CH-3 BIARKAN TUMBUH SENDIRI
“Suami, mengapa Chen’er mempunyai banyak garis darah yang diwarisi?” tanya Mu Xiao’er dengan suara gemetar.
“Kalau garis darah Petir Ilahi dan Tubuh Surgawi Bulan, itu masih masuk akal,” lanjutnya sambil menunduk, “karena itu diwarisi dari garis keturunanmu dan keturunanku. Tetapi ini berbeda, aku tidak mengerti.”
Mu Xiao’er, ibu Jhi Chen, benar-benar tidak mampu berkata-kata lagi. Tatapannya kosong, wajahnya pucat.
“Mu’er, aku pun tidak tahu soal itu,” jawab Jhi Tian dengan nada serius. “Mungkin Chen’er ditakdirkan untuk memperbaiki dunia ini. Coba kamu lihat sendiri kultivasi Chen’er.”
Mu Xiao’er berjalan mendekati Jhi Chen. Jantungnya berdegup kencang, langkahnya hati-hati. Setelah ia berdiri tepat di hadapan anaknya, kedua matanya bergetar tak percaya. Ia bisa saja melihat kultivasi Jhi Chen dari jauh dengan kesadaran ilahi, itu hal yang biasa. Namun karena Jhi Chen adalah darah dagingnya sendiri, ia tidak berani gegabah.
Ketika kesadaran ilahinya menembus tubuh bayi itu, Mu Xiao’er langsung tertegun. Dadanya naik turun cepat, tangannya bergetar. Ia bahkan lebih terpana dibanding ketika menyaksikan pengujian garis darah sebelumnya. Garis darah yang tinggi masih bisa ia pahami, tetapi tingkat kultivasi yang dilihatnya kini benar-benar di luar nalar.
“Aku sungguh tidak menduga,” ucap Mu Xiao’er terbata, “bahkan seorang anak yang baru lahir memiliki kultivasi setinggi ini. Dia baru lahir, tetapi sudah memiliki kultivasi tingkat dua Leluhur Beladiri.”
Jhi Tian mengangguk tenang. “Sekarang kamu tahu kenapa aku bilang Chen’er ditakdirkan untuk merenovasi dunia ini. Ketika aku lahir, aku hanya peringkat satu Kaisar Beladiri, dan itu sudah dianggap jenius tak tertandingi pada waktu itu.”
“Suami,” sahut Mu Xiao’er cepat, “apakah kamu akan membimbing Chen’er secara langsung?”
Jhi Tian menggeleng. “Tidak. Biarkan Chen’er tumbuh sendiri. Namun aku akan mewariskan teknik kultivasiku. Mungkin dia bisa memahami kedalamannya. Selain itu, aku juga akan menaruh harta khusus untuk menyembunyikan kultivasinya, agar tidak menimbulkan kegaduhan di dunia ini.”
“Itu memang harus dilakukan,” balas Mu Xiao’er pelan. “Kalau tidak disembunyikan, dan orang-orang tahu, akan muncul keributan yang tidak perlu. Penguasa kerajaan ini saja hanya Raja Beladiri peringkat lima. Penguasa dinasti tertinggi pun hanya Raja Beladiri peringkat sembilan. Sedangkan leluhur dinasti ini tidak lebih dari Kaisar Beladiri peringkat tiga.”
Matanya menatap dalam ke arah suaminya. “Jika mereka tahu ada bayi yang baru lahir sudah mencapai peringkat dua Leluhur Beladiri, mereka akan merasa putus asa. Mereka bisa saja memuntahkan darah karena seluruh usia mereka terbuang sia-sia. Suami, apa rencanamu sekarang?”
“Istriku,” ucap Jhi Tian tegas, “aku akan mencoba menguraikan misteri Gunung Salke. Sedangkan Chen’er akan aku serahkan kepadamu. Jalani kehidupan seperti biasa, tetapi dalam kebahagiaan untuk Chen’er, aku juga menyimpan kecemasan. Aku tidak tahu akan seperti apa Chen’er kelak. Karena itu, kamu harus selalu mengawasi wataknya.”
Mu Xiao’er menunduk, kemudian bertanya lirih, “Apakah dia akan menjadi penyelamat dunia ini, atau justru menjadi bencana? Aku benar-benar tidak ingin hal itu terjadi.”
“Mu’er, kamu tidak perlu terlalu khawatir,” sahut Jhi Tian menenangkan. “Chen’er pasti anak baik. Karena Chen’er adalah anak Jhi Tian dan Mu Xiao’er, dia pasti mewarisi sifat orang tuanya.”
“Aku berharap demikian,” kata Jhi Tian lagi. “Istriku, aku sudah menyembunyikan kultivasi Chen’er. Aku akan pergi sekarang. Jika ada hal yang tidak bisa kamu tangani, hancurkan jimat ini. Aku akan segera tiba. Ingat, jangan memaksakan sesuatu yang tidak bisa kamu tanggung.”
“Suami, percayalah, aku akan baik-baik saja. Siapa yang bisa menakutiku di galaksi ini? Kultivasiku setara dengan penguasa galaksi. Bahkan jika kami bertarung, aku masih yakin bisa mengalahkannya sepenuhnya.”
“Baiklah,” Jhi Tian mengangguk, “aku akan pergi sekarang. Selamat tinggal.”
