. Di belakangnya, terdengar suara langkah kaki mengejar.

Akan tetapi, ia tak boleh berhenti.

“Ya Tuhan! Aku harus lari secepatnya dari sini!” cemas Emma.

Ia terus berlari dengan panik. Hingga akhirnya, beberapa meter di depan, ia melihat sekumpulan wanita berdiri di depan sebuah gedung. Sebuah papan terpampang di atas pintu masuk.

"Penyaluran Tenaga Kerja Rumah Tangga, Babysitter & Nanny.”

Tanpa pikir panjang, Emma menyelinap di antara para wanita itu, dan berpura-pura menjadi bagian dari mereka. Ia menundukkan kepala, berusaha mengatur napas, sementara tubuhnya masih gemetar hebat.

Beberapa wanita menoleh ke arahnya, tapi tak ada yang bertanya.

Dari ekor matanya, Emma melihat ketiga pria tadi berhenti di seberang jalan. Mereka menatap ke arah gedung itu dengan ragu. Salah satu dari mereka mengumpat, lalu menendang kerikil ke jalanan. Setelah beberapa detik, mereka akhirnya berbalik pergi.

Emma menghela napas lega. Lututnya hampir goyah.

"Baru datang juga?"

Sebuah suara lembut menyapanya. Emma menoleh dan mendapati seorang perempuan berusia sekitar tiga puluhan tersenyum ramah padanya.

"Iya," jawabnya cepat, masih berusaha menenangkan dirinya.

"Bagus. Kalau kamu beruntung, kamu bisa dapat kerja hari ini juga," kata wanita itu santai, seolah pengalaman tadi adalah hal biasa bagi pendatang baru sepertinya.

Emma hanya bisa mengangguk. Ia mengeratkan genggaman pada tali tasnya. Bagaimanapun, ia masih belum percaya bahwa dirinya benar-benar selamat.

Namun ternyata, keberuntungan memang berpihak padanya. Di sana, Emma dipersilahkan untuk istirahat sejenak. Ia akhirnya bisa bernafas lega sambil melepas lelah.

Beberapa jam kemudian, seorang petugas memanggil namanya.

"Ada satu lowongan sebagai nanny di rumah seorang pengusaha," katanya sambil menatap Emma dari atas ke bawah, menilai apakah ia cocok untuk pekerjaan itu.

Emma menelan ludah. Ini kesempatan untuk memulai sesuatu yang baru.

"Tertarik?"

"Iya," jawabnya tanpa ragu, karena ia tak mungkin menolak keberuntungan ini.

***

"Jadi, kamu melamar sebagai nanny untuk putriku Yessy?"

Emma mengangguk cepat, duduk tegap di atas sofa mewah yang terasa begitu asing di bawahnya. Jantungnya berdebar ketika tatapan tajam pria di hadapannya menelusuri setiap detail dirinya, seolah menilai apakah dia cukup layak berada di rumah ini.

Pria itu adalah Yudha Yudistira, seorang CEO perusahaan elektronik yang punya cabang menggurita di beberapa kota besar. Ia terlihat begitu berwibawa dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Sorot matanya tajam, penuh perhitungan, membuat Emma merasa seakan sedang diinterogasi ketimbang diwawancarai.

"Iya, Pak. Saya sudah membaca semua persyaratan dan saya yakin bisa menjaga putri Anda dengan baik," ujar Emma, berusaha terdengar percaya diri meski perutnya terasa mual karena gugup.

Yudha memicingkan mata, sambil menyilangkan tangan di dada.

"Kamu umur berapa?"

"25 tahun, Pak."

"Pengalaman?"

Emma menelan ludah. "Saya pernah mengasuh keponakan saya selama beberapa tahun."

Yudha menghela napas pelan, lalu berdiri.

"Ikut saya."

Emma cepat-cepat bangkit dan mengikuti pria itu menaiki tangga menuju lantai dua. Rumah ini sangat luas dan megah, dengan dekorasi yang menunjukkan kelas sosial pemiliknya. Lukisan-lukisan besar menghiasi dinding, dan lampu gantung kristal di langit-langit memancarkan cahaya hangat yang memantul di lantai marmer.

Setiap langkah yang diambil Emma bergema, membuatnya semakin sadar bahwa dia benar-benar berada di dunia yang jauh berbeda dari kehidupannya sebelumnya.

Pikirannya kembali ke beberapa minggu lalu. Keputusan nekatnya meninggalkan kampung halaman, perjalanan panjang ke Jakarta, dan perjalanan sulit yang harus ia lalui. Semua itu membawanya ke sini, berdiri di dalam rumah seorang pria yang bahkan namanya pun hanya pernah ia dengar dari mulut orang-orang.

Yudha berhenti di depan sebuah pintu, lalu mengetuknya perlahan sebelum membukanya.

"Yessy," panggilnya dengan suara yang lebih lembut dibanding saat berbicara dengan Emma.

Emma menahan napas ketika seorang gadis kecil berambut panjang muncul dari balik selimutnya. Mata besar dan bulat itu menatapnya dengan sorot yang sulit ditebak. Ada keraguan, ada penolakan, dan ada sesuatu yang lain ….

Sesuatu yang rapuh.

Gadis itu mendekap boneka di dadanya, seolah benda itu satu-satunya pelindungnya di dunia ini.

Yudha mendekati gadis kecil itu di tempat tidurnya. Dibelainya rambut gadis itu dengan sangat lembut. Dikecupnya dengan pelan, lalu menunjuk ke arah Emma.

"Sayang, ini Emma," kata Yudha. "Dia akan menjadi pengasuhmu mulai hari ini."

Yessy diam. Wajahnya yang manis tetap tanpa ekspresi, tapi tatapannya begitu tajam untuk anak seusianya. Ia menatap Emma dengan rasa tak suka.

"Yessy nggak mau punya nanny, Pa." Suaranya lirih tapi tegas. "Yessy mau punya Mama."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel