
Ringkasan
Dengan dua pedang di tangan, dan tiga belas elemen yang aku kuasai. Aku membelah bumi, menembus langit, menjungkirbalikkan lautan. Dengan pedang di tangan, aku membersihkan semua penghalang kedamaian dan keadilan sejati. Entah Dewa, Iblis, bahkan Dao Surgawi akan ku bantai! Dari langit kedua, aku menembus hingga langit ketujuh. Aku berhasil membersihkan semua musuh dengan pedang dan tiga belas elemen yang aku kuasai. Ikuti perjalanan ku, Jhi Chen!
CH-1 KELAHIRAN SANG PENGUASA
Di sebuah desa yang sangat kecil, mayoritas penduduknya hanyalah orang-orang miskin yang hidup sederhana. Hari itu, tiba-tiba langit berubah menakutkan. Awan pekat bergulung, guntur menggelegar tanpa henti, dan angin bergemuruh kencang hingga pepohonan bergoyang liar.
Orang-orang desa itu ketakutan. Tubuh mereka menggigil, hati mereka diliputi kecemasan seolah bencana besar hendak datang menimpa.
"Apa yang sedang terjadi? Kenapa langit tiba-tiba menjadi seperti ini?" seru seseorang dengan wajah pucat.
"Woy! Lihat petirnya! Itu bukan hanya menyambar di atas desa kita, tapi meluas... meluas hingga aku tak bisa mengukur jauhnya!" jawab yang lain dengan suara gemetar.
Ketakutan menyelimuti setiap rumah. Anak-anak menangis, para wanita menjerit, bahkan beberapa orang jatuh pingsan tak sanggup menahan teror itu.
***
Di Tempat yang Jauh
Di tempat yang amat jauh dari desa itu, berdiri sebuah pusat kekuasaan megah, markas penguasa galaksi. Seorang pria tampan berdiri di puncak bangunan kuno yang menjulang. Tubuhnya tinggi tegap, wajahnya rupawan, namun pancaran dingin dari dirinya membuat siapa pun terdiam. Matanya dalam, tajam, seakan mampu menembus semesta.
Aura yang dilepaskannya begitu menyesakkan, membuat udara bergetar hebat. Di belakangnya, ratusan ahli kuat berlutut. Aura mereka cukup untuk membalikkan gunung dan membelah lautan, namun semuanya menunduk di hadapan pria itu. Jelas, statusnya berada di puncak.
Pria ini adalah penguasa galaksi. Ia tidak pernah mengenal rasa takut terhadap siapa pun. Namun kali ini, hatinya sendiri bergetar. Ada rasa gelisah yang sulit diabaikan.
Dengan wajah suram, ia menatap langit. Fenomena petir yang menyelimuti semesta membuat dadanya sesak. Perlahan, ia mendesah.
"Petir ini... benar-benar menakutkan. Langit seluruhnya tertutup guntur. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?"
Dan ternyata bukan hanya di galaksinya. Fenomena itu mengguncang seluruh galaksi. Para pemimpin sekte, klan kuno, bahkan penguasa-penguasa galaksi lainnya gemetar.
"Semoga ini bukan pertanda bencana..." begitu bisikan mereka, meski hati masing-masing diliputi ketakutan yang sama.
Tidak ada yang berani mengaitkan fenomena ini dengan kelahiran seorang bayi. Karena bagi mereka, mustahil kelahiran seseorang mengundang gejolak yang mampu menutup langit seluruh galaksi.
***
Kembali ke Desa Miskin
Sementara itu, di desa kecil yang penuh ketakutan, orang-orang terus menangis. Sebagian besar bahkan sudah tak sadarkan diri. Mereka hanyalah manusia biasa, tak satupun kultivator di sana.
Namun di sebuah rumah sederhana, di tengah kehebohan alam semesta, seorang wanita sedang berjuang melahirkan.
"Aku tidak kuat... kenapa anak kita tidak mau keluar?" jeritnya sambil mencengkram kuat tangan suaminya. Tubuhnya gemetar, wajahnya pucat, keringat bercucuran, sementara darah terus mengalir.
Suaminya duduk di samping, tak bisa berbuat apa-apa selain berdoa dengan tatapan dalam. Mata itu bukan mata orang biasa—tajam, seakan mampu melihat melampaui dunia ini.
Dengan perjuangan yang begitu menyakitkan, akhirnya tangisan bayi terdengar. Seorang anak lahir dengan sempurna.
Saat bayi itu lahir, petir yang menyelimuti langit tiba-tiba menyusut. Bukan hilang, melainkan berkumpul, membentuk sosok mengerikan: seekor binatang raksasa, berkepala naga dengan tubuh mirip buaya, bersayap lebar hingga menutupi langit, dan memiliki dua belas mata yang menatap ganas.
Fenomena ini membuat seluruh pemimpin kuat di dunia menahan napas. Mereka bersiap, karena binatang itu bisa saja menyerang kapan saja. Namun, tak ada yang menduga, binatang petir itu tiba-tiba menghilang begitu saja.
"Aneh! Apa yang baru saja terjadi? Binatang macam apa itu? Kemana perginya?" teriak para pemimpin sekte dan klan di berbagai belahan semesta.
Tak seorang pun mampu menjawab.
