CH-5 YAN SAOTIAN
Tekanan Yan Saotian menyebar. Jhi Chen yang masih kecil merasakan dingin menusuk tulang. Ia mengernyit dan menatap Yan Saotian dengan cemberut. “Senior, apakah setelah aku menolongmu, kau hendak membunuhku?” tanyanya dengan nada tidak suka.
Kalimat sederhana itu memotong aura membunuh seperti pisau. Yan Saotian tersadar dari amarahnya sendiri. Ia menarik kembali tekanannya secepat mungkin, lalu mengangguk meminta maaf. “Nak, maafkan lelaki tua ini. Aku terlalu bersemangat karena lolos dari kematian. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Terima kasih telah mengingatkan.”
Ketulusan itu membuat Jhi Chen mengangguk singkat. “Baik. Aku hanya tidak kuat menahan aura membunuhmu yang tidak terkendali. Senior, dengan kekuatanmu, mengapa sampai terluka oleh monster sungai?”
“Aku bukan terluka oleh monster itu,” jawab Yan Saotian, napasnya kini lebih stabil. “Aku disergap orang-orang tercela. Mereka banyak. Ketika mereka menggabungkan kekuatan, aku terlempar jauh. Aku jatuh di tepi sungai dan belum sempat memulihkan diri, para monster air itu mengerumuniku. Jika kau tidak datang, mungkin aku sudah mati di sana. Kau menyelamatkan nyawaku dan menyembuhkan lukaku. Lelaki tua ini berutang budi padamu, Nak.”
Walau belum pulih penuh, energi Yan Saotian telah kembali melingkupi tubuhnya. Ia menatap Jhi Chen, kali ini dengan rasa ingin tahu yang berbeda. Ia mengaktifkan teknik mata rahasia yang lebih kuat dibanding saat pertama kali memeriksa. Pandangannya menembus permukaan tubuh bocah itu, mengamati alur tenaga yang mengalir. Ia terperanjat ketika melihat kedua belas titik meridian pada tubuh Jhi Chen sudah terbuka sempurna. Itu berarti tubuh fisiknya memiliki kekuatan yang tidak lazim untuk anak seusianya.
Ingin mengetahui lebih jauh, ia mencoba menyelam lebih dalam. Namun begitu kesadarannya bergerak, kabut tebal menutup pandangan. Ada peringatan yang tidak terucap, terasa tajam di batas nalar: jangan melewati garis ini. Jika dipaksa, hukuman yang datang tidak akan bisa dicegah siapa pun. Yan Saotian menghentikan upayanya. Keringat dingin keluar di pelipis. Ia tidak lagi berani menyelidiki tubuh bocah ini.
Ia menatap Jhi Chen dengan takjub. “Nak, kau membuatku terkejut. Usia baru tiga tahun, namun kedua belas titik meridianmu sudah terbuka. Tubuhmu lebih kuat daripada banyak kultivator peringkat Surga. Kau juga berhasil mendapatkan Rumput Krisik dua ribu tahun. Di tempatku, tanaman itu sangat langka. Biasanya dijaga binatang buas peringkat tujuh atau delapan. Bagaimana cara kau mengambilnya?”
Kera Krisik yang duduk di pundak Jhi Chen menahan tawa. Ia ingin mencemooh, tetapi ia tahu diri. Ia memilih diam dan hanya mendongak bangga. Jhi Chen tidak menampakkan kesombongan. Ia menjawab datar, “Senior, kebetulan ketika aku datang, penjaganya tidak ada di tempat. Jadi aku mengambilnya. Untuk cara pemakaian, aku belajar dari ibuku. Beliau tabib di kerajaan. Ia sering dipanggil ke istana dinasti untuk mengobati tentara. Aku kerap mengikuti. Karena itu aku tahu cara menggunakan tumbuhan ini tanpa harus menyulingnya menjadi pil.”
“Apakah ibumu sering menggunakan Rumput Krisik saat mengobati?” tanya Yan Saotian.
“Tidak,” jawab Jhi Chen. “Itu hanya sekali, ketika penguasa dinasti nyaris mati karena luka parah. Rumput Krisik sangat langka di wilayah ini. Aku kebetulan menemukannya.”
Yan Saotian mengangguk. Ia menatap Jhi Chen dengan rasa hormat yang tulus. Di matanya, bocah ini berbicara seperti orang dewasa. Tidak ada kesan berlebihan, tidak ada ketidaksabaran, dan tidak ada rasa takut yang mengada-ada. Jika ia tidak memeriksa umur tulangnya, ia akan sulit percaya bahwa Jhi Chen baru berusia tiga tahun.
“Karena kamu sudah menyelamatkanku, lelaki tua ini tidak boleh tangan kosong,” ucap Yan Saotian. Ia merogoh jubahnya, mengeluarkan sebuah buku yang sampulnya sudah usang namun terawat. “Ini manual teknik. Namanya Teknik Tinju Singa Menguasai Hutan. Aku tidak menyimpan banyak harta. Cincin abadiku bahkan kuberikan kepada saudaraku ketika aku dikejar oleh Klan Feng. Namun manual ini tidak pernah kulepas. Teknik ini bukan hal biasa. Ia bisa dibudidayakan dari Alam Surga, menembus tingkat demi tingkat, hingga mencapai Alam Maha Agung. Banyak teknik hanya bertahan sampai tiga alam, itu pun sudah sangat luar biasa. Manual ini berbeda. Simpanlah. Dengan potensimu, teknik ini akan berguna di masa depan.”
