05. Pijatan Hangat
Angin sore berhembus pelan, menggoyang daun-daun pohon mangga di halaman belakang rumah Mbah Ningrum. Rian menyesap teh pelan-pelan sambil mendengarkan cerita wanita tua di sampingnya tentang hama tikus yang mulai menyerang kebun ubi miliknya belakangan ini.
Mbah Ningrum duduk makin dekat dengan Rian. Tangannya memegang kipas anyaman bambu, mengayunkannya perlahan ke arah leher dan dadanya.
Setiap kali kipas itu bergerak, kerah kebayanya yang longgar ikut terangkat sedikit, memperlihatkan lipatan kulit dadanya yang putih namun sudah mulai berkerut termakan usia.
"Kalau nggak buru-buru dipanen, mungkin ubi di bakul itu sudah habis dimakan tikus semuanya, Le," kata Mbah Ningrum, suaranya terdengar serak khas orang tua.
"Kalau Mbah memang kewalahan, bilang saja sama Rian. Nanti setiap sore setelah pulang dari sawah, Rian bisa mampir ke kebun Mbah buat bantu nyangkul tanahnya," jawab Rian. Matanya menatap ke depan, memperhatikan halaman belakang rumah tersebut.
Mbah Ningrum menatap wajah Rian yang ganteng dan perkasa. Senyum tipis langsung terukir di bibir keriputnya yang dipoles gincu tipis berwarna merah pudar.
"Kamu itu baik sekali, Le. Jarang ada pemuda zaman sekarang yang mau repot-repot bantu orang tua kayak Mbah begini. Mana badannya kekar dan tegap begini, pasti tenagamu kuat sekali ya," ucap Mbah Ningrum terdengar tulus.
"Biasa saja, Mbah. Kan dari dulu Bapak juga selalu ngajarin Rian buat selalu bantu orang yang membutuhkan," ucap Rian, tetap menjaga suaranya agar terdengar sopan dan tenang di hadapan wanita itu.
Mbah Ningrum tertawa pelan. Dia meletakkan kipasnya di atas meja, lalu membetulkan posisi duduknya. Dia menggeser tubuhnya sedikit ke arah Rian, membuatnya duduk makin dekat.
"Tapi ya itu, Le... Rumah Mbah ini paling ujung sendiri, dekat dengan hutan. Kalau malam rasanya sepi, cuma kedengaran suara jangkrik. Kadang Mbah suka pegal-pegal kalau habis pulang dari kebun. Nggak ada siapa-siapa yang bisa dimintai tolong buat pijatin punggung Mbah," keluh Mbah Ningrum sambil memijat pundaknya sendiri.
Saat tangannya terangkat untuk memijat pundak, payudaranya menonjol jelas di depan mata Rian.
Batang miliknya mulai berdenyut tegang kembali, merespons cepat pemandangan menantang di sampingnya. Rian membalikkan tubuhnya menghadap Mbah Ningrum, menatap dada besar yang menggantung itu dengan pandangan yang mulai dipenuhi nafsu liar.
"Kalau cuma pegal-pegal, Rian bisa kok bantu, Mbah. Kalau Mbah mau, Rian bisa pijatin Mbah sekarang," ucap Rian, suaranya mendadak berubah berat dan serak.
Mbah Ningrum diam sebentar, menatap Rian dengan senyuman yang penuh makna. Dia lalu berdiri dari kursi dengan gerakan yang sengaja memperlihatkan lekuk pinggul dari arah belakang.
"Ya sudah, kebetulan Mbah punya minyak urut di dalam kamar. Ayo masuk, Le... Tolong pijitin Mbah," ucap Mbah Ningrum sambil berjalan masuk mendahului Rian.
Rian bergegas bangkit dari kursi dan berjalan di belakang Mbah Ningrum. Pinggul montok wanita itu bergerak-gerak menuntunnya masuk ke dalam rumah. Begitu berada di dalam, Mbah Ningrum langsung meraih grendel pintu dan menggesernya hingga mengunci rapat.
"Biar nggak ada yang masuk, Le. Udaranya juga sudah mulai dingin," ucap Mbah Ningrum, suaranya terdengar tenang.
Mereka berjalan bersama ke arah kamar tengah yang hanya disekat oleh selembar kain sebagai pengganti pintu. Di dalam kamar tersebut, sebuah ranjang kayu dengan kasur yang tergelar rapi.
Mbah Ningrum mendekat ke arah meja rias, mengambil sebuah botol kaca berisi minyak urut buatan sendiri. Dia membalikkan badannya, menatap Rian yang masih berdiri di dekat kelambu.
"Ini minyaknya, Le," kata Mbah Ningrum sambil menyerahkan botol tersebut pada Rian.
Rian menerima botol minyak urut tersebut, lalu duduk di pinggiran kasur. Matanya terus mengikuti setiap pergerakan Mbah Ningrum.
Wanita tua itu kemudian duduk membelakangi Rian, menyisakan jarak hanya beberapa sentimeter saja di antara mereka.
"Pundak sebelah kanan ini yang rasanya paling pegel. Sering buat mikul bakul yang berat," tutur Mbah Ningrum sambil menunjuk bahu kanannya.
Tangan Mbah Ningrum perlahan naik ke arah leher kebayanya. Dia membuka dua kancing teratas kebayanya yang memang sudah longgar. Kain kebaya itu perlahan melorot ke sisi bahunya, menyingkap kulit pundaknya yang putih bersih walau sudah tidak sekencang ketika dia masih muda dulu.
Rian bisa melihat dengan sangat jelas sebagian punggung atas Mbah Ningrum dan payudaranya yang menggantung dari samping.
Dia menuangkan sedikit minyak urut itu ke telapak tangannya, lalu menggosok kedua telapak tangannya dan mulai menempelkannya ke pundak Mbah Ningrum. Otot-otot di bawah kulit wanita tua itu terasa masih sangat padat dan berisi.
"Enak banget, Le..." desah Mbah Ningrum pelan. Kepalanya sedikit terkulai ke arah depan, sangat menikmati sentuhan dan pijatan dari Rian.
Rian meremas pundak dan otot leher Mbah Ningrum dengan gerakan yang teratur dan lembut. Seiring dengan gerakan tangannya yang naik turun, dia sengaja memajukan posisi tubuhnya sedikit demi sedikit hingga dada bidangnya sesekali menempel di punggung Mbah Ningrum.
Napas Rian mulai memburu dan terasa panas.
Mbah Ningrum merasakan kehangatan yang menjalar dari tubuh pemuda di belakangnya. Dia sengaja membuka sisa kancing kebayanya yang tersisa ke arah bawah. Kebaya itu kini terbuka sepenuhnya di bagian depan, hanya tertahan di bagian kedua lengan saja.
Payudara Mbah Ningrum kini menggantung bebas tanpa bra. Aset itu bergoyang pelan mengikuti setiap gerakan pijatan tangan Rian yang semakin intens di punggungnya.
"Le... bagian depan sini juga rasanya sesak sekali dari tadi, tolong sekalian..." ucap Mbah Ningrum dengan suara yang semakin berat dan serak.
Rian yang sedari tadi menahan gejolak hebat di balik celana panjangnya tentu tidak mau membuang kesempatan itu lagi. Tangannya yang masih licin dan basah oleh minyak urut perlahan bergerak pindah dari pundak, turun melewati leher jenjang, lalu merayap masuk ke bagian depan tubuh Mbah Ningrum.
Jari-jarinya langsung mencengkeram kuat payudara Mbah Ninggrum.
"Eeeh... Le..." lenguh Mbah Ningrum tertahan dengan mata yang langsung terpejam saat tangan Rian mulai memainkan puting payudaranya yang sudah menegang keras karena gairah yang kembali membara.
Rian terus meremas payudara Mbah Ningrum dari belakang dengan cengkeraman yang semakin kuat. Sementara itu, seluruh tubuhnya merapat tanpa jarak, membuat batang miliknya yang sudah menegang sempurna di balik celana, menekan kuat di pantat semok Mbah Ningrum dari belakang dan menggoyangnya dengan penuh limpahan nafsu.
