Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

CH-6 QILIN TOTEM

"Galaksi Qilin Totem, apakah itu sangat jauh? Aku belum pernah mendengarnya,” ucap Jhi Chen.

"Memang itu sangat jauh dari tempatmu saat ini. Itu bukan jarak antara dunia, tapi jarak antara galaksi. Di galaksimu itu terdapat empat juta tiga ratus dunia, dan semua dikendalikan oleh dua puluh bintang. Dua puluh bintang itu dikendalikan oleh penguasa galaksi. Sedangkan nama Galaksimu dinamakan Galaksi Gu Ying Abadi. Karena klan Gu adalah penguasa galaksi, mereka menamakan galaksi ini sesuai dengan klannya. Adapun nama 'Ying' diambil dari seorang tokoh bernama Gu Ying Ho. Dia adalah orang terkuat di klan Gu, sekaligus kepala klan Gu dan kepala galaksi ini.”

Lalu, Yan Saotian tersenyum kecil, dia melihat wajah polos Jhi Chen masih membutuhkan informasi. Ini sedikit menggelitik minatnya, dia tidak pernah merasa bersemangat berbicara dengan anak kecil seperti Jhi Chen.

“Kenapa aku tidak menyebutkan dinasti kepadamu? Karena dinasti di galaksimu ada miliaran jumlahnya, jadi butuh waktu banyak untuk memberitahumu,” ujarnya.

Lalu tatapan Yan Saotian sedikit serius. "Hmmm... sebenarnya galaksimu pernah menguasai dunia bela diri yang luas ini. Namun waktu itu namanya bukan Galaksi Gu Ying Abadi, melainkan Galaksi Sun Star Suci. Klan Sun Star memimpin galaksimu sangat lama, sekitar enam puluh ribu tahun. Saat itu klan Sun Star menguasai seluruh dunia, bahkan seluruh galaksi. Ketenaran klan Sun Star melebihi klan Jhi saat ini yang diakui sebagai klan terkuat di dunia bela diri yang luas.”

“Klan Jhi?” tanya Jhi Chen.

“Benar, Klan Jhi, tapi aku tidak perlu menjelaskan terlalu banyak, tapi aku akan memberikan alasan kenapa Klan Jhi dianggap lebih lemah daripada Klan Sun Star. Alasannya, karena klan Jhi tidak pernah menundukkan galaksi-galaksi lain. Namun, kenapa klan Jhi disebut klan terkuat di sembilan galaksi? Itu karena pernah ada yang memprovokasi klan Jhi. Mereka adalah klan Jiang, penguasa Galaksi Demon. Klan Jhi hanya mengirimkan dua orang untuk melawan seluruh klan Jiang yang berjumlah lebih dari 130 juta orang. Namun, dua orang itu berhasil memusnahkan seluruh klan Jiang tanpa menyisakan satu orang pun hidup."

Ketika Yan Saotian menyebutkan ini, tubuhnya menggigil, matanya menunjukkan rasa takut yang mendalam. Bagaimana tidak? Hanya dengan dua orang, bisa memusnahkan penguasa galaksi yang penuh ahli kuat.

"Kedua orang itu, yang satu adalah Jhi Ming, kepala klan Jhi saat ini. Dan satunya lagi adalah Jhi Tian, jenius terkuat yang pernah lahir di klan Jhi."

Ketika Yan Saotian menyebut nama Jhi Tian, ia sangat memujanya. Rasa hormat itu terlihat jelas di wajahnya.

"Nak, aku sudah banyak bicara hari ini. Mungkin karena aku bisa hidup lagi setelah yakin akan mati. Aku akan pergi sekarang. Semoga kita bertemu lagi di masa depan."

Ketika Yan Saotian hendak pergi, ia berhenti tiba-tiba.

"Nak, aku lupa. Aku belum menanyakan namamu. Siapa namamu?"

"Senior, namaku Jhi Chen."

"Jhi Chen..." Yan Saotian bergumam dalam hati. “Apakah anak ini dari klan Jhi? Tidak mungkin. Tidak mungkin ada anggota klan Jhi di daerah sepi ini. Tadi dia juga bilang ibunya seorang tabib yang mengobati orang-orang kerajaan. Tidak mungkin hal itu dilakukan anggota klan Jhi. Jadi mungkin hanya kebetulan namanya sama.”

Yan Saotian tersenyum kecil. "Jhi Chen, orang tua ini pamit. Semoga takdir mempertemukan kita lagi."

Lalu Yan Saotian terbang ke langit dan menghilang. Sebenarnya ia ingin membawa Jhi Chen untuk diasuh, namun ada banyak hal yang harus ia urus sehingga tidak punya waktu mengurus Jhi Chen.

Ketika Yan Saotian menghilang, Jhi Chen tersenyum tipis.

"Aku tidak menduga ayahku sekuat itu. Ayah, misi apa yang kamu lakukan? Sehingga meninggalkan aku dan ibu. Aku harus bekerja lebih keras agar bisa bertemu ayahku. Dengan kekuatanku saat ini, aku belum cukup kuat. Dengan peringkat enam Leluhur Bela Diri, aku kira aku kuat, ternyata tidak bisa bertahan hanya dari niat membunuh belaka. Sungguh menyebalkan."

Jika Yan Saotian mendengar perkataan Jhi Chen, mungkin ia sudah muntah darah. Ada seorang anak berusia tiga tahun berkata dirinya lemah, dan membandingkan dengannya, mungkin Yan Saotian akan melompat bunuh diri.

Berapa usia Jhi Chen? Baru tiga tahun. Sedangkan usia Yan Saotian sudah delapan belas ribu tahun.

