04. Gejolak Liar Sang Pemuda
Setelah Rian masuk ke dalam rumah, Bu Nia segera mendekat dan memeluk tubuhnya. Rian merasakan kehangatan yang luar biasa dari payudara besar Bu Nia yang menempel di dadanya.
Detak jantung janda matang berusia 40 tahun itu berpacu cepat, menandakan gairah yang sudah tidak bisa ditahan lagi. Rian menatap mata Bu Nia yang sayu, lalu beralih ke belahan dadanya yang kembali mengintip di balik pakaiannya.
"Nanti kalau ada yang dengar gimana, Bu? Saya takut tetangga sebelah nanti tahu," ucap Rian sambil meremas pelan payudara Bu Nia.
Bu Nia mendesah manja mendapat remasan dari Rian. Dia menggelengkan kepala pelan.
"Gak bakal ada yang tahu. Kamar atas itu kedap suara, pintunya juga tebal. Lagian kan tadi pintu depan sudah kamu kunci," bisik Bu Nia, napasnya mulai tidak karuan.
Bu Nia segera menarik tangan Rian. Dia menuntun Rian menaiki tangga menuju lantai dua. Rian berjalan di belakang, menatap pantat semok Bu Nia yang tercetak di balik daster setiap kali wanita itu menapaki anak tangga.
Begitu sampai di kamar atas, Bu Nia langsung mendorong pintu dan membawa Rian masuk. Kamar itu ber-AC, ranjangnya berukuran besar. Bu Nia langsung menutup dan mengunci pintunya.
Suasana kamar mendadak senyap, hanya menyisakan deru napas mereka berdua.
Bu Nia membalikkan badan dan langsung merangsek maju memeluk leher Rian dengan erat. Dada besarnya menekan kuat di rubuh Rian.
"Rian... Ibu sudah nggak tahan dari kemarin mikirin kamu terus," ucap Bu Nia blak-blakan.
Dia langsung mencium bibir Rian dengan liar. Rian membalasnya. Lidah mereka bertautan, saling melumat satu sama lain. Tangan kekar Rian turun ke pinggul Bu Nia, meremas pantatnya yang padat dan mengangkat tubuh wanita itu sedikit agar semakin menempel pada tubuhnya.
Sambil terus berciuman, Rian menarik ritsleting belakang daster Bu Nia hingga melorot jatuh ke lantai, menampakkan tubuh Bu Nia yang hanya mengenakan celana dalam hitam. Payudaranya yang berukuran besar dan putih mulus, kini terpampang tanpa bra. Putingnya yang kecoklatan sudah menegang keras karena terangsang dan gairah yang meluap.
"Ahhh... Rian..." lenguh Bu Nia saat Rian melepaskan ciumannya dan mulai menanggalkan kaos serta celana Rian.
Kini keduanya berdiri tanpa busana di samping ranjang. Batang Rian yang besar sudah menegang sempurna, berdenyut-denyut di hadapan istri Pak RT tersebut. Mata Bu Nia terbelalak, menatap pusaka Rian dengan pandangan tidak percaya.
"Gila... Punya kamu besar banget, Rian. Pantas saja..." Bu Nia tidak melanjutkan kata-katanya. Ia berlutut di lantai, memegangi pangkal batang milik Rian dan mulai melumat ujungnya dengan penuh gairah.
"Ahhhh... Bu Nia... Enak..." desah Rian sambil mencengkeram rambut Bu Nia yang panjang, menikmati permainan dari mulut wanita itu.
Setelah puas melakukan permainan mulut, Bu Nia bangkit dan merangkak naik ke atas ranjang. Dia membuka lebar kedua pahanya yang montok dan memamerkan lubang intimnya yang sudah sangat becek.
"Ayo, Rian... Masukkan sekarang. Genjot Ibu sampai puas," rintih Bu Nia sambil meremas sprei kasur.
Rian naik ke atas kasur, memposisikan dirinya di antara kedua paha Bu Nia. Dia menggesek-gesekkan ujung miliknya di bibir lubang intim Bu Nia, membuat wanita itu menggelinjang menahan nikmat.
"Rian...Cepetan masukin..." ucap Bu Nia dengan suara mendesah parau.
Rian menyentakkan pinggulnya maju dengan kuat.
Jleb!
"Ahhhhhhh!" Teriak Bu Nia kencang, matanya mendelik ke atas saat batang Rian menghujam masuk sepenuhnya, merobek dinding intimnya yang sudah lama tidak merasakan tusukan sebesar itu.
Rian langsung menggenjotnya dengan gerakan maju mundur yang cepat dan bertenaga. Bunyi hantaman kulit mereka yang basah dan deru napas yang memburu memenuhi kamar tersebut.
Bu Nia memeluk punggung Rian dengan erat, kuku-kukunya mencakar kulit Rian seiring dengan kepuasan luar biasa yang menghantamnya bertubi-tubi.
Setelah pergulatan panas yang menguras tenaga itu selesai, Rian menarik batangnya keluar dari rahim Bu Nia, meninggalkan cairan putih yang menetes di paha mulus wanita tersebut. Mereka beristirahat sejenak untuk menstabilkan napas yang masih tersengal-sengal.
Setelah membersihkan diri dan membereskan pompa air di dapur bawah, Rian menerima beberapa lembar uang dari Bu Nia. Kemudian berjalan menuju pintu depan.
"Rian. Makasih ya. Sering-sering main ke sini mumpung suami saya masih di luar kota," ucap Bu Nia sambil tersenyum genit.
"Iya, Bu. Kalau begitu, saya permisi dulu."
Rian memikul cangkulnya, berjalan keluar dari halaman rumah Pak RT menuju jalan setapak. Jalur menuju sawahnya harus melewati aliran sungai kecil yang jernih. Dari kejauhan, terdengar suara kecipak air.
Begitu mendekat, mata Rian langsung tertuju pada sosok wanita yang sedang berjongkok di atas batu besar di pinggir sungai.
Wanita itu bernama Halimah, janda muda berusia 25 tahun yang ditinggal suaminya merantau dan tak pernah kembali.
Halimah mengenakan kain jarik sebatas dada yang basah, mencetak jelas bentuk payudaranya yang bulat dan kencang. Dia sedang mengucek beberapa pakaian di atas batu. Melihat kehadiran Rian, Halimah langsung menghentikan kegiatannya dan membetulkan kain jariknya yang agak melorot sambil tersenyum malu-malu.
"Eh, Rian... Baru mau ke sawah?" sapa Halimah lembut, matanya melirik malu-malu ke arah dada bidang Rian di balik kaos.
"Iya, Mbak Halimah. Agak kesiangan hari ini karena tadi ada urusan sebentar. Kok sendirian aja nyucinya?"
"Iya, yang lain sudah pulang dari tadi. Mbak telat bangun," jawab Halimah sambil menyeka air sungai yang menetes di leher. Tatapannya terus mengarah pada wajah tampan Rian. "Nanti sore pulang jam berapa? Kalau lewat sini lagi, temenin Mbak ngobrol ya."
Rian tertawa pelan, sambil terus melirik tubuh janda muda yang segar itu. "Lihat nanti ya, Mbak. Kalau cepat kelar, saya mampir. Mari Mbak. Saya duluan."
"Iya. Hati-hati," sahut Halimah, matanya terus menatap punggung tegap Rian yang mulai menjauh sampai menghilang.
***
Langit mulai meredup dan udara menjadi lebih sejuk. Jam menunjukkan pukul empat sore. Rian menyudahi pekerjaannya dan segera membersihkan sisa lumpur di kakinya, lalu berjalan pulang.
Saat melewati jalanan di dekat area perkebunan, Rian melihat seorang wanita tua berjalan sambil memeluk bakul bambu yang berisi ubi jalar. Wanita tua itu adalah Mbah Ningrum yang sudah berusia 57 tahun.
Walaupun sudah nenek-nenek, Mbah Ningrum memiliki bodi yang masih montok dan seksi. Di balik kebayanya yang longgar, terlihat payudaranya yang berukuran jumbo tampak menggantung kendor—bergoyang mengikuti setiap langkah kakinya.
"Mbah Ningrum! Sini, Mbah, biar Rian yang bawain," panggil Rian sambil mendekat.
Mbah Ningrum menoleh, wajah keriputnya langsung sumringah melihat pemuda itu datang mendekat. "Eh... Untung ada kamu, Le. Encok Mbah kumat dari tadi bawa ginian," keluh Mbah Ningrum sambil menyerahkan bakul bambunya pada Rian.
"Rumah Mbah kan agak jauh di ujung, biar saya antar sampai ke sana," ucap Rian ramah.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju rumah Mbah Ningrum yang letaknya memang cukup terisolasi, jauh dari pemukiman warga yang lain.
Rian berjalan di sampingnya, memikul cangkul di bahu kanan dan memeluk bakul ubi dengan tangan kirinya.
Sepanjang jalan, mata Rian sesekali melirik ke arah dada Mbah Ningrum. Kebaya tipisnya yang kancingnya sudah agak longgar di bagian atas memperlihatkan belahan payudara yang kendor namun tetap terlihat sangat menggoda bagi Rian yang menyukai segala bentuk tubuh wanita.
Begitu sampai di halaman belakang rumah Mbah Ningrum yang tertutup pepohonan rindang, Rian menaruh bakul ubi tersebut di atas kursi bambu.
"Sudah, Mbah. Kalau begitu saya pamit pulang dulu ya," pamit Rian sopan.
"Eeeh, jangan pulang dulu, Le! Duduk dulu sebentar, Mbah buatkan teh hangat. Kamu pasti haus kan," cegah Mbah Ningrum sambil memegang lengan Rian agar tidak cepat pergi.
Rian melihat sekeliling halaman belakang yang sepi dan tertutup dari pandangan orang luar. Dia mengangguk. "Ya sudah, Mbah. Saya duduk dulu."
Rian duduk di atas kursi bambu panjang. Tak lama kemudian, Mbah Ningrum keluar membawa dua cangkir teh hangat. Dia meletakkan cangkir itu di atas meja, lalu duduk di samping Rian hingga paha mereka saling bersentuhan.
Sambil pura-pura mengobrol menanyakan hasil panen ubinya, Rian meminum tehnya pelan-pelan. Namun, pandangan matanya sama sekali tidak fokus pada obrolan. Dia terus memperhatikan gundukan payudara Mbah Ningrum yang naik turun setiap kali wanita tua itu menghela napas.
Mbah Ningrum yang menyadari arah pandangan Rian, justru sengaja membetulkan posisi duduknya. Dia bersandar lebih dekat ke tubuh Rian sambil mengipas-ngipas lehernya yang kegerahan, membiarkan pemuda itu menikmati pemandangan aset besarnya dengan lebih leluasa.
