02. Gedoran Di Tengah Gejolak
Belum sempat Rian berbalik untuk menaruh cangkulnya, lengan Mia sudah melingkar erat di pinggangnya dari arah belakang.
Mia menempelkan dada besarnya yang padat dan kenyal ke punggung tegap Rian, mendesah pelan dengan napas yang terasa panas.
"Mbak udah nungguin kamu dari tadi, Rian. Rasanya lama banget nunggu jam lima sore," bisik Mia dengan suara yang manja dan serak.
Tangan Mia yang halus, langsung meraba perut Rian yang keras, lalu merangkak naik ke dada di balik kaos oblongnya yang masih agak lembap oleh sisa keringat.
Rian membalikkan badannya dengan cepat. Payudara Mia yang besar menyembul hampir separuh dari balik dasternya, naik turun dengan seiring dengan napas sang janda yang mulai memburu karena gairah yang tertahan.
Rian langsung mencengkeram pinggul semok Mia. Dia mengangkat tubuh janda berusia 35 tahun itu dengan mudah, membuat kedua kaki Mia langsung melingkar erat di pinggangnya.
Rian membawa Mia menuju ranjang di kamar tengah yang hanya dibatasi selembar kain kelambu. Begitu sampai, tubuh Mia langsung dihempas di atas kasur. Rian dengan agresif merobek daster tersebut hingga menampilkan seluruh lekuk tubuh sintal Mia yang tampak begitu menggoda.
Mia mendesah keras saat tangan Rian mulai meremas payudaranya secara bergantian dengan cengkeraman yang kuat.
"Ahhh... Rian... Kamu gagah banget... Kuat bener lenganmu..." lenguh Mia sambil memejamkan mata, tangannya bergerak mengusap-usap rambut Rian dan menarik kepala pemuda itu mendekat ke dadanya.
Rian menciumi leher jenjang Mia dengan liar, memberikan gigitan-gigitan kecil yang meninggalkan bekas kemerahan. Dia menghisap pentil payudara Mia yang sudah menegang keras secara bergantian.
Mia menggelinjang penuh gairah di atas kasur, merasakan sensasi lidah Rian yang bermain-main memutari dadanya yang basah oleh air liur.
"Ahhhh.... enak banget... terus sedot, Rian..." desah Mia sambil mencengkeram sprei.
Rian sudah tidak tahan lagi, dia melepaskan kaos oblongnya dan membuka celana panjangnya. Batang miliknya yang besar, panjang, dan berurat langsung menonjol tegang di hadapan Mia.
Mia seketika terbelalak lebar melihat ukuran pusaka Rian yang begitu besar, jauh berbeda dari ukuran mendiang suaminya dulu.
"Besar banget punyamu..." ucap Mia sambil menelan ludah.
Rian segera mendekat dan mengarahkan miliknya ke depan wajah Mia. Dia menggesek-gesekkan batangnya di bibir Mia yang sudah basah.
Mia membuka mulutnya lebar-lebar. Dia melumat milik Rian dengan rakus, memasukkan batangnya ke dalam mulut dan mengulumnya berulang kali.
"Ahhhh... enak banget, Mbak..." desah Rian sambil memegangi kepala Mia, menikmati hisapan tersebut.
Setelah merasa puas bermain di mulut, Rian menarik keluar. Dia menyuruh Mia bergerak mundur, lalu melebarkan kedua paha Mia hingga terbuka lebar. Rian menundukkan kepalanya dan langsung menjilati lubang intim Mia yang sudah begitu becek oleh cairan gairah.
Lidahnya yang lincah mengobok-obok bagian dalam lubang sensitif itu, membuat Mia menggelinjang tak tertahan, pinggulnya bergerak naik turun secara refleks.
"Ahhh.... Mbak udah gak tahan lagi... masukin sekarang, Rian... cepetan..." ucap Mia dengan suara parau.
Rian berdiri di antara kedua paha Mia. Dia memegang pangkal batangnya, lalu menggesek-gesekkan ujungnya beberapa kali di bibir lubang Mia yang sudah merah merekah. Setelah posisinya pas, Rian memberikan dorongan pinggul yang kuat secara perlahan.
Jleb!
"Aahhhh..." Teriak Mia sambil mendongakkan kepalanya ke atas saat milik Rian masuk sepenuhnya tanpa ada yang tersisa, meregangkan dinding intimnya hingga terasa penuh.
Rian menggenjotnya dengan liar dan bertenaga. Hentakan demi hentakan membuat tubuh Mia bergoyang hebat di atas ranjang. Pantatnya yang padat menepuk-nepuk kasur berulang kali hingga menimbulkan suara berisik yang beradu dengan suara desahan mereka di dalam kamar.
Mia memeluk leher Rian, menyembunyikan wajahnya di bahu pemuda itu sambil berteriak kegirangan. Janda itu benar-benar menikmati setiap tusukan bertenaga dari pemuda tersebut, setelah bertahun-tahun lamanya ia hidup menjanda tanpa pernah lagi merasakan sentuhan dari seorang lelaki.
Rian terus memacu kecepatannya, memompa lubang intim Mia yang menjepit miliknya dengan sangat ketat.
