Pustaka
Bahasa Indonesia

PESONA PEMUDA IDAMAN DESA

31.0K · Baru update
Midnight Tales
27
Bab
290
View
9.0
Rating

Ringkasan

Di usianya yang baru 22 tahun, Rian adalah definisi nyata dari pemuda idaman Desa Sukamaju. Tampan, tegap, dan selalu ringan tangan. Sifat ramahnya membuat Rian diam-diam menjadi fantasi terliar bagi para wanita di desa—mulai dari janda muda yang kesepian hingga istri tetangga yang kurang perhatian. ​Namun, di balik itu semua, Rian menyimpan rahasia paling tabu. ​Ia tinggal berdua dengan Lastri (45 tahun), ibu tirinya yang memiliki pesona matang, tubuh montok, dan paras yang sanggup membuat mata para lelaki di desa salah fokus. Berawal dari rasa sepi pasca ditinggal wafat sang ayah, kedekatan yang terlalu intens di bawah satu atap berubah menjadi gejolak yang salah arah. Di balik pintu yang terkunci rapat, keduanya terjebak dalam hubungan terlarang yang panas sekaligus penuh rasa bersalah. ​Ketika Rian mencoba setia pada kehangatan rahasia bersama ibu tirinya, pesona Rian justru kian tak terbendung. Godaan demi godaan mulai datang secara terang-terangan dari para wanita desa saat bertemu di pemandian sungai hingga gubuk sawah. ​Akankah Rian mampu mengunci rapat rahasia terbesarnya di rumah, atau ia justru akan hanyut dalam lingkaran harem dan jerat gairah liar wanita-wanita desa yang siap menguji imannya?

DewasaplayboyKehidupan SosialNovel MemuaskanIbu PenggantiGenitDrama

01. Rahasia Tabu Di Balik Pintu

"Ahhhh... Rian... Pelannnn... pelan...." Lastri mendesah nikmat ketika Rian menggenjot tubuhnya yang montok.

Lampu teplok di sudut kamar bergoyang pelan, memantulkan bayangan dua tubuh yang sedang bergulat di atas ranjang bambu.

Lastri berbaring telentang dengan napas terengah-engah. Dasternya yang tipis sudah terangkat sampai ke dada, memperlihatkan perutnya yang berlipat padat dan payudaranya yang besar naik-turun dengan cepat seiring dengan hentakan Rian.

Rian bertumpu di atas tubuh ibu tirinya yang berusia 45 tahun itu. Kulit mereka yang sama-sama basah oleh keringat saling bergesekan, menciptakan suara basah yang intens di dalam kamar yang sepi.

Kedua tangan kekar Rian meremas pinggang montok Lastri, menahan bobot tubuhnya sendiri saat pinggulnya terus memompa tanpa ampun.

"Enak kan, Bu?" bisik Rian dengan napas memburu di telinga Lastri.

"Ahhhh... iya, Sayang... Terus, Rian... habisi Ibu..." Lastri mencengkeram erat bahu anak tirinya.

Sudah dua kali Lastri mencapai puncak kenikmatan malam itu. Ukuran milik putra tirinya yang besar dan tebal benar-benar membuatnya merasakan nikmat yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya.

Rian terus menggoyangkan pinggulnya maju mundur, melakukan gerakan memutar yang membuat Lastri berulang kali memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya. Lubang intim milik Lastri yang sudah sangat becek mempermudah setiap dorongan dalam Rian.

Entah sudah berapa kali hubungan intim seperti ini mereka lakukan. Sejak ayahnya meninggal dua tahun lalu, kesepian di rumah yang sunyi mempertemukan gairah mereka yang salah arah. Rian dan ibu tirinya mulai terlibat hubungan terlarang seperti ini hingga sekarang, tersembunyi rapat di balik dinding kayu rumah mereka.

Dan tak ada satupun warga desa yang mengetahui hal ini.

Hentakan Rian makin cepat dan bertenaga. Lastri makin menggelinjang, kedua kakinya naik dan mengunci pinggang Rian, meminta tusukan yang lebih dalam.

"Sayang.... Ahhhhh. Ibu mauuuu... Keluar lagi. Riannn!" teriak Lastri tertahan sambil mencengkeram kasur. Tubuhnya bergetar hebat saat ia mencapai puncaknya yang ketiga kali.

Merasakan jepitan dinding rahim ibunya yang mengetat hebat, Rian tidak bisa menahan diri lagi. Dia menggeram rendah, melakukan beberapa kali genjotan dalam, lalu merapatkan tubuhnya. Rian merasakan puncaknya yang pertama malam itu.

Dia menumpahkan seluruh cairan hangat itu dalam jumlah banyak di dalam rahim sang ibu tiri.

Rian terkulai lemas di atas dada besar ibu tirinya. Napas mereka berdua memburu. Tubuh mereka dipenuhi keringat yang berkilauan diterpa cahaya lampu teplok. Lubang Intim milik ibunya masih berkedut-kedut, meremas batang Rian yang mulai lemas namun masih tertancap di dalam.

Rian menatap wajah Lastri yang merona merah. Mereka berciuman mesra, menikmati sisa gairah yang baru saja tuntas.

***

Dapur sudah mengepul pagi itu. Bau tumisan bawang tercium hingga ke kamar. Lastri sudah berdiri di depan kompor, mengenakan daster batik ketat yang menonjolkan pantat dan pinggulnya yang padat bergoyang mengikuti gerakannya.

Rian duduk di meja makan. Dia sudah rapi dengan kaos oblong ketat dan celana panjang yang biasa dipakainya ke sawah. Kaos itu mencetak jelas bentuk dadanya yang bidang dan lengannya yang berotot.

Lastri menaruh secangkir kopi hitam di meja. Saat meletakkan cangkir, dada besarnya sengaja ditekan ke bahu Rian dari belakang. Lastri menghirup aroma tubuh Rian, lalu tangannya turun ke bawah meja, meraba paha kekar Rian dan meremasnya pelan.

"Jangan capek-capek di sawah ya, Nak. Nanti malem Ibu masih mau lagi," bisik Lastri dengan suara manja di telinga Rian.

Rian langsung berdiri, membalikkan tubuh Lastri, dan menarik pinggang ibu tirinya yang sintal itu hingga perut mereka menempel. Dia menunduk dan mencium bibir Lastri dengan penuh gairah.

Mereka berciuman dengan liar, lidah mereka saling bertautan dan bertukar saliva untuk beberapa saat.

"Uang warung masih ada, Bu?" tanya Rian sambil mengusap bibir ibunya yang basah.

"Masih cukup buat modal minggu ini. Kamu hati-hati di jalan," jawab Lastri sambil merapikan kaos Rian yang sedikit berantakan.

Rian mengangguk. Ia berjalan ke pojok dapur dan mengambil cangkul yang bersandar di sana. Ia keluar lewat pintu samping dan mulai berjalan menyusuri jalanan desa menuju sawahnya.

Matahari pagi baru saja terbit, namun beberapa warga sudah mulai beraktivitas. Di sepanjang jalan, beberapa wanita muda yang sedang menyapu halaman rumah langsung menoleh ke arah Rian. Mata mereka tidak berkedip memandangi tubuh kekar dan langkah tegap Rian.

Di tepian sungai kecil yang membelah desa, sekelompok ibu-ibu sedang sibuk mengucek cucian. Begitu melihat Rian berjalan di dekat sungai, suasana langsung riuh. Salah satu wanita bernama Asri sengaja berdiri sambil membetulkan kain kembennya yang melar hingga dadanya menyembul, lalu berteriak menggoda.

"Rian! Pagi-pagi udah gagah bener! Sini dong, bantuin Mbak bilas baju!" seru Asri diiringi tawa genit ibu-ibu lainnya.

Rian menoleh sebentar, melempar senyum tipis, lalu terus berjalan.

Wanita-wanita di pinggir sungai itu langsung saling berbisik, mata mereka terus menatap punggung tegap dan bokong padat Rian yang menjauh.

***

Matahari terasa menyengat tepat jam dua siang. Rian menyeka keringat di leher dan dadanya menggunakan handuk kecil yang ia bawa. Kaosnya sudah basah kuyup, memperlihatkan bentuk tubuhnya. Dia berjalan ke gubuk bambunya di pinggir sawah, lalu duduk selonjoran menikmati angin sepoi-sepoi.

Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki mendekat. Rian menoleh dan melihat seorang wanita berjalan ke arah gubuknya.

Wanita itu adalah Mia, janda kembang sebelah rumahnya yang berusia 35 tahun. Mia memiliki tubuh yang montok dengan pantat dan payudara yang begitu sintal dan padat. Dia mengenakan baju kaos ketat yang dipadukan dengan celana kulot semata kaki, menampakkan lekuk tubuhnya yang aduhai.

"Rian. Lagi istirahat kan? Ini Mbak bawain makan siang sama es teh manis buat kamu," ucap Mia sambil tersenyum manis, memperlihatkan lesung pipinya.

"Nggak usah repot-repot, Mbak Mia. Kok malah dianterin ke sawah segala. Saya jadi gak enak," ucap Rian sambil membalas senyuman itu.

Mia langsung naik dan duduk di samping Rian. Bau parfum yang khas dan tajam dari tubuh Mia langsung menyengat hidung Rian.

"Nggak repot sama sekali, Rian. Mbak tadi masak ayam balado pedas, sengaja bikin porsi lebih buat kamu. Makan yang banyak ya, biar tenaga kamu tetap kuat," kata Mia. Tangannya tiba-tiba memegang lengan Rian, mengelusnya perlahan dari siku sampai ke bahu.

Rian menerima kotak makan itu dan langsung makan dengan lahap. Mia duduk agak miring, melipat satu kakinya hingga dadanya yang penuh condong ke arah Rian. Mata janda itu tidak lepas memperhatikan Rian setiap kali pemuda itu menelan makanan. Sesekali dia menyeka keringat di pelipis Rian dengan tisu yang dibawanya.

Setelah Rian menghabiskan makanannya. Mia membereskan rantang bawaannya. Namun, sebelum dia turun dari gubuk, Mia menggeser duduknya lebih dekat lagi. Dia mendekatkan wajahnya yang cantik ke telinga Rian, hingga rambutnya yang halus menyentuh pipi Rian.

"Nanti sore pas pulang, mampir ke rumah Mbak ya. Genteng dapur Mbak ada yang melorot gara-gara angin kemarin. Mbak minta tolong benerin, bisa kan?" bisik Mia dengan suara yang berat. Napasnya yang hangat berhembus di leher Rian, membuat bulu kuduk pemuda itu berdiri.

Rian menatap belahan dada Mia yang menyembul di balik kaosnya. Dia menelan ludah, lalu mengangguk. "Iya, Mbak. Sore nanti, saya pasti mampir."

Mia tersenyum, tatapan matanya penuh arti. Dia turun dari gubuk lalu berjalan pulang menyusuri pematang sawah dengan pinggul yang sengaja digoyang lebih dinamis dari biasanya, tahu kalau Rian sedang memperhatikannya dari belakang.

***

Pukul lima sore, langit desa mulai berwarna jingga. Rian membersihkan sisa tanah di kakinya, lalu berjalan pulang sambil memikul cangkul di bahu.

Ketika dia berjalan di depan rumah Mia, pintu rumah itu langsung terbuka sedikit, seolah memang sudah menunggunya sejak tadi.

Mia berdiri di balik celah pintu. Dia mengenakan daster satin tipis tanpa lengan, memperlihatkan dengan jelas lekuk tubuh bagian atasnya yang sintal dan padat.

Rian menghentikan langkahnya. Dia melihat ke kanan dan ke kiri, memastikan suasana sepi dan tidak ada warga yang sedang memperhatikan gerak-geriknya. Setelah dirasa aman, Rian bergegas masuk ke rumah Mia.

Begitu Rian masuk, Mia langsung menarik lengan Rian. Dia dengan cepat menutup pintu, lalu menguncinya dari dalam.

Mia langsung bersandar pada pintu yang tertutup, menatap Rian dengan napas yang mulai memburu.