Mungkin hanya Jhi Chen, bocah tiga tahun dengan kultivasi peringkat enam Leluhur Bela Diri, yang merasa lemah.

Setelah Yan Saotian pergi, seekor kera kecil keluar dari kantong binatang milik Jhi Chen. Ia terkejut ada harta yang bisa menampung binatang hidup, bahkan di dalamnya bisa berkultivasi. Bukan hanya itu, ia bisa mengetahui keadaan luar, sedangkan dari luar tidak bisa melihat ke dalam.

"Tuan sungguh hebat. Harta apa ini? Aku baru melihatnya,” ucap kera itu dengan penuh kejutan.

"Ini adalah kantong binatang. Bisa menampung seratus binatang buas seperti dirimu. Namun jika terlalu banyak, energinya tidak cukup untuk kultivasi kalian. Jika kamu sendirian, itu bisa mempercepat kultivasimu. Harta ini tidak ada di dinasti kita. Ini harta yang ayahku berikan sebelum dia pergi."

Kera kecil itu teringat perkataan Yan Saotian yang menyebut klan Jhi sangat kuat.

"Tuan, apa ayahmu dari klan Jhi?"

Kera kecil yakin tuannya bukan penduduk asli dinasti ini. Mana ada anak baru lahir, tapi kekuatannya lebih mengerikan daripada penguasa dinasti.

Jhi Chen tidak menjawab, ia hanya tersenyum.

"Kera, mari kita pulang. Aku keluar terlalu lama, aku takut ibuku khawatir."

Lalu Jhi Chen terbang pulang. Karena hutan ini masih jauh dari desanya, Jhi Chen tidak berlari. Dengan kekuatannya, tidak ada orang di dinasti ini yang bisa melihatnya, kecuali ada ahli dari luar dunia.

Ketika Jhi Chen pergi, udara beriak. Seorang sosok cantik berdiri di udara. Ternyata selama ini Jhi Chen selalu diawasi, ia selalu mengikutinya dari bayang-bayang.

"Suamiku, kamu harus percaya pada anak kita. Anak kita sudah tumbuh dan karakternya sangat baik."

Wanita itu adalah ibu Jhi Chen, Mu Xiao’er. Ia menatap ke arah Yan Saotian pergi.

"Untung karaktermu bagus, tidak bermain belakang terhadap anakku. Jika kamu berani mengkhianati Chen’er, bukan hanya kamu yang akan mati, tapi klan Qilin juga akan musnah sepenuhnya, seperti klan Demon."

Mu Xiao’er bergetar lalu menghilang sepenuhnya, tanpa meninggalkan jejak.

Sesampainya di rumah, Jhi Chen membuka pintu.

"Ibu, aku pulang."

Mu Xiao’er terlihat sedang memasak.

"Anak ibu baru pulang setelah bermain seharian. Pasti lelah. Mandi dulu, ibu sudah menyiapkan air hangat. Setelah itu makan, ibu memasak makanan lezat. Kamu pasti suka."

"Masakan ibu selalu lezat. Tidak ada yang tidak enak. Aku akan segera mandi."

Setelah selesai mandi, Jhi Chen duduk di meja makan.

"Ibu, daging apa ini? Terlihat berbeda dari biasanya."

"Ini daging kerbau, binatang suci peringkat empat. Setara dengan peringkat delapan Leluhur Bela Diri manusia. Tadi ada utusan bintang berkunjung ke dinasti kita. Anaknya terkena penyakit bawaan lahir yang selalu menyiksanya. Ibu diminta mengobati anak itu. Untung ibu tahu caranya, dan anaknya sembuh. Sebagai tanda terima kasih, ibu diberi hadiah banyak. Salah satunya daging ini. Ayo cepat makan,” ujar Mu Xiao'er dengan wajah lembut.

Kera kecil menelan air liurnya, sangat ingin mencicipi daging suci itu. Namun ia tidak berani bicara, takut tuannya marah. Ia hanya mengusap bibir karena air liurnya menetes terus.

Jhi Chen melihat itu dengan kekuatan spiritualnya lalu tersenyum.

"Ibu, aku membawa teman. Boleh dia bergabung dengan kita?"

Mu Xiao’er tersenyum tipis. "Tentu saja boleh."

"Kera, keluarlah."

Ketika Jhi Chen memanggil, kera kecil langsung keluar dengan bersemangat.

"Si kecil, temui tuanku."

"Sudah kubilang tidak perlu terlalu sopan. Ibu, ini temanku, Kera Krisik. Dia binatang buas peringkat delapan."

"Kera yang baik, ayo kita makan," kata Mu Xiao’er.

Ketika daging itu masuk ke mulut Jhi Chen, ia langsung bersemangat. Daging itu bukan hanya lezat, tapi penuh energi.

Jhi Chen makan dengan lahap, begitu juga kera kecil, hingga tidak tersisa sedikit pun.

"Ibu, maaf aku makan terlalu banyak. Ini sungguh lezat."

"Tidak apa-apa, ibu masih punya banyak persediaan."

"Benarkah?"

"Tentu saja. Kapan ibu pernah berbohong pada Chen’er? Kamu harus bergegas berlatih. Itu akan sangat membantu latihanmu."

"Ibu, aku tahu. Aku akan berlatih sungguh-sungguh."

Setelah Jhi Chen pergi, Mu Xiao’er tersenyum.

"Ini bukan hanya daging binatang suci peringkat empat. Air untuk merebusnya adalah mata air Argaria Suci. Itu lebih berharga daripada binatang suci peringkat empat."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel