CH-4 KERA KRISIK
Jhi Chen berlari dengan kecepatan yang menakutkan untuk ukuran anak berusia tiga tahun. Setiap pijakan kakinya ringan namun mantap, meninggalkan lekuk kecil di tanah hutan yang lembap. Sebenarnya ia ingin terbang, karena satu kepakan saja bisa membawanya jauh melampaui pepohonan. Namun ia menahan diri. Jika ia melesat di udara, kekuatannya akan terungkap. Itu hanya akan mengundang perhatian, menimbulkan kerumitan yang tidak diperlukan. Maka ia memilih tetap berlari. Walaupun tidak secepat terbang, laju larinya masih melampaui pandangan mata siapa pun yang kebetulan ada di sekitar hutan ini.
Ketika sampai di tengah rimbun pepohonan, ia menurunkan lelaki tua yang diselamatkannya dari tepi sungai. Lelaki tua itu masih lemah, napasnya naik turun tidak beraturan. Kulitnya memucat, darah kering menempel pada lengan dan bahunya, serta luka di dada yang tampak baru. Jhi Chen menatap sebentar untuk memastikan lelaki itu masih sadar. Ia tidak banyak bicara. Tanpa membuang waktu, ia melesat menyisir hutan, mencari tanaman roh yang mampu menyembuhkan luka dalam sebelum terlambat.
Ia bergerak dari satu titik ke titik lain. Di bawah akar-akar yang menonjol, di sela batu-batu yang ditumbuhi lumut, pada undakan tanah yang lembap, ia memeriksa satu demi satu tumbuhan berdaun pekat yang menyimpan jejak energi Ilahi. Beberapa kali ia berhenti. Ada tanaman berkelopak ungu yang berkilau, ada rumput berujung tajam yang memantulkan cahaya, namun semuanya tidak cocok dengan yang ia perlukan. Jhi Chen tetap sabar. Setiap langkahnya terukur, setiap helaan napasnya dijaga, kesadaran ilahinya menyentuh pelan pada area sekitar untuk memastikan tidak ada ancaman yang membuang-buang waktunya.
Setelah beberapa saat, matanya tertumbuk pada sebuah tebing rendah yang dindingnya lembap. Di celah batu itu tumbuh tanaman berdaun hijau pekat, setiap helaian daun memantulkan kilau kebiruan seperti batu akik yang disinari matahari. Aroma tajam namun bersih merayap di udara. Jhi Chen mengenali ciri-ciri ini. Ia menunduk perlahan, memeriksa serat batangnya, lalu mengangguk puas.
“Rumput Krisik berusia dua ribu tahun,” gumamnya. Suaranya rendah tetapi tegas. “Ini yang kubutuhkan.”
Kegembiraan itu belum sempat menetap ketika tanah di sekelilingnya bergetar ringan. Dari balik kabut tipis, muncul sosok kera raksasa berbulu hitam legam dengan mata merah menyala. Tubuhnya setinggi bangunan bertingkat, lengannya sebesar batang pohon beringin, kuku-kukunya panjang dan tampak mampu merobek batu. Kera itu berdiri tegak, dadanya membusung, dan suara raungannya meledak seperti guntur.
“Bocah nakal, sebaiknya pergilah,” seru kera itu, suaranya menggema di sela pepohonan. “Aku tidak suka membunuh anak-anak. Dagingmu tidak akan memuaskan. Jangan membuang nyawamu di tempat ini. Menyingkirlah sebelum aku berubah pikiran.”
Jhi Chen mengangkat kepala dan menatapnya tanpa gentar. Ia memahami dari nada suara kera itu bahwa makhluk ini bukan pembunuh tanpa alasan. Ada peringatan di sana, bukan kebencian. Ia mengangguk pelan sebagai bentuk penghargaan. Namun lelaki tua di belakangnya butuh pertolongan segera, dan Rumput Krisik inilah kuncinya.
“Karena kamu tidak berniat membunuhku, aku juga tidak ingin membuat masalah,” ucap Jhi Chen tenang. “Serahkan Rumput Krisik itu kepadaku. Setelah itu, aku akan pergi, dan aku tidak akan mengganggu wilayahmu.”
Kera raksasa itu terdiam sejenak, lalu tertawa panjang. Suaranya mengguncang dedaunan, membuat burung-burung hutan beterbangan. “Anak kecil, apakah kamu menyadari apa yang barusan kamu katakan? Kau memperingatkan aku? Walaupun aku bukan makhluk yang gemar membantai, aku juga bukan penjaga baik hati. Jika kau tidak mendengar peringatanku, kau bisa menjadi cemilan. Tubuh kecilmu mungkin tidak membuatku kenyang, tetapi cukup untuk mengganjal gigi gerahanku.”
Jhi Chen menarik napas pendek, sorot matanya mendingin. “Kalau begitu, jangan salahkan aku. Aku tidak punya waktu untuk perdebatan yang tidak perlu. Lelaki tua yang kutolong sedang sekarat. Aku akan mengambil Rumput Krisik sekarang.” Ia melangkah setapak, lalu menambahkan dengan nada yang sama tenangnya, “Kera bodoh, tetaplah di tempatmu. Aku tidak akan membunuhmu. Aku hanya mengambil yang kubutuhkan.”
Mata kera itu membelalak marah. Ia mengangkat kedua lengan, bersiap menghantam tanah. Siapa dirinya? Binatang buas peringkat delapan sejati, setara peringkat empat Raja Beladiri manusia. Banyak penguasa kerajaan akan memilih menghindar jika berhadapan dengannya. Namun sebelum amarahnya meledak, tubuhnya tiba-tiba terkunci. Tekanan yang tidak terlihat jatuh dari langit, menindih seperti gunung. Aura penindas menyusup masuk, mencekik ruang gerak dan meredam napasnya. Kera itu terbeliak. Ia tidak bisa bergerak. Bahkan menarik napas terasa seperti menelan besi.
Dalam ketakutan yang mendadak, ia melirik bocah kecil yang berdiri tenang di hadapannya. Wajah polos itu tidak menunjukkan niat untuk menghabisi, tetapi tekanan yang dilepaskannya bagaikan belenggu tak kasat mata. Kera itu sadar. Jika bocah ini berniat membunuh, dirinya akan musnah tanpa sempat melawan.
Tidak ingin memancing bahaya, kera itu menahan gerak, sementara Jhi Chen mendekat ke tebing, berlutut, dan memetik Rumput Krisik yang telah matang usia. Gerakannya teliti dan cepat. Setelah memastikan akar tidak rusak dan esensinya tidak terbuang, ia bangkit. Ia berbalik hendak pergi, namun suara berat kera itu menahan.
“Tuan, mengapa menipuku? Tidak perlu menyamar menjadi anak kecil. Jika aku tahu kekuatanmu sejak awal, aku tidak akan berani menyinggungmu. Ampunilah kebodohanku.” Kera itu merendahkan tubuh, lalu bersujud, kakinya gemetar hebat.
Jhi Chen berhenti. Ia menoleh dan terkejut sejenak melihat sosok sebesar gunung itu bersujud di depannya. Senyum tipis terbit di bibirnya. “Kera tua, aku tidak menipumu. Aku tidak menyamar. Aku memang masih kecil. Usia hidupku baru tiga tahun. Soal kekuatan, itu urusanku. Aku tidak akan menyebutkan apa pun kepadamu.”
Kera itu menatap tak berkedip. Wajahnya kosong dan linglung, tepat seperti kera yang benar-benar bodoh. Ia tidak percaya bocah yang baru tiga tahun bisa memiliki kekuatan sekuat ini.
“Aku sedikit menyukaimu. Walaupun kamu bukan binatang baik, karaktermu juga tidak buruk. Apakah kamu mau mengikutiku?”
Kera itu terperanjat, lalu tampak begitu bersemangat hingga suaranya keluar terbata-bata. “Tuan, a-apa benar? Apakah Tuan serius?”
“Apakah aku terlihat bercanda?” tanya Jhi Chen, menatapnya lurus.
“Tidak. Kera kecil ini bersedia mengikutimu,” jawab kera itu cepat. Ia paham, walaupun ia tidak lemah, di luar sana ada banyak ahli sejati yang keberadaannya menggetarkan. Mengikuti orang kuat adalah pilihan paling masuk akal. Dan jika bocah ini benar-benar baru tiga tahun, prospeknya akan tidak terbatas.