Begitu kata-kata perpisahan itu terucap, tubuh Jhi Tian langsung menghilang. Aura keberadaannya pun tidak meninggalkan jejak sedikit pun.
Mu Xiao’er hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil berbisik, “Setelah aku menjalani hidup bersamamu sekian lama, baru sekarang aku sadar betapa kuat dirimu. Bahkan dengan tingkat kultivasiku yang dianggap tinggi, aku hanyalah karakter kecil di hadapanmu.”
Tiga Tahun Kemudian
Ketika Jhi Chen sedang mengambil air di sungai, ia tiba-tiba melihat seorang kakek tua yang terluka. Lelaki itu sedang dikepung monster-monster air. Hidupnya benar-benar dalam bahaya. Jika tidak ada yang menolong, ia sudah pasti akan mati.
Jhi Chen yang masih kecil itu menatap pemandangan tersebut. Hatinya terbakar marah karena lelaki tua itu disakiti. Sorot matanya berubah tajam, tubuh mungilnya tegang. Saat ia menatap monster-monster yang berkerumun, mata biru safirnya berkilat. Dalam sekejap warnanya berubah menjadi emas yang menyilaukan.
Detik berikutnya, monster yang begitu banyak meledak serentak. Daging dan tulang mereka hancur menjadi abu, darah mereka menguap lenyap tanpa sisa.
Lelaki tua itu ternganga, mulutnya terbuka lebar. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi di depan matanya. Pikirannya kacau, berusaha mencari penjelasan. Ia menoleh ke segala arah, berharap menemukan ahli kuat yang mungkin menolongnya. Namun yang dilihatnya hanyalah seorang anak kecil yang berdiri tegap, menatapnya tenang.
Mata lelaki tua itu menyipit. Ia mencoba menilai Jhi Chen dengan kemampuan khususnya, tetapi tidak menemukan keanehan. Wajar saja, karena Jhi Chen sudah kembali normal.
Jhi Chen lalu berjalan mendekati lelaki tua yang terluka parah. Dengan suara lembut ia berkata, “Senior, apakah engkau baik-baik saja? Mengapa monster air menyerangmu?”
Lelaki tua itu masih linglung. Baru setelah mendengar suara Jhi Chen untuk ketiga kalinya, ia tersadar. “Nak, apakah kamu yang menolongku?” tanyanya ragu.
Ia masih tidak percaya bahwa bocah kecil berusia sekitar tiga tahun bisa membunuh monster sebanyak itu.
Jhi Chen sendiri sebenarnya sudah tahu tentang kekuatannya sejak usia dua tahun. Tetapi ibunya selalu melarangnya memperlihatkan hal itu di depan orang lain. Ia harus berpura-pura lemah. Maka ketika lelaki tua itu bertanya, otaknya segera berputar mencari alasan.
“Senior, memang aku yang membunuh monster-monster itu,” jawab Jhi Chen. “Namun aku hanya melemparkan sebuah bola kecil ketika sedang mengambil air untuk keluarga. Ada seorang senior berjubah putih lewat, dia memberiku bola itu. Dia bilang jangan mengunjungi sungai ini karena berbahaya. Kalau bertemu monster, lemparkan saja bola itu untuk melindungi nyawa. Setelah itu dia pergi.”
Jhi Chen menunduk sejenak, lalu menambahkan, “Aku sudah sering ke sungai ini, tetapi tidak pernah melihat monster yang disebutkan senior berjubah putih. Jadi aku memakai bola itu hanya untuk bermain. Baru tadi, ketika melihat senior dikerumuni binatang aneh, aku ingat pesan itu. Aku pun melemparkan bola kecil tersebut. Ternyata benar, bola itu bisa mengusir monster.”
Lelaki tua itu masih ragu, tetapi alasan Jhi Chen cukup masuk akal. Ia akhirnya tidak memperdebatkannya lagi karena tubuhnya sendiri sudah sangat lemah.
“Senior, jangan banyak bergerak. Aku akan menolongmu,” kata Jhi Chen lagi.
Ia lalu menggendong lelaki tua itu dengan mudah, kemudian melangkah cepat menuju hutan untuk mencari bahan obat.
Lelaki tua itu terkejut bukan main. Ia tidak percaya bocah sekecil ini bisa menggendong tubuhnya. Yang lebih mengejutkan lagi, Jhi Chen mampu berjalan dengan gesit dan lincah seolah tidak merasakan beban.
Dengan teknik mata khusus, lelaki tua itu mengamati tubuh Jhi Chen. Pandangannya langsung terbelalak. Ia melihat sesuatu yang luar biasa. Walaupun Jhi Chen belum memiliki energi sedikit pun, dan belum mencapai tingkat kultivasi apapun, dua belas titik merediannya sudah terbuka sempurna.
Pemandangan itu membuat lelaki tua itu terperanjat. Dalam dunia beladiri yang luas, hal semacam ini tidak pernah ditemui. Biasanya dua belas meredian hanya bisa terbuka pada orang dewasa yang sudah mulai berkultivasi, dan itu pun dengan harga yang sangat mahal serta rasa sakit luar biasa.
Tetapi bocah kecil ini, dua belas titik merediannya terbuka dengan sendirinya. Lelaki tua itu yakin, anak sekecil ini tidak mungkin sanggup menahan penderitaan semacam itu.
Ia menatap Jhi Chen lekat-lekat, hatinya bergetar hebat. “Anak ini benar-benar luar biasa,” gumamnya lirih.