Mata Jhi Chen bersinar. Ia menerima manual itu dengan dua tangan, lalu mengangguk. Setelah itu, wajahnya berubah bingung, seolah tidak mengerti penyebutan alam yang tadi muncul di ucapan Yan Saotian. Dalam hati, ia tetap menjaga perannya. Ia menatap Yan Saotian dan bertanya, “Senior, terima kasih atas hadiahmu. Namun aku sedikit bingung tentang tingkatan yang Senior sebutkan. Jika Senior berkenan, bisakah menjelaskannya agar aku tidak salah paham?”
Yan Saotian sempat mengira bocah ini tidak menyukai pemberiannya. Mendengar pertanyaan itu, ia justru tertawa kecil dengan lega. “Jadi itu. Baiklah, dengarkan baik-baik. Jalan seorang kultivator panjang dan berlapis. Yang pertama adalah Pengumpulan Qi, dari peringkat satu sampai peringkat sembilan. Setelah itu Alam Mendalam, juga sembilan peringkat. Lalu Alam Surga, kemudian Alam Bela Diri. Setelahnya Alam Raja Beladiri, Alam Kaisar Beladiri, dan Alam Leluhur Beladiri. Di atasnya ada Alam Abadi, Abadi Beladiri, lalu Abadi Beladiri Surgawi. Selanjutnya Alam Tingkat Tinggi, Alam yang Ditinggikan, Alam Agung, dan Alam Maha Agung. Masih ada tingkat-tingkat berikutnya yang tidak perlu kau ketahui sekarang. Dengan usiamu saat ini dan kedua belas meridian yang sudah terbuka, masa depanmu tidak memiliki batas.”
Ia mengeluarkan sebuah medali kecil dari kantong dalam jubahnya. Pada permukaan medali terukir totem yang menyerupai kepala Qilin. “Simpan ini. Jika suatu hari kau menjelajah dunia dan tiba di galaksiku, tunjukkan medali ini. Namaku Yan Saotian, aku salah satu tetua Klan Yan. Galaksiku disebut Galaksi Qilin Totem. Dengan medali ini, orang-orang di sana tidak akan mempersulitmu. Anggap ini sebagai pengikat hubungan antara kita.”
Jhi Chen menerima medali itu dengan hormat. Ia menggenggamnya erat, lalu memasukkan ke tempat yang aman. “Terima kasih, Senior Yan. Aku akan mengingatnya. Jika suatu saat aku sampai di Galaksi Qilin Totem, aku akan berkunjung.”
Yan Saotian mengangguk puas. “Begitu yang kuharapkan. Hari ini aku berutang hidup padamu. Jika suatu hari kau membutuhkan bantuan, bawalah medali itu. Aku akan datang semampuku.”
Kera Krisik memandang bergantian antara Jhi Chen dan Yan Saotian. Ia hampir bersiul jika saja tidak menahan diri. Baginya, hari ini adalah hari yang tidak biasa. Ia menjadi pengikut seorang bocah yang bahkan binatang peringkat delapan pun tidak berani menatap lama. Ia juga menyaksikan seorang tetua dari klan besar menyatakan utang budi. Ia menepuk dadanya kecil-kecil dan berbisik pelan, “Tuan, Kera Krisik akan berguna. Kera Krisik akan belajar dan tidak membuat malu.”
Jhi Chen menoleh sedikit, tersenyum tipis, lalu menepuk pelan kepala kera kecil itu. “Tetap diam dan perhatikan sekitar. Kita belum selesai di sini.”
Hutan kembali tenang. Angin berhembus membawa wangi tanah lembap. Di kejauhan terdengar suara air sungai mengalir, mengingatkan bahwa perjalanan Jhi Chen baru dimulai. Lelaki tua yang tadinya berada di ambang kematian kini duduk bersandar dengan napas yang mulai teratur. Di sisi lain, seorang kera kecil berbulu biru safir menegakkan tubuh kecilnya, siap mengikuti ke mana pun tuannya melangkah.
Hari itu, sebuah ikatan terbentuk. Bukan karena paksaan, melainkan karena masing-masing melihat nilai pada yang lain. Seorang bocah dengan prospek masa depan yang tidak terbatas, seorang tetua klan yang pernah disergap dan tidak akan melupakan utang, dan seekor kera yang pernah menjadi penjaga tanaman roh namun kini menerima nama baru. Pada tempat yang tidak banyak disinggahi orang, babak baru tersusun rapi tanpa butuh saksi megah. Cukuplah langit, pepohonan, dan aliran sungai yang menyimpan cerita itu.
“Senior,” ucap Jhi Chen, memecah kesunyian, “apakah Anda masih kuat untuk berjalan? Jika tidak, aku akan mengantar sampai tempat yang aman. Setelah itu, aku harus kembali.”
“Aku bisa berjalan,” jawab Yan Saotian. “Tidak sekuat biasanya, namun kakiku sudah kembali merasakan tanah.” Ia berdiri pelan, menguji keseimbangan, lalu mengangguk. “Terima kasih.”
“Kita berpisah di sini,” kata Jhi Chen. “Ingat kata-kataku. Jangan menebarkan aura membunuh tanpa kendali. Itu bisa melukai yang tidak seharusnya.”
Yan Saotian menunduk hormat. “Aku mengingatnya. Dan aku mengingat namamu. Jika takdir mempertemukan kita di Galaksi Qilin Totem, pintu Klan Yan akan terbuka untukmu.”
Jhi Chen tidak menambahkan apa-apa. Ia berbalik. Langkahnya ringan, namun pasti. Kera Krisik menatap sekali lagi ke arah lelaki tua itu, lalu melompat merapat ke leher Jhi Chen. Dengan gerakan sederhana, bocah itu melesat di antara pepohonan, menyisakan desau angin yang cepat pulih seperti semula. Hutan menutup kembali, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun bagi yang menjalaninya, hari ini mengubah banyak hal.