“Kau tidak perlu berlutut kepadaku. Aku tidak mencari pelayan. Aku ingin teman. Jika kau ingin ikut, hentikan kebiasaan berlutut. Sekali saja kau membantah, aku tidak akan membawamu. Mulai hari ini, aku memanggilmu Kera Krisik, karena kau tumbuh bersama Rumput Krisik.”
“Kera Krisik tidak akan membantah Tuan,” sahutnya dengan nada hormat. Ia mengangkat wajah, berusaha mengatur napas agar tidak terlihat terlalu gugup.
“Bagus, sekarang, apakah kau bisa memperkecil tubuhmu? Ukuranmu terlalu besar. Jika kau berjalan di sampingku dengan tubuh seperti ini, seluruh hutan bisa gempar.”
Tanpa menunda, Kera Krisik menyusutkan tubuhnya. Dari tinggi tiga puluh meter, ia mengecil hingga seukuran kucing besar. Bulu biru safirnya tampak bersih berkilau, wajahnya yang semula sangar kini terlihat menggemaskan. Ia melompat ke pundak Jhi Chen, mendarat ringan dan berpegangan erat.
“Tuan, Kera Krisik siap,” katanya, mencoba terdengar tenang.
“Aku akan menyembunyikan kultivasimu. Jangan menarik perhatian siapa pun.” Ia mengedarkan kesadaran ilahi, menutup rapat jejak aura Kera Krisik.
Setelah itu, ia mengangkat tubuh, melesat cepat menembus udara. Angin berdesing. Pepohonan bergeser seperti bayangan. Jika bukan karena perlindungan aura, hembusan udara saja cukup untuk melempar Kera Krisik hingga jatuh. Kera kecil itu memeluk pundak Jhi Chen semakin erat.
“Tuan benar-benar kuat,” gumamnya. “Jika tanpa perlindungan, aku bisa hancur diterpa angin seperti ini.”
Beberapa saat kemudian, Jhi Chen menurunkan kecepatan, kembali menyentuh tanah, lalu berlari cepat. Ia tiba di tempat lelaki tua itu berbaring. Lelaki itu membuka mata, menatap Jhi Chen yang muncul dengan langkah tegas.
“Nak, ke mana kamu pergi?” tanya lelaki tua itu lemah.
Jhi Chen tidak menjawab. Ia berjongkok, memeriksa luka yang masih terbuka, lalu mengangguk. “Senior, lukamu sangat parah. Tetapi jangan khawatir. Aku sudah mendapatkan obatnya,” ucapnya menenangkan.
Ia mengeluarkan Rumput Krisik. Batang dan daun yang pekat itu ia gosok perlahan dengan telapak tangannya sebanyak dua puluh satu kali. Cairan hijau pekat keluar, berbau tajam, dan saat disentuhkan pada kulit, tanaman itu meleleh, meresap ke dalam daging. Asap putih tipis naik ke udara. Lelaki tua itu menjerit keras, tubuhnya menegang karena rasa sakit yang menyengat.
“Senior, tahan sebentar,” kata Jhi Chen tegas. “Ini tidak akan lama.”
Jeritan itu perlahan mereda. Waktu setengah batang dupa terasa cukup untuk membuat rasa sakit itu surut. Luka-luka yang menganga menutup tujuh puluh persen, pendarahan berhenti, dan warna kulit lelaki tua itu berangsur kembali. Ia menghela napas panjang lalu menatap langit di sela daun, tertawa terbahak-bahak.
“Aku, Yan Saotian, tidak jadi mati,” serunya dengan tawa lega yang mendebarkan udara di sekitarnya.
Namun tawa itu tidak berlangsung lama. Wajahnya mengeras. Sorot matanya tiba-tiba menjadi dingin. Aura membunuh yang pekat menetes dari tubuhnya tanpa kendali. Udara di sekitarnya turun beberapa derajat. Uap napas seolah membeku. “Klan Feng,” desisnya, suaranya berat. “Kalian terlalu berani. Kalian mencegat lelaki tua ini di jalan. Kalian bahkan menurunkan wakil kepala klan untuk mengeroyokku. Kalian kira aku akan mati di bawah tekanan itu. Kalian salah. Aku hidup. Harta yang kalian inginkan tidak kalian dapatkan. Kalian akan menanggung konsekuensinya.”
