03. Jerat Manis Istri Pak RT
Rian keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah segar, hanya mengenakan kain sarung tanpa kaos yang menutupi dada bidangnya. Dia melihat Lastri yang sedang sibuk memasang papan penutup warung kelontongnya satu per satu.
Suasana di dalam rumah mendadak sepi dan sunyi. Lastri membalikkan tubuh montoknya, menatap Rian dengan tatapan mata yang penuh dengan gejolak gairah terpendam. Daster ketatnya mencetak jelas lekuk tubuh bagian belakang dan pinggulnya yang padat berisi.
"Sini, Rian," panggil Lastri dengan suara yang rendah.
Rian mendekat tanpa keraguan. Lastri langsung maju dengan agresif, mendorong dan memojokkan tubuh kekar Rian ke dinding rumah mereka. Tangannya bergerak meraba dan meremas batang milik putranya yang mulai menegang keras.
"Ibu sebenarnya masih kepikiran sama bau wangi di lehermu tadi, Rian. Tapi karena kamu sudah bilang nggak ngapa-ngapain di luar, Ibu percaya aja sama kamu," ucap Lastri sambil menatap Rian. "Tapi sebagai gantinya, malam ini kamu harus nurut sama Ibu. Ibu mau habisi seluruh tenagamu di atas ranjang sampai kamu gak punya tenaga lagi buat melirik perempuan lain."
Lastri langsung mengangkat dasternya ke atas sampai sebatas pinggang. Tubuh matang dan montok wanita berusia 45 tahun itu sudah polos tanpa selembar benang pun yang menutupi. Lubang intim Lastri yang gemuk dan tebal sudah tampak becek oleh lendir gairah yang berlimpah, dipicu oleh rasa cemburu dan curiga yang sempat membakar hatinya tadi.
"Ayo, Rian. Nikmati Ibu sekarang juga. Jangan buat Ibu menunggu lama," rintih Lastri dengan napas yang memburu sambil menarik sarung Rian hingga melorot jatuh ke lantai.
Melihat lubang intim ibunya yang sudah basah, batang Rian seketika berdenyut keras menantang tegak. Dia langsung mencengkeram pinggul montok Lastri dan mengangkat tubuh ibu tirinya itu, lalu mendudukkannya di atas meja makan.
Lastri segera membuka lebar kedua pahanya, menuntun batang Rian yang sudah menegang untuk langsung menusuk lubang intimnya tanpa perlu foreplay yang bertele-tele.
Jleb!
"Ahhhh! Sayanggg..." Teriak Lastri dengan suara yang tertutup desahan. Kedua matanya langsung terpejam, menikmati sodokan dari putranya yang langsung menghujam hingga menyentuh bagian terdalam rahimnya.
Rian mengambil posisi tegak dan mulai menggenjotnya dengan liar di atas meja makan tersebut. Bunyi decitan keras dari meja yang bergeser dan suara hantaman kulit pantat Lastri yang basah oleh keringat beradu dengan kulit paha Rian, bersahut-sahutan memenuhi seluruh ruangan rumah yang sudah terkunci rapat.
Lastri menggelinjang di atas meja, kedua tangannya mencakar punggung putranya untuk menahan rasa nikmat yang menjalar ke seluruh tubuh. Payudara besarnya yang padat dan ranum bergoyang liar ke atas dan ke bawah seiring dengan setiap genjotan yang diberikan oleh Rian tanpa jeda.
"Enak bener, Nak... Ahhh... Terus... Hantam terus ibu, jangan kasih ampun..." desah Lastri dengan suara parau yang tidak berdaya menerima tusukan dari Rian.
Rian terus memompa maju mundur dengan ritme yang makin tidak beraturan untuk mengobok-obok lubang intim ibunya yang berkedut kencang menjepit miliknya dengan ketat. Setelah merasa puas bermain dengan berbagai gaya di atas meja makan, Rian kembali mengangkat dan menggendong ibunya menuju kamar. Mereka melanjutkan pergulatan panas itu di atas ranjang hingga menjelang subuh.
Mereka berdua merasakan klimaks berkali-kali malam itu, menumpahkan seluruh cairan hangat dalam jumlah banyak, hingga akhirnya keduanya tertidur berpelukan tanpa busana.
***
Keesokan paginya, Rian sudah bersiap-siap di depan rumah dengan cangkul yang bertumpu di bahunya. Badannya terasa agak pegal dan lemas setelah melayani gairah liar Lastri semalaman suntuk. Namun, dia tetap memaksakan untuk pergi ke sawah.
Lastri keluar dari rumah. Wajahnya terlihat berseri-seri, memancarkan aura kepuasan yang mendalam. Dia menyerahkan sebungkus nasi dangan lauk yang sudah disiapkannya untuk bekal makan siang Rian di sawah nanti.
"Hati-hati ya, Nak. Jangan dipaksain kalau capek. Nanti malam Ibu masakin makanan yang paling enak buat kamu," ucap Lastri dengan senyum manja yang merekah di bibirnya.
Rian hanya mengangguk pelan, lalu mulai berjalan menyusuri jalan menuju ke area sawahnya.
Tepat saat dia berada di dekat persimpangan jalan setapak yang letaknya bersebelahan dengan rumah pak RT, Rian melihat seorang wanita paruh baya bertubuh sintal dengan pakaian yang cukup ketat sedang berdiri di depan pagar.
Wanita itu adalah Bu Nia (40 tahun), istri dari Pak RT desa setempat yang suaminya kebetulan sedang pergi dinas ke luar kota sejak dua hari yang lalu.
Begitu melihat sosok Rian, Bu Nia sengaja menggerakkan tangannya untuk menurunkan kerah bajunya sedikit lebih rendah ke bawah. Dia dengan sengaja memperlihatkan belahan dadanya yang putih, besar, dan padat.
Bu Nia kemudian melambaikan tangannya ke arah Rian dengan senyuman tipis yang menggoda.
"Eh, Rian... Kebetulan banget kamu lewat sini pagi-pagi. Sini sebentar ke rumah Ibu. Sawahmu kan luas, nggak bakalan lari ke mana-mana juga kalau ditinggal sebentar," panggil Bu Nia dengan suara yang sengaja dilembut-lembutkan. Matanya memandangi tubuh kekar Rian dari atas sampai ke bawah dengan penuh gairah yang tidak bisa disembunyikan.
Rian menghentikan langkah kakinya tepat di depan pagar rumah Pak RT. "Ada yang bisa saya bantu, Bu RT?" tanya Rian dengan ramah, memasang senyuman yang biasa membuat wanita desa salah fokus.
Bu Nia melangkah keluar melewati pagar mendekati Rian berdiri. Aroma wangi parfum yang menyengat dari tubuh matangnya langsung tercium oleh Rian. Wanita berusia 40 tahun itu langsung memegang lengan Rian, sambil melirik waspada ke arah kanan dan kiri jalan untuk memastikan kondisi jalanan masih sepi dari aktivitas warga lain.
"Ibu mau minta tolong sama kamu sebentar di dalam, Rian. Kebetulan Pak RT sedang ada urusan dinas ke kota sampai minggu depan, jadi Ibu sendirian. Mesin pompa air mendadak rusak dari semalam, Ibu sama sekali nggak paham benerinnya. Kamu bisa tolong cek dan benerin sebentar?" bisik Bu Nia di dekat telinga Rian. Dia sengaja menempelkan dadanya yang padat ke lengan Rian, memberikan kode keras mengenai bantuan apa yang sebenarnya dia butuhkan dari pemuda itu.
Rian menatap ke arah belahan dada Bu Nia yang terbuka di depan matanya, lalu tersenyum tipis penuh arti. "Bisa, Bu. Nanti saya coba cek dulu kerusakannya."
Bu Nia langsung tersenyum puas dengan mata berbinar penuh gairah. Dia membuka pintu pagar rumahnya agar Rian bisa masuk.
"Langsung masuk saja, Rian. Nanti pintunya langsung kamu kunci saja ya dari dalam, biar aman dan nggak ada ayam yang masuk ke rumah," ucap Bu Nia penuh arti yang mendalam.
Dia berjalan mendahului Rian masuk ke dalam rumah dengan pinggul yang sengaja digoyang berlenggok ke kanan dan ke kiri untuk memanaskan mata Rian dari belakang.