Tok. Tok. Tok.
Suara gedoran keras yang tiba-tiba terdengar dari pintu depan rumah seketika menghentikan genjotan Rian.
Suasana kamar langsung hening, digantikan oleh suara detak jantung keduanya yang mendadak berdegup kencang karena terkejut.
Rian yang posisinya masih berada di atas tubuh Mia dan miliknya masih tertancap di dalam langsung membekap mulut janda itu dengan telapak tangannya agar Mia tidak bersuara.
"Mia! Ini Bu RT. Kamu di dalam rumah kan? Saya mau nagih uang arisan bulanan yang kemarin belum kamu bayar!" teriak seorang wanita paruh baya dari luar rumah.
Mia membelalak panik. Wajahnya seketika berubah pucat pasi, takut jika hubungan intimnya ketahuan oleh warga.
Rian menarik napas mencoba menenangkan diri. Dengan gerakan yang pelan dan hati-hati, Dia menarik keluar miliknya dari dalam lubang intim Mia yang masih basah dan berkedut.
Rian bergeser turun, lalu duduk di tepi ranjang sambil buru-buru memakai celana panjangnya.
"I-iya, Bu RT! Sebentar, saya lagi di kamar mandi!" teriak Mia dengan suara yang sengaja dibuat se-normal mungkin, walau napasnya masih ngos-ngosan dan dadanya naik turun dengan cepat.
"Oh, ya sudah kalau lagi mandi. Nanti agak sorean saya ke sini lagi. Saya mau ke rumah Bu Darmi dulu ya!" sahut Bu RT dari luar. Langkah kaki wanita itu terdengar menjauh meninggalkan teras rumah Mia.
Rian menghembuskan napas lega, lalu menyeka sisa keringat dingin yang keluar di dahinya.
Mia mendekat dan memeluk tubuh Rian dari samping, mencoba mencari ketenangan sambil merapikan dasternya yang sudah robek di bagian dada.
"Maaf ya, Rian. Hampir saja kita ketahuan tadi. Jantungku rasanya mau copot," ucap Mia. Dia menatap wajah tampan Rian dengan pandangan yang masih penuh dengan gairah terpendam. "Besok-besok kamu mampir ke sini lagi ya," bisik Mia sambil mengecup pipi Rian dengan mesra.
Rian mengangguk pelan. Dia meraih kaosnya yang tergeletak di lantai dan segera memakainya kembali.
***
Matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya. Rian berjalan masuk ke halaman rumahnya. Dia berjalan menuju teras, menaruh cangkulnya di dinding dengan tubuh yang agak lemas setelah tenaganya terkuras di rumah Mia tadi.
Lastri duduk di ruang tamu yang letaknya berada di dekat warung kelontong kecil miliknya. Begitu mendengar suara langkah Rian masuk, Lastri langsung menatap ke arah anak tirinya itu tanpa berkedip. Dia berdiri dan berjalan mendekati Rian.
"Tumben kamu pulang jam segini, Rian? Katanya tadi mau cepat pulang," tanya Lastri. Suaranya terdengar dingin dan datar, sama sekali tidak ada nada manja seperti yang dia tunjukkan tadi pagi.
Rian berjalan melewati Lastri menuju dapur, berniat mengambil segelas air minum untuk menghilangkan rasa haus di tenggorokannya. "Tadi saya bersihin gubuk dulu, Bu. Soalnya agak kotor, jadi sekalian saya rapihin," kilah Rian mencoba berbohong, berusaha bersikap setenang mungkin di depan ibu tirinya.
Lastri berjalan lebih dekat. Dia mendekatkan hidungnya ke leher Rian, menghirup aroma tubuh putranya dalam-dalam. Wajahnya seketika berubah masam dan matanya menatap tajam pada Rian.
"Kok lehermu wangi parfum perempuan?"ucap Lastri dengan penuh selidik dan curiga.
Rian terdiam. Dia menatap wajah ibu tirinya, mencoba memberikan alasan lain namun otaknya mendadak buntu.
Lastri menjulurkan tangannya, menarik kaos Rian dengan kasar. Tanpa aba-aba, dia langsung menggigit leher anak tirinya itu dengan cukup kuat hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana. Tangannya bergerak turun ke bawah, meraba bagian depan celana Rian dengan remasan yang kuat untuk memeriksa pusaka putranya.
"Kamu nggak ngapa-ngapain di luar sana kan, Rian? Kamu nggak mendua di belakang Ibu kan?" ucap Lastri dengan suara yang penuh dengan rasa cemburu yang membakar hatinya sambil terus mengelus batang Rian di balik celana.
"Nggak kok, Bu," jawab Rian mencoba tetap tenang, walaupun jantungnya berdegup kencang.
Lastri melepaskan cengkeraman tangannya dari celana Rian. Dia tersenyum penuh arti.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Sekarang kamu mandi dulu sana biar badanmu bersih dan segar lagi. Ibu mau tutup warung lebih cepat malam ini," ucap Lastri sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Rian, memberikan kode keras tentang apa yang akan mereka lakukan nanti.