Ternyata, makhluk petir itu masuk ke tubuh bayi yang baru lahir di desa kecil itu.
Dan seakan itu belum cukup, fenomena lain yang tak masuk akal terjadi. Matahari, bulan, dan bintang-bintang keluar bersamaan, bersinar bersatu di langit. Fenomena itu belum pernah ada dalam sejarah dunia.
Miliaran orang terdiam, mulut mereka terbuka lebar.
"Sungguh... fenomena ini sangat mengerikan. Kita sedang menyaksikan sejarah yang akan menjadi legenda!"
Namun, ketika semua mata menatap ke langit, tiba-tiba cahaya matahari, bulan, dan bintang bersinar terlalu terang, membuat tak seorang pun bisa membuka mata.
Pada saat itulah, bayi yang baru lahir memancarkan sinar menyilaukan. Perlahan, semua cahaya kosmik itu terserap masuk ke tubuh mungilnya.
Langit kembali seperti semula. Dunia pun bergemuruh dengan diskusi, kebingungan, dan ketakutan.
Di rumah sederhana itu, sang wanita menatap bayi di pelukannya dengan tertegun. Ia menoleh kepada suaminya.
"Sepertinya kita tidak bisa terus hidup pensiun... anak kita tidak ditakdirkan menjadi manusia biasa."
Ternyata pasangan itu bukan orang sembarangan. Keduanya adalah kultivator yang sangat kuat, menyembunyikan identitas mereka dengan rapat. Bahkan para kultivator kerajaan yang dianggap dewa oleh penduduk desa pun tak pernah tahu siapa sebenarnya mereka.
Sang suami mendesah.
"Ini memang takdir. Jika kita memaksa anak kita hidup sebagai manusia biasa, itu sama saja menyiksanya. Ia harus menjadi kultivator. Sebagai ayah, aku tidak bisa membiarkan anak kita tumbuh biasa-biasa saja. Aku akan melihat garis keturunannya, agar tahu sumber daya apa yang bisa mendukung anak kita.”
"Tunggu dulu, Suami..." ucap istrinya.
"Ada apa?"
"Anak kita... belum diberi nama."
"Aku sudah memikirkannya."
"Lalu... apa namanya?"
"Aku ingin memberinya nama dari keluargaku. Apakah kamu keberatan?"
Wanita itu menggeleng pelan.
"Tentu saja tidak. Lagipula keluargamu jauh, sangat jauh, bahkan terpisah bukan hanya antar-dinasti, tetapi antar-galaksi. Itu lima galaksi jauhnya, miliaran bintang memisahkan. Tak mungkin ada yang mencurigai namanya. Tetapi jika memakai nama keluargaku... itu akan sangat berbahaya. Karena keluargaku masih berada di galaksi ini. Ketika aku pergi, orang-orang mengira aku sudah mati. Penguasa galaksi murka kepada klanku, sebab ia pernah melamarku. Klan kami memang tidak dimusnahkan, tapi dihukum. Jika suatu hari mereka tahu dia adalah anakku... aku takut anak ini akan diburu."
Suaminya menghela napas dalam.
"Aku mengerti. Jika aku tidak ingin keberadaanku diketahui, seharusnya aku sudah memusnahkan penguasa galaksimu. Tapi aku memilih menyembunyikan diri. Itu membuatmu menderita, harus ikut denganku dalam keadaan seperti ini. Maafkan aku..."
Air mata tipis membasahi mata istrinya, tapi ia tersenyum lembut.
"Suamiku, jangan berkata begitu. Bisa hidup bersamamu saja, itu adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku."
"Mu’er... terima kasih."
"Hahaha, Suami... jangan berkata begitu. Jika dunia tahu aku adalah istrimu, mungkin jutaan wanita akan mengutukku!"
"Huh, kamu ini."
Untuk pertama kalinya, sang suami tersenyum bahagia.
"Mu’er, nama anak kita adalah Jhi Chen. Apakah kamu menyukainya?"
"Suamiku... aku sangat menyukainya."
"Kalau begitu," lanjut sang suami, "aku akan menguji garis keturunannya sekarang."
Ia mengangkat Jhi Chen dan membawanya ke sebuah formasi kuno. Di tengah formasi itu, terletak harta karun yang sudah berusia entah berapa lama.
Ketika bayi itu diletakkan di atas harta tersebut, baru saja bersentuhan, harta itu langsung retak, lalu hancur menjadi abu. Tidak sanggup menahan garis darah Jhi Chen.
Suaminya terdiam sesaat, lalu mendesah panjang.
"Hah... garis keturunan yang begitu kuat, sampai-sampai harta ini hancur. Padahal harta ini bisa menahan hingga tingkat Raja Suci sebelum pecah. Tapi Chen’er... garis darahnya melampaui itu. Bahkan di dalam klanku, hanya aku yang memiliki garis keturunan Raja Suci. Chen’er... benar-benar luar biasa."
"Suamiku, apa yang terjadi?" tanya istrinya cemas.
"Tenanglah, Mu’er. Harta ini tak mampu menanggung garis darah Chen’er. Aku akan menggunakan harta abadi, harta yang berasal dari Alam Surgawi. Dengan itu, aku bisa melihat tingkat sejati garis darah Chen’er."
